
© naughty perfect men ©
**attention !!!!
-berikan komentar baik terhadap cerita ini
-konten dewasa
-di butuhkan kerja sama antara pembaca untuk membangun suasana yang harmoni
-semoga suka
-typo**
Author pov
Yuna menunggu kedatangan bos nya di Bandara, waktu pemberangkatan sebentar lagi.
Entah berapa lama lagi ia harus berdiri di tepi jalan, menunggu sosok pria yang menyebalkan sepanjang hidupnya.
Tak berapa lama pandangan matanya melirik salah seorang pria yang mengenakan topi menutupi wajahnya, terlihat menunduk ke bawah.
Yuna terkesan akan penampilan kalem pria misterius tersebut, apalagi langkah kaki pria itu mendekat ke tempatnya.
Ketika berada di hadapan nya, pria itu membuka penutup kepalanya hingga terlihat jelas siapa yang di pandangi olehnya sejak tadi.
Yuna tidak menyangka CEO kurang ajar di kantor nya, bisa menipu matanya dengan penampilan sederhana yang memukau matanya.
"Ternyata anda pak?!" ungkap Yuna tak percaya
"Ada apa, memangnya ada yang salah dari penampilan ku." Jungkook memakai kembali topinya
"Tidak, hanya saja anda berbeda dari biasanya." Yuna mengabaikan keberadaan Jungkook di dekatnya, pandangan matanya melirik ke tempat lain
"Tampan mengenakan pakaian normal, daripada casual. Tapi tetap saja, saya ini sangat tampan seperti biasanya," kata Jungkook percaya diri tinggi
"Pikiran anda melebihi kapasitas otak saya, saya tidak pernah berpikir kalau anda sangat tampan." Yuna jalan terlebih dahulu, meninggalkan CEO nya
Jungkook mengikuti langkah Yuna, dia terus menggoda gadis itu.
Katanya......
"Kalau suka ataupun jatuh cinta katakan saja, saya tidak keberatan?"
"Yuna, jujurlah pada saya... Kamu cinta kan sama saya," ocehan Jungkook tidak di gubris Yuna, gadis itu terus menjauhi tanpa menoleh ke samping nya
Yuna di kejutkan oleh pegawai bandara yang membawa troli pembawa kargo, hampir ia terjatuh kebelakang Jungkook menjatuhkan tas nya untuk menyelamatkan Yuna.
Hingga ia terjatuh di atas pangkuan lengan Jungkook, tatapan matanya yang masih merem belum terbuka karena syok.
Jungkook tersenyum memandangi Yuna, harinya merasa sejuk dan tentram.
Tidak dapat menolak lagi, Jungkook menginginkan Yuna menjadi pengisi hatinya yang kosong.
Perlahan Yuna mengangkat kulit matanya hingga terbuka, arahan matanya langsung lurus mengarah pada pancaran bola mata Jungkook.
"Yuna, katakan satu kali saja. Kalau kamu itu suka pada ku, kamu tidak akan pernah rugi menyukai pria seperti ku!" pinta Jungkook luluh sifat kerasnya
"Suka pada anda, maaf Pak. Saya bukan wanita yang mudah menyukai pria, anda tidak berhak memaksa perasaan orang." Yuna buru-buru berdiri ia langsung masuk ke dalam ruang pemberangkatan menuju pesawat
"Kalau suka tinggal katakan, apa susah nya. Memang gadis ini munafik sekali, besok-besok kalau dia bilang cinta takkan ku terima," desis Jungkook kesal
Perjalanan di tempuh pesawat ✈ hampir sekian 1 jam 50 menit.
Denpasar, Bali.
Yuna kelelahan hingga ia tidak bisa lagibberjalan sampai ke terminal bandara, Jungkook memaksa gadis itu untuk terus melangkah karena mobil jemputan menunggu di blok G parkiran.
