My Little Luna

My Little Luna
Rumor


__ADS_3

Reflek Lisa memejamkan kedua matanya erat saat Jimmy dirasa mulai mendekat. Dirinya bahkan merasakan terpaan napas hangat Jimmy dibagian leher sebelah kanan bawah.


Entahlah, apa yang akan Jimmy lakukan padanya. Yang pasti Lisa sungguh takut hingga tak bisa berkutik sama sekali. Bayangan akan perlakuan Sam pada dirinya tempo hari seketika menyeruak lagi.


Membuatnya mengalami rasa takut yang semakin menjadi.


Tapi anehnya, setelah itu Lisa tak merasakan apapun. Bahkan napas Jimmy seolah lenyap dalam hitungan detik begitu saja.


Kontan, gadis itu membuka matanya. Netra cokelatnya segera melihat sekeliling, sampai menemukan keberadaan Jimmy yang rupanya telah berdiri begitu jauh darinya.


Tepat di anak tangga, Jimmy tersenyum tipis menatap Lisa. Salah satu tangannya terlihat dimasukkan ke dalam saku sebelah kanan dan tangan kirinya memegang sebuah benda berwarna merah yang ...


"Astaga, itukan syalku!" pekik Lisa histeris.


Raut wajahnya yang biasanya datar tanpa ekspresi kini berubah memerah sekaligus panik bukan kepalang. Bagaimana tidak, habis benda itu satu-satunya alat untuk menyembunyikan bekas merah yang ditinggalkan Damian semalam. Tapi ...


"Aish, sialan kau, Jim! Cepat kembalikan!" teriak Lisa kesal, seraya berlari mengejar Jimmy yang mulai berlarian ala Tom and Jerry.


Terbahak-bahak Jimmy memegangi perutnya saat melihat raut kesal Lisa dari jauh. Ah, pria itu memang suka sekali menggoda Lisa.


"Kejar aku kalau kau bisa. Jika berhasil aku janji akan mengembalikannya, tapi kalau kau gagal siap-siap saja ditertawakan semua orang wkwkkw ..." tantangannya.


Membuat Lisa semakin kesal. Buru-buru gadis itu berlari untuk menangkap Jimmy yang larinya sangat cepat.


Saking cepatnya, Lisa sampai harus berjalan tertatih karena tidak kuat lagi mengejar Jimmy yang staminanya, entah mengapa terasa tidak seperti manusia pada umumnya.


Disaat itulah tubuhnya tak sengaja menabrak bahu Jeni yang kebetulan muncul dibelokkan koridor kelas.


"Woy, punya mata nggak, sih? Kalau jalan tuh liat-liat, jangan asal main tabrak. Rese banget sumpah," cerca Jeni tak seperti biasa.


Wajah gadis itu bahkan melengos saat Lisa berusaha untuk melihat matanya. Sebenarnya ada apa?

__ADS_1


"Sorry, nggak sengaja," balas Lisa.


Lagipula ini juga salahnya juga karena tidak berhati-hati tadi. Namun, reaksi Jeni masih saja kesal. Bukannya membalas ucapan Lisa, dia malah pergi begitu saja dengan tatapan sinis yang menusuk.


Sayangnya karena hal ini, Lisa jadi tidak bisa mengejar Jimmy untuk mendapatkan syal merahnya kembali. Sebagai gantinya, dia memasang salonpas yang sering dirinya bawa untuk jaga-jaga jika mengalami pusing di kamar mandi.


"Oke, tidak buruk."


Lisa melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin kamar mandi. Tepatnya sih pada bagian leher ke bawah. Dimana di sana ada banyak sekali salonpas yang ditempel secara asal untuk menutupi bekas merah itu.


Setelah merasa semuanya sudah aman, gadis itu bergegas pergi keluar untuk kembali ke kelasnya.


Sesampainya di depan pintu, mata Lisa langsung disuguhi dengan pandangan tajam dari teman-teman sekelasnya. Mereka semua menatapnya sinis seolah-olah Lisa itu gadis paling menyebalkan di dunia.


Bahkan saat kakinya mulai melangkah masuk. Bisik-bisik tentang rumor itu lagi-lagi terdengar dibelakang tubuhnya.


Tak ada lagi sapaan hangat dari mereka, atau pertanyaan tentang kegiatan sehari-hari yang biasanya Lisa lakukan setelah pulang sekolah. Yang ada kini hanya ada cacian serta omongan menyakitkan yang masuk ke dalam indera pendengarannya.


