
Sesampainya di rumah sakit Devan menggendong Icha dan berlari menuju ruang UGD, banyak para perawat yang terpesona dengan Devan.
"Apakah itu tuan Devan, wahh ternyata lebih tampan aslinya ya"
"Baru kali ini melihat tuan Devan begitu panik"
"Begitu beruntungnya wanita yang digendong tuan Devan"
"Aahhh rasanya aku ingin menjadi wanita itu"
"Ini pertama kalinya aku melihat tuan Devan bersama perempuan di rumah sakit ini" ucap para suster yang melihat Devan.
Devan membaringkan Icha di ruang VVIP khusus untuk keluarga Danuarta.
"Cepat periksa dia" dengan sigap dokter tersebut segera memeriksa keadaan Icha, dokter tersebut memasangkan oksigen pada Icha, Devan tak keluar dari ruangan tersebut ia terus mengawasi kerja dokter tersebut, mungkin bukan lebih tepatnya ia sedang khawatir dengan wanita yang menyandang status istrinya tersebut.
Sang dokter yang mendapat pengawasan tersebut merasa tidak bebas akan melakukan apapun karena devan terus saja berkomentar tentang apa yang dilakukannya.
"Hei.. kau menyakitinya" lihatlah dia berdarah, sang dokter tak menghiraukan perkataan Devan ia tetap fokus memasangkan infus pada punggung tangan Icha.
__ADS_1
"Wah wah kau sudah berani ya mengabaikan aku,apakah kau sudah bosan bekerja disini?" Ucap Devan ketika tidak mendapatkan respon apapun dari sang dokter.
"Mohon maaf tuan Devan yang terhormat, jika saya menghentikan memasangkan infus yang ada malah nanti akan lebih banyak darah yang keluar dari nona ini" dokter tersebut menjelaskan dengan sedikit gemetar dan membungkukkan badan.
"Tuan bisakah kita berbicara di ruangan saya tentang penyakit nona ini?"
"Tidak bisakah kau bicarakan disini saja"
"Bukan begitu tuan, menurut saya tidak sopan jika mengatakan penyakit seseorang didepan orangnya tuan" ucap dokter dengan sopan.
"Perkataanmu masuk akal juga, baiklah tunjukkan jalannya"
"Saya tidak tau, dia tidak pernah bercerita" jawab Devan
"Penyakit ini bisa kambuh ketika pasien merasa kedinginan, atau bisa juga ketika banyak fikiran atau suasana hati kurang enak, jadi saya sarankan agar anda dapat menjaga mood atau suasana hati nona muda agar tetap senang, agar tidak sering kambuh, namun penyakit nona ini tidak terlalu parah jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan ini resep obatnya dan mungkin setelah nona muda siuman bisa untuk pulang" jelas sang dokter.
"Baiklah, terimakasih dokter" Devan mengambil resep tersebut dan keluar dari ruangan tersebut menuju tempat untuk menebus obat Icha.
***
__ADS_1
Ceklekk..
"Kau sudah sadar? Dibagian mana yang masih sakit?" Devan membuka pintu kamar inap Icha dan mendapati Icha sudah sadar.
Icha hanya menganggukkan kepala dan melihat Devan dengan lekat. "Mengapa memandangku begitu hmm?" Devan mendekat dan duduk dikursi sebelah Icha berbaring. Ia menggenggam tangan Icha dengan erat entah mengapa ada rasa ingin selalu melindungi Icha entah itu rasa kasihan atau rasa yang lainnya, yang pasti rasa itu sangat jelas ia tidak ingin Icha merasa sedih sedikit pun.
"Kata dokter sesudah kamu sudah merasa lebih baik boleh pulang"
"Benarkah? Aku sudah lebih baik sekarang"
Devan memanggil dokter dan meminta izin untuk pulang, Icha diizinkan pulang karena penyakitnya tak terlalu parah.
...****************...
Haii guyysss...
terimakasih sudah mampir..
semoga sehat selalu yaa..
__ADS_1
dan tetap semangat..