My Little Luna

My Little Luna
Tanda Merah


__ADS_3

"Beri aku satu ciuman lagi, maka aku akan pergi."


Lisa yang mendengar hal itu langsung menghembuskan napasnya berat. Mengusap permukaan wajahnya frustasi sebelum menjawab lesu.


"Huft, kenapa kau jadi manja dan susah diatur begini, sih?"


Damian hanya tercengir lebar, tak berniat sama sekali untuk membalas. Sedangkan Lisa, pikiran gadis itu makin kacau saja saat mendengar ketukan pintu dari Stevy yang makin lama semakin tak sabaran.


"Lis, kenapa belum dibuka. Kau baik-baik saja, kan?" teriak sang Ibu tiri dari luar.


Lisa makin tak karuan saja. Segera gadis itu berpikir keras, lantas menarik lengan Damian paksa untuk beranjak dari ranjang.


Ditariknya pergelangan tangan pria itu sekuat tenaga ke arah pintu balkon yang terbuka. Ya, Lisa berencana untuk mengusir Damian dari sana. Karena kemungkinan untuk menyembunyikan pria itu sangatlah kecil, Stevy pasti akan dengan mudah menemukan Damian dan itu terlalu berisiko bagi Lisa.


"Kau mau membawaku ke mana?" tanya Damian.


Pria itu tak menolak dan mengikuti saja langkah kaki Lisa yang pendek. Meskipun begitu, Damian tahu dengan jelas apa yang akan matenya itu lakukan padanya.


"Diam saja dan ikuti aku!" sentak Lisa yang langsung dibalas anggukan kepala Damian.


Fyi, pria itu benar-benar berubah layaknya seorang anak kecil. Lucunya lagi, Damian tidak menyadari perubahan besar sikapnya. Dia seperti menjadi dua karakter yang berbeda jika berada di dekat Lisa.


Tentu saja, hal ini tak luput dari perhatian Zhask. Wolf itu bahkan menertawakan tingkah konyol Damian hingga memenuhi isi kepala.


'Oh, astaga! Mateku benar-benar sudah membuatmu terhipnotis, Dam. Kekekeke ...'


Mengernyitkan sebelah alisnya, Damian langsung mengoreksi. 'Dia mateku, camkan itu.'


'Oke-oke, dia milik kita.'


Barulah kepala Damian mengangguk setuju. Pria itu lantas memutuskan mindliknya dengan Zhask saat melihat matenya itu tiba-tiba membalikkan tubuhnya kemudian mencium bibirnya dengan cepat.


"Sudah, kau boleh pergi!" ujar Lisa.


Damian masih terdiam mematung ditempatnya berdiri. Jujur dia cukup kaget dengan tindakan gadis itu yang terbilang sangat cepat, hingga membuat Damian harus mendesah kecewa dalam hati.


Kenapa cepat sekali? Batinnya berontak.

__ADS_1


Tapi bagaimanapun juga janji adalah janji. Jadi setelah mendapatkan ciuman singkat itu Damian langsung bersiap untuk pergi.


"Oke, tapi kau harus ingat. Aku pasti akan membawamu kembali ke Mansion, lalu memberitahu semua orang jika kau adalah Lunaku, Ratuku sekaligus belahan jiwaku. Jadi, jika ada pria lain yang berani mendekat bahkan menyentuh sehelai rambutmu. Akan kupastikan, kepalanya terpisah dari tubuhnya saat itu juga," jelas Damian yang membuat Lisa terkekeh pelan.


Permulaan kata yang romantis, namun begitu sadis dan bengis dibagian akhir. Lantas apa Damian akan memenggal kepala Ayah juga? Lisa membatin.


"Sebaiknya kau pergi saja sekarang, waktunya benar-benar mepet." Sungguh balasan dari Lisa membuat mental Damian down seketika.


Padahal pria itu sempat membayangkan jika Lisa akan segera berteriak histeris saat mendengar ucapan tadi. Atau pada reaksi kedua, Lisa akan bergegas pergi ke arah Damian sebelum kemudian memeluk tubuhnya erat sekali sambil menangis karena merasa terharu.


Sayangnya, itu tidak berlaku bagi Lisa. Ya, selain keras kepala, matenya itu juga berbeda dari gadis lain kebanyakan.


"Baik-baik, aku akan pergi. Ingat jangan merindukan aku!" ancam Damian.


Lisa seketika mengernyitkan alisnya. "Aish, benar-benar aneh!"


