
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Musim pun telah berganti beberapa kali. Mungkin ini tahun ketiga, semenjak menghilangnya Damian dari atas bukit dan terjatuh ke jurang.
Hari yang sama, dimana Zades akhirnya diangkat sebagai seorang Alpha pack malam itu juga oleh Dean. Sejujurnya, tak ada yang benar-benar berubah semenjak kejadian itu. Kecuali satu hal, klan vampir kembali muncul dan menjadi momok paling ditakuti.
Bukankah itu meresahkan? Keberadaan mereka yang sempat lenyap karena habis oleh pembantaian yang dilakukan klan serigala. Tiba-tiba kembali muncul hanya dalam hitungan tahun. Selain itu, Zades dengar kali ini klan vampir lebih kuat dari pada sebelumnya.
Kira-kira apa yang akan dilakukan Damian jika tuannya itu masih menjabat sebagai seorang Alpha?
Zades terlihat mengusap keringat dingin yang mengucur di pelipisnya dengan punggung tangan. Merasa cemas, jika dirinya tak bisa melakukan perlawanan jika klan vampir memulai balas dendamnya ke bangsa serigala, terutama Axces Pack.
Apalagi, pencariannya selama ini belum juga menemui titik terang. Jika begini apa tuannya itu benar-benar telah tiada?
"Alpha!" panggil salah seorang warior, mengalihkan atensi Zades.
"Ya?"
"Hamba menemukan jejak tuan Damian."
Zades yang mendengar itu seketika bangkit dari posisi duduknya. "Katakan, dimana kau melihatnya?"
"Air terjun."
__ADS_1
Secepatnya, Zades bergegas menuju tempat yang dilaporkan oleh salah satu wariornya itu. Karena, Zades tahu sekali. Tempat itu merupakan tempat bersejarah bagi tuannya dan mendiang Luna.
***
Terlihat dari jauh, seorang gadis tengah berlari membelah lebatnya hutan Cemara. Langkahnya begitu gesit, hingga lebih cepat dari pada embusan angin.
Rambutnya yang panjang dan berwarna hitam pekat terombang-ambing di mainkan semilir angin. Membuat seutas senyum manis terlihat jelas dibibirnya yang berwarna merah.
Saking jelitanya, sinar rembulan malam ini pun kalah terang. Ya, bulan memilih bersembunyi dibalik kabut yang perlahan-lahan mulai menutupi langit, menjadikan langit mulai mendung.
Tap!
Langkah gadis itu terhenti. Perlahan kepalanya menoleh ke samping tatkala dirinya merasakan sesuatu yang sedang mengintainya dari kejauhan.
Seolah-olah tebakannya benar, pria yang dipanggil Jimmy itu segera keluar dari tempat persembunyiannya dengan seikat bunga edelweiss ditangan.
"Sayang," panggil pria itu serasa tersenyum lebar.
"Kenapa kau bisa menemukanku semudah itu, sih?" lanjut Jimmy, yang kini telah berdiri disamping gadis berambut panjang itu.
__ADS_1
"Lisa?"
Deg!
Entah mengapa, mendengar namanya dipanggil begitu membuat kepala Lisa merasakan pusing yang luar biasa. Selain itu, dadanya juga merasa sesak. Seolah-olah, ada sesuatu yang tersembunyi dari panggilan itu.
Jimmy yang melihat kekasihnya memegang kepala seperti menahan rasa sakit, segera memegangi pundak gadis itu.
"Ada apa? Apa kau belum juga mendapat hewan buruan?"
Biasanya, Lisa akan pusing jika dia tak bergegas meminum darah, dan Jimmy tahu itu. Namun, entah mengapa. Akhir-akhir ini, sang kekasih lebih memilih untuk berjalan-jalan keluar daripada memburu binatang bersamanya.
"Tidak, mungkin karena aku belum sepenuhnya pulih jadi begini. Maaf ya, karena sering merepotkan dirimu," jawab Lisa seraya tersenyum lembut menatap wajah Jimmy.
"Lain kali, kau harus lebih berhati-hati. Dan ingat, jangan pernah pergi jauh-jauh dari tempat ini."
Ucapan Jimmy langsung dibalas anggukan kepala Lisa.
"Oh iya, besok aku akan mulai sibuk."
"Sibuk, kenapa?" tanya Lisa polos.
__ADS_1
"Sayang, besok adalah waktu yang tepat untuk merebut kejayaan bangsa kita kembali. Kau tenang saja, aku pasti akan membawakan kepala sang Alpha sebagai hadiah untukmu," jelas Jimmy yang membuat hati Lisa berdenyut-denyut nyeri.