My Little Luna

My Little Luna
Balas Dendam (2)


__ADS_3

Auu ...


Lolongan serigala yang saling bersahutan terdengar keseluruhan penjuru hutan. Malam ini tepat saat gerhana bulan merah muncul, Zades melakukan penyerangan besar-besaran secara mendadak pada klan vampir untuk balas dendam.


Auu ...


Grrr ...


Lolongannya sekali lagi terdengar, layaknya simfoni kematian bagi para kaum berkulit pucat itu. Terlihat lebih dari lima puluh warior kelas satu yang diterjunkan untuk berperang.


Berlari begitu cepat membelah hutan yang sunyi. Lantas berhenti tepat di atas bebatuan air terjun, yang letaknya tak begitu jauh dari Kastil Steam. Tampak mereka berdiri sejajar, dengan mata kuning kecokelatan yang menyorot tajam pada bangunan tua yang ujungnya terlihat dari atas sini.


"Jangan sisakan siapapun, habisi semua yang kalian lihat." Zades memberi titah pada anak buahnya lewat telepati.


Semuanya serempak mengangguk, mengerti. Hanya dalam hitungan detik setelah itu, mereka kembali berlari membelah hutan. Melompat naik ke atas gerbang tiba-tiba. Hingga membuat pintu besar nan kokoh itu berhasil diterobos masuk oleh lima ekor warior yang bertubuh besar.


Tak jauh dari mereka, ada Zades serta dua orang warior lagi yang mulai berjalan memasuki halaman Kastil. Disusul dengan warior yang lain.


Mereka menggeram keras, membuat para vampir penjaga gerbang depan hanya bisa melangkah mundur, seraya mengarahkan mata tombak yang runcing ke arah depan penuh waspada.


"Serang!" teriak Zades mengkomando.


Membuat dua ekor warior disisi kanan-kirinya langsung melompat tinggi, menerjang beberapa penjaga vampir untuk digigit kepalanya sampai putus.


Sontak saja, suasana Kastil yang tadinya hening mendadak berubah drastis. Tempat itu, mulai dipenuhi jeritan pilu para vampir yang dibunuh secara brutal.


Karena penyerangan mendadak itu pula, klan vampir benar-benar binasa. Bahkan sang raja dan putranya, Cleon. Mereka mati begitu mengenaskan dengan bagian tubuh yang tercabik-cabik tak berupa.


Melihat hal itu, membuat seutas senyum simpul terbit dibibir Zades. Perlahan, kaki pria itu melangkah, mendekati kepala sang raja vampir dan Cleon yang tergeletak dengan mata melotot penuh, menyoroti wajahnya.


Dirinya lantas berjongkok, lalu mengambil dua kepala itu sebelum diangkatnya tinggi-tinggi ke udara. Agar semua pasang mata dapat melihatnya.


"Kabarkan pada semua klan, jika mulai detik ini Kastil Steam telah menjadi bagian dari Axces Pack! Dan siapapun yang tak menyetujui hal itu, koyak kepalanya saat itu juga!" titah Zades.

__ADS_1


Ya, sepertinya ini adalah harga yang sesuai dengan apa yang telah klan vampir lakukan pada pemimpin Packnya. Zades jamin, jika Damian sudah sadar nanti, pria itu pasti akan sangat senang dengan apa yang Zades lakukan malam ini.


"Kita kembali!"


Tak lama kemudian, Zades dan beberapa warior yang lain berlari kembali memasuki hutan. Meninggal sepuluh orang warior yang lain untuk menjaga rumah baru mereka.


Sayangnya, semua kejadian yang Zades dan anak buahnya lakukan malam ini terekam jelas dalam ingatan seseorang.


Yah, rupanya James melihat pada detik-detik terakhir pembantaian itu. Saat dimana semua  orang dari klannya telah habis terbantai, tak terkecuali dengan sang ayah dan saudara kembarnya, Cleon.


Terduduk jatuh dibawah pohon, James hanya bisa menangis tersedu, saat menyadari kedatangan dirinya yang bisa dibilang cukup terlambat. Mungkin, jika James datang lebih awal, semuanya tidak akan berakhir begitu saja seperti ini.


Mungkin juga, James masih bisa bertegur sapa dengan Cleon, serta berbincang ringan dengan sang Ayah seperti biasa.


