
© naughty perfect men ©
**attention !!!!
-berikan komentar baik terhadap cerita ini
-konten dewasa
-di butuhkan kerja sama antara pembaca untuk membangun suasana yang harmoni
-semoga suka
-typo**
Author pov
Yuna melangkah maju, sedikit demi sedikit menjauhi laki-laki kurang ajar tersebut.
Jungkook mendekati kembali dengan beraninya, ia memeluk Yuna dari belakang mencoba bermesraan dengan gadis lugu itu.
"Pak jaga etika anda sebagai CEO, tidak baik anda berprilaku buruk pada bawahan anda sendiri." Yuna berusaha menarik kedua lengan Jungkook di bawah dadanya
"Yuna, apa yang kamu pasang di tubuhmu sehingga menarik perhatian ku," bisik Jungkook
"Dia ini kenapa sih," Yuna bergejolak resah
"Kenapa tiba-tiba anda begitu sayang pada saya, jangan harap anda bisa menyentuh saya pak." Yuna menginjak kaki Jungkook dengan tekanan keras, sehingga pria itu melepaskan dirinya
"Jadi wanita galak sekali, Yuna bisakah kau lembut sedikit padaku, setelah kebaikan ku terlalu banyak padamu." Jungkook melepaskan sepatu bekas injakan Yuna, ia merasa sakit nyut-nyutan di punggung kakinya
"Pertama saya tidak meminta kebaikan bapak, lagian saya galak juga untuk jaga-jaga." Yuna segera berlari menuju meja yang tersedia, ia bergeming heran kenapa ada tirai mengelilingi tempat duduknya
"Ini...." Yuna memainkan gorden putih yang menjuntai ke atas lantai
"Kebaikan ku di sertai perhatian untukmu, ha...." Jungkook menghela napas lelah
"Saking baiknya, aku memikirkan bagaimana caranya agar kau tidak melihat kegiatan burukku. Jadi, jika aku sedang berduaan dengan wanita lain, tutuplah gorden itu. rasa cemburu mu nanti tidak meluap-luap keluar, ketika aku sedang berpaling dengan wanita lain." Jungkook berjalan ke meja kerjanya, menyibukkan diri mencari berkas file untuk di kerjakan oleh Yuna
"Anda terlalu percaya diri banget pak, saya tidak cemburu sedikit pun pada apa yang ada sangka kan." Yuna duduk di kursi, ia merasakan kenyamanan luar biasa
"Mengapa empuk sekali kursi nya," batin Yuna merasa rileks
Jungkook berjalan menuju tempat Yuna dengan membawa beberapa berkas untuk di kerjakan gadis itu.
Menyimpan nya di meja, kedua tangannya memegang ujung papan, menatap Yuna lebih detail lagi.
"Tampan kan?"
"Siapa?" Yuna malah balik bertanya
"Aku rasa kamu," Balas Jungkook malas
"Saya itu cantik, adakah di dunia ini perempuan itu tampan,"
"Kamu berpura-pura bodoh atau memang sengaja menghindari pujian untukku, katakan padaku kalau aku ini tampan!" tegas Jungkook memperjelas maksud nya
"Ohh bapak tampan ya, saya rasa tanya saja pada Ibu anda pak. Saya takut mengecewakan perasaan bapak, yang berharap saya bilang anda tampan. Tapi menurut pendapat saya, biasa saja pak," sahut Yuna
Jungkook malah jengkel mendengar perkataan Yuna, tapi ia tidak bisa mengeluarkan emosinya.
Harus tetap menahan rasa sabar, agar gadis yang ia incar mudah di dapatkan.
"Yuna, lepaskan jaket mu!"
"tidak," Yuna menolak
__ADS_1
"Maukah mendapatkan kebaikan ku, aku bisa membantumu melepaskan jaketnya." Jungkook mengusap-usap kedua tangannya
"Tidak perlu pak, silahkan anda duduk kembali." Yuna melepaskan jaketnya perlahan, pandangan matanya berpaling ke samping tak ingin terhipnotis oleh tatapan pria di depannya
Akan tetapi Jungkook masih tetap setia di depan Yuna, menantikan pemandangan indah terjadi.
Jungkook sangat memperhatikan setiap gerakan Yuna, apalagi dia tergoda untuk tetap berada di depannya.
"Sudah ya pak, sebaiknya anda pergi ke tempat duduk anda. Saya takut karyawan lain tiba-tiba masuk, melihat kita berdua seperti salah paham nanti," alibi Yuna
"Mereka tidak mungkin bisa masuk, hanya aku saja yang bisa membuka pintu. Kalau ada panggilan telpon berbunyi, angkatlah. Lalu katakan padaku, mereka ingin masuk." Jungkook beranjak pergi, masih mengulur waktu yang pas untuk berdekatan lagi dengan Yuna
Yuna memulai pekerjaannya, kepalanya di buat pusing dengan kosakata yang tidak terlalu ia mengerti.
