My Little Luna

My Little Luna
Singkat, Namun Berbekas


__ADS_3

"Katakan!"


Damian menatap Zades tajam dengan sorot mata diliputi amarah.


"Rupanya ada dalang lain dibalik penyerangan kemarin, sekaligus pelaku yang menjebak Luna untuk meninggalkan Mansion," jelas Zades kemudian.


"Maksudmu?" tanya Damian masih belum mengerti.


Zades terlihat mencari sesuatu dari balik saku celananya, kemudian secepatnya pria itu menyerahkan secarik kertas yang dirinya temukan sebagai tanda bukti pada Damian.


"Baca ini, maka Anda akan tahu siapa pelaku aslinya."


Tampak Damian mengambil secarik kertas yang Zades berikan kepadanya. Pria itu langsung saja membaca isi surat tersebut dengan begitu teliti, hingga dibagian akhir surat Damian menemukan sesuatu.


"Tsk! Tak pernah kusangka dia akan memakai cara seperti ini. Benar-benar kekanakan!" ucap Damian kesal seraya meremas surat ditangannya.


Menolehkan kepala kebelakang, Damian kembali berucap, "Zad, tetap awasi mereka. Ingat jangan sampai ketahuan, karena aku akan membalas perbuatan mereka dua kali lipat."


"Yes, My Alpha!" balas Zades cepat lantas melesat pergi.


Meninggalkan Damian yang kini tengah menatap rembulan yang semakin bersinar di atas langit.


"Lis, tunggu aku." Damian berbisik lembut.


***


Ini hampir seminggu setelah Lisa kembali ke dunia nyata. Sejujurnya, tak ada yang banyak berubah dari kehidupannya.


Lisa masih saja menjadi seseorang yang menutup diri, atau mungkin kali ini jauh lebih tak peduli pada orang lain dari pada sebelumnya.


Mengigit buah apel hijau sebagai sarapan, gadis itu memilih untuk duduk di sudut ruangan. Membuat beberapa pasang mata yang baru saja memasuki kelas, seketika melihat diri Lisa penuh selidik.


Tentunya bukan tanpa alasan mereka melakukan itu. Bisa dibilang karena rumor yang akhir-akhir ini beredar tentang Lisa yang membuat Samian gila, di seantero sekolah.

__ADS_1


Bahkan tak jarang juga, mereka terang-terangan berbisik-bisik dan mengatai Lisa buruk secara langsung. Bukankah, itu sungguh memuakan?


CK, jadi seperti ini rasanya difitnah kemudian dikucilkan semua orang?


Terlihat seseorang tiba-tiba mendekati bangku Lisa, kemudian merampas apel hijau yang baru Lisa gigit separuh itu dari tangan. Menjatuhkannya lantas menginjak buah itu tepat di depan Lisa.


"Ups, Sorry!" ucapnya yang kemudian dibarengi tawa membahana.


Lisa yang diperlakukan seperti itu seketika mendongakkan wajahnya ke atas. Menatap sang pelaku dengan sorot mata penuh keacuhan.


"Maksudmu apa, melakukan ini?"


Bersedekap didepan dada, sosok itu kemudian menjawab,"Maksudku? Tentu saja ingin membully gadis sepertimu habis-habisan. Ah iya, bukankah seharusnya kau ditangkap polisi karena telah membuat Samian kehilangan akal sehat dan menjadi gila? Aish, benar-benar gadis monster."


Lisa yang mendengar hal itu hanya menghembuskan napas jenuh. Memutar bola matanya sesaat, kemudian berniat untuk meninggalkan bangkunya.


Lagi pula, bukan dia pelakunya. Jadi mengapa harus ambil pusing? Hanya saja, saat dirinya hendak berjalan pergi, kedua pergelangan tangannya tiba-tiba dicekal dari belakang. Membuat Lisa kontan, mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


Tubuhnya langsung diseret paksa ke belakang kelas kemudian dipukuli habis-habisan, hingga sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah. Ketiga gadis gila itu juga meninju wajah Lisa, hingga membuat pipinya lebam.


Ingin melawan, namun dirinya begitu kesusahan apalagi tangannya dicekal oleh dua orang dimasing-masing sisi. Selain itu, mereka melakukannya dengan cepat, seolah-olah ini bukan pertama kalinya bagi mereka.


Entah kebetulan atau memang sudah mereka rencanakan. Saat itu kelas masih cukup sepi. Hanya ada beberapa anak yang sepertinya tak suka ikut campur atau takut hanya bisa diam di tempat duduknya masing-masing, seperti tak mendengar atau menyaksikan hal gila ini.