Yuna sudah mengatakan apa yang ia rasakan, Jungkook berbaik hati mau menggendong Yuna agar mereka sampai bersama-sama di sana.
Yuna menolak keras, ia tidak ingin di manfaatkan ketika ia tidak berdaya.
Sangat terpaksa Yuna menyiksa dirinya untuk keselamatan yang lebih aman, melangkahkan kedua kaki berjalan ke tempat tujuan.
__ADS_1
30 menit perjalanan naik mobil, menuju hotel dekat pantai sanur.
Ketika sedang memesan hotel di tpat resepsionis, Yuna mendapati keanehan.
Hanya tersisa satu kamar untuk di tempati, nomor 097 lantai dua.
Yuna mengeluh pada penjaga resepsionis, mengapa tidak ada kamar kosong lagi.
Jungkook tersenyum penuh kemenangan, uang yang ia keluarkan tidak sia-sia membayar kebohongan untuk melancarkan rencananya.
Gadis itu jalan menuju pintu lift, di ikuti Jungkook dengan jalan yang santai tanpa beban.
Setibanya di kamar 097, Yuna menggeleng heran. Kenapa ia harus sekamar dengan pria yang tidak bisa di percaya, tentang rasa tanggungjawab nya.
Apalagi hanya satu ranjang yang tersisa, Yuna kebingungan menjaga jarak dengan CEO nya.
"Hotel mewah begini, masih saja melakukan kecurangan. Pasti anda bukan yang menyogok mereka, agar kita tinggal satu kamar." jari telunjuk Yuna langsung mengarah tepat di atas hidung Jungkook
"Terima takdir saja, lagipula tidak ada ruginya tidur seranjang dengan ku." Jungkook menurunkan jari telunjuk Yuna, menatap suka gadis di depannya
"Kalau terjadi apa-apa pada saya, saya tidak segan membunuh bapak malam ini." Yuna menginjak sepatu CEO nya, sembari berjalan ke samping ranjang
Saking kerasnya injakan gadis itu, Jungkook hampir berteriak. Tetapi demi menjaga sikap angkuhnya, hal itu ia tahan dengan menutup mulutnya.
Malam hari tiba, Yuna di ajak keluar oleh Jungkook yang ingin mengikuti acara api unggun di luar hotel.
Yuna menolak dengan alasan ia sangat lelah dan ingin tidur lebih cepat.
Jungkook dengan akal cerdiknya, naik ke atas kasur dan menindih tubuh Yuna.
Membuat gadis itu melek di takuti rasa cemas, Jungkook malah tersenyum dan mengatakan ancaman.
"Kalau benar kamu ini ngantuk, aku temani kamu di sini. Bercinta sangat menyenangkan, daripada melihat api menyala yang menghangatkan." Jungkook memiringkan wajahnya hendak mencium Yuna, walau niatnya hanya pura-pura
Langsung saja Yuna menjatuhkan tubuh Jungkook ke samping dengan susah payah, tenaganya hampir tidak seimbang melawan pria brengsek yang selalu memaksakan kehendaknya.
Yuna segera menurunkan kedua kakinya menginjak lantai, berjalan tergesa-gesa keluar dari kamar.
"Jangan terburu-buru, kau lupa membawa pasangan mu." Jungkook tanpa perasaan bersalah, berjalan mengikuti langkah Yuna yang kabur darinya
......................................
Ombak yang bergelombang dengan tenang, hamparan pasir putih meluaskan daratan.
Jungkook baru tiba di samping nya, membawa 2 jagung bakar yang baru saja selesai matang.
"Makanlah!" Jungkook mengulurkan tangannya, yang memegang jagung bakar ke depan mata Yuna
Yuna menoleh ke samping memeriksa wajah seorang pria yang menyebalkan malam istirahat nya.
