My Little Luna

My Little Luna
Murid Baru


__ADS_3

Malam harinya, Lisa mendapati hujan lebat mengguyur jalanan kota. Disertai dengan gemuruh petir serta kilatan cahaya yang berkali-kali terlihat dari celah jendela balkon yang terbuka.


Rupanya gadis itu terlelap sejak sore di sofa dekat lemari kaca. Dirinya juga melewatkan makan malam serta belum sempat mengganti seragam sekolahnya.


Perlahan dia mengucek kedua kelopak matanya. Berjalan sedikit sempoyongan ke arah balkon, guna menutup jendela yang lupa gadis itu kunci.


Derasnya hujan disertai badai membuat Lisa kesusahan untuk mengaitkan pengait jendelanya. Berkali-kali, benda itu terbuka lebar lagi dan lagi hingga membuat Lisa berdecak pelan.


"Huft, ya ampun!"


Tangannya masih berusaha menutup jendela kamarnya. Sampai, netra gadis itu tak sengaja menangkap sebuah siluet hitam yang tengah berdiri menghadap dirinya di bawah pohon seberang jalan.


Padahal hujan begitu deras di luar, tapi sosok itu berdiri diam tanpa mengenakan payung maupun jas hujan.


Sontak saja, hal itu membuat Lisa lumayan menyipitkan matanya. Mengamati sosok diseberang jalan itu dengan pikiran yang mulai kemana-mana. Hingga ...


Jedarrr!


Suara petir yang menyambar sebuah batang pohon hingga membuatnya tumbang seketika mengalihkan perhatian Lisa. Secepatnya, gadis itu melihat ke arah kanan di mana pohon Ek milik Tuan Scot telah tumbang dan mengeluarkan asap.


Dan ketika Lisa menolehkan kepala lagi untuk melihat siluet itu. Sosoknya telah lenyap hanya dalam sepersekian detik.


***


Pagi-pagi buta, Stevy sudah berada di kamar Lisa. Ibu tirinya bilang, jika semalam telah terjadi pembunuhan di kompleks dekat rumah mereka.


Sebenarnya kasus pembunuhan belakangan ini memang sering terjadi di daerah tempat tinggal Lisa. Dan rata-rata rentang usia korban baru berusia 17-19 tahun ke atas.


Seperti kejadian pada hari Selasa kemarin. Saat Stevy berniat untuk menjemput Lisa pulang dari rumah sakit. Wanita berumur itu mendapati kerumunan tak jauh dari kompleks rumahnya.


Dari berita yang sempat dirinya dengar, mayat yang ditemukan adalah seorang gadis SMA dengan sebuah luka bekas gigitan dileher, serta mengalami kehabisan darah. Selain hal itu tak ditemukan motif lain. Barang berharga milik korban pun masih utuh.


Lisa yang mendengar penjelasan dari Stevy seketika teringat dengan sosok vampir yang malam itu hampir mengigit lehernya. Entah mengapa gadis itu menjadi semakin yakin jika kejadian yang dia alami dan Damian itu memang nyata.


Lalu soal sosok semalam?


Kenapa Lisa jadi berpikir jika itu Damian, yah? Mungkinkah dia mulai merindukan pria itu?

__ADS_1


"Lis!" panggil Stevy, "jangan melamun terus, nanti kau bisa terlambat sekolah, loh."


Seketika Lisa langsung mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah sang Ibu tiri.


"Kalau begitu Lisa berangkat sekolah dulu, sampai jumpa."


"Dadah, hati-hati dijalan yah!" ucap Stevy seraya melambaikan tangan pada Lisa di depan pintu.


Sesampainya di sekolah, Lisa langsung mendudukkan diri dibangkunya. Membuka buku novel yang gadis itu bawa serta mengenakan earphone seperti kebiasaannya.


Sejujurnya dia tak memutar musik apapun. Matanya juga tak sepenuhnya benar-benar membaca buku novel yang berada di atas meja. Bisa dibilang, Lisa hanya malas untuk berbicara dengan orang lain.


Terserah mereka mau menyebutnya sombong atau gadis jutek sekalipun. Lisa sendiri tak perduli itu.


Tak berselang lama kemudian, terdengar bel masuk sekolah berbunyi. Terlihat juga Jeni sedikit berlari memasuki kelas lantas duduk di bangku depan Lisa. Wajahnya tampak berseri seolah-olah dia baru saja menemukan bahan ghibah baru.


