My Naughty Little Girl

My Naughty Little Girl
kerumah mertua


__ADS_3

"apakah ini tidak terlalu berlebihan Mbak Susi? lihatlah ini terlalu cantik bahkan aku sampai tidak mengenali diriku sendiri" Icha mengamati dirinya di pantulan cermin ia nampak tidak percaya bahwa itu adalah dirinya.


"benar nona, anda memang sudah cantik ditambah dengan make up yang flawles, dan juga perpaduan antara kulit anda dan gaun yang berwarna navy juga memberi aura elegan, dan juga gaya rambut anda memberi kesan bahwa anda adalah seorang putri malam ini" jelas sang penata rambut.


"ahhh Mbak Susi terlalu memuji, ayo mbak kita ke bawah mungkin kak Devan sudah menunggu kita" Icha berdiri dibantu oleh Susi.


Devan tengah menunggu Icha yang sedang disulap oleh si Susi sedemikian rupa di sofa depan televisi, seperti biasa asisten Roy dengan setia berdiri di samping sang boss.


Icha keluar dari kamarnya dengan dibantu Susi, karena ini pertama kalinya ia memakai sepatu hak tinggi, biasanya ia hanya memakai sepatu slip on atau sepatu semacamnya, namun kali ini ia harus memakai high heels hitam dengan hiasan mutiara.


Devan memandang sang istri mulai dari bawah keatas tanpa berkedip, apakah ini benar-benar istrinya? itulah yang ada difikirkannya.


"tuan nona Icha sudah siap, apakah anda akan terus memandangnya tanpa mengajaknya berangkat tuan" ucap sang asisten menyadarkan Devan.


Devan yang terciduk akan hal itu berdehem demi menetralkan detak jantungnya. "baiklah ayo" Devan mendekati Icha dan memegang tangan Icha seraya membantu Icha berjalan.


"apakah kau tidak pernah memakai sepatu hak tinggi?" Icha mengangguk.


"ya, ini pertama kali aku memakai sepatu hak tinggi"


melihat Icha yang kesusahan berjalan Devan hendak menggendong sang istri, namun belum sempat ia gendong sang istri menolak. " kak Devan aku harus terbiasa dengan ini mulai saat ini, bagaimanapun juga aku ini istri kak Devan, kak Devan pasti nanti akan banyak menghadiri pesta-pesta yang lebih besar lagi, apa kata orang kalau istri Devan Danuarta tidak bisa memakai sepatu hak tinggi" Devan sedikit terharu dengan ucapan Icha. ada benarnya juga, bagaimana jika suatu saat nanti ia mengajak sang istri pergi ke suatu pesta, namun sang istri tidak bisa pakai heels? Devan hanya tersenyum tipis dan terus memegangi tangan sang istri.


Icha terus berjalan di area parkir apartemen, "apakah kau tidak capek bolak balik terus?" Devan berdiri di samping mobil dengan memperhatikan sang istri yang terus belajar berjalan menggunakan heelsnya. Icha berjalan kearah Devan dan tersenyum manis " ayo kak, aku sudah mulai bisa menyeimbangkan tubuh dengan heels ini" sang asisten langsung membukakan pintu mobil untuk tuannya dan melajukan mobil menuju kediaman mama Devan.


sesampainya dikediaman orang tuanya, Devan turun terlebih dahulu kemudian membukakan pintu mobil untuk sang istri dan menggandeng sang istri memasuki rumah besar itu.

__ADS_1


Icha berpegangan di lengan sang suami dengan eratnya, ia gugup sangat gugup Devan yang menyadari genggaman Icha kini semakin erat ia pun mengelus tangan sang istri seraya membisikkan sesuatu, Icha nampak menunduk dan tersenyum.


"hai anak mama dan mantu mama" ucap mama Devan.


mama dan papa Devan menyambut hangat sang anak serta menantunya Devan memeluk sang papa sedangkan Icha memeluk sang mama mertua, "waahhh mama cantik sekali malam ini, pasti papa sangat terpesona" ucap Icha sedikit menggoda sang mertua.


" ahhh kamu ini pandai menggoda ya sayang, kamu juga sangat cantik, mama kira tadi Devan salah bawa istri" mama Devan terus memeluk sang menantu. "sudahlah ma, mau sampai kapan mama meluk istri Devan, bahkan Devan tadi belum sempat memeluknya" ucap Devan sengan wajah cemberutnya.


