Naughty Perfect Men

Naughty Perfect Men
ahh!!! aku Salah duga dari sebelumnya


__ADS_3

 


© naughty perfect men ©


 


attention !!!!


-berikan komentar baik terhadap cerita ini


-konten dewasa


-di butuhkan kerja sama antara pembaca untuk membangun suasana yang harmoni


-semoga suka


-typo**


Author POV


Di sebuah rumah susun tepatnya gedung penyewaan kamar khusus wanita, Yuna merebahkan dirinya setelah menghabiskan waktu yang sangat lama di dalam kamar mandi.


Temannya yang satu kamar dengannya lantas bertanya, apa interview yang dilakukan Yuna berhasil atau tidak.


Yuna menjawab dengan penuh kesemangatan yang mengitari jiwanya.


"Belum pasti, tapi aku yakin besok aku menyandang seorang pekerja bukan pengangguran. Hebat kan?" Yuna memeluk guling dengan eratnya, seakan enggan berpisah


"Wait!!! Sorry kalau aku menyela kebahagiaan mu, kata mu besok... apa maksudnya itu, coba jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi Na?" tanya temannya lagi, dia masih di Landa penasaran dan bingung akan pengertian yang katakan Yuna


"Jadi, hari ini aku gagal interview. Memulainya pun belum...." Yuna mengerutkan bibirnya, cemberut memikirkan nasib karir yang di impikan gagal tergapai


"Apa?! Gagal... terus...." temannya semakin tidak mengerti ia meminta penjelasan lebih detail lagi


"aku sempat marah sama si penguji tampan itu, tapi untunglah kebaikan memihak nasib malang anak kos seperti ku. dia berubah baik, dia memberi kesempatan padaku untuk melakukan interview ulang. walau pekerjaan yang di tawarkan berbeda dari yang awal ingin aku masuki," sungut Yuna mengatakan kejujuran pada temannya yang mendengarkan dirinya baik-baik dengan kesetiaan yang tak dapat di bantahkan


"Pertanyaan ku, mengapa kamu gagal melakukan interview... padahal kamu matang persiapan, bagus juga mengelola kata-kata...." Temannya menggelengkan tak paham, apa yang di alami Yuna sungguh di luar dugaan sebelumnya


"Jadi gini Chaeyong, map yang aku bawa itu harusnya di serahkan ke dosen. Ehh... karena terburu-buru, aku salah mengambil." jari telunjuk Yuna menggaruk-garuk kepalanya yang tidak merasakan gatal, ia hanya berusaha mengeluarkan rasa canggung


"Kamu itu udah kebiasaan, suka lupa sama segala hal yang udah di siapin. Padahal, kalau kamu teliti segalanya pasti lancar dan dapat dengan mudah menyelesaikan. Tapi ya sudahlah, rezeki kamu bukan di departemen keuangan kan, tapi ya itu...." Chaeyong menunjuk Yuna


"Aku." tangan kanan Yuna menyentuh dadanya


"Semoga besok lancar ya, aku hanya bisa berdoa dan berharap. Kamu sukses dengan jalan yang kamu pilih." Chaeyong tersenyum sumringah, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain berharap pada yang maha kuasa akan nasib temannya


"Uhh!! Chae ku." Yuna menurunkan kedua kakinya, ia langsung berlari dan menabrakkan tubuhnya memeluk erat teman baik nya


"Kenapa?" tanya Chaeyong yang kembali di Landa bingung


"Rasanya aku ingin cium kamu deh," goda Yuna yang mulai bertingkah manja


"Udah deh jangan mulai, kita udah gede... ngapain kayak anak kecil, udah pergi tidur sana. Jangan ganggu konsentrasi aku, ok," balas peringatan Chaeyong pada Yuna


"Ihhh kenapa sih, kita kan temen?" gelak tawa Yuna pecah, tak kala temannya sudah merasa tenganggu dengan tingkah anehnya


"Temen juga yang wajar dong hubungan nya." Chaeyong membuka laptopnya, ia ada jadwal menonton maraton drama kesukaannya


Yuna mulai menjahili Chaeyong yang sedang fokus menonton drama di layar laptopnya, temannya kesal tapi dia tidak bisa marah karena rasa sayang.


Merasa lelah dan sudah waktunya ia beristirahat, Yuna pergi ke tempat tidurnya.


Segera menyelimuti diri, kedua matanya terpejam untuk menyambut ketenangan bersama kedamaian.


