My Little Luna

My Little Luna
Terima Kasih (End)


__ADS_3

Dengan matanya sendiri, Lisa melihat satu-persatu orang-orang dari klanya dibantai habis-habisan. Sejujurnya, dia tidak pernah mengira jika bangsa serigala akan sekuat dan sebringas ini.


Bahkan Jimmy, Lisa dapat melihat dari atas sini jika pria itu cukup kewalahan juga dibawah sana. Seperti, kemanapunnya tak sebanding dengan satu ekor serigala musuh.


Jika begini, apa Lisa akan diam saja?


Ah tidak! Mungkin ini saat yang tepat untuk menjadi penyokong dari belakang. Yah, Lisa cukup melancarkan anak panah untuk membantu Jimmy. Setidaknya, dia akan lebih berguna dari pada harus diam saja mengintai.


Dilain sisi, setelah dibujuk oleh Zades kemarin, akhirnya Damian mau kembali. Dengan prinsip, dia akan memenangkan peperangan ini untuk Lisa di atas sana.


Tapi anehnya, Zhask yang sudah lama berdiam diri kembali menggila. Di dalam kepalanya, wolfnya itu terus berteriak jika matenya masih hidup. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Zhask bilang jika Lisa ada di tempat ini.


Tentu saja, hal itu membuat fokus Damian sedikit terganggu. Pria itu jadi beberapa kali melihat ke sana-kemari mencari sosok matenya yang sudah lama menghilang. Tak terkecuali, ke arah klan Vampir sendiri.


"Lihat apa kau, lawanmu itu ada di sini!" teriak Jimmy saat Damian terkesan mengacuhkan dirinya, dan malah melirik ke arah lain.


"Minggir!" balas Damian.


Pria itu tampak tak berselera untuk melawan Jimmy yang terlihat sudah siap di serang.


"Kau pikir, aku akan menurut? Tentu saja aku akan menyerangmu lebih dulu," kata Jimmy lagi, sembari melayangkan serangan pada Damian.


Mau tidak mau, Damian harus meladeni tindakan Jimmy barusan. Membuat keduanya seketika terlarut dalam pertandingan individu yang begitu sengit.


Damian terlihat menyayat lengan Jimmy dalam, membuat darah segar seketika muncrat keluar. Jimmy sendiri yang merasakan lengannya terluka, hanya bisa meringis pelan.


Sedikit memundurkan langkahnya kebelakang, kemudian kembali maju untuk melayangkan pedangnya ke arah leher Damian.


Sayangnya, tindakan Jimmy berhasil diprediksi lebih dulu oleh Damian. Alhasil, serangan yang akan cowok itu lakukan gagal total. Apalagi sekarang, kepalanya sudah dicekik begitu erat, hingga membuatnya kesusahan bergerak untuk melawan.


"Apa ada kata-kata terakhir?" ujar Damian tepat di depan telinga Jimmy.


Tapi, aksinya itu harus mendapat hadiah lesatan anak panah, yang langsung melesat cepat sampai menggores pipi kanan milik Damian.

__ADS_1


Kontan saja, fokus Damian menjadi sedikit terpecah dan membuat Jimmy bisa segera melarikan diri dari cengkraman pria itu.


"Kenapa kau kemari?" tanya Jimmy saat sudah berada di depan Lisa.


Untung saja, sebelum pergi Jimmy sempat menyuruh gadis itu mengenakan penutup wajah, jadi Damian tidak akan langsung mengenali muka Lisa saat ini.


"Aku mencemaskanmu," balas Lisa cepat.


Namun, tubuhnya langsung didorong mundur oleh Jimmy. Soalnya, dia yakin jika Lisa di sini lebih lama, Damian akan mengetahui dan merebut gadis itu dari tangan Jimmy.


"Kau harus pergi, keadaanya tid-"


"Jimmy!" pekik Lisa.


Tatkala melihat kepala Jimmy terhempas begitu saja dari tempatnya. Membuat salju yang putih mulai tercemari noda-noda darah.


Aroma amis?


Genangan darah?


Ibu?


Ayah?


Tidak!!!


Itu suaranya, Lisa yakin sekali. Apa dia pernah punya ingatan yang menyakitkan begitu? Tapi, kepalanya begitu pening dan sosok itu ...


