My Little Luna

My Little Luna
Insomia (19+)


__ADS_3

Disuatu tempat yang begitu jauh dari hiruk-pikuk orang-orang, terlihat seseorang tengah duduk terikat pada sebuah kursi kayu lapuk.


Kedua matanya ditutup kain hitam, begitu juga dengan mulutnya. Penampilannya terlihat begitu acak-acakan. Tak hanya itu, meski hanya ada sedikit penerangan dari lampu bohlam yang letaknya tepat di atas kepala. Tapi, bisa menampilkan beberapa luka memar serta robek yang masih basah pada bagian kepala.


Tak lama kemudian, tampak sosok itu meringis, menahan sakit. Memanggil-manggil sebuah nama namun hanya terdengar gumaman semata.


Hingga, sebuah tangan tiba-tiba menyambar kain yang menyumpal mulutnya secara paksa. Membuat sosok itu akhirnya dapat berbicara meski sembari terisak ketakutan.


"To-tolong! Lepaskan aku!"


"A-aku janji, jika kau membiarkanku lepas aku akan menutup mulut ini rapat-rapat," mohonnya pilu.


"Hhh, menutup mulut rapat-rapat? Itu akan berguna jika kau menjadi mayat, bukankah begitu, hm?" balas si pelaku.


Yang makin membuat isakan gadis yang tengah terikat itu kian menjadi-jadi.


"Apa salahku, sih? Kenapa kau melakukan hal ini? Kenapa bukan pada orang lain?" ucap si gadis yang terikat sekali lagi.


Roselin hanya tertawa melihat raut wajah si korban. Ya, sepertinya cukup sudah dirinya bermain-main dan mengulur waktu.


Lagi pula dia sudah lelah seharian ini. Jadi bagaimana jika langsung pada intinya saja?


"Ah, sial! Mulutmu terlalu cerewet aku jadi gemas ingin merobeknya!" sentaknya yang langsung mengiris mulut si korban dengan belati ditangan.


Sontak saja, ruangan yang tadinya lumayan hening, seketika berubah dipenuhi dengan teriakan kesakitan.


"Huwaaaa ... Arghhh, sakit!"


Bukannya berhenti melakukan hal itu, Roselin malah semakin dibutakan hawa nafsu. Itu terlihat dari senyuman dibibirnya yang semakin mengembang kemudian berubah menjadi tawa lebar yang mengisi semua ruangan, layaknya gadis sikopat gila.


Merasa si korban mulai diam karena kehabisan darah, Roselin kemudian berhenti sesaat. Meski begitu, tatapannya masih saja haus akan darah. Seolah-olah dirinya ingin sesuatu yang lebih, lagi dan lagi.


"Ah, harusnya kubuat pria itu seperti ini juga tempo hari. Sialnya aku kecolongan, tapi itu tidak masalah, lagi pula sekarang dia sudah tidak waras lagi," bisik Roselin tepat ditelinga seorang gadis yang menjadi korbannya.


Si gadis yang terikat itu hanya bisa terdiam seraya menikmati detik demi detik kematian menjemputnya yang terasa begitu lama.


"Kenapa kau tak membunuhku saja? I-ini sangat sakit dan menyiksa sekali!"


"Heuh, membunuhmu? Kau pikir aku akan mengabulkannya begitu saja? Cih, kau harusnya menikmati setiap sentuhan dari belatiku yang menancap pada setiap permukaan kulitmu, tahu. Bukannya malah meminta untuk diakhiri begitu cepat, sungguh tidak asik!" jelas Roselin kesal.


"Sinting! Kau benar-benar gadis terkut-"

__ADS_1


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, dada gadis itu sudah terlebih dahulu Roselin lubangi dengan tangannya sendiri.


Tak tanggung-tanggung, tangannya yang kini berubah menghitam dan dipenuhi kuku-kuku panjang, menarik benda merah dari dalam sana hingga membuat napas si korban benar-benar berhenti detik itu juga.


"Wah, sayang sekali waktumu sudah habis. Padahal jika kau lebih banyak diam dan menangis, mungkin aku akan sedikit berbelas kasih dan lumayan lama bermain-main denganmu," ucap Roselin dengan raut wajah tanpa memasang ekspresi penyesalan sedikitpun.


Setelah melakukan itu, Roselin lantas berjalan ke depan sebuah cermin berbentuk oval yang letaknya tepat di sudut ruangan.


Ditataplah pantulan dirinya sendiri yang masih mengenakan seragam sekolah namun terkena beberapa bercak darah. Namun, bukanlah itu poinnya.


Melainkan pada sebuah tanduk kecil berwarna gelap, yang tampak mencuat keluar di atas kepala Roselin.


