
Satu Minggu telah berlalu dan selama itu hubungan Devan dan Icha semakin dekat, seperti saat ini mereka sedang pergi ke mall untuk belanja bulanan.
kini mereka tidak lagi tinggal di apartemen Icha. Devan meminta Icha untu pindah kerumah devan sendiri, rumah yang jarang ia tinggali.
setelah semua keperluan di masukkan ke troli kini mereka berjalan menuju kasir hendak membayar disaat melewati tempat beraneka ragam minuman dan es krim Icha menghentikan langkahnya.
"aku mau es krim" Icha berlari menuju tempat es krim kesukaannya, Devan hanya menggeleng dan mendorong troli mendekati Icha.
"udah?" tanya Devan ketika melihat Icha yang sudah membawa beberapa es krim di tangannya, Icha hanya mengangguk dan berjalan menuju kasir.
sesampainya dirumah icha segera menyusun barang-barang ke tempatnya tak lupa ia mengambil Vidio agar bisa dijadikan konten kreator.
selesai menyusun barang-barangnya Icha duduk disamping devan yang sedang menonton televisi. "udah selesai?" Icha hanya mengangguk.
"kamu sudah lama jadi konten kreator?"
"tidak terlalu lama, mungkin 6 bulanan" Icha tengah sibuk dengan bungkus es krim yang susah untuk dibukanya, Devan yang melihat hal tersebut segera merebut es krim Icha "kalau tidak bisa itu minta tolong, jangan memaksa "Devan menyodorkan es krim yang telah di bukanya.
" terkadang kita harus bisa semua hal agar tidak bergantung pada orang lain" Icha menerima es krim dari Devan. "tapi kita manusia sosial, jadi tetap membutuhkan orang sekitar" Icha mengangguk seraya memakan es krimnya " betul, tapi alangkah baiknya jika kita tidak menyusahkan orang sekitar" Icha melanjutkan memakan es krimnya tanpa mempedulikan Devan lagi.
sementara Devan terfokus pada bibir mungil Icha yang sedang memakan es krim, sapuan lidah Icha pada es krim membuat pikiran kotor Devan secara tiba-tiba muncul, bagaimana Icha menjilat, memasukkannya kemudian mengeluarkannya menyesapnya, dirinya membayangkan jika bibir mungil tersebut melakukan itu pada adik kecilnya.
Devan menggeleng-gelengkan kepalanya menyingkirkan fikiran kotor dari kepalanya, tanpa di sadari adik Devan telah berdiri dengan gagahnya, merasakan celana yang digunakan Devan mulai sesak ia berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
"kak Devan mau kemana?" Devan berhenti dan membalikkan badannya menatap Icha "mandi" jawabnya singkat. "ikuttt" Icha berlari menghampiri Devan masih dengan es krim yang dipegangnya.
Devan mengerutkan keningnya "ikut mandi?"
"kak Devan mesum, aku mau ikut ke kamar, disini sepi aku sedikit tidak nyaman" ucap Icha dengan cengirannya. tanpa menjawab Devan melanjutkan langkahnya memasuki kamar dan diikuti oleh Icha.
"awhhh" Icha menabrak Devan yang dengan tiba-tiba menghentikan langkahnya, ia berbalik memandang Icha yang memegang kening yang menabrak punggung Devan, "kau sudah mematikan televisinya?" Icha berbalik dan akan kembali namun tiba-tiba tangannya dicekal oleh Devan, ia menoleh dan melihat Devan memakan semua es krim yang ada ditangannya dengan sekali suap dan menyisakan hanya menyisakan stik yang Icha pegang "dasar es krim s*alan" gumam Devan seraya melanjutkan jalannya.
"kak Devan tadi ngomong apa?" tanya Icha namun tak ada sahutan dari Devan.
selepas mematikan televisi Icha kembali menyusul Devan ke kamar, ia melihat sekeliling kamar namun tidak menemukan Devan, terdengar suara gemercik air di kamar mandi yang berarti Devan sedang berada di sana.
__ADS_1
Icha duduk di sofa kamar dengan melihat sosial medianya, ia tersenyum-senyum sendiri membaca komen para netizen dan sesekali membalas komen tersebut.
si imuet😍
kalian sadar gak sih kalau yang ada dividio itu barangnya berpasangan?
Dewi keberuntungan 🥰
iyaa bener, apakah ChaCha kita sudah ada pacar?
mas sya🧑
atau bisa jadi itu suaminya?
begitulah kira-kira komen para netizen Icha hanya tersenyum membaca komentar tersebut.
hingga pintu kamar mandi terbuka menampilkan Devan yang hanya berbalut handuk pendek memperlihatkan pahatan-pahatan tubuhnya, Icha dengan susah payah menelan salivanya, tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
Icha sangat suka melihat tubuh pria yang berbadan bagus, namun ia hanya melihat dari foto saja belum pernah melihatnya secara langsung, ini pertama kalinya ia melihat pemandangan yang begitu ia dambakan,
Icha yang tersadar langsung melihat wajah Devan, "ke..kenapa tidak pakai baju?" Icha sedikit gugup "aku lupa tidak membawa baju ganti" jawab Devan dengan santai, Icha kembali menatap pahatan indah di tubuh Devan, tanpa sadar ia menyentuh pahatan tersebut.
