
"Katakan padaku, sebenarnya kau siapa, huh?!" teriak Lisa membuat semua orang menatap ke arah dirinya dan Jimmy.
Terlebih lagi saat tangan gadis itu menarik kerah seragam Jimmy paksa, seolah ingin mengajak sang anak baru berkelahi. Sontak saja membuat kehebohan seisi ruangan.
Seketika banyak bisik-bisik yang terdengar memenuhi ruangan. Membuat Mr. Petrus mengusir Lisa dan Jimmy keluar kelas karena dinilai telah mengganggu pelajaran.
"Diam semuanya!" teriak pria tua itu.
Matanya menatap tajam kesetiap penjuru ruangan, membuat semua siswa tak berkutik ditempatnya. Kehilangan nyali saat melihat perubahan raut wajah Mr. Petrus yang seperti ingin makan daging manusia.
"Dan untuk kalian berdua!" ucap Mr. Petrus seraya menunjuk ke arah Lisa dan Jimmy.
"Bapak beri hukuman untuk berdiri di bawah tiang bendera sampai kelas selesai. Sekarang!" titahnya mutlak.
Tanpa babibu lagi, isa dan Jimmy yang mendengar hal itu segera melangkah keluar kelas.
Mereka berdua benar-benar menjalankan hukuman dengan baik. Yakni berdiri tepat di bawah tiang bendera sembari mengangkat sebelah kaki.
Mulanya hanya ada keheningan diantara mereka. Namun, panasnya sinar matahari yang begitu terik membuat Jimmy mulai mengoceh dan menumpahkan segala kesalahan pada Lisa.
"Gara-gara kau sih, reputasiku sebagai siswa baru yang tampan seketika tercoreng habis-habisan," katanya penuh percaya diri yang dibalas lirikan tajam Lisa.
"Oh."
Tertawa hambar, Jimmy langsung menatap Lisa sinis. "Sepertinya percuma saja, aku mengajak gadis sepertimu berbicara."
Setelahnya, keduanya kembali diam. Menikmati sengatan sinar mentari yang makin lama terasa membakar permukaan kulit.
Dari kejauhan terlihat Roselin sedang berjalan bersama dua orang gadis yang kemarin Lisa lihat sering mengekori Roselin kemanapun gadis itu pergi.
Sejujurnya, itu bukanlah sebuah pemandangan yang baru lagi untuk Lisa. Apalagi setelah tersebar kabar seantero sekolah jika Roselin kini jadi gadis yang paling populer.
Seketika popularitas gadis itu meningkat pesat. Membuat dirinya begitu digilai oleh ratusan anak laki-laki bahkan para gadis sekalipun.
Hanya saja yang membuat Lisa merasa miris. Karakter gadis itu juga ikutan berubah drastis.
Melihat Lisa yang menatap ke arah Roselin tanpa berkedip, membuat Jimmy ikutan mengalihkan pandangan guna melihat gadis yang kini tertawa lebar bersama dua orang gadis lain.
Terkekeh sesaat, pria itu lantas menolehkan kepalanya ke arah Lisa.
__ADS_1
"Kau cemburu?" kata Jimmy yang membuat Lisa langsung menoleh ke arahnya.
"Tidak."
"Bagus, jangan sampai kau cemburu pada wanita iblis itu," lanjut Jimmy.
Alis Lisa terlihat mengernyit sebelah karena heran. "Maksudmu?"
"Istilah untuk gadis cupu yang mulai kehilangan jati dirinya dan berubah mengganas. Kupikir itu cukup masuk akal dengan menyebutnya sebagai wanita iblis."
"Jim," panggil Lisa.
"Apa? Kau ingin aku memujimu juga, begitu?"
"Jangan pernah menilai orang seperti itu, bagaimana jika dia tak seburuk seperti dugaanmu?" ujar Lisa.
Yang langsung mendapat usapan lembut dari Jimmy dipuncak kepala. "Fufu ... Kau terlalu lugu sekali sampai-sampai tak mencium bau bangkai disekitar. Selain itu, kuharap kepolosanmu tak akan menghancurkan dirimu sendiri, Luna."
Tak lama setelah Jimmy mengatakan hal itu, bel istirahat terdengar. Membuat pria itu mengikis jarak kemudian melangkah pergi terlebih dahulu meninggalkan Lisa yang masih terpaku di tempatnya berpijak.
***
Sorenya, hujan kembali turun deras mengguyur bumi. Membuat Lisa mau tak mau mencari tempat berteduh sembari menunggu taxi lewat.
