
Diperjalanan pulang Icha hanya diam dan terus memandang keluar kaca mobil, begitupun juga Devan ia hanya fokus menyetir dan memandang ke depan.
"Emmm.... bisa antarkan aku pulang ke apartemen saja?" tanya Icha. "apa kamu lupa sekarang kamu adalah istriku?" ujar Devan sesekali melirik Icha yang masih tetap pada posisinya.
"Ta.. tapi kan kita hanya nikah bohongan saja, dan juga aku tidak menyukaimu, begitupun dirimu juga tidak menyukaiku" ucap Icha sedikit agak gugup.
"kau akan tinggal denganku sekarang agar mama ku tidak curiga akan pernikahan kita, ohh iya sementara kita akan tinggal diapartemenmu dahulu agar kita saling mengenal bagaimana?"
"tapi apartemenku kecil mungkin kamu tidak betah tinggal disana, dan.. dan juga aku hanya punya satu tempat tidur" gumam Icha namun masih bisa didengar oleh Devan.
Devan hanya tersenyum melihat tingkah Icha karena terlalu gemas tanpa sadar ia mengajak pelan rambut Icha. "tak apa, bukankah kita tidur seranjang semalam? bahkan kita sudah..." belum sempat Devan menyelesaikan perkataannya sudah dubungkam Icha menggunakan tangannya. "sudahlah jangan diungkit lagi, lagipula itu hanya kecelakaan, yahhh anggap saja seperti itu" Icha menjauhkan tangannya dari mulut Devan, Devan hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah Icha yang malu.
"dimana alamat apartemenmu?" tanya Devan yang masih fokus menyetir. "itu depan belok kiri lurus terus kemudian nanti sudah kelihatan" jawab Icha.
sesampainya diparkiran sebuah apartemen milik Icha. Icha berjalan bersama Devan menuju apartemen milik Icha, mereka menaiki lift ke lantai 18 kemudian berjalan menuju ruang 801 dimana itu adalah tempat tinggal Icha selama dikota ini.
sesampainya di pintu kamar monor 801 Icha membuka pintu apartemennya dengan sidik jari miliknya.
"silakan masuk kak, tapi maaf kecil apartemenku mungkin kak Devan sedikit tidak nyaman tapi gapapa kok udah ada AC nya dan juga selalu aku bersihin setiap hari" jelas Icha panjang lebar sembari membimbing Devan agar duduk di sofa yang ada di apartemen tersebut.
__ADS_1
apartemen Icha memang tidaklah besar namun cukup luas untuk dihuninya sendiri, apartemen minimalis yang ia beli dari sisa uang yang diberikan oleh orang tuanya dan uang yang ia tabung selama ia bekerja paruh waktu di sebuah kafe untuk memenuhi kehidupannya.
" kak Devan mau minum apa? biar Icha buatkan" tawar Icha kepada Devan.
"emm apa saja ca" Icha pun menuju dapur yang berada dikiri sofa yang diduduki Devan, mengambil sebuah minuman dari lemari pendingin yang tersedia diapartemennya.
"minum air saja ya kak, lebih baik untuk kesehatan, soalnya Icha belum belanja" ujar icha dengan sebuah cengiran dan duduk di sofa sebelah Icha dan menyalakan televisi didepannya.
"kamu sudah lama tinggal disini?" Devan mulai ingin mengetahui banyak tentang gadis yang sekarang ini menyandang status sebagai istrinya, ia akan mulai menanyakan apa yang perlu ia ketahui, jika saja tiba-tiba mamanya bertanya tentang Icha.
"iya kak, selama aku pertama pindah dari negaraku kesini, aku langsung suka lihat apartemen ini" jawab Icha tak mengalihkan pandangannya dari televisi.
"ahh iya tak apa, tapi nanti dulu ya kak, nunggu filmnya habis" Icha terus terfokus televisi dimana menampilkan drama kesukaannya.