Tak lama setelah itu, Lisa bergegas pergi untuk membuka pintu kamar.


Krieett ...


"Apa ini? Kenapa bisa bingkainya pecah sampai seperti ini?" tanyanya penuh selidik.


Lisa yang sudah mencari alasan sebelumnya segera menjawab,"Tanganku tak sengaja tergelincir saat memegangnya tadi, jadi bingkainya jatuh. Maaf, membuat Ibu sampai khawatir begini."


Awalnya Stevy setengah tidak percaya. Apalagi dia tahu betul jika Lisa bukanlah gadis yang ceroboh. Namun, melihat raut wajah sang putri cukup murung hari ini membuat hatinya tergerak.


Tanpa sadar kakinya melangkah mendekati tempat Lisa berdiri. Kemudian tangannya segera terulur untuk mendekap tubuh Lisa erat.


"Tidak apa-apa, mungkin hari ini anak Ibu lelah. Ah iya, apa kau mau makan malam dulu, Sayang? Kebetulan Ibu baru selesai memasak makanan kesukaanmu," tawar Stevy lembut yang langsung dibalas anggukan kepala Lisa cepat.


Tampaknya, malam ini berlalu cukup baik. Lisa juga bersyukur Stevy tidak lagi mencurigai dirinya. Hanya saja semua kehangatan itu seketika berubah saat Stevy melihat sesuatu yang aneh terjadi pada anaknya.


"Tunggu, ada apa dengan lehermu? Kenap-"


Dengan perasaan gugup Lisa langsung berteriak. "Digigit nyamuk!"


Namun Stevy tak mengindahkan ucapan anaknya. Wanita berumur itu semakin menyipitkan matanya dan menatap wajah Lisa penuh kecurigaan sekarang.

__ADS_1


"Sungguh? Tapi itu seperti ..."


"Ibuuuu!! Kau bilang tadi ingin mengajakku makan malam. Tapi, kenapa bertanya hal yang tidak-tidak? Ingat, berprasangka buruk pada seseorang itu bukanlah tindakan yang terpuji loh." Lisa berucap seraya memasang ekspresi wajah kecewa yang dibuat-buat.


Dan semua itu hanya untuk menyembunyikan jejak yang sengaja ditinggalkan Damian.


'CK! Benar-benar pria tanpa urat malu,' maki Lisa dalam hati.


***


Keesokan harinya Lisa akhirnya memilih untuk memakai syal berwarna merah ke sekolah. Jujur, ini bukan gayanya terlebih lagi dia tidak sedang demam atau karena faktor cuaca dingin di luar. Melainkan karena ulah Damian.


Tanpa Lisa sadari pria itu meninggalkan cukup banyak bekas merah diarea leher yang ternyata sulit untuk dihilangkan. Bodohnya lagi, Lisa baru menyadari hal itu saat dia berkaca setelah selesai mandi tadi pagi.


"Oh, Gosh! Dia benar-benar minta kuhajar!" umpat Lisa kesal sampai menggema disetiap penjuru koridor.


Kebetulan, suasana sekolah masih sepi. Jadi Lisa bebas berteriak sesuka hati untuk sementara waktu.


Saking kesalnya, Lisa sendiri tak menyadari kehadiran Jimmy yang tiba-tiba sudah muncul dan berdiri tepat dibelakang tubuhnya.


"Ah sial, hari ini aromamu begitu aneh. Mirip anak anjing kecil, yang baru saja keluar dari got."


Jimmy berbisik tepat di dekat telinga Lisa. Yang kontan saja membuat kepala gadis itu menoleh ke arahnya.


"Hah?"


"Kau bau dan aku tidak suka itu. Jadi bisakah aku menghilangkan baunya. Sungguh, aromamu benar-benar tidak enak dan menyengat." Jimmy berkata seraya melangkah mendekat ke arah Lisa semakin dekat.


Membuat kaki gadis itu mundur secara alami kebelakang hingga akhirnya punggung Lisa menabrak tembok.


"Ka-kau mau apa?" tanya Lisa terbata. Dia tidak bisa menyembunyikan nada getar pada suaranya karena panik.


"Mauku?"


Kepala Jimmy semakin mendekat hingga hanya tersisa beberapa centi saja dari wajah Lisa. Saking dekatnya, gadis itu bisa merasakan embusan napas hangat Jimmy menggelitik didekat lehernya.


"Ji-Jim, jangan!"

__ADS_1


__ADS_2