
tok tok tok
"Devan sayang dokternya sudah sampai mama masuk yaa"
"bentar ma jangan masuk du..."
ceklek....
belum selesai berbicara pintu terbuka, dan betapa terkejutnya mama Devan melihat anaknya sedang berc*mbu dengan wanita yang dibawanya.
"aahhhh maafin mama nak, mama tidak tau silahkan dilanjut"
brakkk..
mama Devan sesegera mungkin menutup pintu, dokter yang dibawa mama Devan pun sedikit heran apa yang yang terjadi didalam sana sehingga membuat mama Devan gembira.
"kau tau dok, sepertinya sebentar lagi akan ada tangis anak kecil dirumah ini" ucap mama Devan dengan berseri-seri.
"apakah pacar tuan Devan melahirkan nyonya? jika demikian cepat kita masuk dan lihat sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan" ucap dokter dengan ekspresi khawatir.
seketika wajah berseri mama Devan memudar dan cemberut.
"heiii... baru juga dibuat dok, belum nunggu jadinya, terus juga nunggu 9 bulan, baru lahiran, udahlah pusing ngomong sama dokter, kita kebawah aja, dokter pasti IQ nya setengah deh, ga nyambung banget" ujar mama Devan kemudian berjalan menuruni tangga.
memang kamar Devan berada dilantai 2.
'ahhh apakah aku salah bicara? susah memang berbicara dengan orang kaya'
dokter pun mengikuti mama Devan kebawah sembari menggeleng pelan.
***
dikamar Devan
setelah Devan membaringkan wanita tersebut diranjangnya ia segera menghubungi Roy.
"hei Roy, kau tidak lupa kan apa yang ku perintahkan"
__ADS_1
'tidak tuan muda, gadis tersebut bernama Anastasya fariecha 21 tahun seorang mahasiswi di universitas xx dikota ini, ayah dan ibunya...'
"sudah cukup, itu dulu yang ingin ku dengar besok kau serahkan datanya padaku"
'baik tuan muda'
telefon pun dimatikan, Devan berjalan menuju ranjang sembari menatap gadis kecil yang ia bawa pulang tersebut, ia menyelimuti gadis tersebut dan duduk disampingnya.
"cantik" itulah gumamnya, ia mengelus wajah imutnya, menyentuh pipi yang lebam seperti bekas tamparan, dan terus mengelus hingga tanpa sadar tangannya menyentuh bibir wanita tersebut.
nampak seksi, bibir kecil nan mungil yang terlihat ujung bibir ada bekas darah yang sudah mengering.
"siapa yang menyakitimu hmmm, kenapa aku tidak tega melihatmu seperti ini, apakah kita pernah bertemu sebelumnya, kurasa kau tidak begitu asing" ujarnya sembari terus mengusap bibir wanita tersebut.
"euungghhhh... panas" ujarnya menggeliat ditempat tidur sembari menarik kerah bajunya.
"apakah kau ingin menggodaku nona? no no no... caramu terlalu kuno, aku sudah banyak menemui hal yang seperti ini"
Devan ingin berdiri namun tiba-tiba tangannya ditarik oleh wanita tersebut.
Devan yang mendengar itupun alisnya di angkat sebelah dan kemudian tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke kuping wanita tersebut.
"bahkan wanita seluruh dunia mengakui bahwa aku ini tampan"
wanita tersebut membuka mata ketika merasa sensasi yang belum pernah ia rasakan.
"bisakah kau menolongku malaikat, aku merasa panas sekali, seakan tubuhku terbakar" ujarnya sembari mengalungkan kedua tangannya dileher Devan.
Devan terkejut apa yang wanita itu ucapkan, kemudian ide jahil pun terlintas dibenaknya.
"ohh yaa.. adakah imbalan yang kau janjikan untukku jika aku menolongmu" ucap Devan diiringi dengan seringai an kecil.
" tentu apapun itu tuan malaikat, aku sudah tidak tahan ku mohon, aku belum ingin mati"
tanpa aba-aba wanita tersebut mengecup bibir Devan,
Devan yang mendapat perlakuan tersebut melotot dan mematung, karena untuk pertama kali ia terlena dengan kecupan seorang gadis.
__ADS_1
'ahh kenapa ini, apakah begini rasa kecupan seorang wanita, lumayan... emmm sekali lagi tidak apa-apa kan ya'
Devan yang terlena akan kecupan itupun kembali mengecup bibir mungil tersebut, bukan hanya mengecup namun ia juga *******, sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan.
'ternyata berciuman sungguh mengasyikkan tidak seperti yang ku bayangkan, ahhh gimana ini aku seakan tidak mau berhenti'
dan si*lnya wanita tersebut malah menikmati kecupan Devan, Devan menghentikan ciumannya karena dirasa wanitanya kehabisan oksigen.
"sudah berapa kali kau berciuman?"
Devan bertanya sembari sengusap bibir mungil tersebut.
"bisakah anda kesampingkan itu dulu tuan malaikat, badanku terasa panas sekali, bisakah kau menongku sekali lagi?"
tok tok tok
"Devan sayang dokternya sudah sampai mama masuk yaa"
"bentar ma jangan masuk du..."
belum selesai ia menjawab wanita tersebut menarik lehernya dan menciumnya kembali.
..."aahhhh maafin mama nak, mama tidak tau silahkan dilanjut"...
braakk...
'ahhh siap pasti mama berfikiran yang tidak-tidak'
Devan menyudahi cumbuan tersebut dan memandang gadis tersebut yang terus menggeliat kepanasan,
ia gendong gadis tersebut menuju kamar mandi dan mengguyurkan badannya dan gadis tersebut dibawah shower agar menetralkan gairah nya yang tiba-tiba bangkit.
"ohh shiitt... kau buat aku menderita seperti ini, lihat saja balasanku"
sembari terus menggendong gadis tersebut Devan menuju bathub dan meletakkan gadis tersebut kedalam bathub dan mengisinya dengan air dingin.
sedangkan Devan ia memilih untuk mandi di shower dan melakukan sesuatu yang harus dilakukan.
__ADS_1