Sembari tertawa dan menjilat darah diujung kukunya, Roselin kembali berucap, "Tunggu saja, Lis! Tak lama lagi, kau pasti akan kubawa ketempat ini juga."


***


Lisa terbangun dengan napas terengah-engah malam ini. Padahal, sebelum tidur dia sudah meminum obat untuk mencegah insomnianya kambuh.


Menyenderkan kepalanya ke atas kepala ranjang, Lisa kontan mengedarkan pandangannya ke langit-langit kamar. Sorot matanya, tampak menerawang begitu jauh, mengingat semua hal yang dipenuhi kenangan baik agar napasnya kembali stabil dan diriny menjadi tidak takut tidur lagi.


Sekelebat banyangan tentang sosok Damian juga sempat terlintas dibenaknya, namun Lisa kembali mengusir bayang-bayang itu hingga pergi menjauh. Sampai ...


Indera pendengarannya itu mendengar nama depannya disebut-sebut berulang kali.


"Lis!"


"Lisa!"


"Lis!"


"Lisa!"


"Tolong buka jendelanya, aku ingin masuk ke dalam!"


"Lis!"


"Lis!"


"Tidak!!!" pekik Lisa histeris.


Segera gadis itu menutupi kedua lubang telinganya karena ketakutan mendengar suara tadi. Lisa juga sampai memeluk kedua lututnya sendiri, berharap jika halusinasi yang dia alami saat ini, segera berakhir.

__ADS_1


"Aku pasti sudah gila!" makinya bermonolog. "Kenapa sih, aku harus memikirkannya sampai seperti ini? Toh, Damian itu tidak ada."


"Siapa yang tidak ada?" ucap seseorang yang langsung membuat kepala Lisa menoleh ke arah balkon kamar.


Tepat di sana, sosok seorang pria bertubuh kekar yang sangat Lisa kenal, sedang berdiri menatap ke arah dirinya penuh tanda tanya.


Terlihat rambutnya terombang-ambing dimainkan oleh semilir angin malam yang bertiup pelan. Tak hanya itu, meskipun pencahayaan dikamar Lisa begitu remang-remang karena lampu tidur. Namun, tak bisa menghilangkan ketampanan pria itu yang begitu mumpuni sekali lahir.


Pelan-pelan, sosok itu mulai beranjak dari tepatnya berdiri tadi. Berjalan perlahan yang semakin lama, terlihat semakin berjalan mendekat ke arah ranjang.


Kriet!


Decitan dari suara kasur yang diduduki seketika terdengar. Membuat Lisa semakin tak bisa melepaskan pandangannya dari sosok itu yang kini sudah duduk diam dihadapan dirinya.


Tak ada kata apapun yang terucap selain sorot mata dari kedua belah pihak yang seperti mengatakan kerinduan yang begitu membucah masing-masing.


Cukup lama situasi itu berlangsung, hingga akhirnya Lisa mulai membuka suaranya.


"Dam?" panggilnya terbata.


Matanya masih saja menatap netra gelap itu yang terasa begitu nyata di depan wajahnya.


"Apa kau sungguh Damian yang kulihat? Aku tidak sedang bermimpi, kan?La-lalu semua ucap-"


"Ssttt ... Bagaimana bisa kau tidak mengenaliku. Kau pikir aku itu apa? Tokoh imajinasimu, begitu?"


Tersenyum tanpa sadar, Lisa segera menerjang tubuh kekar dihadapannya itu, untuk dipeluknya seerat mungkin. Membuat indera penciumannya segera dipenuhi dengan aroma khas hutan serta Cemara yang begitu menenangkan dirinya.


"Jahat! Kenapa kau baru muncul sekarang, sih?" keluh Lisa gemas, yang membuat senyuman dibibir Damian mengembang.


"Apakah ini pertanda jika kau mengkhawatirkan diriku, heh?"


Mendongakkan wajah ke atas sesaat, Lisa segera meninju kecil perut Damian. Yang kemudian dibalas dengan raut pura-pura kesakitan pria itu.


"Lagi pula, kau sekarat begitu. Mana bisa tidak khawatir?" jawab Lisa sedikit kesal.


"Oh jadi begitu, terus kenapa masih dipeluk begini, jangan bilang kau takut kehilangan?"


Detik itu juga, Lisa kehilangan kata-kata. Otaknya serasa berhenti berfungsi mendadak dan kedua pipinya kontan memancarkan rona merah.


"Lis, apa kau sakit?" ujar Damian khawatir, seraya menyentuh jidat Lisa. Yang langsung gadis itu teriakki sekeras mungkin.

__ADS_1


"Jangan sentuh aku!" pekiknya keras, makin tak bisa mengontrol debaran jantung sendiri.


Fiks, rupanya dia salah tingkah.


__ADS_2