Apa dia akan membunuhnya juga?


Hanya saja semua ketakutan miliknya tidak terjawab. Karena saat sosok itu semakin dekat, pria itu malah merengkuh tubuhnya dengan erat. Seolah-olah mereka tidak pernah bertemu lama sekali.


"Lisa, ini aku Damian!"

__ADS_1


"Kau bisa mendengarku, kan. Lunaku, sayang?"


Jika pria ini benar-benar kekasihnya, lalu siapa Jimmy?


Ditengah kebuntuannya, satu sosok yang Lisa pernah lihat muncul. Sosok gadis berambut hitam yang sepertinya pernah dirinya lihat disuatu tempat. Tapi, siapa?


"Kau mungkin lupa. Dan hanya kau yang bisa melihatku. Sejujurnya, aku begitu iri denganmu yang bisa kembali hidup dari kematian dan dikelilingi oleh orang-orang terkasih. Tapi, Lis. Aku senang kita pernah bertemu, meskipun hanya berbicara sebentar saat di dalam bus waktu itu. Jika kau sudah bisa mengingatku nanti, aku berharap kau mengunjungi sebuah tempat di dekat air terjun, lalu taruhlah setangkai bunga krisan di atas batu. Maaf karena sempat membuatmu menderita, tapi aku lega karena Jimmy mengingatkannya kemarin. Jadi, aku harap kau bisa kembali menjadi Lisa yang dulu dan aku sangat-sangat menantikan kehadiranmu."


Setelah itu, sosok gadis tadi seolah lenyap begitu saja. Meninggalkan Lisa yang menangis tersedu-sedu di dalam dekapan Damian.


"Lis?" panggil Damian lagi, yang langsung dibalas pelukan erat Lisa.


"A-aku, aku mengingat semuanya. Ta-tapi, aku rasa kita tak bisa bersama lagi Dam, karena aku musuhmu sekarang."


"Kau bicara apa?" tanya Damian setengah kesal.


"Dengar, mau apapun kau itu. Jika kau memang ditakdirkan sebagai mateku, maka kau akan tetap selamanya menjadi kekasihku. Kau itu satu-satunya jawaban yang telah diberikan oleh Moon Godnes untukku setelah sekian lama. Jadi, aku tidak peduli jika kau bukan Lisa yang dulu lagi. Karena dimataku, Lisa adalah Lisa, seorang Luna sekaligus mate Damian Abigail."


Mendengar itu membuat senyum merekah dibibir Lisa. "Terima kasih."


Mungkin ini awal dari kebahagiaan kecil yang akan Lisa dapat. Meskipun statusnya kini bukan lagi manusia, tapi semenjak perang dimenangkan oleh Damian. Pria itu menghapus permusuhan antara klan vampir dan bangsa serigala.


Dia bahkan, membuat perjanjian tertulis antara bangsanya sendiri dan klan vampir untuk memegang teguh kedamaian. Sejak saat itu, kedua klan mulai hidup berdampingan tanpa takut akan adanya pertikaian.


Lalu Lisa yang teringat dengan sosok itu, kini bersama Damian pergi menuju air terjun. Tak lupa, dia membawa setangkai bunga krisan putih dan juga permen mintz.


Sesampainya di sana, Lisa segera berjongkok kemudian mengusap ujung batu di dekat air terjun itu.


"Roselin, aku datang. Semoga kau tenang di sana dan ini, ku bawakan juga permen yang kau tawarkan dulu padaku. Sejujurnya aku tidak begitu membencimu, meskipun kau sudah bertingkah begitu buruk kemarin. Tapi, terima kasih juga. Berkatmu, aku bisa bertemu dengan pria yang mau menerimaku apa adanya." Lisa berujar seraya melirik ke arah Damian.


"Terima kasih juga, karena sudah membuatku kembali ingat dengan satu-satunya orang yang paling aku cintai."


Mendengar itu, membuat Damian segera menarik tengkuk Lisa untuk mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Kurasa, sudah saatnya kau kutandai. Jadi, jangan salahkan aku, jika karena kata-kata provokasimu itu, aku tidak bisa lagi menahannya."


Dan setelah itu, Damian langsung mencium bibir Lisa buas. Sebelum kemudian, menandai Lisa sebagai wanita miliknya di dunia ini.


__ADS_2