
© Naughty perfect Men ©
**attention !!!!
-vote sebelum baca tanda pengenalan yang baik
-berikan komentar baik terhadap cerita ini
-konten dewasa
-di butuhkan kerja sama antara pembaca untuk membangun suasana yang harmoni
-semoga suka
-typo**
_______
______________
______
{ Author pov }
■□■□■□■□■☰ ☱ ☲ ☳☴ ☵ ☶ ☷
■□■□■□■□■☰ ☱ ☲ ☳☴ ☵ ☶ ☷
❃.✮:▹ ◃:✮.❃♩✧♪●♩○♬☆❃.✮:▹ ◃:✮.❃
Di saat permainan yang tengah di lakukan Jungkook sedang panas-panasnya, Soobin tiba-tiba saja mengigau memanggil nama Ibunya.
Jungkook terpaksa melepaskan Yuna, menghentikan semua aksi percintaannya. "Aku menunggu mu di kamar, tenangkanlah putra kita." Jungkook mengambilkan gaun yang tergeletak dan memberikannya pada Yuna.
Jungkook pun pergi tanpa menoleh kebelakang, entah merasa kecewa atau tidak puas karena rencananya gagal total. Dia terdiam sampai di kamar pengantin, Yuna merasa bersalah dalam hatinya kenapa ia selalu menolak apa yang Jungkook inginkan.
Sudah jelas usaha Jungkook begitu banyak berkorban dan membuktikan dirinya. Terapi, ia masih saja meragukan kesungguhan suaminya itu.
Sikap dingin yang ia peragakan mungkin menyakiti perasaan Jungkook, sebelum terlambat Yuna bergegas memakai gaun nya.
Berjalan cepat ke arah ranjang memeriksa kondisi Soobin setelah merasa aman dan anaknya tertidur lelap, Yuna pergi dari kamar tersebut.
Ceklek....... Kemudian Yuna menutup rapat pintu sambil menguncinya. Melihat ke tempat Jungkook yang duduk di pinggir ranjang tengah meneguk segelas bir, lalu Yuna melangkah pelan mendekati suaminya.
"Apa Soobin baik-baik saja?" Jungkook menyimpan gelas kosong di tangannya ke atas laci samping tempat tidur
"Iya, dia sering sekali mengigau seprti tadi," Yuna menghela napas panjang sebelum ia mengatakan ucapannya
"Jungkook aku..."

"Apa?" Jungkook menatap Yuna kemudian ia pun berdiri, berjalan mengambil ponselnya yang berdering keras secara mendadak
Jungkook mengangkat panggilan masuk tersebut, terdengar suara perdebatan cukup lama hal itu justru membuat Yuna, mempunyai kesempatan untuk menenangkan jiwanya yang mulai terguncang.

Sesudah pembicaraan melalui alat komunikasi berakhir Jungkook kembali duduk di atas ranjang, matanya melirik Yuna yang masih berdiri terpatung sejak tadi.
"Apa yang mau kamu katakan?"
"Jungkook, aku memaafkan mu...." Yuna mengulum bibir, canggung memandangi Jungkook yang mulai tersenyum hangat di wajah tampannya
"Kalau begitu... kemari dan duduk di pangkuan ku!!" ajak Jungkook sembari menggerakan jari tangannya menarik perhatian Yuna
__ADS_1
Tanpa ada keraguan di benaknya yang bisa menghentikan ajakan suaminya, Yuna berjalan mendekati, setelah sampai di hadapan Jungkook ia pun duduk sesuai perintah yang di katakan padanya.
.・。.・゜✭・.・✫・゜・。.
Warning NC21++++
»»——⍟——««‧͙⁺˚*・༓☾ ☽༓・*˚⁺‧͙.・✫・゜・。.
Jungkook melepaskan gaun pengantin Yuna dan istrinya membantu suaminya, menanggalkan handuk kimono yang di kenakan Jungkook. Keduanya telanjang bulat setelah saling melucuti pakaian masing-masing, dan masih dalam posisi yang sama.
Jungkook ******* bibir Yuna dari sentuhan lembut sampai ke tingkat kasar, Yuna pun mulai membalas sembari menikmati setiap permainan yang tengah terjadi antara dirinya dan Jungkook.
Di setiap detiknya, kekecewaan dan perasaan benci Yuna luluh, kebahagiaan yang berawal dari kesenangan membuat dia, mempunyai rasa percaya diri bersama dengan Jungkook.
Kesalahan fatal yang pernah diakui Jungkook termaafkan, Yuna tak lagi mementingkan perasaan pribadinya. Demi kebaikan masa depan putranya, dia pun mengalah pada cinta masa lalunya.
Jungkook menjatuhkan tubuh Yuna dan membalikkan posisi keduanya, sekarang istrinya berada di bawah kendalinya.