"Saya tidak menerima bekas kasihan anda pak, kenapa anda selalu baik pada saya?" Yuna mengambil jagung bakar yang di berikan Jungkook padanya
"Apa salah seorang CEO memperhatikan karyawannya, lagian anda tidak punya pacar. Peraturan kantor melarang karyawannya pacaran, apalagi sesama pekerja di kantor saya," jawab tegas Jungkook
"Baguslah kalau begitu pak, anda memerintahkan hal baik pada karyawan anda untuk fokus pada pekerjaan daripada hal pribadi. Jadi, mohon jangan bedakan saya dengan yang lain. Karena atasan dan bawahan ada batasan." Yuna fokus memakan jagung bakar dengan lahap nya, ia tidak peduli pada sekeliling orang yang sesekali melirik nya dan bergunjing mengatakan aneh
Jungkook memperhatikan Yuna dengan sangat teliti sembari tersenyum senang, tanpa ia duga teman lamanya datang menghampiri menyapa mereka berdua.
Sehingga Jungkook dan Yuna mendidik wajahnya ke atas secara bersamaan.
"Apa kabar?"
Sontak saja Jungkook langsung berdiri, lelaki itu memeluk temannya dengan akrab.
"Kapan kau pulang?" Jungkook menepuk-nepuk pundak temannya
"Sebulan yang lalu, di sini aku sedang liburan kook," jawab teman Jungkook
Jungkook melepaskan pelukannya, ia memandangi wajah sahabatnya dan memuji ketampanan yang semakin bertambah menawan.
"Gila!! kau semakin tampan saja," kata Jungkook, memberi sedikit rasa bahagia nya
"Thanks. Dia siapa? Pacar mu!" tebak teman Jungkook matanya melirik Yuna, yang sedang mengunyah jagung
"Bukan, dia karyawan pribadiku," jawab Jungkook
"Ohh... benarkah?" tanya teman nya lagi tidak percaya begitu saja pada ucapan Jungkook
Yuna membuang jagung di tangannya, berdiri dengan cepat dan langsung menjawab pertanyaan pria di depannya.
"Iya, memang benar. Saya hanya karyawan pribadi yang tersiksa, bersenang-senang lah dengan pria kurang ajar seperti dia, agar dia tidak menganggu waktu tidur ku." Yuna membalikkan badan, berjalan cepat meninggalkan tempat api unggun
__ADS_1
"Kook, kenapa wanita itu marah sekali?" tanya temannya sembari merangkul pundak Jungkook
"Dia marah karena tidak diakui kekasih olehku," jawab Jungkook senang sekali melihat Yuna marah
"Ohh iya Woo, mana cewek cantik mu?" tanya Jungkook menginjak temannya untuk duduk di atas pasir bersama nya
"Ada di kamar, dia kelelahan setelah berapa jam kita berkelahi," jawab Eunwoo
"jika ada wanita seksi yang menarik, beritahu aku," ujar Jungkook
"Bukannya barusan wanita itu, pemuas nafsu mu?" Eunwoo bingung dengan permintaan temannya
"Bukan, dia wanita keras kepala. Aku tidak suka bermain dengan gadis yang tidak bersedia, mengikuti kemauan ku. Seakan aku memaksanya, itu tidak menyenangkan," sahut Jungkook menjelaskan apa yang selama ini ia amati
"Dari sekian ribuan gadis yang menunggu mu untuk bercumbu, kenapa hanya gadis itu saja yang tidak mau berhubungan dengan mu. Kau itu kenapa, lemah begini. Tidak seperti biasanya ketika kau sangat liar, aku rasa kau bukan Jungkook yang aku kenal,"
"Hubungan intim itu harus dilakukan suka sama suka, ataupun sama-sama menginginkan barulah tercipta kenikmatan yang memuaskan. Aku tengah mengatur rencana jebakan untuknya, agar dia berpikir kalau aku mampu mendapatkan tubuhnya," ungkap Jungkook dengan rencana liciknya
"Jebakan yang kau siapkan di sini?" Eunwoo sangat penasaran terhadap rencana temannya, sehebat apapun Jungkook dia dia tahu sisi lemah temannya ketika gadis itu menangis dia akan kalah
"Entahlah, tidak ada niat melakukan itu di sini." Jungkook meminum sebotol alkohol yang ia genggam sejak tadi
"Aku harap rencanamu tidak gagal." Eunwoo bersulang untuk rencana Temannya agar sukses terlaksana
.................. /////////////////
Setibanya di kamar hotel, Jungkook melihat ke atas ranjang.
tubuh Yuna terbungkus selimut, bagaikan dadar gulung yang rapi.
