
Bell pulang pun berbunyi semua siswa-siswi Harapan Nusa saatnya untuk pulang kerumahnya masing-masing, termasuk Nasya dan teman-temannya yang kini sedang membereskan tasnya karena akan pulang.
"Gue pulng duluan yah," kata Maura kepada teman-temannya.
"Iya hati-hati." kata Nasya.
"Buru-buru amat," ucap Ika.
"Iya gue tadi di telepon sama bokap soalnya, gue pamit yah duluan bye,"
Maura pun meninggalkan kelasnya, dia pulang terburu-buru karena tadi ditelepon oleh ayahnya bahwa ibunya masuk rumah sakit.
Maura yang terburu-buru itu tiba-tiba ia bertabrakan dengan seseorang. Dan buku yang di pegang Maura pun terjatuh.
"Eh sorry gue terburu-buru," ucap seseorang yang bertabrakan dengan Maura, tapi dia belum melihat kearah Maura karena dia saat ini fokus kebawah mengambil buku Maura yang jatuh tadi.
"Iya gak papa" kata Maura yang juga tidak melihat kearah orang yang menabraknya itu.
Gino mendongkak ke atas dan melihat orang itu "Maura,"
"Gi...Gino" kata Maura gugup.
Tiba-Tiba datang Nichol dan dia melihat ada buku Maura satu lagi di bawah dan mengambilnya, Nichol membuka buku Maura dan dia sedikit terkejut dengan tulisan itu.
Maura yang melihat bukunya di tangan Nicholpun lantas mengambil buku itu lalu pergi meninggalkan Gino dan Nichol.
"Maura tunggu." panggil Gino sambil mengejar Maura.
Namun dihiraukan oleh Maura, dia terus saja berlari menjauhi dirinya. Gino terus menejar Maura sampai dia kehilangan jejak Maura.
"Cepet banget tuh anak larinya," kata Gino.
Nichol yang melihat Gino pun menepuk pundaknya.
"Udah biarkan aja dia pergi, mungkin dia belum siap ketemu sama lo lagi bro," kata Nichol menasehati Gino.
Gino mengangukan kepalanya. apa ya gan dikatakan oleh Nichol juga ada benarnya.
"Kayanya lo benar Nic, tapi gue harus ketemu dan bicara sama dia, gue mau jelasin kesalah pahaman dulu sama dia. Tapi kalau dia terus ngehindarin gue kaya gini, gimana gue bisa jelasinnya," ucap Gino sedikit frustasi.
__ADS_1
"Dia butuh waktu bro, lo tenang aja gue bakal bantu lo buat ketemu sama Maura,"
"Thank ya Nic," ucap Gino.
Nicholpun mengangukan kepalanya, lalu dia teringat sesuatu "Oh ya tadi gue liat buku Maura dan tulisannya sama kaya surat itu,"
"Ya gue juga liat tadi, atau jangan-jangan yang dansa sama lo itu Maura lagi." tebak Gino yang juga memikirkan hal yang sama.
"Ya mungkin bisa jadi," ucap Nichol acuh karena sebenarnya dia sudah tidak memikirkan siapa pemilik sepetu itu lagi.
"Kalau beneran Maura pemilik sepetu itu, lo bakal jadiin Maura pacar lo?" Tanya Gino
"Kenapa emang?" tanya Nichol.
"....." Gino tak menjawab dia memundukan kepalanya
"Haha lucu gue liat muka lo kaya gitu," kata Nichol sambil tertawa karena melihat ekspresi kecut dari wajah Gino.
Refleks Gino menatap Nichol tajam "Apa lo bilang?"
Dia baru sadar kalau Nichol hanya mengerjainya saja, lagian Gino lupa kalau Maura dan juga Nichol adalah sepupuan.
"Jijik gue... Tapi makasih ya sob," kata Gino tersenyum dia tos ala cowo lalu memeluk Nichol.
"Udah lepasin pelukannya entar kita dikira gay" ucap Nichol sembil melepas pelukannya.
"Mana ada seorang gay yang ganteng dan Playboy kaya gue," ucap Gino membanggakan dirinya sendiri.
"Terserah lo deh, gue cabut duluan," kata Nichol pamit kepada Gino.
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Keesokan harinya.
Nasya sedang berada di kelasnya bersama sahabat-sahabatnya. Dia celingak-celinguk mencari keberadaan salah satu temannya itu yang sampai sekarang belum juga datang, padahal kini sudah menunjukan hampir jam 8.
"Tumben banget Maura belum datang," ucap Nasya.
"Macet kali jalanya," timbal Abel.
__ADS_1
"Mungkin dia gak masuk sekolah karena ayahnya sakit," ucap ika yang memang benar adanya. buktinya kemain dan izin pulang duluan.
"Bisa jadi tuh," kata Abel.
Tiba-Tiba Maura datang dengan wajah cemberutnya. kemudian dia duduk di bangkunya, Naysa yang melihat Maura datang dengan wajah ditekukpun lantas menghampirinya.
"Kenapa tuh muka?" tanya Nasya.
"Gue lagi BT banget, tau gak? kemarin gue gak sengaja nabrak Gino, mana pake acara buku gue jatuh lagi," kata Maura yang menceritakan kejadian kemarin kepada teman-temannya.
"OMG sosweet tuh kayanya," Kata Abel yang malam membayangkan kejadian tersebut.
"Suut... Terus lo gimana?" Tanya Nasya.
"Ya gue langsung pergi aja ninggalin dia, karena gue belum siap kalau harus liat muka dia, gue masih kecewa sama dia." terang Maura.
"Bilang aja lo belum Move on dari Gino," celetuk Abel.
"Bener tuh," kata Ika.
Maura tertunduk mendengar Ucapan Abel tadi, lalu Nasya menatap tajam Abel.
Abel yang mendapat pelototan dari Nasya pun seketika sadar dengan apa yang barusan di ucapkannya "sorry gue gak maksud," sesal Abel.
Ika yang melihat keadaan seperti itu pun berkata untuk mencairkan suasana "Terus buku lo yang jatuh itu gimana?" tanya ika.
"Gue ambil di tangan Gino," ucap Maura, "ngomong-ngomong soal buku, Nih gue mau ngembaliin buku lo, kemarin buku lo juga ikut terjatuh," kata Maura lalu dia memberikan buku kepada Nasya.
Bersambung....
______________________________________________
Wah buku Nasya juga ikut jatuh kemarin ternyata...
Bagaimanakah kelanjutannya??.
Jangan lupa baca terus sampai habis yah ceritanya.
Makasih udah Mampir.
__ADS_1
Salam dari Author yang sedang jomblo ini (ehhb ko malah jadi promosi).