Devan memejamkan matanya menikmati belaian halus dari tangan Icha "hentikan Icha.. jika tidak, aku tidak sanggup menahannya" Devan menggenggam tangan Icha yang kini memegang handuknya "kenapa? aku hanya ingin melihat perut bawahmu saja, tidak akan melebihi batas"
Devan melotot mendengar jawaban yang keluar dari mulut Icha. ia menarik tangan Icha agar tidak menyentuhnya lagi namun Icha tetap memegang handuknya "sedikit saja kak Devan"
"Icha kau jangan kelewat batas ya" Devan terus menarik tangan Icha agar menyingkir namun Icha semakin menggenggam erat handuk Devan hingga jadilah saling tarik menarik, Devan dengan sekuat tenaga menyingkirkan tangan Icha darinya namun Icha sekuat tenaga menarik handuknya, kini Icha memegang handuk Devan dengan kedua tangannya begitupun Devan menahan tangan Icha dengan kedua tangannya hingga "Aaaaa... ka kak Devan ke kenapa be besar sekali" Icha segera menutup matanya dengan tangan kirinya ia berdiri dan menyodorkan handuknya didepan dada Devan dan berlari keluar kamar.
"ke kenapa itunya kak Devan besar sekali? apakah semua laki-laki itunya besar?" Icha mengigit kuku jari telunjuknya, kini ia duduk di sofa didepan televisi.
Devan keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan kaos oblong hitam dan celana pendeknya. ia menuju dapur mengambil segelas air dan berjalan menghampiri Icha.
Icha yang melihat Devan berjalan mengarah padanya segera mengambil majalah dan menutup wajahnya.
Devan meletakkan gelas yang berisi air di atas meja ia duduk di samping Icha " kau sedang membaca majalah?"
__ADS_1
"te tentu saja" Icha sangat gugup saat ini, apalagi dengan Devan yang terus menatapnya "kau membaca majalah dengan terbalik? waah sungguh hebat kau Icha" Devan membalikkan majalah yang dipegang Icha,
bodoh kau Icha -batin Icha.
"me memang aku membaliknya, karena gambarnya terlihat bagus dengan begini" icha kembali membalikkan majalahnya.
"oh yaa?" Icha hanya mengangguk "apa kau gugup?" Devan terus mengamati gerak gerik Icha yang menurutnya lucu. "ti tidak" Icha masih tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun.
"itu pasti pertama kali bagimu kan?" kini Icha menutup majalahnya memberanikan diri untuk menatap Devan. "ti tidak, aku sudah pernah melihatnya sebelumnya" Devan mengangkat salah satu alisnya "oh yaa? kau pernah melihat milik siapa?" Icha tampak berfikir " anak kecil" Devan tertawa
"anak kecil?" Devan mengulangi perkataan Icha dan hanya di angguk i oleh Icha.
Icha malu sangat malu bahkan bisa dipastikan wajahnya saat ini sudah merah bak kepiting rebus.
Devan mencondongkan badannya menatap Icha dengan serius, dengan reflek Icha memundurkan badannya "kau harus bertanggung jawab Icha"
"apa? bertanggung jawab? bukankah itu tidak sengaja"
"kau sengaja Icha, kau menarik handukku"
"a aku tidak sengaja melihatnya, aku tidak bisa mengendalikan mataku, tapi aku hanya melihatnya sebentar saja" jawab Icha dengan kalimat terakhir yang begitu pelan namun masih bisa di dengar oleh Devan.
Devan memundurkan badannya dan menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan menghela nafas beratnya.
"ba bagaimana aku harus bertanggung jawab?" Icha merasa jika itu memang salahnya, jadi tidak ada salahnya jika ia bertanggung jawab bukan?
"aku akan memikirkannya" Devan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang kerjanya
apakah kak Devan marah? dasar bodoh kau Icha
Icha menjambak pelan rambutnya sendiri merutuki kebodohannya yang begitu terlena dengan tubuh Devan.
ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya dan juga merupakan kamar Devan, ia tidak berani tidur sendirian di rumah sebesar ini, karena Devan terus menakutinya jika rumah yang ditinggalinya adalah tanah bekas kuburan.
Icha membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan mencoba memejamkan matanya, berharap jika ia terbangun nanti melupakan semua hal yang terjadi.
__ADS_1