Meringis pelan, netra cokelat lisa tak sengaja melihat Roselin dari luar kaca kelas yang sepertinya melihat pembullyan ini juga. Sayangnya, saat bibir Lisa ingin bergerak meminta tolong. Roselin seketika membuang wajah ke arah lain, kemudian berjalan pergi begitu saja seperti tak melihat apapun.


Kenapa? Batin Lisa kalut.


"Kalian! Apa yang kalian semua lakukan, huh?!"


Itu suara Jeni. Lisa hafal betul bagaimana intonasi suara temannya itu jika tengah diliputi emosi, sayangnya saat dia ingin melihat wajah sahabatnya. Kepala Lisa kembali merasakan sakit yang luar biasa, yang kemudian membuat pandangannya mengkabur dan semuanya berubah menjadi gelap gulita.


Entah sudah berapa lama dirinya jatuh pingsan, yang jelas saat kelopak matanya terbuka, hal pertama yang gadis itu lihat adalah sosok Jimmy yang tengah memejamkan mata disebelah ranjang UKS-nya.

__ADS_1


Dengan tangan bersedekap didepan dada, serta mata yang terpejam erat. Sosok Jimmy rupanya sedang terlelap sembari menyenderkan kepala didinding.


Lisa yang melihat pria itu seketika menyipitkan mata. Pasalnya, jelas-jelas tadi dia mendengar suara Jeni sebelum jatuh pingsan. Tapi mengapa, malah sosok Jimmy yang menemani dirinya dan ada di sini?


"Sedang mengagumi ketampananku, Nona?" celetuk Jimmy dengan mata masih terpejam erat, membuat Lisa langsung memasang wajah ingin muntah.


"Jangan berekspresi seperti itu, aku tahu kok, kalau aku ini tampan dan berkharisma!" ucapnya penuh percaya diri, kali ini sembari mengerling genit pada Lisa.


Tentu saja, Lisa yang melihat hal itu hanya bisa dibuat ternganga. "Kau terlalu percaya diri, lagi pula kau bukan pria tipe idealku."


"Ah, begitu yah? Sungguh sangat disayangkan, mungkin jika kita bersatu kemudian menikah dan punya anak. Mereka akan sangat lucu-lucu," balasnya dengan raut wajah sok kecewa.


"Tsk, pikiranmu terlalu jauh, Jim. Ngomong-ngomong, dimana Jeni?"


"Jeni?" ulang Jimmy, ikutan bertanya.


"Iya, Jeni yang kemarin ngajakmu berbicara. Gadis yang duduk di depan kursiku ituloh." Lisa mulai geram menjelaskan.


Sedangkan Jimmy masih mengingat-ingat. "Oh, cewek munafik yang jadi buntut wanita iblis itu, yah?"


"Maksudmu apa, mengatai sahabatku begitu? Camkan ini, Jeni bukanlah orang seperti itu," kata Lisa merasa kesal karena ucapan Jimmy yang menyebut Jeni munafik tadi.


"Sungguh? Lisa, Lisa!" panggil Jimmy seraya bangkit dari posisi duduknya menjadi berdiri, "sudah kubilang jangan terlalu polos. Saking lugunya kau bahkan tak tahu karakter teman-teman dekatmu seperti apa. Huft, benar-benar mudah untuk ditipu. Yah, meskipun kau bersikap sok cuek dan masa bodo pada orang lain. Tapi, orang yang tidak menyukaimu akan tetap membencimu, begitu juga dengan orang yang menyukaimu. Mereka akan tetap menyukai dirimu apa adanya tanpa alasan ini-itu. Jadi ..."


"Jadi, apa?" tanya Lisa balik.


Jimmy hanya tersenyum tipis kemudian mengusap puncak kepala Lisa beberapa kali, yang langsung Lisa tepis mati-matian.


"Coba buka matamu lagi, selebar dunia. Agar kau tahu, siapa yang benar-benar tulus padamu, begitu juga sebaliknya."


Setelah mengatakan hal itu seperti biasa, Jimmy langsung berjalan pergi meninggalkan Lisa yang masih terdiam mencerna kata-katanya barusan.


Cukup singkat, namun memiliki makna yang berbekas dihati. Batin Lisa seraya menatap ambang pintu UKS dimana sosok Jimmy sempat berdiri tadi.

__ADS_1


__ADS_2