My Little Luna

My Little Luna
Putus Asa


__ADS_3

Napas Lisa berembus begitu berat. Bahkan suaranya terasa tercekat dikerongkongan detik itu juga. Terlebih lagi saat indera pendengarannya tiba-tiba mendengar suara yang begitu Lisa kenali.


Sontak saja, kelopak mata gadis itu terbuka lebar untuk melihat ke arah samping di mana sumber suara itu berasal.


"Li-Lisa, hiks!"


Kepala cokelat gadis itu kontan menggeleng pelan, seirama dengan suara isakan dari seberang.


Air matanya pun tampak meleleh memenuhi permukaan pipinya, tatkala kelereng cokelatnya menangkap siluet seorang wanita yang begitu dia kenal.


"Ibu," Lisa berujar lirih.


Suaranya terdengar bergetar hebat dan air matanya tak bisa berhenti mengalir saat melihat kondisi sang Ibu tiri di ujung sana.


Kenapa?


Bagaimana bisa?


Ada begitu banyak pertanyaan, yang seketika hilir mudik dalam kepala Lisa. Pasalnya, seingatnya, Stevy sedang melakukan perjalanan bisnis juga kemarin. Bukankah seharusnya, wanita berumur itu bertemu dengan Ayahnya? Namun, kenapa berujung di tempat gelap seperti ini?

__ADS_1


Ditengah-tengah kegundahan bercampur cemas itu. Suara tawa seseorang seketika memecah keheningan.


Membuat Lisa seketika menjerit tertahan ditempatnya kini, saat melihat ujung belati yang begitu runcing menyayat leher Stevy begitu saja.


"Jangan!" teriknya menggila.


Ingin segera terlepas dari ikatan untuk mencegah hal itu. Namun, kekuatannya seakan tak ada.


Lisa hanya bisa melihat satu demi satu adegan tak bermoral dalam hidupnya dengan begitu jelas kali ini.


Saat dimana, lantai keramik yang begitu dipenuhi debu kini berubah menjadi merah karena darah. Atmosfir di udara yang perlahan bercampur dengan aroma khas bubuk mesiu yang amis. Serta, jerit kesakitan layaknya simfoni kematian yang perlahan-lahan mengisi gendang telinganya.


Malam ini, untuk pertama kalinya Lisa tak pernah mengira jika dia akan melihat sang Ibu tiri dihabisi di depan mata dengan tak begitu manusiawinya. Sekaligus, Sam yang tiba-tiba dibunuh di depan matanya juga dengan cara yang begitu keji.


Dan terakhir, orang yang paling dia rindukan selama ini.


"Ayah ..."


Lisa kembali menangis, saat melihat sosok pria tua yang begitu dia rindukan sekali tergeletak tak berdaya. Baju kantornya tampak dipenuhi robek sana-sini, begitu juga dengan tubuhnya yang dipenuhi bekas luka.

__ADS_1


Jujur, gadis itu masih tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi pada dirinya serta keluarganya.


Seperti, dosa besar apa sih yang dia pernah lakukan, hingga membuat keluarganya juga sampai harus menderita begini?


Setahu Lisa, dia bukanlah orang yang banyak memiliki musuh. Selain itu, dia juga gadis yang tak suka ikut campur. Kecuali ... Jika ini memang ada hubungannya dengan pria itu.


"Menangis saja, menangis yang keras!" teriak seseorang di depan wajah Lisa.


Tangannya yang terasa begitu dingin mencengkram dengan kuat dagu Lisa. Hingga membuat kepala gadis itu terdongak ke atas dengan paksa.


"Jujur, aku begitu suka saat melihatmu dalam keadaan tersiksa begini. Terlebih lagi saat air matamu mengalir dimana-mana dan hatimu merasakan perasaan putus asa yang begitu dalam karena rasa sakitnya. Oh, aku begitu suka melihatnya."


Cuih!


Lisa meludah, membuat sosok yang berbicara di depan wajahnya kini menghentikan ucapannya.


"Dasar Iblis!" maki Lisa seketika.


"Aku tak menyangka kau akan begini padaku, Roselin! Memangnya aku salah apa?! Salah apa padamu, hingga kau berbuat seperti ini, huh?!"

__ADS_1


__ADS_2