My Little Luna

My Little Luna
Mencari Petunjuk


__ADS_3

"Sekarang si cewek dukun itu telah berubah dan dia juga merebut posisimu, Lis!"


Sekelebat ingatan tentang ucapan Jeni kembali mampir diotak Lisa.


"Dan Sam jadi gila!"


Lagi-lagi Lisa teringat ucapan itu. Tampak Lisa memejamkan matanya erat seraya menikmati semilir angin yang bertiup menerbangkan anak-anak rambutnya di atas roof top.


"Sebenarnya sudah berapa lama sih, aku pergi? Atau semua kejadian itu benar-benar halusinasi?" monolog Lisa seraya mendesah berat.


Pikirannya begitu berkecamuk dan dia tak memiliki satupun petunjuk. Jika adapun, seharusnya orang itu adalah Sam. Karena dia orang terakhir yang pergi dengan Lisa sebelum kejadian itu terjadi.


Fyi, apa Lisa harus bertemu dengan Sam, yah?


Saat asyik melamun seraya mengedarkan pandangannya kesekitar. Netra cokelatnya tak sengaja menangkap sosok Roselin yang tengah dikerumuni beberapa orang di lapangan basket.


Rupanya yang Jeni katakan kemarin benar. Roselin yang dulu sering dipanggil cewek dukun kini telah berubah menjadi cewek paling populer. Bahkan anak-anak yang Lisa lihat dulu sering membully gadis itu kini mulai mencari muka untuk mengajak Roselin berteman.


CK! Dasar kaum munafik. Batin Lisa.


Dia memangku tangan di atas pembatas seraya melihat kerumunan di bawah yang makin lama semakin penuh saja.


Ditengah kerumunan ada Roselin yang sedari tadi tersenyum lebar dan dimasing-masing sisi gadis itu terdapat beberapa anak yang sepertinya 'geng' menjaga Roselin dari orang lain. Bahkan Lisa juga melihat sosok Jeni.


Cukup lama Lisa menatap kerumunan itu hingga netranya bertemu pandang dengan mata Roselin.


Anehnya, Lisa merasa jika Roselin langsung memasang wajah yang berbeda padanya. Terlihat senyum dibibir gadis itu luntur lantas pandangannya berubah mendingin saat menatap Lisa.


Kenapa? Lisa pikir dia tak pernah melakukan kesalahan apapun pada gadis itu? Bahkan karena nekat mencari Roselin, dirinya jadi tersesat di hutan.


Sungguh, aneh.


Tak lama kerumunan itu pun menghilang saat Roselin mulai berjalan pergi. Beberapa anak memang terlihat masih berjalan mengekori gadis itu, hanya saja Lisa segera membuang wajah ke arah lain. Tepatnya kesebuah bangunan bercat putih yang terletak tak begitu jauh dari sekolahnya.


"Sepertinya, aku memang harus menemui orang itu."


***


Tepat pada pukul setengah tiga sore. Lisa telah berdiri di depan gerbang yang di samping kirinya terpampang jelas tulisan rumah sakit jiwa.

__ADS_1


Tanpa membuang banyak waktu lagi, gadis itu segera melangkah memasuki tempat itu yang kelihatan cukup sepi.


Di depan setelah melewati pintu masuk, Lisa langsung disambut dengan seorang resepsionis wanita yang begitu ramah. Sebut saja namanya, Crista.


"Selamat sore, apa ada yang bisa kami bantu?" sapanya ramah.


Lisa langsung saja bertanya tentang pasien bernama Samian.


"Apa di sini ada pasien bernama, Sam? Eum, kalau tidak salah nama panjangnya Samian."


"Mohon tunggu sebentar yah."


Secepatnya, Crista mencari pasien dengan nama Samian dibuku daftar nama. Cukup memakan waktu memang, namun tak berapa lama setelahnya perawat itu langsung berseru.


"Pasien atas nama Samian, ada di kamar nomor 13, ruang C."


Lisa tampak mengangguk, kemudian melenggang pergi setelah mengucapkan terima kasih sebelumnya.


Kurang dari sepuluh menit, gadis itu telah sampai di depan sebuah ruangan bernuansa putih. Pintunya tertutup dan terdapat sebuah celah berbentuk persegi kecil di tengah-tengah dindingnya. Seperti tempat yang memang sengaja dibuat untuk melakukan interaksi tanpa bertatap muka secara langsung.


"Sam?" panggil Lisa.