Apalagi kedatangannya malam ini ingin menyampaikan sebuah pesan, jika dia telah berhasil melakukan misinya. Akan tetapi, semesta berkata lain rupanya.


Disaat James mulai berhasil melakukan tugasnya, dia malah harus kehilangan semuanya. Yakni, keluarga, pangkat serta tempat tinggal.


Bukankah jika seperti ini, bangsa serigala telah menghancurkan hidupnya? Mereka bahkan melenyapkan semuanya tanpa menyisakan seorangpun untuk hidup.


Maka dari itu, mulai malam ini juga James bertekad untuk menjadi sosok lain supaya bisa dengan mudah menjalankan misinya untuk menghancurkan Axces Pack.


"Dam, jika aku tak bisa menghancurkan pertahanan klanmu. Maka jangan salahkan aku, karena berniat licik untuk merebut matemu. Yah, tunggu saja, kau pasti akan mendapatkan balasan atas kejadian malam ini. Aku pastikan itu!" ucap James berapi-api.


***


Dilain sisi, Zades dan pasukannya telah kembali ke Mansion. Sesampainya di sana, pria itu langsung disambut dengan kemunculan sang Alpha yang sudah tersadar dari komanya kemarin.


Terlihat Damian tengah berdiri ditepi balkon. Wajahnya yang tampan tampak bersinar karena dihujami sinar rembulan, membuat Zades tersenyum lebar melihatnya.


"My Alpha!" serunya antusias tidak seperti biasa.


Zades bahkan langsung berlari ke arah tuannya kemudian memeluk tubuh Damian tanpa permisi saking senangnya.

__ADS_1


"Syukurlah Anda sudah sadar."


"Yah, seperti yang kau lihat. Rupanya Moon Goodnes masih sayang kepadaku," ucap Damian seraya berjalan tertatih ke arah ranjang.


"Ngomong-ngomong, dari mana saja kau?" tanyanya kali ini dengan raut wajah berbeda.


Zades yang mengerti perubahan raut wajah tuannya itu langsung berlutut memberi hormat.


"Sebelumnya, maafkanlah hamba yang tidak datang tepat waktu kemarin, My Alpha. Lalu mengenai kepergian hamba hari ini. Hamba baru saja membalaskan dendam tuan pada klan vampir."


"Kau membantai mereka?" Kepala Zades langsung mengangguk.


Membuat seutas senyum simpul terbit dibibir Damian. "Bagus, kau memang seperti apa yang aku harapkan, Zad!"


Senyum Damian semakin lebar saja setelah mendengar penjelasan Zades. Terutama pada poin, jika Kastil Steam kini sudah menjadi bagian dari Axces Pack.


Sepertinya dengan tempat itu, Damian bisa melawan balik Dean yang masih saja berusaha mengekang dirinya. Meskipun Damian kini telah dewasa dan dapat memilih yang terbaik untuk dirinya sendiri.


Menghentikan suara tawanya, Damian kontan menatap wajah Zades kembali.


"Di mana Lisa? Kenapa aku tak melihat sosok gadis itu, bahkan saat aku bangun tadi?" tanyanya.


Menelan ludah susah payah, Zades akhirnya menjawab, "Luna ... Sayangnya hamba tidak tahu dia ada dimana. Itu karena saat hamba dan para warior sampai, hanya ada Anda dan para makhluk menjijikan itu di sana."


Mendengar hal itu membuat Damian menjadi kesal kembali. Bisa-bisanya dia kehilangan gadis itu kali ini. Bahkan saat Damian baru sadar jika Lisa adalah mate yang Zhask cari selama ini.


Menggeram keras, Damian berniat mencari gadis itu malam ini. Namun, Zades sudah dulu mencekal pergelangan tangannya terlebih dahulu.


"Maaf karena hamba begitu lancang, melakukan hal ini. Tapi, My Alpha ada hal lain yang ingin hamba sampaikan kali ini," ungkap Zades meskipun mendapatkan lirikan tajam dari Damian.


"Katakan!"


"Rupanya ada dalang lain dibalik penyerangan kemarin, sekaligus pelaku yang menjebak Luna untuk meninggalkan Mansion."

__ADS_1


"Maksudmu?" tanya Damian masih belum mengerti.


Secepatnya, Zades menyerahkan secarik kertas yang dirinya temukan sebagai tanda bukti pada Damian. "Baca ini, maka Anda akan tahu siapa pelaku aslinya."


__ADS_2