My Naughty Little Girl

My Naughty Little Girl
gagal


__ADS_3

Devan masuk kamar dengan membawa nampan berisi 2 susu dan 2 roti.


icha yang merasa malu segera menutup dirinya dengan selimut, Devan tersenyum melihat tingkah Icha.


ia meletakkan nampannya di meja sofa yang berada di kamarnya dan berjalan ke arah Icha.


ia meraih selimut yang membungkus diri Icha namun Icha memegangnya dengan kuat "kau malu hmmm?" Devan duduk di samping tempat Icha berbaring.


blusshhhh


pipi Icha memerah dibawah selimut " kenapa harus malu? tadi malam--"


"kak Devan tidak usah di bahas oke" Icha menurunkan selimutnya menampakkan muka bantalnya dan memotong ucapan Devan.


Devan mengacak pelan rambut Icha dan tersenyum "mandi dulu gih habis ini kita sarapan, Devan keluar dari kamarnya namun tidak menjauh ia menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar.


ia tau jika Icha tengah Malu saat ini, sama seperti dirinya karena bagaimanapun itu adalah yang pertama untuknya dan untuk Icha.


Devan tersenyum ketika bayangan semalam terbesit di pikirannya, ia tak menyangka jika sampai berbuat sedemikian rupa.


brukk..


"awhhhh" Devan dengan segera masuk ke kamar saat mendengar suara terjatuh dan ringisan Icha.


ia melihat Icha yang terduduk di lantai dengan masih memegang selimutnya.


"astaga Icha kamu kenapa?" Dengan sigap Devan mendekati Icha dan mengangkat tubuh Icha.


"selimutnya kak" Icha menyadari jika selimut yang menutupi tubuh polosnya terjatuh ke lantai.


"aku sudah melihatnya bahkan merasakannya" Icha menyembunyikan wajahnya di dada bidang Devan. Devan berjalan menuju kamar mandi dengan Icha dalam gendongannya, ia menurunkan Icha dengan hati-hati ke dalam bathtub yang sudah terisi air, kemudian meneteskan beberapa tetes aromaterapi ke dalam air.

__ADS_1


"jika sudah selesai panggil aku, aku akan menunggu di luar" Icha hanya mengangguk, sungguh ia malu saat ini.


Devan menutup pintu kamar mandi ia sebisa mungkin bersifat cool di depan Icha, padahal jantungnya berdegup dengan kencangnya seakan ingin melompat keluar.


bagaimana tidak? ia adalah lelaki normal bagaimana jika di suguhkan tubuh indah sang istri.


sekitar 30 menit Icha sudah selesai dengan ritual mandinya dan berjalan keluar kamar mandi dengan berpegangan tembok.


"kan sudah ku bilang panggil aku kalau sudah selesai" Devan beranjak dari duduknya dan menghampiri sang istri yang berjalan pelan-pelan.


"a aku sudah tidak sakit kak" Icha memaksakan senyumnya karena ia sedikit canggung, ia malu jika melihat Devan, entah mengapa saat memandang wajah Devan terbesit olahraga malamnya bersama Devan.


meskipun dalam pengaruh obat dan juga alkohol namun ia ingat dengan jelas bagaimana ia melakukan dengan Devan.


"baiklah, kamu duduk dulu biar ku ambilkan baju untukmu" Devan menuntun Icha menuju ranjang dan mengambilkan pakaian untuk Icha.


Icha melihat seprei sudah diganti itu pasti Devan yang mengganti itulah pikirnya.


"ahh eng enggak usah kak, a aku bisa sendiri" Icha tengah Malu dan gugup saat ini ia tak habis pikir bagaimana bisa Devan berpikiran untuk membantunya mengganti pakaian.


"kamu pakai dress saja, tidak usah malu aku juga sudah lihat semuanya" Devan tetap membantu Icha berganti pakaian, ia membuka bathrob yang di kenakan Icha dan memasangkan br* maroon.


