My Little Luna

My Little Luna
Kembali?


__ADS_3

"Dam!" panggil Lisa begitu lirih.


Matanya menatap sayu ke arah serigala Damian yang tergeletak tak berdaya di atas tanah yang berjarak hanya beberapa meter darinya.


Dengan tangan terulur perlahan, Lisa berusaha untuk menggapai tubuh serigala Damian. Namun, akibat benturan yang keras tadi membuat Lisa tak bisa beranjak dari tempatnya.


Gadis itu hanya bisa menangis pilu melihat Damian yang telah berubah wujud menjadi manusia, terkapar tak berdaya dengan darah mengalir dimana-mana.


"Dam, hiks!" panggil Lisa lagi.


Entah mengapa, saat matanya menatap ke arah Damian sekali lagi. Seperti ada sekat transparan yang tak terlihat.


Yah, Lisa bisa melihat Damian di sana. Namun, perlahan-lahan sosok itu seolah lenyap begitu saja tergantikan dengan rimbunnya pepohonan Cemara yang makin lebat disekitar.


Sejenak Lisa tertegun melihatnya. Dengan raut wajah yang begitu panik gadis itu langsung meneriaki nama Damian keras.


"Damian! Tidak! Tidak! Dam huhuhu


..!" teriaknya seraya menangis sesenggukan.


Apakah Lisa telah berhasil keluar portal?


Jujur, itu cukup melegakan dirinya. Hanya saja, kenapa hatinya seketika merasa sesak. Seperti ada batu besar yang menghantam ulu hatinya hingga terasa begitu sakit sekali.


Lalu, bagaimana dengan Damian? Apa setelah ini Lisa tak akan bisa bertemu kembali dengan pria itu?


Membayangkannya saja membuat air mata Lisa kembali mengalir deras membasahi pipinya. Meskipun gadis itu berteriak sekencang apapun memanggil-manggil nama Damian. Nyatanya, semua sudah terlambat karena mereka kini telah terpisah dimensi.


Didetik berikutnya kepala Lisa merasakan pening yang luar biasa. Selain itu, warna hitam mulai menghiasi penglihatannya hingga berakhir gelap gulita.


Namun sebelum dirinya pingsan, Lisa masih mendengar beberapa orang meneriaki namanya.


***


Entah sudah berapa lama Lisa tak sadarkan diri. Yang pasti, saat kelopak matanya terbuka. Hal pertama yang gadis itu lihat adalah ruangan bernuansa putih dengan bau cairan infus yang kentara sekali.


"Aku ada dimana?"


Mengedarkan pandangannya, Lisa langsung mendapati seorang wanita berumur yang tengah tertidur lelap di atas sofa. Dari situlah, Lisa dapat menyimpulkan jika dirinya berada di rumah sakit saat ini.


"Ibu?" panggil Lisa lirih yang bisa wanita berumur itu dengar.


Tampak sosok itu langsung beranjak bangun dari posisinya, untuk mendekati ranjang rumah sakit Lisa.

__ADS_1


"Anakku, akhirnya kau sudah bangun. Bagaimana kondisimu sekarang apa masih ada yang sakit? Ibu dan Ayah benar-benar mengkhawatirkan dirimu," jelas Stevy Ibu tiri Lisa.


Gadis itu hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Aku baik-baik saja, kok. Dimana Ayah?" tanyanya sembari mengedarkan pandangan kesekeliling mencari sosok maskulin yang sudah lama tak dirinya lihat.


"Eum, Ayahmu langsung pergi karena ada pertemuan bisnis mendadak di Singapura," jawab Stevy kikuk.


Mendengar hal itu, Lisa hanya bisa menghembuskan napas berat. "Oh, begitu."


"Kau mau makan? Ibu bahkan sudah menyiapkan bubur kesukaanmu," tawar Stevy, mencoba mencairkan suasana.


Lisa hanya menggelengkan kepala sebagai balasan.


"Ah iya, berapa lama aku tak sadarkan diri?" tanyanya mendadak.


"Mungkin sudah lima hari, kau tahu kami bahkan menyuruh para relawan untuk mencarimu sampai ke pelosok hutan, sebenarnya bagaimana kau bisa tersesat dan ditemukan tak sadarkan diri, Lis?" kata Stevy balas bertanya.


Sejujurnya, Lisa tak ingin menceritakan kisah itu. Karena akan begitu panjang sekali jika harus dijelaskan satu persatu. Terlebih lagi, jika dia menceritakan pertemuan singkatnya dengan makhluk immortal sekaligus Damian, apakah Stevy akan percaya?