"Malam pertama kita sebagai pasangan suami istri, harus terkenang lebih indah dari malam yang dulu pernah kita habiskan." Jungkook tersenyum sembari mengadukan keningnya dengan Yuna
"Jangan gembira begitu, apa kamu bisa melakukan yang lebih baik dari yang biasa kamu kerjakan," ejekan Yuna memberi semangat Jungkook tambah membara
"Aku tunjukan padamu, kekuatan dan keahlianku yang belum pernah aku peragakan pada siapapun." Jungkook menurunkan Kepala nya lebih rendah lagi, agar bibirnya bisa menyatu dengan bibir Yuna
Jungkook mempraktikkan apa yang ia pelajari dan kumpulkan hanya untuk menunggu momen seperti ini bersama wanita yang di cintai tanpa henti, tubuh Yuna di jelajahi bibir Jungkook dan memberikan banyak tanda merah di sekitarnya.
Desahan kecil hingga teriakan Yuna tak mengalihkan perhatian Jungkook untuk menghentikan kegiatan nya, pria itu memasukan senjata utama yang sudah siap untuk ikut bertempur dalam dunia kenikmatan.
Yuna menaruh kedua tangannya di bahu Jungkook, terkadang jari tangannya reflek meremas punggung suaminya tak kuasa menahan keseimbangan tubuhnya yang mulai goyah.
Pertandingan pertama Yuna sudah klimaks terlebih dahulu, lanjut lagi yang kedua karena Jungkook masih menginginkan Yuna untuk membantunya.
Yuna berganti posisi dengan Jungkook, kini ia berada di atas tubuh suaminya.
"Sayang... Jangan ikat rambutmu!" Jungkook melarang Yuna ketika istrinya hendak menaikan seluruh rambutnya untuk di ikat
"Kenapa kamu senang sekali melihat rambutku yang berantakan?" Yuna menurunkan tubuhnya, bibirnya mendekati pipi sebelah kanan Jungkook dan mengecupnya
"Karena yang berantakan selalu membuat kecanduan untuk dilakukan lagi dan lagi," bisik Jungkook sebelum Yuna mengangkat kepala nya naik ke atas
Jungkook mengelus kepala Yuna sebagai tanda keberhasilan istrinya, tapi hanya sebentar saja Jungkook membalikkan posisinya kembali sebagai pemegang kendali.
"Aku sudah lelah Jungkook!" keluh Yuna mengerutkan bibirnya, menambah kesan cute di wajah cantiknya
"Aku belum sampai Yuna." Jungkook menggerakan tubuhnya kembali memompa tubuh Yuna yang sudah melemas, hentakan demi hentakan terus di gencar agar mencapai tujuan akhir
Tak berapa lama berselang Jungkook berjaya dengan mencapai puncak *******, menjatuhkan tubuhnya ke samping tubuh Yuna.
"Soobin masih kecil, dia juga belum siap punya adik lagi," Yuna hendak bangun tetapi Jungkook lebih cekatan darinya, ia di tarik ke dalam pelukan Jungkook dan berada di atas dada suaminya
"Shutt!!! Jangan banyak bicara, kita baru melakukannya satu kali mana mungkin bisa menang bayi lagi, ingat tidak kamu mendapatkan Soobin berapa lama dan berapa kali proses nya." Jungkook tersenyum dengan matanya yang masih terpejam
"Aku lupa soal itu." Yuna merasakan aura hangat masuk ke tubuhnya, merasa damai dan tenang ia pun menutup mata untuk bermimpi indah
.
♥*♡∞:。.✧༺♥༻✧。.。:∞♡*♥
.
.・゜-: ✧ :- ‧͙⁺˚*・༓☾ ☽༓・*˚⁺‧
.
**•̩̩͙✩•̩̩͙*˚ ˚*•̩̩͙✩•̩̩͙*˚*.・✫・゜・。.☆.。.:* .。.:*☆☆.。.:* .。.:*☆☆.。.:* .。.:*☆.・✫・゜・。.☆.。.:* .。.:*☆☆.。.:* .。.:*☆.・✫・゜・。.☆.。.:* .。.:*☆☆.。.:* .。.:*☆.・✫・゜・。..・✫・゜・。.
__ADS_1
Di rumah tersebut di pagi hari yang sangat cerah, mentari seakan memberikan sambutan hangat dengan tersenyum melihat kebahagiaan keluarga Jungkook yang baru terkesan harmonis juga humoris.
Sedang ada acara sarapan bersama, yang diberi menu masakan oleh chef handal nyonya Jeon Yuna.
Soobin memperhatikan sosok ibunya dan merasa ada yang aneh dari biasanya saat ia memandang, lalu ia pun bertanya pada Yuna, kenapa ada bintik-bintik merah cukup besar bentuknya di leher ibunya.
"Semalam ada nyamuk besar yang menghisap darah ibu," ucap Yuna lembut lalu melirik Jungkook yang sedang fokus membaca sebuah koran
"Sebesar apa bu, kenapa Soobin juga tidak di gigit?!" Soobin yang penasaran akan jawaban Yuna
"Besar sekali sayang, kamu pasti kalah melawan nyamuk itu. Ibu aja di buat takut, dia sangat beringas dan galak." Yuna menaruh roti yang sudah ia panggang ke atas piring Soobin
"Ayah... Ayah...." Soobin menarik lengan baju Jungkook, hingga pria itu menurunkan korannya dan mengalihkan penglihatan matanya pada putranya
"Ada apa?"
