
"Kesalahanmu hanya satu, karena kau telah terlahir di dunia ini!" jawab Roselin seraya tertawa sumbang.
Manik matanya yang berwarna hitam pekat itu menyoroti wajah Lisa tajam. Perlahan, jari jemari lentiknya yang dingin juga mencengkram kuat dagu Lisa, hingga membuat gadis itu meringis, kesakitan.
"Itu kesalahan terbesarmu," bisiknya lirih.
Lisa sendiri hanya terdiam saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Roselin. Selain itu, Lisa juga merasa jika dunianya perlahan runtuh begitu saja, karena ditinggalkan orang-orang yang sangat dia cinta.
Hanya dalam hitungan menit, Lisa menjadi sebatang kara. Tuhan, apa sebenarnya kesalahan yang telah dirinya perbuat?
Terdiam, Lisa hanya bisa menatap kosong permukaan lantai berdebu. Roselin sendiri, gadis itu abaikan.
Sayangnya, Roselin tidak menerima hal itu. Dengan cara apapun, gadis itu mencoba menyakiti Lisa, agar perhatian mate Damian itu teralih padanya lagi. Meskipun harus dengan cara keji sekalipun.
Di sudut ruangan, Jimmy diam-diam memperhatikan semuanya. Cowok itu menghembuskan napas jenuh karena bosan lantas mencekal pergelangan tangan Roselin saat cewek dukun itu hampir menyayat pipi kanan Lisa.
"Jangan sampe ada bekas luka, lo lupa?" katanya dingin.
Sambil menepis tangan Roselin keras sampai membuat cewek itu mengaduh.
"Bangsat! Lo itu pihak mana, sih?" teriak Roselin murka. Kurang suka dengan sikap Jimmy yang kelihatan lebih condong ke Lisa.
__ADS_1
"Gue?" tanya Jimmy balik, sambil mengangkat sebelah alisnya.
Tersenyum tipis, cowok itupun menjawab dengan entengnya. "Entah? Lagian lo nggak perlu tahu."
"Cuma, gue nggak suka aja kalau dia sampai kenapa-kenapa," lanjut Jimmy.
Roselin memutar bola matanya malas mendengar itu. Dirinya segera beranjak dan terlihat berjalan pergi meninggalkan ruangan.
"Serah," ucapnya sebelum pergi.
Sepeninggal Roselin, Jimmy segera mendekati Lisa. Jujur, cowok itu sedikit perihatin melihat kondisi Lisa yang kini seperti orang tak punya jiwa.
Namun, tak ada jawaban apapun dari Lisa. Gadis itu masih saja menatap permukaan lantai yang sepertinya lebih menarik dari pada pria tampan di depannya.
"Lis?"
Lagi, Jimmy memanggil tapi tetap saja tak ada sahutan.
Hingga akhirnya, cowok itu mengangguk pelan seolah mengerti jika keberadaannya tidak dianggap sama sekali. Terlihat Jimmy mulai melangkah meninggalkan Lisa, tapi sebelum itu dia sempat menatap sosok Lisa lekat sebelum menghilang dari balik pintu.
***
__ADS_1
Tak terasa sudah sepekan lebih Damian belum bertemu Lisa. Tugas serta berkas yang dia kira akan selesai hanya dalam beberapa hari, malah menahannya sampai seminggu lebih begini di ruang kerja.
Ingin mengumpat, namun Damian begitu enggan. Toh, hal itu tak ada faedahnya meskipun cukup mengurangi sedikit beban hati, sih.
Menatap keluar jendela, Damian terlihat mengembuskan napas berat perlahan. Pikiran melalang buana entah memikikan apa. Sampai, ketukan pintu yang cukup keras mengalihkan atensi pria itu.
"My Alpha!" panggil Zades tak seperti biasa.
Raut wajah pria itu terlihat sangat panik dan nada bicaranya kali ini tak bisa menyembunyikan sikap tenang Zades.
"Ya?" balas Damian.
Zades buru-buru bersipuh di depan kaki tuannya itu. Perlahan, kepalanya terdongak ke atas dengan bulir-bulir air mata yang sudah siap jatuh membasahi pipinya.
"Maafkan hamba, tuan. Anda boleh menghukum saya jika-"
"Ada apa?" tanya Damian memotong ucapan Zades.
"Tenangkan dirimu dulu, lalu jelaskan padaku, Zad," imbuhnya.
"Lu-Luna, Luna telah diculik!"
__ADS_1