Bagaimana jika reaksi sang Ibu tiri malah mengolok-olok dirinya serta menganggap Lisa sedang berhalusinasi? Ah, membayangkannya saja membuat gadis itu merasa penat saja.


"Lis?" panggil Stevy.


"Apa kepalamu merasa sakit lagi? Dokter bilang kau bisa saja mengalami amnesia ringan karena peristiwa itu."


"Tunggu, memangnya aku kenapa? Perasaan aku hanya-"


"Kau terpeleset lalu terguling-guling hingga hampir masuk jurang! Bahkan saat relawan mengevakuasi dirimu, mereka bilang itu sangat susah karena medan yang tak bersahabat."


Jatuh ke jurang?


Evakuasi?


Padahal seingat Lisa, dia hanya membentur batang pohon Cemara lalu terduduk di bawah pohon itu sampai pingsan. Tapi kenapa informasi dari Stevy berbeda?


Apa jangan-jangan semua hal yang gadis itu alami hanyalah fatamorgana? Damian serta para makhluk mengerikan itu cuma halusinasinya semata? Lalu, portal dimensi lain sebenarnya tidak ada?


Jadi, kebenaran sesungguhnya Lisa hampir mati karena jatuh ke jurang namun mengalami sebuah delusi. Sayangnya, karena mereka begitu nyata dia sampai tidak sadar jika itu hanyalah mimpi.


"Ckckckck ...!" Lisa tertawa setelah menyimpulkan semuanya.


Sesuatu yang dirinya kira sungguhan ternyata tak pernah terjadi. Bukankah itu lucu sekali? Mengharapkan sesuatu yang tak mungkin karena begitu terasa nyata.

__ADS_1


Lisa, Lisa kenapa kau bodoh sekali? ejeknya dalam hati.


"Lis?" panggil Stevy lagi.


Kali ini wajahnya menampilkan guratan kekhawatiran yang begitu kentara. Saking khawatirnya, Lisa bisa melihat noda gelap dibawah kantong mata wanita itu. Yang membuat Lisa yakin, jika Stevy benar-benar menjaga dirinya hingga begadang semalam.


"Aku baik," jawab gadis itu singkat.


"Ah iya, tolong tinggalkan aku. Hari ini aku ingin sendirian," lanjutnya lagi sembari membuang muka ke arah samping.


Yakni kembali menjadi sosok Lisa yang dingin dan tak suka diganggu oleh siapapun.


***


Beberapa hari setelah kejadian itu, akhirnya Lisa sudah bisa kembali memasuki sekolahnya. Kontan saja, kedatanganya begitu disambut tangis haru oleh anak-anak sekelasnya, terutama Jeni sendiri.


Gadis itu bilang, dia merasa sangat bersalah pada Lisa karena ucapannya beberapa hari yang lalu. Selain itu, Jeni juga ingin menceritakan sebuah hal yang kali ini mungkin bisa membuat Lisa membulatkan mata tak percaya saat mendengarnya.


"Akhirnya, kau kembali juga ke kelas ini, Lis!" pekiknya riang seraya merangkul pundak Lisa.


"Hm," balas Lisa cuek sembari melepaskan tangan Jeni dari bahunya.


Gadis itu langsung berjalan begitu saja ke tempat duduknya meninggalkan Jeni yang langsung ikut mengekor dibelakang.


"Aku ada info penting dan kau harus tahu ini!" kata Jeni antusias.


Dia bahkan sampai menggebrak meja Lisa hingga membuat perhatian gadis itu tertuju padanya.


"Apa?" tanya Lisa tak ada minat.


Sejujurnya malas menanggapi sikap Jeni yang sering membuatnya dongkol. Meskipun, informasi dari temannya itu terkadang sedikit membantu karena cukup aktual.


"Sam jadi gila!" pekiknya membuat gerakan tangan Lisa yang sedang membuka buku terhenti seketika.


"Coba katakan sekali lagi."


"Sam si cowok pendiam yang sering duduk dipojokan sebelah kanan itu, tuh!" Menunjuk ke arah bangku paling belakang disebelah kiri. "Jadi gila sekarang. Masa lo nggak tahu informasinya, sih?" jelas Jeni seperti mengatakan hal biasa.


"Bohong!"


"Aku serius heh, kalau masih nggak percaya kau bisa kok, cek langsung ke rumah sakit di dekat perempatan setelah sekolah kita." Sekali lagi Jeni menjelaskan hal itu.


"Ah iya, ada satu hal lagi." Jeni menambahkan, "si cewek dukun itu sekarang udah berubah dan dia ngerebut posisimu, Lis."

__ADS_1


__ADS_2