
"A-Aku, hanya ..."
"Hanya?" Damian mengulangi ucapan Lisa yang kini mulai beranjak dan berjalan kecil menuju balkon.
Mengikuti langkah kaki gadis berambut cokelat sebahu itu dengan senyuman tipis disudut bibir yang terkembang.
"Eum, tidak!" balas Lisa sambil membalikkan badannya.
Naasnya, hidungnya langsung menubruk dada bidang Damian yang rupanya sudah berdiri dihadapannya hanya dengan jarak 3 centi.
"Se-sejak kapan kau di sini?" tanya Lisa gugup.
Nada suaranya terdengar sedikit bergetar dan mukanya kembali memerah, merona hebat.
"Sejak satu menit yang lalu," jawab Damian keheranan.
Pria itu kembali merasa khawatir saat melihat wajah Lisa yang kembali memerah. Fyi, sepertinya gadis itu benar-benar sedang demam tinggi.
"Ayo kembali duduk di ranjang, kupikir kau perlu istirahat," lanjut Damian yang membuat mata Lisa melotot tajam.
"K-Kau mau apa? Kenapa tiba-tiba berbicara lembut seperti itu padaku?" tanyanya penuh selidik yang membuat Damian menghembuskan napas berat kemudian.
"Ikut saja dan jangan banyak tanya."
__ADS_1
Ditariknya tangan Lisa tanpa menunggu persetujuan gadis itu terlebih dahulu. Damian lalu membawanya ke arah ranjang, untuk kemudian diajaknya kembali duduk di sana.
"Sekarang berbaringlah," ujar Damian yang makin membuat Lisa menyipitkan mata penuh curiga.
"Kau ..." menunjuk wajah Damian dengan jari telunjuknya, "... tidak berniat untuk macam-macam padaku, kan?"
Pertanyaan polos itu seketika mengundang tawa pecah Damian. Lagi pula pria itu memang tak berniat melakukan apapun pada Lisa, tapi bisa-bisanya gadis yang umurnya terpaut ratusan tahun ini bisa memikirkan hal-hal kotor. Aish, apakah semua mortal memang seperti ini?
Menjitak jidat Lisa pelan, Damian lantas berucap,"Pikiranmu terlalu berlebihan. Aku hanya menyuruhmu untuk kembali tidur karena kupikir kau sedang demam sekarang."
Meringis, Lisa hanya mendesis sesaat seraya mengelus-elus permukaan dahinya yang dijitak Damian tadi.
"Lagian, kata-katamu ambigu. Oh iya, ngomong-ngomong bagaimana dengan lukamu? Apa semuanya sudah membaik?" tanya Lisa.
Netra cokelatnya kini mengamati permukaan kulit tubuh Damian. Dimana, di sana terdapat banyak sekali bekas luka yang mengering dan meninggalkan bekas kecokelatan.
Anehnya, bukannya menjawab, Damian malah menutup kedua matanya perlahan seraya mengeluarkan suara geraman tertahan. Yang sontak saja membuat Lisa jadi ikut khawatir.
"Astaga, apa lukamu belum sembuh? Maaf, aku salah menyentuh ta-"
"Jangan lakukan itu." Larang Damian seraya menghentikan usapan jari-jemari tangan Lisa dipermukaan kulitnya.
"Hah?" tanya Lisa kaget.
__ADS_1
Damian terlihat mendekatkan wajahnya kemudian berbisik pelan di dekat telinga Lisa. "Jangan menyentuh bagian tubuhku secara tiba-tiba, aku takut tidak bisa menahannya."
Menahan? Menahan dari apaan coba? Batin Lisa, bingung.
Hanya saja, gadis itu lebih memilih untuk menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dari pada harus mengajukan pertanyaan kembali yang pasti bakal semakin panjang urusannya.
"Oh iya, kenapa kau bisa kemari? Katakan, bagaimana caranya kau bisa menemukan tempat tinggalku?" tanya Lisa lagi, kali ini dia mengubah posisinya menjadi duduk bersila menghadap ke arah Damian.
"Aku menemukan mateku."
Mendengar hal itu, entah mengapa Lisa merasa dunianya seakan berhenti detik itu juga. Dia bahkan tak bisa mengontrol ekspresi wajahnya sendiri, yang sepertinya sudah berubah cuek hanya dalam sepersekian detik saja.
"Begitu, yah?" katanya dengan nada suara bergetar.
Damian yang melihat perubahan sikap dan ekspresi wajah Lisa seketika mengernyitkan alisnya sebelah.
"Yah."
Hening. Entah mengapa, keduanya mendadak enggan bersuara dan lebih memilih untuk berdiam diri dengan pikiran masing-masing.
"Heuh, pasti matemu gadis yang begitu cantik yah. Aku harap kalian bisa segera menjalin hubungan kejenjang yang lebih serius dan bisa hidup bahagia selamanya."
"Hah?" tanya Damian.
__ADS_1
Wajahnya masih saja kebingungan dengan ucapan yang Lisa lontarkan. barusan.
"Maksudmu apa?" tanyanya yang hanya dibalas senyuman tipis Lisa.