Mentari mulai terbit di sebelah timur, cahaya menerangi sebagian dunia yang sedang mengalami kegelapan malam di temani rembulan bersinar.


Kicauan burung yang merdu mengarungi alunan melodi sebagai alarm pengganti yang tidak berbunyi, udara segar yang membawa oksigen baru memasuki celah-celah kayu ventilasi.

__ADS_1


Yuna baru saja selesai mempersiapkan dirinya, ia tergesa-gesa keluar dari kamar.


Chaeyong segera menyusul langkah cepat gerak seribu pelarian Yuna.


Di depan teras, Chaeyong meneriaki Yuna.


"Choi Yuna!!" teriak lepas Chaeyong memanggil sahabatnya


Yuna menghentikan langkah kakinya setelah mendapat panggilan dadakan, segera membalikkan tubuhnya.


"Iya," ucap Yuna menjawab panggilan dari Chaeyong


Chaeyong melangkah maju mendekati Yuna, ia memberikan barang bawaan gadis itu yang tertinggal di atas spray.


"Yuna ceroboh lagi." Chaeyong mengulurkan tangannya


Yuna segera mengambil barang-barang yang ada di tangan Chaeyong.


"Terimakasih." Yuna tak dapat membohongi perasaan malu nya, ia sudah tertangkap basah untuk kedua kalinya oleh Chaeyong kalau ia memanglah ceroboh


"Lain kali, ingat lagi Na. Kalau begitu good luck, beri aku kabar bahagia ya," Chaeyong memberi semangat pada Yuna


"Ahh!! Baiklah, sampai jumpa." Yuna melambaikan tangan ke atas



Chaeyong tersenyum ia masih tetap setia berdiri menunggu kepergian temannya naik ke dalam taksi.


Setelah melihat Yuna masuk taksi, dan roda empat itu menggelinding pergi barulah Chaeyong melangkah masuk ke dalam rumah.


Sepanjang perjalanan, Yuna terus menghapal dan mengucap ulang apa yang ia rangkum di dalam buku catatannya.


Si sopir sempat melirik Yuna beberapa kali, memastikan pikiran wanita yang ia bawa masih terjaga kondisi kejiwaannya.


"Kenapa jantungku terus dag-dig-dug." Yuna mulai gelisah, pikirannya di hantam perasaan bimbang


Mengarungi perjalanan waktu yang cukup lama, akhirnya ia telah sampai di depan kantor Jeon Nasional Group.


Menaiki tangga darurat, secara ilegal.


Napas yang masih ngos-ngosan, Yuna berusaha menyapa wanita yang hangat kemarin.


"Hai...." Yuna hampir jatuh karena ketidakseimbangan tubuhnya saat berdiri, namun dengan segera ia bangkit dan menyadarkan diri


"CEO sudah bertanya pada ku, apa kamu datang atau tidak," ucap si wanita


"Lalu apa lagi yang dia katakan?" Yuna membenarkan penampilan rambutnya yang tergerai, ia merasa pakaian yang di kenakan sedikit kurang rapi


"Tidak ada, hanya CEO terus bulak-balik keluar ke dalam," jawab santai si wanita


"Terimakasih, aku masuk ke dalam tapi doakan ya, semoga aku diterima kerja. Supaya kita lebih mengenal satu sama lain." ujar Yuna yang tetap optimis besar, walau separuh tenaganya melebur ketika berlari menaiki anak puluhan tangga


"Ya...." si Wanita mengangguk setuju


Yuna dengan senyuman bangga segera membuka pintu, setelah menutup rapat pintu ia melirik ke sekitar.


Mencari CEO yang katanya tengah menunggu dirinya.


Terus melangkah kaki, melangkah lebih dekat dengan meja kerja tapi tak dapat ia menangkap bayangan yang di cari.


"Kemana CEO nya," Yuna bergeming heran


Suara langkah kaki dari seroang pria, langsung membuat Yuna terunggah hingga ia berbalik mengarah kemana pria itu sedang berjalan mulai mendekati dirinya.



"Ehh... Pak penguji," sapa Yuna sopan sembari melukiskan senyuman manis di wajahnya

__ADS_1


"Terlambat 15 menit, apa kau yakin kualitas kinerja mu bermutu?" Jungkook berjalan melewati tubuh Yuna, tangannya memegang kursi kosong di depan meja kerjanya


"Kualitas tidak usah di ragukan, saya akan memperlihatkan seberapa tangkasnya saya dalam mengerjakan tugas pak!" dengan sigap Yuna berdiri, tatapan mengarah ke depan tanpa berkedip


"Ok, duduklah. Kita mulai interview nya!" Jungkook menepati posisi duduknya, ia mulai merasa rileks setelah lama berdiri


Yuna mengikuti arahan dari si CEO, segera ia duduk rapi di depan nya.