Lucunya lagi, meja dan bangkunya yang biasanya penuh dengan surat dan hadiah, kini dipenuhi sampah serta coretan dari spidol permanen. Yang bertuliskan;


Sejujurnya itu bukanlah masalah besar, Lisa bahkan sudah kebal dengan ini. Namun, melihat gaya tulisan itu yang mirip dengan tulisan tangan milik seseorang, membuat hatinya serasa dihantam batu besar hingga terasa begitu sesak.


"Kuharap kau tidak kembali saja dan mati malam itu. Jujur aku sungguh membencimu, Lis!" ujar Jeni yang sudah berdiri dihadapan Lisa entah sejak kapan.


"Kau!" tunjuk Jeni ke arah wajah Lisa dengan jari telunjuknya.


"Kau pikir selama ini aku senang berteman denganmu? CK, jujur itu memuakkan sekali. Setiap hari aku bahkan menahan diri untuk tidak memasang ekspresi ingin muntah saat berbicara denganmu. Bersikap sok manis, sekaligus peduli diwaktu yang sama, lantas berpura-pura bodoh. Hhh, sayangnya itu cuma sandiwara. Yang jelas aku begitu membencimu, Lis! Kenapa sih, kau tidak mati saja diterkam binatang buas saat di hutan itu? Atau kenapa juga para relawan masih bisa menemukan dirimu. Sial, rasanya aku ingin mencekik lehermu saat melihat kau masuk seminggu yang lalu," jelas Jeni pelan dan hanya bisa didengar Lisa.


"Jujur, bermain-main begitu peduli denganmu itu cukup menyenangkan. Awalnya kupikir kau bisa kumanfaatkan sampai lulus sekolah sebagai batu loncatan untuk populer. Tapi, aku segera merubah siasat saat melihat kau merebut Jimmy!"


"Kupikir kita teman," balas Lisa kemudian.

__ADS_1


Wajahnya tertunduk kebawah membuat Jeni sempat mengira, jika Lisa sedang menangis karena kata-katanya tadi. Namun, saat wajah gadis itu terdongak, Jeni baru menyadari jika ekspresi wajah Lisa semakin dingin.


Netra cokelatnya yang biasanya tenang bila ditatap, kini berubah kosong seolah-olah tak ditemukan adanya jiwa di sana.


Lalu, tanpa babibu tangan Lisa segera menampar pipi kanan Jeni hingga memerah.


Plak!


"Apa satu tamparan cukup?" ucap Lisa yang membuat bulu kuduk Jeni seketika meremang.


Dengan tatapan dipenuhi ketakutan, gadis itu segera berlari sekencangnya meninggalkan Lisa dan semua siswa yang mematung melihat kejadian tadi.


"Lalu kalian?" kata Lisa lagi, seraya melihat semua teman sekelasnya.


"Kalau benar-benar ada hal yang tidak disukai akan diriku katakan saja langsung. Tidak usah menggunakan cara sampah begini. CK, kekanakan!"


Orang-orang yang berada di dalam kelas hanya terdiam. Mereka semua kehilangan nyali, saat melihat tatapan Lisa yang tajam nan menusuk serta ucapan gadis itu barusan.


Jimmy yang diam-diam melihat kejadian itu dari luar hanya tersenyum tipis.


"Kupikir, aku mulai jatuh cinta padanya."


***


Lisa lagi-lagi kembali ke tempat di mana Sam kini tinggal. Gadis itu sudah berdiri di depan gerbang rumah sakit jiwa sejak beberapa menit yang lalu, mengamati.


Terlihat kondisi ditempat itu sama seperti saat pertama kali Lisa datang. Tak begitu ramai namun tak sepi juga.


Masih ada beberapa penjaga yang sepertinya akan berganti shift di luar. Saat kakinya melangkah mendekati meja resepsionis, masih ada juga seorang perawat yang terlihat duduk di sana.


Hanya saja kali ini tak ada sapaan yang Lisa dengar. Atau mungkin karena dirinya lebih akrab dengan resepsionis sebelumnya? Yah, mungkin seperti itu.

__ADS_1


Tak terasa kakinya sudah melangkah jauh hingga berakhir di depan pintu bercat putih yang akan dia tuju. Kamar Sam, Lisa harap kali ini dia berhasil mengajak cowok itu untuk berbicara dan menggali sedikit informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Namun, belum sempat tangannya mengetuk pintu itu. Kesadaran Lisa mendadak hilang saat merasakan sesuatu yang begitu tumpul tiba-tiba menghantam begitu keras bagian belakang tempurung kepalanya. Saat itulah, Lisa tidak ingat apapun lagi selain kegelapan yang kembali muncul untuk mencuri kesadarannya.


__ADS_2