My Little Luna

My Little Luna
Tawaran Jimmy


__ADS_3

"Luna telah diculik!"


Bak tersambar petir disiang bolong. Damian langsung jatuh terduduk tanpa daya di atas lantai. Pikirannya yang kacau semakin kacau ketika mendapat kabar ini.


Zades sendiri mencoba menghapus jejak air matanya itu. Merangkak perlahan, mendekati tuannya yang kini terlihat murung.


"Maafkan hamba yang ceroboh ini."


Sekali lagi Zades meminta maaf, namun tak ada respon apapun yang dia dapat. Damian hanya menatap permukaan lantai dengan ekspresi wajah yang begitu hancur tak bersisa.


Mau bagaimana pun juga, ini bukan kesalahan Zades sepenuhnya. Ya, Damian meyakini hal itu. Terlebih lagi dia tahu jika akhir-akhir ini Zades selalu membantu dirinya menyelesaikan urusan di mansion.


Betanya sangat terampil dan bisa diandalkan dalam segala bidang. Bahkan ini pertama kalinya Damian melihat Zades menangis. Padahal saat di medan tempur dan terluka parah, Zades tak sekalipun terlihat menitikkan air mata.


Jadi, ini sudah jelas bukan salah Zades.


"Kau tak perlu menyalahkan dirimu sampai seperti itu, Zad." Damian terlihat beranjak dari posisinya sembari berucap.


Hati dan pikirannya memang kacau, namun dia harus tetap bisa mengontrol emosi saat ini. Toh, tidak akan ada gunanya jika begitu terlarut dalam amarah dan menyalahkan orang lain.

__ADS_1


"Sebaliknya, kita harus mencari Lunaku dan mendapatkannya kembali. Meskipun aku harus mengorbankan semuanya."


"Tuan!" teriak Zades.


Dia sangat tahu apa maksud dari perkataan Damian itu. Dan tentu saja, Zades tidak ingin hal buruk terjadi pada tuannya tersebut.


"Perintahkan semua warior di kelas A untuk segera bersiap. Malam ini juga, kita akan mencari ke semua tempat. Ingat, jangan sampai ada yang terlewat, meskipun itu lubang semut sekalipun."


Kepala Zades langsung mengangguk. Lantas dalam sekejap pria itu sudah melesat jauh meninggalkan Damian yang terdiam ditempatnya berdiri.


"Lisa, aku pasti akan menemukanmu," ucap Damian sendu.


Dilain sisi, Lisa yang sudah kehilangan separuh kehidupannya masih saja menatap permukaan lantai berdebu itu sendu.


Gadis itu juga tampak tak mempedulikannya semangkuk bubur dan segelas air putih yang sudah berhari-hari diletakkan di sisi ruangan tempatnya dikurung.


Sendiri, ah tidak, lebih tepatnya Lisa tak memiliki apapun lagi di dunia ini. Teman, keluarga bahkan orang yang dia cinta. Kemana mereka semua?


Lisa merasa jika dirinya ditinggalkan saat ini oleh orang-orang yang dia sayang. Lalu apakah masih ada tempat untuk dirinya di dunia ini?

__ADS_1


Damian ...


Sebenarnya dimana lelaki itu sekarang? Mengapa di saat kondisi Lisa benar-benar terpuruk begini, laki-laki itu tidak datang untuk mendekapnya erat?


Sosoknya seolah lenyap hanya dalam sekejap setelah malam itu. Ah, sial. Lisa mengumpat, menertawakan dirinya sendiri sembari menangis terisak-isak.


"Mungkin, aku yang terlalu berharap. Atau aku yang terlalu bodoh karena begitu mempercayai perkataannya yang sebenarnya hanya omong kosong belaka," katanya pelan, nyaris seperti bisikan.


"Yah, kurasa. Memang seharusnya, aku tak usah menumbuhkan perasaan ini," monolog Lisa lagi.


"Kau terlalu naif," sela Jimmy yang tiba-tiba muncul di sudut ruangan.


Perlahan, cowok itu melangkah mendekati tubuh Lisa yang masih terikat di atas kursi. Sesampainya di samping gadis itu, Jimmy sedikit membungkukkan wajahnya hingga setara dengan wajah Lisa saat ini.


Ditatapnya wajah gadis itu lekat. Wajah yang biasanya menunjukkan ekspresi penuh ketidaksukaan terhadap dirinya. Namun kali ini, entah mengapa Jimmy lebih tidak menyukai raut wajah Lisa yang tak seperti biasa.


"Apa kau mau kuajak jalan-jalan melihat bulan? Kurasa kau perlu menghirup udara segar," tawarnya yang membuat alis Lisa mengernyit seketika.


"Kau!" teriak Lisa yang langsung dibungkam tangan Jimmy.

__ADS_1


"Ssttt ... Aku tidak suka penolakan. Jadi, mari kita pergi."


__ADS_2