
"Tidak Boleh Terjadi"
Persiapan untuk pernikahan Farel dan Bella sudah selesai semua, tamu undangan tidak cukup banyak hanya beberapa kerabat dari Farel dan Bella saja yang datang.
Farel memandang diri-nya sendiri, setelan jas warna putih untuk acara resepsi pernikahannya, Farel hanya terdiam dan mematung di depan cermin.. Entah pergi kemana keinginannya dulu untuk menikah dengan Bella.
"kenapa dengan diri ku,.. Rasanya pernikahan yang dulu kuinginkan terasa hampa,. Ya..Tuhan"
Farel bergumam dalam hati.
Bella mendekat dengan sekejap Farel menoleh kearah Wanita itu bersamaan dengan senyuman manisnya. Bella dengan gaun pengantinnya sangat cantik senada dengan Jas yang dikenakan oleh Farel.
"Farel, acaranya akan segera di langsungkan, persiapan dirimu sayang.."
Ujar Susi tiba-tiba mendekat dan merapikan baju Putranya, dan Bella hanya tersenyum kearah keduanya.
Farel menarik tangan Ibunya ke tempat agak sepi karena ingin bertanya..
"Mama, apa kau mengundang Tiara.. Apa dia akan datang.?"
Farel bertanya dengan penuh harap, ia ingin mengucapkan permintaan maaf atas kesalahannya.
Susi menahan air mata ketika mengingat Tiara menantunya, Lalu menggeleng..
"Farel, mama... kali ini Mama tidak mengundang Tiara karena dia sangat sibuk bekerja"
Jawab Susi beralasan, sebenarnya Tiara akan di bawa pergi dari sini beberapa jam lagi.
Wajah Farel menjadi murung, harapannya untuk berjumpa Tiara sebelum pernikahannya di langsungkan.
"Begitu.. Yah,.."
Farel kecewa dengan jawab dari Ibunya..
"Farel. Sayang, kau harus tersenyum bukannya keinginan mu sudah terpenuhi, jangan murung begini.. Ayo.. Acaranya akan segera di mulai. Pasti Bella sudah menunggu "
Ajak Susi..
Farel mengangguk lemah, selanjutnya dia berjalan karena tangannya di tarik oleh ibunya sendiri.
***
Di tempat lain.
Tiara merontah kesekuat tenaga dia menolak untuk ikut ke Amsterdam, kondisi tubuh tidak mendukung.. Tiara tetap berusaha, diam-diam dirinya keluar dan berlari menjauh dari mobil yang akan membawanya pergi.
Tiara memang sudah bisa berjalan walau sedikit kesusahan, ia tidak ingin kehilangan orang yang paling dia cintai. Sesekali dirinya menringis karena pinggangnya sakit..
__ADS_1
"Farel kumohon.. Jangan"
Teriak Tiara seperti orang kehilangan kendali, jalan tampak sepi tidak ada satu pun mobil yang lewat untuk di minta ki pertolongan..
Keringat bercucuran di keningnya, Tiara tatap berlari menepis semua rasa sakit di pinggangnya yang semakin lama semakin sakit bahkan nyaris membuat Tiara pingsan.
Jika saja tadi dia tidak mendapat kabar bahwa Farel akan menikah hari ini.. Pasti dirinya tidak akan sepanik ini..Tekatnya untuk mengatakan kepada Farel bahwa mereka suami istri tidak bisa di tahan lebih lama lagi Tiara akhirnya jatuh karena kelelahan..
"Farel,, kumohon, jangan dulu, tunggu aku. Kumohon Farel.."
Pekik Tiara berusaha bangkit lagi. Hotel tempat berlangsung pernikahan Farel masih ajak jauh.
Bib.. Bib.. Bib..
Sebuah mobil biru tua mendekat, Tiara merasa was-was takutnya itu adalah anggota keluarganya..
"Tiara jangan lari."
Panggil seseorang membuat langkah Tiara terhenti, ia menoleh dan melihat ternyata Bimo lah di dalam mobil itu.
"Bimo.. Bawa aku ke Hotel playa.. Aku tidak bisa membiarkan pernikahan Farel dan Bella."
Ujar Tiara memohon kepada sahabatnya itu.
"Naiklah, aku akan mengantar mu kesana.."
Tiara tersenyum lalu masuk kedalam mobil Bimo dengan terburu.
Didalam perjalanan wajah Tiara tampak pucat dan tatapanya kosong.. Bimo tidak mengajaknya berbicara karena untuk memberikan waktu untuk Tiara berfikir.
Bimo sudah mengirimkan pesan kepada keluarga Tiara bahwa sedang bersama dengannya dan menuju ke Hotel Playa tempat pernikahan Farel.
"Bimo percepat laju mobilmu... Sebaiknya kita belum terlambat " Tiara memecah keheningan.
"3 menit lagi kita sampai sabar lah "
Cittttttttt...
Bimo merem begitu sampai di depan Lobi Hotel Playa..
Tiara segera keluar menuju acara di langsungkan dengan bersusah paya, wanita itu tetap bertahan walau jatuh berulang kali ke lantai yang keras. Ia harus mengatakan segalanya kepada Farel, egonya sudah menguasai otaknya.
"Maaf Nona. Apa anda punya undangan..?"
Tanya seorang yang menjaga keamanan di tempat itu..
"Hah.. Aku tidak punya, tapi aku harus bertemu dengan Farel segera mungkin"
__ADS_1
Ujar Tiara dengan napas tersengal-sengal.
"Maaf Nona, anda tidak boleh masuk.."
Ujar Penjaga mencegah Tiara..
Tiara tidak terima dirinya kembali berusaha masuk dengan berbagai cara..
Bimo yang baru menyusul, menarik penjaga itu agar Tiara bisa masuk dengan bantuan darinya..
---
Di waktu yang bersamaan, Susi yang baru saja mendapatkan panggilan telepon dari suaminya menghampiri Farel yang sudah berhadapan dengan Bella hendak mengucapkan janji pernikahan.
"Farel!!, Hentikan.. Pernikahan ini seharusnya tidak boleh terjadi"
Susi berteriak membuat semua tamu terdiam menatap ke arahnya.
"Apa Maksudmu Mah..?"
Tanya Farel mengerutkan kening tidak mengerti penuturan dari Ibunya.
"Farel.. Ada sebuah kebenaran yang kami sembunyikan selama ini, Kita tunggu orang itu sebentar"
"Siapa.. Mah..?"
Tiara yang baru saja masuk mengatur napas lalu berteriak..
"Farellll...!!"
Teriaknya..
Deg..
Farel menoleh ke arah asal suara.. Jantungnya berpacu tidak menentu.
"Tiara,!!"
Ucapnya melihat Tiara..
.
.
.
.
__ADS_1
Tbc...!!!