
Dinginnya angin malam yang berembus, serta usapan lembut di atas kepala yang Jimmy berikan. Membuat mata Lisa lama-kelamaan terpejam erat, hingga akhirnya jatuh tertidur.
Dan saat itulah, seutas senyum simpul muncul dibibir Jimmy.
"Mate Damian, yah? Bagaimana jadinya, jika orang yang paling kau sayang meninggalkanmu? Uh, serigala sialan itu pasti akan sangat menderita," ucap Jimmy lirih, mirip sebuah bisikan.
Kelereng hitamnya menatap wajah Lisa lekat, yang lama-kelamaan mulai berubah menjadi semerah darah. Bahkan, sebuah taring sudah mencuat keluar dari bibirnya.
"Terlelaplah semakin dalam, lalu setelahnya kau akan melihat dunia yang baru."
Perlahan, kepala Jimmy mulai menunduk. Membuat ujung hidungnya menyentuh permukaan leher Lisa yang bebas.
Lalu, tanpa hitungan detik lagi. Taring itu menancap dalam, menembus permukaan kulit leher Lisa yang putih.
Lisa sendiri sudah jatuh terlelap begitu dalam tanpa menyadari hal itu. Rasa lelah, penat juga gelisah sedikit terobati saat matanya terpejam begini. Hanya saja ...
Sakit. Sesuatu seperti menggerogoti di atas kulit lehernya dengan buas. Membuat rasa panas dan perih seketika menyergap dirinya.
Selain itu, Lisa mendengar sesuatu diteguk paksa dengan terburu-buru. Dan saat kesadaran gadis itu mulai muncul. Membuat kelopak matanya terbuka, gadis itu melihat dengan jelas bagaimana Jimmy ... Menggerogoti sari pati kehidupannya.
__ADS_1
"Ji-Jim, hmppp-!"
Mulut Lisa seketika dibekap tangan kekar Jimmy dengan paksa. Padahal, hampir saja gadis itu berniat untuk berteriak sekeras mungkin. Namun, usahanya segera digagalkan oleh Jimmy.
Sakit, perih, sesak. Semua rasa itu kini tercampur menjadi satu ditubuh Lisa. Naasnya, gadis itu tidak bisa melakukan apapun selain menatap langit malam yang bertabur bintang dengan kaki terhentak-hentak mencoba bebas.
Tunggu, apa Lisa akan mati begini?
Sebuah pemikiran konyol tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya. Dan membuat bulir-bulir itu jatuh membasahi permukaan pipi.
Jimmy yang merasakan tangannya basah, sejenak menghentikan aksinya. Melirik ke arah Lisa sekilas, kemudian menghisap lagi.
Hanya saja, tak ada cara lain yang bisa Jimmy lakukan untuk membalas semua perbuatan Damian pada klannya. Ya, cara ini sudah tepat dan Jimmy tidak akan pernah menyesali itu.
Sebentar lagi, Damian sampai di ujung perbatasan antara klan serigala dan klan penyihir. Tapi, indera penciumannya segera disuguhkan dengan bau anyir bercampur aroma manis milik matenya.
"Lisa!" teriak Damian gusar.
Segera, serigalanya berbelok arah meninggalkan Zades dan para wariornya.
__ADS_1
***
Malam itu, Lisa pikir tawaran yang Jimmy berikan adalah hal terindah. Yah, setidaknya itu bisa membuang sebagian rasa gundah yang mengganjal hatinya.
Atau, mengurangi rasa sedih dan sesal yang menumpuk. Tapi kenyataannya, tawaran Jimmy hanyalah sebuah dalih untuk kejadian yang tak akan pernah Lisa lupa sampai kapanpun.
Mungkin juga, sampai akhir hayatnya. Saat dimana, hidungnya menghirup oksigen terakhir di dunia. Saat, kelereng cokelatnya berubah sendu dan semakin mengkabur karena dipenuhi linangan air mata. Sekaligus saat, nyawanya berada diujung kerongkongan.
Sruttt!
Hisapan terakhir, sekaligus penanda jika Lisa telah meninggalkan dunia. Jimmy yang melihat tubuh Lisa sudah terkulai lemas hanya mengusap puncak kepala gadis itu pelan sebelum menciumnya.
"Karena aku tertarik padamu, maka aku tak akan membiarkanmu mati begitu saja," katanya lirih.
Matanya masih menatap lekat wajah Lisa yang kini terpejam erat dengan sisa air mata dimana-mana.
Sret!
Jimmy menyayat pergelangan tangannya sendiri kemudian mengisapnya. Lantas, cowok itu meminumkan darah tersebut dengan mulutnya sendiri pada Lisa.
__ADS_1