
Cairan pekat itu perlahan-lahan mengalir, mengisi mulut. Membuat Lisa merasakan sensasi aneh yang menggelitik seluruh tubuh.
Padahal jelas-jelas, dia kehabisan napas seperti diambang hidup dan mati. Namun, berkat sesuatu yang mengalir dikerongkongannya, itu membuat kesadaran Lisa perlahan-lahan mulai kembali.
Hal itu ditandai dengan suara detak jantungnya yang kembali berdenyut-denyut pelan, lalu menghilang.
Tunggu, ada apa dengan jantungnya?
Mata Lisa masih terpejam erat, saat merasakan sesuatu yang begitu lembut menyapu ujung bibirnya. Seolah-olah sedang mendorong masuk sebuah cairan yang baunya menyengat.
"Uhukkk! Uhukkk! Uhukkk!"
Dirinya terbatuk hebat, namun sesuatu yang lembut itu masih saja terus mendorong masuk cairan tadi tanpa henti. Hingga Lisa terpaksa menelannya.
Anehnya, Lisa menjadi sangat kehausan sekali. Seolah-olah tenggorokannya kering karena tidak dialiri air begitu lama.
Seperti ada zat adiktif yang begitu membuatnya candu secara mendadak. Membuat Lisa ketagihan akan rasa itu lagi dan lagi. Yah, dia jadi serakah tanpa sadar dan ingin meneguknya habis sampai tak tersisa.
Tersenyum tipis, Jimmy perlahan melepas tautan bibirnya pada bibir Lisa. Mengusap permukaan pipi gadis itu pelan, membuat kelopak mata Lisa terbuka.
__ADS_1
Mungkin, dulu kelereng cokelat itu menatapnya biasa. Tapi kini, Jimmy rasa usahanya tidak sia-sia.
"Selamat datang kembali, kekasihku." Jimmy berucap pelan yang langsung diberi ciuman kecil oleh Lisa dipipi.
Sejujurnya, hal itu bukan karena Lisa berreinkarnasi. Tapi, ingatannya benar-benar lenyap setelah bangkit kembali kali ini.
Tepatnya sih, ingatan selama gadis itu menjadi manusia telah hilang. Tergantikan oleh jati dirinya yang baru sebagai klan vampir. Lalu Jimmy, dengan berani mengambil kesempatan itu secara langsung dengan menyebut Lisa sebagai kekasihnya.
***
Dilain sisi, Damian yang memacu larinya akhirnya sampai ditempat itu. Tempat dimana, jejak dan aroma matenya benar-benar tercium begitu jelas. Seolah-olah, Lisa memang sempat berada di tempat ini beberapa saat.
Apa dirinya terlambat?
"Lisa!"
"Lisa!"
Damian berteriak seperti orang gila ditengah hutan belantara. Sedangkan Zhask, wolfnya itu memilih untuk bungkam sedari tadi.
__ADS_1
Mungkin dia marah dan kesal karena mendengar kabar jika matenya hilang. Yang lebih parah lagi, Damian terlambat untuk bergerak.
"My Alpha, hamba minta maaf. Tapi jejak Luna seperti lenyap ditelan bumi." Zades berkata seraya membungkukkan badannya.
Merasa begitu salah, karena hal ini. Dan dia sangat tahu, pasti tuannya benar-benar menderita sekarang.
Dengan wajah yang begitu kecewa, Damian melangkah pelan menuju ujung batu di atas bukit. Berdiri di atas sana, seraya memandang rembulan sendu.
"Apakah aku masih pantas untuk disebut Alpha?"
"Tuan!" bantah Zades.
"Melindungi satu orang saja aku tidak becus, apalagi untuk melindungi orang-orang di Axces Pack? Zad ..." Damian memalingkan wajahnya sedikit ke arah betanya itu.
"Bisakah kau gantikan aku, aku lelah dan rasanya lebih baik menghilang saja dari dunia ini, jika hidup tanpanya."
Mata Zades melotot, mendengar kata-kata tuannya itu. Namun, belum sempat dia menjawab. Damian sudah lebih dulu menggores lehernya sendiri. Membuat keseimbangan pria itu goyah lantas terjatuh bebas ke dalam jurang.
"My Alpha!" teriak Zades.
__ADS_1
Tangannya berusaha untuk menggapai tubuh Damian. Tapi karena perbedaan gravitasi sekaligus posisi mereka yang miring. Membuat Zades begitu kesusahan sekali untuk menjangkau tubuh tuannya.