Setelah membaca pesan yang menggantung itu, Lisa terlihat mengembuskan napas berat. Menatap sendu ke arah aspal jalanan yang kini dipenuhi genangan air hujan.
Terlihat jalanan kota begitu lengang tak seperti biasanya. Ditambah lagi, hujan deras disertai badai yang datang sejak pukul tiga sore tanpa henti tadi, sampai petang tiba. Membuat Lisa semakin merasa bosan karena terlalu lama duduk menunggu sendirian.
Tak lama kemudian, terlihat seorang pria berpakaian hitam berjalan menuju ke arahnya. Langkah kakinya begitu cepat hingga membuat Lisa mulai tak begitu tenang di tempat duduknya.
"Siapa?" monolog Lisa gusar.
Entah mengapa tiba-tiba firasatnya mengatakan hal buruk akan terjadi. Membuat Lisa segera beranjak dari posisi duduknya kemudian berjalan pergi.
Dirinya bahkan tak menghiraukan tubuhnya yang basah kuyup karena diguyur derasnya air hujan. Lisa tetap saja melangkah. Berjalan cukup tergesa-gesa saat merasakan jika pria itu semakin lama terasa semakin gigih mengejar langkahnya. Sampai ...
Bruks!
"Si-"
__ADS_1
"Kau? Ada apa? Kenapa mukamu pucat begitu? Apa ada seseorang yang berniat jahat padamu?" tanya Jimmy panjang lebar seraya mengguncangkan bahu Lisa.
Jujur, ini bukan kebetulan yang baik. Melainkan sebuah kemalangan. Kenapa juga, dari sekian banyaknya teman Lisa disekolah, harus Jimmy yang dirinya temui dalam keadaan seperti ini?
Fyi, takdir macam apa ini?
"Lis, jangan hanya diam saja? Cepat katakan padaku."
"Mulutmu bau," balas Lisa cuek yang langsung mendapat respon berlebihan dari Jimmy.
"Serius? Perasaan sebelum pergi aku sudah gosok gigi dulu, loh!" katanya, seraya berulang kali mengecek bau mulutnya sendiri di depan Lisa.
"Pria konyol!" cibir Lisa, "ngomong-ngomong bagaimana kau bisa tiba-tiba muncul ditempat ini?" tanya Lisa mendadak penuh selidik.
Matanya terlihat menyipit, menatap ke arah Jimmy yang lantas menunjukan dua kantong kresek berisi kebutuhan pokok yang baru saja dia beli.
"Berbelanja, memangnya apa lagi?"
"Sayangnya aku tak begitu percaya padamu. Kau benar-benar berbelanja 'kan, bukan membunuh orang?" tukas Lisa frontal.
Jimmy hanya terkekeh pelan. "Hahaha ... Kalaupun benar, aku pasti sudah mengincar dirimu dulu sebagai korban."
"Huh?" jawab Lisa spontan.
"Bercanda, memangnya mukaku muka kriminal apa? Jelas-jelas aku ini tampan."
Mendengar hal itu membuat Lisa kembali teringat pada sosok Damian. Seorang pria yang kadang sulit sekali ditebak jalan pikirannya namun diam-diam menyimpan beribu rasa perhatian pada Lisa. Ya, meskipun segala ucapannya terkadang begitu menyebalkan. Namun, jujur dari lubuk hati Lisa paling dalam, dia begitu merindukan sosok Damian.
Kira-kira apa yang sedang pria itu lakukan sekarang, yah? Apakah dia juga merindukan Lisa di sana?
***
Terlihat seorang pria terbaring tak berdaya di atas ranjang berwana putihnya. Matanya terpejam erat dan entah sampai kapan kesadarannya akan pulih.
Disamping kiri ranjang, tampak Zades mengepalkan jari-jemari tangannya kuat. Netranya begitu kalut tatkala melihat sosok yang selama ini dia layani harus terbaring dengan kondisi tubuh yang dipenuhi luka cakar dan gigitan dimana-mana.
Cukup, tentu saja Zades tak dapat menerima penghinaan seperti ini. Malam ini juga dia harus melakukan penyerangan balik kepada para makhluk menjijikan itu untuk membalaskan dendam Damian.
Ya, tekadnya benar-benar sudah bulat. Apalagi sinar bulan purnama begitu terpancar cerah diluar. Membuat semangat membunuh Zades seketika menyala-nyala.
__ADS_1
Dengan semangat membara, pria itu segera melompat dari atas balkon kamar kemudian melolong guna memimpin penyerangan.
Ya, malam ini. Zades pastikan klan vampir akan binasa.