My Naughty Little Girl

My Naughty Little Girl
dapur


__ADS_3

Icha sampai diparkiran apartemennya dilihatnya masih belum ada mobil Devan berarti pria itu belum pulang.


Icha melangkahkan kakinya menuju apartemennya, sesampainya dikamar ia membuka lemari baju terdapat pakaiannya dan beberapa pakaian Devan, ia memilih-milih mana yang cocok untuk ia pakai menemui sang mertua.


sementara itu disebuah butik terkenal Devan beserta sang asisten sedang memilihkan gaun untuk sang istri tampak pegawai butik menawarkan banyak gaun, namun menurut Devan itu tidak cocok dengan sang istri.


gaun yang ditawarkan terlalu terbuka, Devan tidak suka jika tubuh istrinya dilihat orang lain, bahkan dirinya masih belum menikmati tubuh mungil sang istri.


"Roy kau saja yang mengurusnya, dan juga siapkan penata rambut profesional aku ingin malam ini istriku tampak cantik" ucap Devan seraya berdiri dari sofa yang berada di ruangan butik tersebut.


"baik tuan muda" jawab Roy yang dengan setia berdiri disamping sang bos.


"dan lagi pilihkan gaun yang tertutup namun elegan, aku tidak mau tubuh istriku dilihat pria lain sekalipun itu papaku sendiri" Devan berjalan meninggalkan ruangan tersebut, entah mengapa rasanya ia ingin segera pulang dan melihat istri mungilnya.


Devan memasuki mobil dan melaju menuju apartemen sang istri.


ahhh memikirkannya saja suda membuat jantungku berdegup, batin Devan.


sesampainya di apartemen Devan tidak menemukan sang istri, namun sebelum naik ia melihat motor sang istri terparkir rapi.


terdengar suara gemercik di kamar mandi, yang Devan yakini itu adalah sang istri, ia mulai bernafas lega, Devan berjalan menuju sofa yang berada dikamar Icha dan duduk sambil melihat benda pipihnya. ia mengecek email dari beberapa rekan kerjanya.


pintu kamar mandi terbuka menampilkan Icha dengan balutan handuk sebatas dada dan paha yang berlari kecil menuju lemari, hal tersebut tak luput dari pandangan Devan, ia tampak dengan susah payah menelan salivanya sendiri.


tampak kulit putih Icha seakan menggodanya, rambut yang masih basah dan juga akhhh memikirkannya saja Devan tak mampu, ingin rasanya ia memeluk sang istri dan merengkuh tubuhnya diatas ranjang, membayangkan saja membuat jiwa kejantanannya menegang.


Icha yang tidak sadar akan kehadiran Devan mulai menanggalkan handuk mininya dan memakai pakaiannya, Devan yang melihat itu hanya terdiam dan memandang tanpa berkedip, tubuh yang terlihat kecil nan mungil menyimpan keindahan yang tersembunyi.


Icha selesai memakai pakaian santainya dan memungut handuknya dan hendak ia jemur dibalkon tetapi ketika ia berbalik ia melihat Devan yang sedang menatapnya tak berkedip.

__ADS_1


"se.. sejak kapan kak Devan disini?" tanya Icha sedikit gugup karena pandangan Devan yang nampak berbeda.


"sejak kau berada dikamar mandi" Devan beranjak dari sofa dan mendekati Icha.


Icha berjalan mundur karena Devan semakin mendekat, hingga Icha menabrak lemari dibelakangnya.


Devan mengunci pergerakan Icha dan memandang Icha dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"kak.. kak Devan mau apa?" Icha mulai gugup karena kini Devan mulai mendekatkan kepalanya kearah Icha, sontak Icha memejamkan matanya rapat-rapat.


"aku hanya ingin mengambil pakaian ganti dan mandi, apa yang kau pikirkan hmm?" bisik Devan seraya menggigit kecil daun telinga Icha.


Icha yang mendapat perlakuan tersebut merasakan geli dan juga malu, ia mendorong tubuh Devan dan berlari menuju balkon, Devan hanya tersenyum dan mengambil pakaian ganti dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


sementara dibalkon Icha memegangi pipinya yang dirasanya agak panas, "dasar Icha, mengapa kau menjadi berpikiran mesin begini? apakah karena efek pernikahan? yahh mungkin karena pernikahan" Icha meninggalkan balkon dan menuju pantry dapur dan menuangkan air kemudian meminumnya hingga tandas.