"Ayah kata Ibu, bintik merah yang ada di leher itu gigitan nyamuk besar. Apa Ayah tidak melihat nyamuk besar itu dan juga merasakan hal yang sama?"
Jungkook melihat ke arah Yuna yang tengah menahan tawa, istrinya lalu memberikan senyuman manis.
"Nyamuk besar, bagaimana itu mungkin ada di dunia ini. Ayah tertidur nyenyak semalam jadi Ayah tidak tahu, apa benar ada nyamuk sebesar yang di katakan ibumu," jawab Jungkook pura-pura bertingkah polos
"Nanti Soobin belikan racun pembunuh nyamuk bu, agar ibu bisa tenang saat tidur tidak akan lagi mendapat luka seperti itu." Soobin memusatkan perhatian nya pada roti panggang yang di buat ibunya
"Apa anakku akan membunuh ayahnya saat tidur," batin Jungkook merasa terancam
Siang harinya, Yuna tengah mencuci piring. Jungkook datang menghampiri dan memeluknya dari belakang. Bermanja-manja dengan Yuna, sambil mencium leher istrinya.
"Hentikan Jungkook! Kalau Soobin lihat, dia akan salah paham nanti," Yuna berusaha memperingati Jungkook sebelum Soobin mengetahui kenakalan Ayahnya
"Tidak akan, dia sedang bermain game di kamarnya. Aku sudah memantaunya sebelum ke sini, jangan cemas akan hal itu." Jungkook memperdalam kecupan bibirnya, meninggalkan beberapa luka lembab di pundak Yuna
"Ayah apa yang kamu lakukan pada ibu!!!" Soobin berlari dari arah pintu, menarik Jungkook dari dekat ibunya
Anak kecil itupun menangis keras sambil memukul-mukul kedua paha ayahnya, Yuna membersihkan tangannya lalu memangku tubuh Soobin dan mencoba menenangkan nya.
"Soobin sayang jangan begitu sama Ayah." Yuna berjalan keluar dari ruang dapur
"Ayah jahat... Ayah melukai Ibu, Soobin nggak suka cara Ayah menyakiti Ibu huhuhuhuhu...." Soobin menangis tersedu-sedu
Jungkook mengikuti kemana perginya ibu dan anaknya, sampai mereka berhenti di ruang santai dan duduk saling berdampingan.
Jungkook mencoba memangku tubuh Soobin, namun mendapat penolakan dari putra nya yang lebih memilih berada dalam pangkuan Yuna.
"Ayah beritahu padamu Soobin, apa yang Ayah lakukan tadi itu cara membuat adik baru untuk mu. Kamu ingin punya bayi kecil kan, agar bisa kamu jaga?" ucapan Jungkook menarik perhatian Soobin, putranya menoleh ke arahnya dan menghentikan tangisan nya
"Bayi kecil, apa yang ayah katakan akan jadi kenyataan," Soobin memiliki ketertarikan tentang seorang bayi, karena dia ingin seperti teman-temannya yang sudah memilki seorang adik
"Tentu saja, asal Soobin tidak menganggu Ayah dan Ibu saat kami sedang berduaan. Apa Soobin mau memenuhi syarat Ayah yang mudah ini?!" Jungkook meyakinkan Soobin dengan kepastian ucapannya yang cukup menjanjikan
"Baiklah ayah, tapi Ayah janji takkan membuat ibu sakit hati!!" Soobin menunjukan jari kelingking nya, sebagai tanda perjanjian
Jungkook menyatukan jari kelingking tangan kanannya, sebagai jaminan kepercayaan untuk putranya.
"Ayah berjanji," ucap tegas Jungkook
"Yeayyy Soobin akan punya dedek baru." Soobin turun dari pangkuan Yuna, ia berjingkrak-jingkrak karena merasa senang
Rasa sedih nya sirna karena iming-iming ucapan janji, yang belum tentu benar adanya.
"Pintar sekali kamu, Jungkook... merayu Soobin dengan menjanjikan yang mungkin tidak akan terwujud dalam waktu dekat," ujar Yuna merasa lega karena Soobin tidak bersedih lagi
"Kita harus lebih berusaha lagi mewujudkan keinginan putra kita." Jungkook menyandarkan kepalanya di atas bahu Yuna, matanya fokus memperhatikan Soobin yang tengah gembira
Kenakalan dari seorang Jeon Jungkook, mendapat kisah akhir yang bahagia. Berawal dari kesalahan menemukan kisah kelam yang sempat tertunda karena terus terpendam.
__ADS_1
Memiliki Yuna seutuhnya, untuk menemani sisa hidupnya. Memiliki cinta dan memberikan kasih sayang pada anak-anak yang lahir dari wanita yang sangat ia kasihi.
Tamat.