
Nyatanya pergi mengikuti Jimmy bukan pilihan terbaik. Memang sih, Lisa dapat melihat dunia luar kembali setelah dikurung lama. Tapi, itu tidak akan mengubah apapun pada hidupnya.
Seperti halnya, kedua orang tuanya dan Sam. Mereka tidak akan pernah kembali lagi. Dan bila ditelisik lebih dalam, itu semua adalah salahnya.
"Kenapa kau diam, apa bulannya tidak indah malam ini?" Jimmy bertanya seraya memiringkan kepalanya sedikit ke arah Lisa.
Diam-diam mengamati, raut wajah gadis itu yang belum juga ada perubahan sama sekali sedari tadi.
"Mereka semua cantik, bintangnya juga." Lisa membalas seadanya.
Menatap ke arah langit malam tanpa senyum yang terselip diwajahnya.
Posisinya, mereka berdua sedang menatap langit malam di atas bebatuan bukit. Tentu saja itu ulah Jimmy, jika bukan dia mana mungkin Lisa yang akan memanjat dengan susah payah untuk naik ke atas.
"Kalau begitu tersenyumlah sedikit. Habis, mukamu mirip zombie," canda Jimmy mencoba mencairkan suasana.
"Apa aku masih pantas untuk tertawa setelah semua yang terjadi?" balas Lisa.
Jimmy terdiam. Cowok itu jadi merasa serba salah sekarang.
__ADS_1
"Kalau begitu, apa kau mau kuberi tahu bagaimana cara untuk menghapus kesedihanmu?"
Kepala Lisa menoleh, membuat matanya dan Jimmy bertemu. "Apa?"
Tersenyum tipis, cowok itu lantas berbisik, "Pejamkan matamu dulu, nanti kau akan tahu."
***
"Bagaimana, apa kau sudah menemukan jejak Lisa?" tanya Damian pada Zades.
Entah sudah berapa hari, mereka berkeliling ke sana-kemari mencari Lisa layaknya orang bodoh. Di hutan, teritorial ras lain, tak luput juga ke alam manusia.
Sayangnya, jejak mate Damian itu seolah hilang ditelan bumi.
"My Alpha!" teriak salah seorang warior.
Dia berlari bergitu kencang, bergegas menuju ke arah Damian dan Zades.
"Hamba mencium aroma Luna!"
__ADS_1
Seperti diberi sebuah harapan lebih, mata Damian seketika melebar dengan senyum manis yang mengembang diwajahnya.
"Dimana?"
Si warior kembali menjawab, "Sejujurnya hamba kurang yakin, tapi saat melintasi perbatasan dengan bangsa penyihir hamba samar-samar mencium aromanya."
Detik itu juga Damian segera berubah bentuk menjadi serigala dan memberi perintah untuk bergegas pergi ke tempat bangsa penyihir tinggal.
"Arah Utara! Malam ini juga, kita harus menemukan Luna!"
Dilain sisi, Lisa yang masih melihat rembulan dengan Jimmy, seketika mengernyitkan alisnya sebelah.
"Memejamkan mata, untuk apa?" tanyanya.
Jimmy masih saja tersenyum manis menatap ke arahnya. "Kau ini, salah satu cara untuk mengurangi stres adalah tidur. Lagi pula, kau sudah lama tidak tidur 'kan, selama beberapa hari ini?"
Benar juga, tanpa Lisa sadari dia sudah tidak tidur hampir seminggu. Pantas saja, fisiknya terasa lemah dan matanya begitu berat. Apa mungkin, karena dia kurang tidur?
"Aku benar, kan?" kata Jimmy seolah tau apa yang Lisa pikirkan.
__ADS_1
"Kalau begitu tunggu apalagi, penjamkam matamu beberapa saat. Mumpung ada aku di sini," lanjut cowok itu sembari menepuk atas pahanya sendiri untuk menjadi bantal.
Sejujurnya, Lisa ingin menolak. Namun, rasa kantuk yang selama ini dia tahan mati-matian mulai mencapai batasnya. Lisa akhirnya menyerah, dan mengikuti apa yang Jimmy katakan. Tanpa tahu, jika diam-diam bibir cowok itu mengukir sebuah senyum yang sulit diartikan.