Icha mencubit pelan perut Devan, ia sedikit malu dengan ucapan Devan " benarkan sayang, bahkan aku belum sempat memelukmu" Devan mencium pipi sang istri, hal itu sontak membuat pipi Icha memerah.


jangan baper Icha, ini hanya drama oke, ingat kamu itu hanya istri pura-pura Devan, jika suatu hari ia telah menemukan orang yang disuka nya maka kau akan diceraikan. batin Icha.


"sudah-sudah ayo masuk, mama sudah tidak sabar memperkenalkan Icha kepada temen mama" mama Devan menggandeng Icha memasuki kediamannya.


nampak seorang wanita menghampiri mama Devan, berjalan dengan eloknya dengan balutan gaun yang seksi menampakkan belahan dadanya.


"halo Tante Ollie" sapa wanita tersebut


mama Devan menoleh dirasa ada yang memanggil namanya.


"halo Stella" mama Devan nampak menyambut wanita tersebut dengan ramah, Stella merupakan salah satu wanita yang dulunya akan dijodohkan dengan Devan, namun Devan menolak karena sikap Stella yang menurutnya tidak cocok dengannya.


"kenalin ini istrinya Devan" ujar mama Devan, Icha mengulurkan tangannya kepada Stella namun, dengan enggan Stella menerima uluran tangan Icha.


"Icha" ucap Icha menampakkan senyum paling manisnya. setelah tidak menanggapi ucapan Icha. ia celingak celinguk seperti mencari seseorang "Devan dimana Tan?" tanya Stella kepada mama Devan " lagi bicarain bisnis sama papanya" mama Devan beralih menatap Icha " Icha sayang mama tinggal dulu ya, ada temen mama yang mau pulang" "iya ma" mama Devan berlalu meninggalkan Icha bersama dengan Stella.

__ADS_1


"kecil ya istri Devan ku kira lebih seksi, Devan puas gak ya di ranjang bersama istrinya yang tepos ini" ledek Stella kepada Icha seraya menekan kata tepos.


"puas atau tidak kamu tanyakan saja sama kak Devan, meskipun tepos tapi kau tak akan mampu bersaing dengan aku" ucap Icha kemudian ia meninggalkan Stella dengan wajah marahnya.


"dasar cewek brengs*k, bisa-bisanya Devan suka cewe modelan kaya gitu" Stella nampak kesal ia mengambil segelas minuman dan sekali teguk langsung habis.


"tunggu saja kau gadis kampung, tidak lama lagi Devan akan segera jadi milikku" Stella berlalu entah kemana.


"dasar cewek tidak tau diri, meskipun tepos kan aku tetap punya, emang bawaan dari pabriknya begini" Icha terus mengomel memasuki kamar Devan.


"kenapa terus mengomel hmm?" tanya Devan yang ternyata sudah didalam kamar. "lohhh kak Devan udah selesai bicara sama papa?" Devan mendekati sang istri "sudah, kamu kenapa masuk kamar ngomel-ngomel? ada yang ganggu kamu?" tanya Devan.


"kak Devan kenal Stella?" Devan mengerutkan alisnya "Stella?" Icha menganggukkan kepalanya "iya, masa aku di bilang tepos sama si Stella itu" sontak Devan melihat kearah dada Icha reflek Icha menutup dadanya "ya jangan dilihat juga" Devan hanya tersenyum dan berjalan duduk di sofa yang ada dikamarnya "emang tepos kok" Icha yang mendengar jawaban dari Devan menghampiri Devan dengan muka kesalnya ia berdiri didepan Devan dengan tangan dipinggang.


" tapi kan ini dari sananya emang begini, emang kak Devan suka yang seksi ya?" Devan hanya terkekeh melihat wajah Icha yang mulai cemberut.


tanpa aba-aba Devan menarik tangan Icha hingga ia duduk dipangkuan Devan, Devan melingkarkan tangannya di pinggang Icha dan menatap Icha " seksi ataupun tepos kalau itu punya mu aku suka".


"tapikan kak Devan tidak tau punyaku yang sebenarnya"


"aku tau, bukankah tadi sore aku melihatnya" Icha segera membungkam mulut Devan dengan tangannya.


"udah ya tidak usah dibahas, aku mau mandi dulu" Icha berdiri dari pangkuan Devan dan berlari masuk ke kamar mandi.


Devan yang melihat tingkah Icha hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, entah mengapa ia merasa senang jika berada di sisi Icha, entah itu perasaan suka ataupun karena terbiasa ia sendiri tidak tau.

__ADS_1


__ADS_2