
Lisa tersadar dan langsung mendapati tempat yang begitu minim penerangan. Mungkin hanya ada cahaya sorot yang berasal dari lampu bohlam redup di atas kepalanya.
Selain itu, ia merasakan kedua tangannya diikat begitu kencang kebadan kursi. Membuat Lisa kesusahan sekali hanya untuk bergerak.
Kepalanya masih merasakan pening, pandangannya juga belum sepenuhnya jelas untuk melihat sekeliling. Namun, Lisa masih berusaha untuk mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan.
Sayangnya, kondisi di dalam ruangan ini terlihat lengang. Tak ada tanda-tanda kehidupan apapun di tempat ini, selain dirinya.
Tak ingin tinggal diam begitu saja, Lisa berusaha untuk bergerak ke samping, agar ikatan yang melilit ditubuhnya bisa sedikit mengendur.
Cukup sulit memang, tapi ia masih mencoba dengan segala macam cara. Hingga, Lisa mendengar suara langkah kaki seseorang dari balik pintu, yang perlahan mendekat.
Secepatnya, Lisa memejamkan matanya kembali. Berpura-pura jika dirinya, belum sadarkan diri, agar tahu siapa dalang dibalik penculikan ini.
__ADS_1
Krieet ...
Tak lama dari itu, terdengar suara pintu kayu terbuka perlahan. Begitu juga dengan suara derap langkah yang perlahan mendekat ke arah Lisa yang masih saja memejamkan mata.
"Akhirnya, aku berhasil menangkap dirimu, Lis!" ucap seseorang yang membuat Lisa inginĀ membuka matanya cepat, guna melihat sang pelaku.
Namun, gadis itu mengurungkan niatnya. Dalam diam dan beribu tanda tanya di dalam kepala. Lisa membiarkan semua rasa itu bersatu.
Yah, gadis itu masih saja memejamkan matanya erat. Tapi, dengan indera pendengaran yang sengaja Lisa pertajam fungsinya, untuk menangkap segala bunyi disekitar. Toh, dia begitu curiga dengan pemilik dari suara yang cukup tidak asing lagi ditelinganya ini.
Lisa dapat mendengar suara sosok itu yang mendesah berat, seolah-olah kecewa.
"Ah, sial! Melihat wajahmu dekat begini saja, meskipun dalam kegelapan masih bisa membuat jantungku tak karuan. Benar-benar, seorang Eve yang kucari selama ini. Tapi tunggu ..."
__ADS_1
Sosok itu tiba-tiba menjeda ucapannya. Membuat Lisa segera menahan napas takut-takut, terlebih lagi saat dirinya merasakan terpaan napas hangat kembali muncul di area bawah lehernya.
"Bau serigala? CK, jangan bilang kalau dia seorang Luna? Ini benar-benar menarik, kalau begitu aku akan menantikan kedatangan sang Alpha untuk menjemput kekasihnya. Tapi sebelum itu, aku harus segera menyelesaikan rencanaku di sini."
***
Di Mansion, Damian tak henti-hentinya memikirkan tentang Lisa. Perasaannya tiba-tiba dilanda rasa gelisah yang begitu hebat, semenjak pria itu pergi dari rumah minimalis dipinggir kota itu.
"Huft!"
Menghembuskan napas panjang, netra hitam milik Damian begitu sayu tatkala melihat sang rembulan yang kini tengah bersinar. Seolah-olah, ada sebuah rindu mendalam, yang terpancar dari sorot matanya itu.
Zades sendiri yang melihat tuannya akhir-akhir ini tampak berubah dan lebih murung hanya bisa diam mengamati dari jauh. Sejujurnya, pria itu tahu apa yang sedang Damian alami saat ini. Namun, Zades memilih untuk tidak ikut campur perihal urusan asmara tuannya itu.
__ADS_1
Puas menatap rembulan, Damian akhirnya kembali memfokuskan diri untuk menandatangani setiap berkas laporan yang menumpuk di atas meja. Pria itu yakin, jika semakin lama ia tak menyentuh lembaran-lembaran itu, maka akan semakin lama juga Damian harus menunda waktu untuk pergi bertemu Lisa.
"Ah sial, aku sungguh merindukan gadis itu!"