Icha menunduk ia ingin menghilang saat ini juga, pipinya memerah karena malu, karena ini pertama kalinya ia di bantu untuk memakai pakaiannya.


setelah selesai memakaikan pakaian Icha mereka berdua menuju sofa, Icha merasa jika perlakuan Devan terhadapnya sedikit berbeda, Devan yang sekarang lebih mirip sebagai pembantunya, ahh bukan mungkin lebih mirip dengan budaknya karena Icha tak mampu membayar jasa Devan.


kini sepasang pasutri itu sedang menyantap sarapan yang kesiangan. tepatnya sang suami sedang memperhatikan sang istri sarapan, karena Devan tak memakan rotinya ia hanya meminum susunya yang sudah dingin.


hening tidak ada yang memulai pembicaraan Icha pun kini dengan fokus memakan rotinya karena di rasa cacing di perutnya mulai memberontak meminta makan.


"apakah selapar itu?" Devan memperhatikan cara makan Icha yang seperti sangat kelaparan.

__ADS_1


Icha menganggukkan kepalanya " kak Devan tidak makan?" ia melihat jika roti Devan masih utuh tak tersentuh.


Devan menggelengkan kepalanya" kamu yang habiskan" ia mengacak pelan rambut sang istri "benarkah?" Devan mengangguk, dengan senang hati Icha mengambil roti Devan dan memakannya dengan rakus " pelan-pelan aku tidak akan memintanya" Icha hanya nyengir dengan mulut yang penuh dengan roti.


setelah sarapan Devan mengajak Icha duduk di kursi kebun belakang rumah mereka nampak hijau nan segar namun masih sedikit tanaman dan bunga di kebun tersebut.


"kamu suka bunga apa?" tanya Devan seraya memandang ke samping untuk melihat sang istri.


"aku suka bunga Peony dan bunga Krisan" Icha menoleh ke arah sang suami dan tersenyum " bunga Peony melambangkan keberuntungan sedangkan bunga Krisan melambangkan kejujuran, tidak hanya artinya saja tapi bunganya juga cantik" Devan tersenyum dan merangkul bahu Icha "ada yang ingin aku bicarakan Cha" Icha menatap Devan dengan satu alis terangkat "apa?"


Devan memegang kedua tangan Icha " sebenarnya aku--"


"ohhh kalian di sini mama cari daritadi" Icha dengan segera menarik tangannya dari genggaman Devan dan berdiri menghampiri sang mertua.


Devan kesal dengan kehadiran mamanya yang tiba-tiba, sebenarnya ia ingin mengungkapkan perasaannya kepada Icha, namun gagal karena kehadiran sang mama.


" mama kenapa ga bilang kalau mau ke sini" ucap Devan dongkol ia berdiri dan menghampiri mamanya yang kini tengah memeluk Icha.


mama Devan melepas pelukannya dan beralih ke Devan "kenapa? mama cuma mau jenguk mantu mama, yuk sayang tadi mama bawa oleh-oleh banyak" mama Devan menggandeng Icha dan membawanya masuk ke rumah.


sial umpat Devan dalam hati, ia meninju udara seakan melampiaskan kekesalannya, untung mamanya kalau bukan sudah pasti sudah ia marahi habis-habisan.


Devan segera menyusul sang mama beserta istrinya yang kini tengah berada diruang tamu dengan banyak barang bawaan sang mama.


"mama kalau ke sini tidak usah repot-repot" Icha sedikit tidak enak dengan sang mertua pasalnya banyak barang berharga yang dibawa sang mertua untuknya.


"ini tidak seberapa sayang, mama lihat kamu kekurangan barang-barang ini, apakah Devan tidak pernah membelikanmu barang-barang mewah nak?" Icha menatap Devan yang kini tengah asik dengan ponselnya.


"emmm se sebenarnya Icha memang tidak mau ma, Icha kan tidak kaya jadi sayang jika uangnya di belikan barang begini" Icha memperlihatkan deretan giginya.


" sudah sudah, sekarang jika kamu menginginkan sesuatu beli saja, kamu di nafkahi kan sama Devan?" Icha hanya mengangguk.

__ADS_1


" ayo makan siang mama sudah bawakan makanan kesukaan kalian" mama Devan menarik tangan Icha menuju meja makan dengan malas Devan mengikuti kedua wanitanya tersebut.


__ADS_2