Belum ada jawaban yang terdengar dari dalam. Membuat gadis itu seketika mendudukkan dirinya dibalik dinding dekat celah persegi itu.


"Aku Lisa Dealfa."


Tak lama setelah itu terdengar suara seperti barang yang dilempar ke dinding, hingga menimbulkan bunyi yang begitu keras.


Bruks!


"Pergi!" teriak Sam.


"Dasar wanita iblis! Aku tak mau melihatmu lagi!"


"Pergi!!!"


Suasana koridor rumah sakit yang sunyi seketika dipenuhi teriakan histeris Sam. Tak hanya itu, Sam juga bertindak membabi buta hingga perlu petugas medis untuk segera menenangkannya.


Lisa sendiri yang melihat hal itu hanya bisa mematung ditempatnya berdiri. Jujur, dirinya tak pernah menduga jika ucapan tentang Jeni itu benar adanya.

__ADS_1


Malahan, Lisa sempat berharap jika kabar tentang Sam itu hanya omong kosong belaka.


Saat terdiam itulah, ia melihat Sam berlari ke arahnya. Kemudian menggores pipi mulus miliknya dengan kaca yang rupanya Sam dapat dari pecahan jendela, hingga membuat darah seketika mengucur deras membasahi lantai rumah sakit yang berwarna putih.


"Aku ingin kau mati! Aku ingin kau mati wanita setan!" teriak Sam yang segera dicekal oleh beberapa orang berpakaian biru.


Tubuh pria itu langsung diseret masuk kembali ke dalam ruangan kemudian dipasung menggunakan rantai.


Salah satu petugas yang telah keluar segera menghampiri Lisa. Dirinya menawarkan untuk mengobati luka gores milik gadis itu.


Namun, Lisa segera menolaknya.


"Aku baik-baik saja, Pak. Terima kasih dan maaf telah membuat keributan."


Setelah mengatakan hal itu, Lisa segera meninggalkan rumah sakit jiwa. Sebelum pulang, dirinya sudah terlebih dahulu memesan taxi online.


Tak lama kemudian, terlihat mobil taxi berwarna hitam menepi ke arah Lisa yang telah menunggu di depan gerbang rumah sakit. Segera, gadis itu membuka pintu mobil belakang kemudian masuk ke dalam.


Di perjalanan pulang, Lisa tak banyak mengeluarkan suara. Gadis itu hanya menolehkan kepalanya ke arah jendela, memandangi pemandangan yang disajikan oleh alam semesta.


Terdengar lagu klasik khas zaman 90-an mengalun memenuhi mobil. Membuat Lisa kembali teringat dengan kejadian yang akhir-akhir ini dirinya alami. Apalagi, saat matanya tak sengaja melihat ke arah hutan Cemara yang dijadikan tempat studi wisatanya.


Sekelebat ingatan tentang dirinya dan Damian kembali memenuhi isi kepalanya.


"Loh, Non. Apa hari ini ada masalah di sekolah sampai menangis begitu?" ucap pak supir yang ternyata diam-diam mengamati Lisa dari kaca spion.


"Eh! Mata saya nggak sengaja kelilipan Pak, makanya jadi nangis begini. Hehe ... Saya kelihatan cengeng banget ya, Pak?" ujar Lisa seraya menghapus air matanya dengan punggung tangan secepatnya.


Menggeleng pelan, si supir taxi kembali berucap. "Nggak sih, cuma Non kelihatan kayak orang yang baru aja putus cinta."


Sesampainya di rumah, Lisa langsung menuju ke kamarnya dilantai atas. Dia bahkan tak menggubris panggilan Stevy yang menyuruhnya untuk makan dulu sebelum masuk ke dalam kamar.


Brak!


Lisa menutup pintu kamarnya cukup keras. Setelahnya gadis itu langsung berjalan ke arah cermin oval yang letaknya tak begitu jauh dari sisi ranjang.


Ditatapnya pantulan dirinya sendiri pada cermin. Yang kini menampakkan seorang gadis berambut cokelat sebahu dengan seragam sekolah dan luka gores cukup panjang dipipi sebelah kiri.


Tunggu, pipi sebelah kiri? Kalau tidak salah malam itu Lisa juga terluka disana.

__ADS_1


Secepatnya, gadis itu berlari ke arah cermin. Kemudian mengamati luka goresan dipipinya sekali lagi.


Ada bekas luka lama. Apa ini pertanda jika malam itu dan Damian benar-benar nyata?


__ADS_2