My Little Luna

My Little Luna
Hampir ...


__ADS_3

"Hah?" ucap Damian spontan yang hanya dibalas dengan senyuman tipis yang tersungging pada bibir Lisa.


"Kurasa kau harus pergi sekarang," kata Lisa seolah-olah sedang mengusir Damian untuk pergi secara halus.


Hanya saja, dari gelagat dan tingkah laku Lisa yang kontan saja membuang wajah ke arah lain. Membuat Damian menjadi bisa menyimpulkan, jika ada sesuatu yang sengaja gadis itu sembunyikan.


"Matemu, pasti sudah menunggumu di suatu tempat sekarang."


Nah, kan! Benar kecurigaan Damian barusan. Pasti ada apa-apa dengan perubahan sikap Lisa yang mendadak begitu.


Hanya saja, kenapa gadis itu terlihat lebih sensitif jika membicarakan soal mate?


Damian masih saja termenung dengan isi kepalanya sendiri. Membuat Zhask seketika mengumpat keras, memenuhi isi kepala.


'Bodoh!' maki wolfnya itu.


'Lisa itu cemburu karena mengira kau memiliki pasangan lain. CK, seharusnya kau memberitahunya secepat mungkin. Bukannya malah membuat pikiran mate kita semakin terbebani dengan segala macam kemungkinan.'


'Maksudmu?' balas Damian lewat mindlik.

__ADS_1


Sejujurnya, dia memang payah sekali dalam urusan asmara, sekaligus tidak peka.


'Sial, kenapa sih aku harus punya partner yang begitu payah dalam urusan cinta sepertimu, Dam?' tukas Zhask masih berbicara lewat mindlik, kecewa.


Lisa sendiri yang tidak mendapat respon dari Damian sejak tadi dibuat makin kesal. Segera gadis itu bangkit dari posisi duduknya kembali hendak pergi. Namun, pinggangnya tiba-tiba dipeluk dari belakang. Yang sontak membuat dirinya mematung seketika ditempat.


"Kau benar, mateku itu memang gadis paling cantik yang pernah kutemui di dunia ini. Lalu, kupikir dia tidak perlu menunggu karena aku sendiri sudah berada disisinya sejak tadi," ucap Damian lembut, seraya menyenderkan kepalanya ke arah tubuh Lisa. Sedangkan kedua tangan kekarnya, masih memeluk pinggang gadis itu erat.


Lisa yang mendengar penjelasan pria itu seketika mencerna tiap ucapan yang keluar dari mulut Damian. Mengaitkannya satu persatu hingga memunculkan sebuah kesimpulan.


Berarti, matenya itu adalah dirinya. Tidak lebih dan tidak kurang.


"Tunggu, jangan bilang matemu itu aku?!" kata Lisa keras hingga memenuhi seluruh penjuru kamar.


Alih-alih menjawab ataupun menganggukkan kepala. Damian justru menarik tengkuk leher Lisa dengan tangannya yang bebas, hingga membuat bibirnya bertemu dengan bibir milik gadis itu.


Cukup lama keduanya terdiam dengan posisi bibir masih menempel. Lisa sendiri masih cukup kaget akan hal yang Damian lakukan tiba-tiba ini padanya. Lain halnya dengan Damian yang malah terkesan menikmati momen ini, karena berhasil mencuri ciuman kedua milik gadis itu.


Tersenyum nakal, Damian segera mengigit sedikit ujung bibir Lisa hingga membuat gadis itu membuka mulutnya sedikit. Tentunya kesempatan ini langsung Damian gunakan untuk semakin memperdalam ciuman mereka yang makin lama semakin intens. Sampai ...

__ADS_1


Prang!


Bingkai foto yang berada di atas nakas tak sengaja tersambar tangan Lisa hingga jatuh dan pecah berserakan ke atas lantai.


Membuat Stevy seketika mengetuk pintu kamar miliknya karena merasa khawatir.


"Lisa, kenapa ada suara pecahan kaca. Cepat buka pintu, Ibu ingin masuk untuk melihatnya, Sayang!" teriaknya keras dari luar kamar yang langsung menghentikan kegiatan Lisa dan Damian yang hampir kebablasan.


Mendengar hal itu, secepatnya Lisa mendorong tubuh Damian yang sempat berada di atasnya untuk segera beranjak.


"Sebaiknya kau cepat pergi dari sini, aku takut Ibu akan berpikiran macam-macam jika melihat seorang pria asing yang bertelanjang dada di kamar putrinya," ujar Lisa menjelaskan.


Namun, Damian masih ingin menggoda matenya itu lebih lama.


"Tidak mau!"


"Dam!" teriak Lisa kesal.


Tersenyum, pria itu lantas berbisik ke dekat telinga Lisa. "Beri aku satu ciuman lagi, maka setelah itu aku akan pergi.

__ADS_1


__ADS_2