
Dua insan menuruni tangga dengan bergandengan tangan.
'oke Icha sandiwara dimulai dari sekarang' ucap Icha dalam hati meyakinkan dirinya sendiri.
"Pagi ma, pagi pa" sapa Devan sesampai dimeja makan.
"Pagi juga anak mama" jawab mama Devan.
"Pagi Tante, om" kini giliran Icha yang menyapa.
"Pagi juga sayang, sini duduk sarapan bersama" ujar mama Devan.
Devan segera menarik kursi untuk Icha duduki, kemudian ia duduk disebelah Icha.
"Kamu suka selai apa sayang, biar mama ambilin" ucap mama Devan yang ditujukan ke icha.
"Tidar usah repot-repot Tante, biar Icha ambil sendiri aja" kini Icha mengambil alih roti yang ada ditangan mama Devan dan mengolesi selai kesukaannya, dan tidak lupa ia juga mengambilkan roti untuk Devan,
"Ini untuk kak Devan" sembari menyodorkan roti yang telah ia olesi dengan selai kesukaan Devan.
"Waahhh sayangku tau selai kesukaanku" puji Devan.
"Kita harus memperhatikan apa yang pasangan kita sukai, sekecil apapun itu" jawab Icha dengan senyum manisnya.
"Makasih sayang" ucap dengan sembari mengacak kecil rambut Icha.
Blusss... Pipi Icha memerah karena salah tingkah, namun sebisa mungkin ia agar terlihat biasa saja, kemudian ia mulai memakan roti yang sudah ia siapkan.
Papa dan mama Devan saling melirik satu sama lain dan sedikit tersenyum, "eheemmm.. kamu masih kuliah?" Kini papa Devan yang angkat bicara.
"Masih om, saya sudah memasuki semester 5" jawab Icha dengan ramah.
"Kuliah dimana kamu?"
"Saya kuliah di universitas xxx om" jawab icha
__ADS_1
" Dulu Devan juga kuliah disana, karena itu dulu saya sempat ingin menjadi rektor disana, tapi Devan menolak, dia mengancam jika saya tetap bersikeras untuk menjadi rektor disana dia akan pindah kampus" jawab papa Devan diselingi sedikit tawa.
"Waaahhh.. enak dong tapi kenapa kak Devan tidak memperbolehkan om jadi rektor disana?"
"Karena aku tidak mau terus diatur oleh papa, cukup dirumah saja, tidak untuk tempat lain" belum sempat papa Devan menjawab sudah didahului Devan.
Icha hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, Dan melanjutkan makannya.
"Hahahaha... Memang anak itu keras kepala, tidak suka diatur, apa yang ia sukai itulah yang ia lakukan" ucap sang papa.
" Mama dulu sempat khawatir karena devan tidak segera memiliki pacar, mama takut jika dia akan menjadi perjaka tua" ujar sang melihat Devan sekilas dan diselingi dengan tawa mengejek.
" Kau tau sayang, bahkan mama pernah menyuruhku untuk pergi kencan buta dengan wanita yang tidak aku kenal, mama menyuruhku datang ke sebuah resto dengan alasan sedang bertengkar dengan pelayan disana, dan setelah aku kesana tidak ada apapun yang terjadi dan malah memberiku pesan singkat jika ada kencan buta untukku" Devan bercerita dengan menggebu-gebu dan menghadap Icha yang sedang menyantap rotinya.
"Benarkah? Apakah wanita tersebut cantik? Lebih cantik mana dengan aku?" Tanya Icha kemudian ia melihat Devan.
Deggg...
Mata mereka bertemu, Devan terpaku dengan kecantikan Icha ia terus memandangi wajah cantik icha meneliti dengan seksama dari mata turun ke hidung kemudian ke bibir seksi Icha, Devan mengulurkan tangannya menyentuh ujung bibir Icha dan menghapus sisa selai strawberry yang Icha makan.
Icha sempat terkesima ia mematung kemudian sebisa mungkin ia menetralkan detak jantungnya, ia memundurkan badannya dan mencubit paha Devan "aahh kamu bisa aja".
" Ohh iya kita belum kenalan dengan resmi" ucap sang papa.
"Nama saya anatasya fariecha om, Tante biasa dipanggil Icha" jawab Icha dengan sopan.
"Jangan panggil Tante terus sayang, panggil mama saja gimana?" Ujar mama Devan.
"Mama? Tapi kan Icha sama kak Devan belum menikah Tante"
"Tidak apa-apa, agar kamu terbiasa saja" jawab mama Devan.
"Ohh iya, ada yang Devan ingin bicarakan pada mama dan papa sesudah sarapan" ucap Devan.
"Apa itu langsung bicarakan disini saja, papa juga habis ini akan pergi ke perusahaan" jawab papa devan.
__ADS_1
"Emmmm... Devan akan menikah dengan Icha hari ini ma, pa"
Uhuk uhuk...
"Icha kamu tidak apa sayang?" Tanya Devan sembari menyodorkan air untuk Icha, Icha segera meminum air itu dan kemudian melihat Devan dengan seksama yang dilihat pun hanya mengedipkan sebelah matanya.
"Mama dan papa tidak masalah, lebih cepat lebih baik, tapi bagaimana dengan kuliah Icha? Apakah Icha sudah setuju?" Ucap sang papa.
"Devan tidak akan memaksa Icha ma, pa. Devan ingin segera menikahinya. Tapi jika Icha tidak setuju juga Devan tidak akan memaksa".
"Bagaimana Icha? Kamu setuju atau tidak?" Tanya mama Devan.
"Emm.. tapi Icha masih bisa kuliah seperti biasa kan? Selagi Icha masih diperbolehkan kuliah juga tidak apa-apa" jawab Icha sedikit kaku.
"Oke semua sudah setuju, bagaimana dengan orang tuamu Icha?" Tanya papa Devan.
"Emmm.. Icha sudah tidak memiliki siapa-siapa om" jawab Icha dengan ekspresi sedih.
"Sudah sayang kamu masih punya Devan, dan kamu masih punya mama dan papa" jawab mama Devan.
Icha pun hanya tersenyum " ohh ya kalian mau resepsi dengan tema apa nanti mama akan siapkan" ucap sang mama.
"Boleh tidak Tante jika pernikahan ini dirahasiakan dulu, Icha tidak ingin temen-temen Icha tau dulu, Icha takut jika dikira hamil duluan" jawab Icha dengan cengirannya.
"Iya ma, lagi pula juga Icha masih kuliah, kan gak enak jika teman-temannya mengetahui jika Icha sudah menikah" timbal Devan.
"Baiklah terserah kalian, yang penting kalian bahagia" ujar papa Devan.
"Emm dan untuk masalah anak.."
"Devan berniat untuk menunda dulu ma, Icha masih kuliah kalau nanti Icha hamil bisa curiga kan teman-temannya" belum sempat mamanya selesai berbicara sudah disela oleh Devan.
Icha hanya diam dan mendengarkan apa yang dibicarakan Devan dengan mamanya.
Tak terasa setengah jam lebih mereka berada di meja makan, kini mereka tengah sibuk dengan urusan masing-masing, papa Devan sudah pergi bekerja, sedangkan mama Devan berpamitan jika akan pergi arisan dengan teman-temannya, Devan dan Icha tengah mengurus surat nikah mereka di KUA.
__ADS_1
Devan tidak pergi bekerja hari ini, ia mengambil cuti dan menyuruh Roy menghandle semua pekerjaannya.