Icha mulai melihat kearah lemari pendingin melihat ada bahan makanan apa yang hendak ia masak, ia mengambil beberapa sayuran dan daging kemudian akan menyulapnya menjadi sebuah hidangan yang lezat.


Icha yang mendapat perlakuan tersebut sedikit gugup, karena tak biasanya Devan seperti itu.


"kak Devan demam?" tanya Icha seraya menetralkan degup jantungnya yang ingin meloncat keluar dari dadanya.


"tidak" jawab Devan cuek dan terus memeluk Icha dari belakang, Icha menggigit bibir bawahnya karena sangat gugup ini pertama kalinya ada orang yang memeluknya dari belakang, ia diam layaknya patung karena tidak tau ingin berbuat apa.


Devan yang menyadari ke gugupan Icha mematikan kompor karena masakan yang dimasak Icha bisa saja gosong karena Icha hanya diam mematung, "kau ingin aku memakan masakan gosong hmm?" ucap Devan masih dengan pelukannya, "ti.. tidak, a.. aku hanya sedikit gugup saja" ucap Icha sedikit terbata, ia sangat gugup hingga susah untuk menggerakkan tubuhnya.


"emmm kak Devan bisa lepas pelukannya sebentar?"


"mengapa?" Devan malah mencium pundak Icha dan menghirup aroma tubuh Icha, entah mengapa hari ini Icha terlihat begitu menggoda bagi Devan, apakah karena Devan secara tidak sengaja melihat tubuh polos Icha?

__ADS_1


"a aku hanya ingin mengambil piring, kalau tidak nanti kita terlambat kerumah mamanya kak Devan" Icha masih sangat gugup apalagi ia merasakan sensasi aneh ketika Devan mulai menggigit kecil bahu Icha.


"geser ke kanan" Devan masih enggan melepas pelukannya, Icha menurut dan menggeser tubuhnya kekanan kearah dimana piring itu terletak, Icha berjalan seperti robot karena terlalu gugup ia sampai tak sanggup untuk memegang piring, Devan segera melepas pelukannya dan mengambilkan Icha piring kemudian berlalu duduk di kursi dan memandang Icha yang sibuk memindahkan masakan yang ia masak ke piring kemudia. menyajikan makanannya diatas meja dan duduk didepan Devan.


"setelah makan kau bersiaplah kita akan berangkat sekarang" ucap Devan disela-sela makannya.


"sekarang? ku kira nanti malam"


"hari ini mama menyiapkan sebuah pesta untuk kita"


"uhuk uhuk.. apa? pesta? kenapa kak Devan ga ngomong dari tadi, aku bahkan belum menyiapkan gaun" Icha mulai panik karena ia kira hanyalah berkunjung kerumah mertuanya tidak tau bahkan sang mertua menyiapkan sebuah pesta.


Devan hanya mengangguk " yaa, mama mengadakan pesta untuk menyambut menantu baru nya, untuk masalah gaun kau tidak perlu khawatir aku sudah menyiapkannya".


"waahhhh terimakasih kak Devan" hanya dibalas anggukan oleh Devan dan melanjutkan makan mereka.


selesai makan Icha mencuci piring kotornya, sementara Devan duduk di sofa seraya melihat siaran do televisi.


tok tok tok...


"Tuan penata rambut yang anda pesan sudah datang" ucap seseorang didepan pintu.


Devan beranjak dari duduknya dan membukakan pintu, ia mempersilakan Roy dan penata rambut itu untuk masuk.


"asisten Roy, siapa yang bersamamu itu" Icha nampak keluar dari dapur dan heran siapa wanita yang dibawa Roy ke apartemennya.


"perkenalkan nona saya Susi, seorang penata rambut" ucap sang penata rambut dengan sopan dan menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.


"penata rambut?" Icha heran, seingatnya ia tidak memesan penata rambut, namun siapa yang memesannya kemari.

__ADS_1


"iya nona, tuan Devan secara khusus memesankan anda seorang penata rambut untuk mendandani anda, agar terlihat lebih cantik lagi" kelas asisten Roy.


"ohh.. baiklah"


__ADS_2