"Lis!" panggil Jeni seraya memutar tubuh menghadap ke arah bangku Lisa.


"Hm?"


"Ada anak baru," ucap Jeni sambil berbisik-bisik dengan tangan.


Mendecih pelan, Jeni langsung menangkup kedua pipi Lisa hingga membuat perhatian gadis itu teralih padanya sekarang.


"Dia cowok. Udah gitu tinggi, putih dan ganteng, namanya ..."


Belum sempat Jeni melanjutkan ucapannya. Mr. Petrus sudah dulu memasuki kelas dan menyapa anak-anak.


"Pagi anak-anak!"


"Pagi, Pak!" jawab semua kompak.


"Hari ini seperti biasa yah, kumpulkan buku pelajaran kalian karena akan ada kuis dadakan. Oh iya, tapi sebelum itu Bapak mau memperkenalkan seorang teman baru untuk kalian. Ingat, yang akur yah! Mari Nak, silakan masuk."


Terlihat Mr. Petrus mengangkat sebelah tangannya untuk menyuruh seseorang masuk.


Tak lama kemudian, tampak seorang pemuda bertubuh atletis dengan kulit yang cukup putih memasuki ruang kelas. Sontak saja, kedatangannya langsung disambut teriakan histeris dari para gadis.

__ADS_1


Terlebih lagi parasnya yang tampan dengan pupil mata berwarna biru laut itu. Seolah-olah dapat menghipnotis siapa saja yang menyelami kedalaman matanya.


"Hai, aku Jimmy!" ucapnya singkat.


Yang makin membuat hiruk-pikuk di dalam kelas.


Jeni juga berteriak paling heboh hingga mendapat sorakan juga dari anak-anak sekelas. Lain halnya dengan Lisa. Gadis itu terpaku saat netra cokelatnya tak sengaja bertemu pandang dengan mata sebiru laut milik Jimmy.


'Tunggu, sepertinya wajah pria itu tidak asing,' batin Lisa mengingat-ingat.


Seperti ada sepotong ingatan yang samar dan tak bisa Lisa ingat dalam kepala.


"Kalau begitu, kau boleh duduk dibangku belakang sebelah kiri yah, Jim. Kebetulan, pemilik bangku itu belum bisa mengikuti pelajaran seperti sebelumnya," jelas Mr. Petrus seraya menunjuk bangku milik Sam yang kini tak berpenghuni.


Jimmy sendiri langsung menganggukan kepala untuk membalas ucapan gurunya. Mulai melangkah perlahan ke arah bangku itu, namun terhenti tepat di dekat tempat duduk Lisa.


Yang sontak saja membuat Jeni dan Lisa langsung mendongakkan kepala, untuk melihat ke arahnya.


"Hai, namamu Lisa 'kan?" sapa Jimmy.


Yang kontan, membuat kedua mata Lisa langsung terbuka lebar tanpa sadar. Jantungnya juga berpacu cukup keras hingga membuat dadanya merasa begitu sesak tiba-tiba.


"Bagaimana kau tahu, kalian sendiri 'kan baru pertama kali bertemu?" tanya Jeni penuh kecurigaan.


Sedangkan Lisa masih saja diam seraya menatap ekspresi wajah Jimmy yang mulai menunjukkan perubahan.


"Hm, mungkin? Padahal, kupikir ini pertemuan kedua kita." Sekali lagi Jimmy menjawab dengan mata menyoroti Lisa penuh.


Pria itu bahkan seperti tak menggubris keberadaan Jeni yang sempat bertanya barusan dan duduk tak jauh darinya.


"Bukankah begitu, Luna?"


Detik itu juga Lisa tersentak. Pasalnya dia ingat betul apa arti dari panggilan itu. Ya, karena itu bukanlah sebuah sebutan asal-asalan. Melainkan, sebuah panggilan khusus bagi seseorang bila sudah memiliki ikatan spesial, khususnya untuk pemimpin bangsa serigala sendiri.


"Katakan padaku, siapa kau?" tanya Lisa akhirnya mulai angkat suara.


Tatapan matanya berubah menajam yang malah dibalas kekehan ringan Jimmy.

__ADS_1


"Jimmy, bukankah tadi kau sudah mendengar namaku?"


"Bukan itu, brengsek! Kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku!" pekik Lisa tanpa sadar. Yang kemudian membuat seluruh mata tertuju pada dia dan Jimmy sekarang.


__ADS_2