"Perkenalkan dirimu!" pinta Jungkook


Yuna mengambil ancang-ancang pernapasan, mengembuskan perlahan Jungkook semakin tertarik pada pola pikiran tentang gadis di depannya.


"Apa dia memang tidak punya kecurigaan sedikit pun, mengapa dia selalu menuruti perkataan ku dan berbicara dengan santun," pikir Jungkook seraya berkata dalam hati


"Nama saya Choi Yuna, umur baru 21 tahun sudah lulus S1 sedang mengerjakan target S2. Karena keterbatasan biaya, saya harus mendapatkan pekerjaan. Dengan demikian, saya ingin melamar pekerjaan di sini, kinerja saya memang belum di tonjolkan. Tetapi, satu hal yang pasti meyakinkan... saya pekerja keras, yang tak pantang menyerah pada keadaan." Yuna mengehela napas panjang untuk melanjutkan pengucapan nya


"Susah mencari anak gadis yang suka berkerja keras, tidak sulit menemukan semangat yang membara di dalam jiwa saya. Anda tentu saja sudah melihat dengan jelas, karena pendengaran Anda tidak salah mendengar tentang ucapan saya." Yuna pun tersenyum


"Saya tidak melihat semangat anda?" Jungkook membantah


"Semangat itu terlihat, di mata yang anda harus tatap. Tidak usah sungkan menatap saya, pak!" jawab Yuna memberitahu


Jungkook mulai tertarik akan perkataan yang di sampaikan gadis didepannya, ia pun menatap Yuna sedemikian teliti hingga menebak-nebak apa yang dia pikirkan.


Begitu tenang dan indah, pandangan mata Yuna telah menggoda pendirian Jungkook yang sedang mengalami ketegangan.


Setiap kali gadis itu berkedip, Jungkook berusaha mempertahankan tatapan melongo nya.


"Pak... apa anda sudah melihat semangat api yang menyala di mata saya!" tegur Yuna ucapannya merasuki pikiran Jungkook hingga membuat pria itu tersadar


"Ohh...." Jungkook mengucek-ngucek matanya, untuk menghilangkan bayangan wajah Yuna yang sedang memasuki memori ingatan nya


"Apa anda baik-baik saja?" tanya Yuna, ia memiringkan sedikit kepalanya untuk memastikan kondisi pria di depannya bahwa dia memang dalam keadaan baik


"Ya... mari kita lanjutkan kembali dalam pembicaraan." Jungkook mendongak wajahnya, menatap Yuna dengan damai mencoba menahan sesuatu rasa yang aneh


"Apa anda punya pacar?" sontak pertanyaan kali yang di berikan Jungkook membuat Yuna berkedip-kedip matanya, bingung harus menjawab apa


Beberapa menit ia terdiam, Jungkook semakin mendesaknya agar menjawab pertanyaan darinya dengan segera.


"Cepat-cepat waktuku tidak banyak!"


"Tidak pak!" Yuna menjawab di ikuti gelengan kepala beberapa kali


"Jangan bohong!" Jungkook meragukan jawaban yang ia dapat, karena kurang meyakinkan


"Benar pak, saya tidak bohong. Katanya kalau bohong itu dosa, apalagi tidak baik untuk ke depannya," sahut Yuna memperjelas status nya lagi


"Baguslah... memang seharusnya kau tidak punya pacar," ucap Jungkook tanpa sadar apa yang ia katakan barusan


"Apa anda mengejek saya, karena saya jomblo pak?" Yuna merasa tersinggung


"Tidak!!" Jungkook berdalih


Yuna merasa curiga, ada hal yang aneh dan merasa kesalahan sedang terjadi.


Ia pun menyadari akting yang di lakukan pria di depannya, bukanlah otodidak semata. Melainkan sebuah rencana, yang sudah di rancang dengan matang.


Di tambah kemarin dia mengaku sebagai penguji dan tidak mengungkapkan identitas sebenarnya.



"Apa mungkin aku telah di bodoh-i," pikir Yuna, ia kembali menatap pria di depannya yang bergerak kaku


To be continued...........


**ayoo like and comment gaess!!!

__ADS_1


biar update nggak tertunda!!!!**


berikan rate bintang 5 ya....😍😍


__ADS_2