Jungkook mendengus kesal, kenapa liburan bersama seorang gadis membuatnya patah semangat menjalani masa tenang.
Bukannya kegairahan yang membangkitkan energi tubuhnya, melainkan kesepian tanpa penghibur dalam dirinya.
"Yuna bangunlah!" teriak Jungkook berjalan menuju tempat tidur
Yuna nyenyak tidurnya, gadis masih tetap pada posisinya.
Jungkook menarik selimut yang mengulang tubuh gadis itu, tak ia duga gadis itu menggigil kedinginan.
"Dingin," lirih Yuna tangannya meraba-raba area tempat tidur, dengan matanya yang masih tertutup
Jungkook melepas sandal juga topi di atas kepalanya dan naik ke atas ranjang, ia berbaring lalu menarik tubuh Yuna untuk berada di dekatnya.
Yuna berada dalam dekapan nya, lantas tak ragu lagi Jungkook memeluk tubuh gadis itu untuk memberikan kehangatan.
Selimut ia tendang jatuh ke bawah, ia tidak memerlukan kain tebal tersebut cukup tubuh Yuna menjadi penghangat tubuhnya juga.
Jungkook memperhatikan bentuk wajah Yuna, ia merasa sangat bahagia bisa memandangi wajah gadis yang selama ini ia ingin miliki.
Elusan jari tangan kanannya menelusuri pelipis wajah Yuna hingga turun ke bawah lehernya, ketika berada di atas dada gadis itu Jungkook tertegun berat.
Hasrat menyelimuti pikiran jahatnya, tanpa sadar Jungkook membuka beberapa kancing piyama yang di kenakan Yuna.
"Tunggu," ucap Yuna ngelindur
Jungkook tersenyum, ia membatalkan niat tidak baik nya pada Yuna. Menundanya untuk beberapa waktu lagi, karena ia tidak ingin menyentuh tanpa persetujuan.
"Yuna... cepatlah sadar, bahwa aku menginginkan mu." Jungkook hanya memberikan kecupan lembut di atas bibir Yuna, setelah itu ia menutup mata dengan damai menjemput alam tidur
Pagi hari telah menyapa hari pertama liburan mereka di bali, riuhnya suara ombak dan angin menghembus masuk ke dalam jendela melaui celah-celah kecil.
Sedikit mengembangkan gorden kamar seakan hidup, lalu mengempis ketika tidak ada angin yang mengisinya.
Yuna terbangun dari tidurnya, membuka mata menghilangkan rasa kantuk nya.
Sorot matanya di buat terkejut dengan apa yang ia lihat di depannya, seorang lelaki yang tengah tenang menghirup udara sambil menutup matanya.
"Aaaa!!!" Yuna berteriak histeris
Teriakan Yuna membangunkan Jungkook dari tidurnya, dia setengah sadar karena rasa ngatuk masih mempengaruhi pikirannya.
"Apa yang kau lakukan?" Yuna langsung bangun, menyilangkan tangannya di atas dadanya
Jungkook mengucek kedua matanya, agar ia bisa melihat dengan jelas.
"Teriakan mu alarm pagi untukku." senyum di wajah Jungkook menimbulkan kecurigaan pada Yuna, sehingga gadis itu segera memeriksa keadaan tubuhnya
"Tidak!!!" Yuna berteriak kencang
__ADS_1
To be continue.....................