Akhirnya ia berdiri mengarahkan pandangan matanya ke arah meja kerja Jungkook, dia merasa kesal karena pria itu terus tersenyum sendiri.
"Pak!" tegur Yuna, kedua tangannya tersimpan di atas pinggang
Jungkook tersadar dari lamunan khayalan nya, ia pun menatap Yuna.
Benar-benar membuat keluar gairah asmaranya, Jungkook di buat gelisah perasaanya.
Bentuk tubuh Yuna yang sempurna di tambah pakaian merah dengan celana pendek hitam menambah kesan begitu indah dalam pandangan Jungkook.
Yuna menyadari tatapan Jungkook bukanlah tatapan biasa, gadis itu segera memakai jaketnya kembali.
"Hey pak!! Jangan macam-macam pada saya." Yuna segera melangkah keluar dari tempat kerjanya, menghampiri Jungkook untuk memberi pelajaran pada pria itu
Jungkook berdiri ia pun menghampiri Yuna, mereka saling berhadapan.
"Anda sudah keterlaluan, pak. Pecat saya sekarang juga!" gertak Yuna merasa tidak tahan
"Pemecatan tidak berlaku untukmu." Jungkook melangkah mendekati tubuh Yuna
"Kenapa kamu ingin menyiksa diri sendiri, apakah aku menakutkan bagimu." tangan kanan Jungkook melingkar di tubuh Yuna, memberi tekanan pada pinggang gadis itu untuk berdekatan dengan tubuhnya
"Saya tersiksa kalau terus bersama pria kurang ajar seperti anda." Yuna mendorong dada Jungkook menggunakan siku tangannya
"Sudahlah aku cukup bersabar dengan mu." tangan kiri Jungkook meraba setiap lekukan wajah Yuna, tepat berada di belakang kepala gadis itu Jungkook mendorong nya untuk melakukan ciuman dengannya
Yuna berusaha berpaling agar ciuman itu tidak terjadi, sayangnya tenaga tangan Jungkook lebih kuat dari perkiraan nya.
Bibirnya bersentuhan dengan bibir Jungkook, keduanya pun berciuman.
Lumatan lembut bibir Jungkook menarik bibir Yuna untuk mengikuti setiap balasan kepandaian pria tangguh itu.
"Tuhan tolong lah aku!" Yuna berdoa dalam hatinya, berharap seseorang datang menghentikan kejadian tak di inginkan itu
Jungkook melepaskan ciumannya, Yuna memanfaatkan kesempatan itu untuk lari.
Jungkook malah menarik Yuna kembali, ia memaksa gadis itu untuk mengikuti kemana ia pergi melangkah.
"Lepaskan saya pak!!" Yuna memukul keras lengan Jungkook, yang mempererat jeratan jari tangannya di pergelangan tangannya
Jungkook menjatuhkan tubuh Yuna di sofa panjang, dimana sofa tersebut tempat duduk untuk para tamu yang ingin menemui nya.
Yuna berusaha membangunkan tubuhnya, tetapi dengan cepat Jungkook menindihnya dari atas.
"Kalau pun kau lolos dariku takkan bisa keluar dari ruang kerja ku." Jungkook senyum smirk
"Jadi, anda sengaja memasang jebakan ini pak. Licik sekali pemikiran anda!" marah Yuna terhadap perilaku tidak baik Jungkook terhadap nya
"Terlalu pintar kan, sudah jangan memberontak terus menerus. Aku tidak menyukai wanita yang pura-pura tidak menginginkan tidur dengan ku." Jungkook melepaskan satu persatu kancing yang mengait masuk dalam lubang kain kemeja hitam nya
Yuna dengan ide yang tidak pernah meleset, menendang area terlarang milik Jungkook menggunakan lutut kanannya.
Jungkook langsung merasa kesakitan, akhirnya dia terjatuh ke bawah.
__ADS_1
Yuna bangkit dari atas sofa berlari menuju ke pintu, tapi sayangnya dia tidak mengetahui password untuk membuka pintu.
Jungkook berdiri, ia pun mentertawakan kebodohan Yuna.
"Sudah ku bilang hanya aku yang bisa mengeluarkan mu dari sini!" Pada akhirnya Jungkook menahan rasa sakit di bawah perutnya, ia duduk tak mengejar Yuna yang berusaha kabur darinya
Yuna berpikir keras bagaimana caranya agar dia bisa keluar dari ruangan terkutuk ini, sampai akhirnya ia mempunyai ide dengan memecahkan pas bunga yang terpajang rapi di samping papan pintu.
Pecahan beling Yuna ambil, di gunakan untuk menyakiti dirinya agar Jungkook tertekan dan membebaskan nya.