Devan hanya diam memandangi wajah Icha yang serius menonton televisi, baru Devan sadari ternyata Icha begitu manis jika saja sedang serius begini.
tak lama film yang ditonton Icha pun selesai, Icha mengalihkan pandangannya ke arah Devan. "tadi kak Devan udah tau kan cerita aku waktu ditaman? mau cerita yang gimana lagi?"
"semua tentangmu aku ingin tau" ucap Devan sambil terus terfokus dengan benda pipihnya.
__ADS_1
" tapi kalau aku cerita kak Devan gaboleh pegang hp dulu, nanti aku dikacangin lagi" ujar icha dengan nada agak manjanya. " baiklah, silahkan mulai" Devan memasukkan benda pipihnya kedalam saku celananya.
"jadi aku itu dari dari negara X, aku anak tunggal tapi tidak banyak yang aku ingat, karena dulu kata mama aku pernah tenggelam dilaut, karena aku suka dengan laut jadi sering main ke laut pas aku main kesana tiba-tiba saja ada ombak besar yang menyeretku, aku juga sempat hilang namun beberapa saat kemudian ditemukan petugas dengan beberapa luka mungkin karena terbentur karang atau sebagiannya, dan ketika aku sadar aku melupakan semuanya". Icha mulai bercerita begitu antusias begitupun Devan ia menyimak dengan seksama semua cerita Icha tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis tersebut.
"waktu itu aku sedang merayakan kelulusan bersama teman-temanku setelah kejadian itu aku sudah tidak menyukai laut lagi entah karena trauma atau memang sudah bosan, terus mama aku bilang aku sudah tidak boleh menemui teman-teman aku lagi dan papa aku menyuruhku untuk pergi ke negara ini, lalu aku datanglah kesini, selama disini aku tinggal di apartemen ini, dan aku bekerja paruh waktu di sebuah kafe tidak jauh dari kampusku".
"udah?" tanya Devan ketika melihat Icha sudah berhenti bercerita. Icha pun hanya menganggukkan kepalanya.
"kamu kuliah jurusan apa?" tanya Devan.
"jurusan sastra dan seni"
"mengapa?" Icha hanya diam memandang Devan dengan bingung. " mengapa ambil jurusan itu?" Devan yang tau raut wajah kebingungan Icha. "ohh, karena itu yang paling mudah" jawab Icha seadanya.
tak terasa hari sudah mulai sore, Icha sedang bersiap untuk belanja karena lemari pendinginnya kosong tak ada bahan makanan untuk ia masak. " mau kemana?" tanya Devan yang melihat Icha berpakaian rapi dan membawa tas hendak keluar.
"mau ke supermarket, mau belanja" jawab Icha, Devan hanya mengangguk saja. " kak Devan mau nitip nggak?" Devan hanya menggeleng. " nanti mau dimasakin apa?" tanya Icha sembari memakai sepatunya. " kamu bisa masak?" tanya Devan heran, "bisa dong, nanti mau dimasakin apa?" tanya Icha yang sudah bersiap akan keluar dari apartemennya. "terserah" jawab Devan dengan terus fokus kepada benda pipihnya. "oke" jawab Icha kemudian ia keluar dan menuju supermarket yang tidak jauh dari apartemennya.
sesampainya di supermarket Icha mendorong troli yang sempat ia ambil dari tempatnya dan mulai memilih sayuran serta daging tak lupa juga kebutuhannya kedepan. "emm beli satu atau dua ya, kan sekarang aku tinggal berdua masa iya sikat giginya cuma satu" Icha berbicara sendiri didepan rak yang menyediakan banyak bentuk sikat gigi. "waahhhh yang ini lucu, beli ini aja, gapapa ya kak Devan kita couple sikat gigi, nanti yang pink punyaku yang biru punya kak Devan" Icha mengambil sikat gigi dengan karakter es krim yang satu kemasan terisi 2 sikat.
__ADS_1
Icha terus mengelilingi supermarket dan mencari apa yang ia butuhkan. serasa semua kebutuhannya sudah cukup ia pun mengantri untuk membayar.