"Pak!! jika anda tidak ingin di salahkan atas kematian saya, cepat katakan password nya!" Yuna menodongkan beling tajam ke permukaan lehernya, guna meyakinkan niatnya
"Jangan bodoh Yuna, untuk apa kau melakukan tindakan konyol itu." Jungkook membangunkan tubuhnya, tapi tidak bisa rasa sakit memundurkan niatnya
"Sudah cepat pak!! Apa anda tidak sayang pada karier Anda, kalau saya mati anda jadi tersangka!" Yuna mengancam
"Baiklah, 171997 itu password nya," terpaksa Jungkook mengatakan kode yang sengaja ia buat, ia juga berpikir ulang mengenai kata-kata Yuna yang memang benar adanya
Yuna menjatuhkan beling di tangannya, segera menekan tombol di layar dan pintu pun terbuka lebar.
"Maaf pak!! Saya juga menyayangi nyawa saya sendiri, tidak mungkin di buang sia-sia. Terimakasih atas Kejujuran anda." Yuna tersenyum, melangkah bebas keluar dari pengurungan
"Sial!!' Jungkook menendang meja di depannya, merasa telah di bodoh-i oleh gadis lugu itu
"Aku kira ancamannya nyata, ternyata hanya tipuan saja. Password nya tidak dapat di ganti sebelum satu bulan lagi," desis Jungkook kesal dan marah
Jiwa seorang pria tak lagi mendukung nya, karena kekalahan telak itu membuat ia dendam.
Yuna keluar dari gedung Jeon Nasional Group, tampak kelegaan di wajah gadis itu.
Tak ada barang yang ia tinggalkan seperti kemarin, membuat kerisauan tak perlu di tanyakan.
Yuna sangat gembira sampai-sampai orang yang mengikuti langkah kakinya tak terasa olehnya.
Yuna duduk di depan warung sambil menikmati hidangan mie bakso, dengan lahapnya gadis itu mengunyah bakso berbentuk bulat kecil di dalam mulutnya.
Seseorang itu menghampiri Yuna dan duduk di depannya.
Yuna menyimpan sendok dan garpu nya, dengan segera gadis itu menelan semua makanan masuk ke dalam lambung nya.
"Tidak usah tergesa-gesa, nanti tersedak minumlah dulu," saran seseorang itu
Yuna menuruti apa yang dikatakan orang di depannya. Setelah selesai minum, ia melancarkan pertanyaan pada seseorang itu.
"Jahe!" panggil Yuna
"Iya kenapa nanas?" Jaehyun menatap Yuna
"Maaf kalau aku menyinggung mu dengan pertanyaan ku," jawab Yuna
"Iya tidak apa-apa, katakan apa yang mau kamu katakan padaku," balas Jaehyun santai
"Kenapa kamu selalu muncul di depanku, setiap aku keluar dari kantor. Apa kamu menguntit ku dan terus menunggu ku keluar dari sana?"
Jaehyun tertawa, lalu berkata apa yang sebenarnya terjadi mengapa ia selalu bisa menemukan Yuna.
"Aku bekerja di kantor seberang jalan, saat kamu melihatku. Aku tengah beristirahat, sengaja waktu itu lembur untuk mengajak mu jalan-jalan, karena... melihat mu tengah risau," jawab Jaehyun meluruskan kesalahpahaman Yuna padanya
"Aku tidak percaya, bagaimana mungkin itu terjadi apalagi kamu hadir di depanku kalau kamu bilang sendiri bekerja di sekitar sini," Yuna masih menyangkal perkataan Jaehyun, ia belum 100% yakin
Jaehyun mengeluarkan kartu identitas nya, Yuna baru percaya bahwa dirinya memanglah seorang karyawan di bidang speaking and listening.
"Maaf!!" Yuna langsung merasa bersalah menuduh Jaehyun yang tidak-tidak
"Jangan minta maaf, aku tidak tersinggung karena memang lantas kamu curiga padaku. Setiap pertemuan dadakan selaku mengundang banyak pertanyaan, hari ini sudah terjawab untuk apalagi di bahas," ucap tenang Jaehyun, merasa lebih beralasan lagi pada Yuna
Karena dirinya tiba-tiba datang, tanpa menjelaskan ataupun berbicara terus terang mengenai pekerjaan nya sangat dekat dengan Yuna.
Yuna menyelesaikan makan nya, di temani Jaehyun yang mengaku sedang free dari pekerjaan.
Hingga gadis itu di antar pulang oleh Jaehyun, Yuna melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.
Walau jarak tempat tinggal mereka tidak terlalu jauh, hanya 5 saja.
Jaehyun masuk ke dalam rumah kosan, memastikan kepergian pria itu yang sudah tak nampak lagi di matanya.
__ADS_1
Yuna buru-buru masuk ke dalam, menuju kamarnya.
To be continue.........