
© naughty perfect men ©
**attention !!!!
-berikan komentar baik terhadap cerita ini
-konten dewasa
-di butuhkan kerja sama antara pembaca untuk membangun suasana yang harmoni
-semoga suka
-typo**
Author pov
Yuna mencoba membuat senyuman manis di wajahnya, lalu berkata.
"Ada acara reuni di kampus, aku harus pergi. Kakak kelas mengundang ku untuk hadir, padahal aku jarang kuliah," jawab Yuna lancar mengatakan
"Nggak malu kamu pergi ke sana, udah hampir 4 bulan kamu nggak kuliah Na." Chaeyeon merenggangkan kedua lengannya melepaskan rasa pegal yang terasa menyiksa
"Malu sih, tapi udah terlanjur nerima dan nyanggupi untuk hadir. Hm... Udah ya, nanti pulang baru tanya-tanya lagi." Yuna langsung menutup pintu setelah tubuhnya berhasil keluar dari kamar
"Fuhh...." Yuna mengeluarkan napas lega
"Chaeyeon, tidak boleh tahu apa yang aku lakukan. Pasti dia sangat kecewa padaku, apalagi sampai Ibu tahu." Yuna memantapkan langkah berjalan ke luar dari rumah
Ia pergi menuju sebuah hotel yang berada di sekitar daerah jakarta utara, hotel yang sangat megah dan elegan.
Yuna memasuki lorong menuju tempat resepsionis, ada seorang penjaga laki-laki di sana.
Ketika sampai di tempat tujuan, ia bertanya mengenai dimana kamar Jungkook berada, seorang pelayan sengaja di panggil untuk mengantarkan Yuna ke tempat pemilik hotel.
Yuna sedikit kebingungan memahami situasi yang belum bisa ia mengerti, namun langkah kaki terus menyeimbangi seorang pelayan yang tengah menuntunnya.
Tepat di lantai tiga depan kamar nomor 104, Yuna di perintahkan masuk ke dalam.
Gadis itu mengucapkan rasa terimakasih nya dengan sopan, pelayan itu hanya tersenyum tak membalas kata kemudian pergi.
Yuna membuka pintu dengan jantung nya yang tiba-tiba saja berdegup kencang, takut ada sesuatu hal yang mengejutkan.
Ketika pintu ia tutup dan memandang ke sekitar kamar, ia tidak melihat sosok Jungkook di sana tempat tidur terlihat kosong dan rapi.
"Besar sekali kamarnya." Yuna melangkah maju mendekati sofa, berniat duduk di sana
"Lepaskan jaket yang menutupi tubuh indah mu, Yuna!" ucap seorang pria yang baru saja memunculkan dirinya, dari balik lemari
Yuna langsung menoleh ke sumber suara, matanya terbelalak kaget menatap seorang Jungkook yang hanya mengunakan handuk kimono sebatas lutut nya.
"Ada apa? Kau tak dengar apa yang aku katakan tadi." Jungkook berjalan menghampiri Yuna
Yuna melepaskan jaket yang membalut hangat tubuhnya, dengan perasaan malu ia tidak berani menatap Jungkook yang baru saja duduk di sampingnya.
"Ahhh... Kamu terlihat sangat cantik malam ini Yuna." Jungkook menarik dagu Yuna untuk bertatapan mata dengannya
"Pak...." perkataan Yuna langsung terhenti ketika jari telunjuk tangan Jungkook menempel di bibirnya
"Aku merasa tua di panggil seperti itu, sebut aku dengan nama saja Yuna." Jungkook menarik jari telunjuk tangannya, jari jemari yang nakal itu berpindah menyusup masuk ke dalam juntaian rambut Yuna
"Tetapi kurang sopan memanggil anda dengan sebutan nama asli anda pak," ucap Yuna merasa tertekan
"Kita seumuran Yuna, aku melihat identitas mu yang sama tahun lahirnya dengan ku." kedua mata Jungkook terus memperhatikan bibir Yuna, ia sangat pandai menguasai tekanan batin gadis itu agar terdesak dan merasakan gerogi yang luar biasa
Tubuh Yuna bergetar napasnya tersenggal karena jarak pandang yang sangat pendek antara dirinya dengan atasannya.
"Aku jatuh cinta padamu," ucap Jungkook dengan percaya diri
Sontak saja pernyataan itu membuat Yuna hampir terkena serangan jantung, walau ia sering mendengar pria mengatakan cinta padanya.
Tetapi sangat berbeda tanggapan pada CEO tampan di depannya, begitu membuat nya berdebar-debar.
Matanya tak berani berkedip untuk kehilangan tatapan menusuk Jungkook, Yuna berani menjawab perkataan atasannya.
"Maaf Pak! cinta bagi saya belum terpikirkan, saya juga punya seseorang yang saya sukai tetapi orang nya bukan anda," jawab Yuna mengenyahkan perasaannya gerogi itu untuk mengatakan yang sebenarnya
"Maaf saja yang pantas kau katakan, kata maaf itu bukan untuk perkataan kau telah menyukai pria lain tetapi aku anggap maaf untuk kesalahanmu memanggil namaku." Jungkook tersenyum sinis
Ia menarik kepala Yuna dan langsung mencium bibirnya, ciuman Jungkook semakin brutal hingga gadis itu merasakan sesak di dadanya.
Yuna berusaha memberontak dan memberikan perlawanan, tetapi tenaga Jungkook yang mencekal pergerakan tubuhnya sangat kuat ia pun menjadi lemas.
Tok... Tok... Tok....
Terdengar suara pintu yang memecahkan keheningan, Jungkook terpaksa melepaskan tautan bibirnya.
"Argghhh!!! sial siapa yang berani menganggu kesenangan ku." Jungkook menoleh ke arah pintu sembari beteriak
"Ada apa!!!"
"Maaf Tuan, ada tamu yang memaksa ingin menemui anda. Dia membuat keributan di lobi, mohon anda keluar sebentar untuk merelai," jawab pelayan itu terdengar gugup
"Baiklah, aku akan ke sana." Jungkook langsung berdiri, langkah kakinya cepat pergi menuju tempat lemari
__ADS_1
Yuna bergegas mengatur napasnya, menghilangkan rasa sesak di dalam dadanya.
"Aku segera kembali Yuna, minumlah jika kau haus." dalam sekejap Jungkook sudah berpakaian rapi, ia pergi dengan terburu-buru keluar dari kamar
Yuna beranjak dari sofa berjalan mengelilingi sekitar kamar, ia memperhatikan deretan bingkai poto yang terpanjang di atas laci.
Jungkook tengah bersama kedua temannya, Yuna pun tidak mengenal salah satu dari keduanya.
Beralih ke sebelahnya lagi, kedua temannya masih tetap muncul dan sama.
Ketika ia melirik ke sebuah pajangan bingkai besar, terdapat poto dirinya di samping lemari.
"Kenapa poto itu ia panjang, bagaimana bisa ia mendapatkannya." Yuna menutup matanya, tak sanggup melihat gambar dirinya
"Selera nya sungguh buruk, bahkan ia tidak bisa memilih poto yang bagus untuk di pajang," desis Yuna kesal
Setelah beberapa menit Jungkook baru saja menginjak lantai tiga, perselisihan dengan wanita yang mengaku hamil karena ulahnya membuang banyak waktu berharga nya dengan Yuna.
"Gara-gara wanita sinting itu, kesenangan ku hanya tinggal beberapa jam saja." Jungkook menyetuh bibirnya, ada kekuatan magic yang masih menempel mengaibkan dirinya
Jungkook membuka pintu dan langsung menuju tempat Yuna berada gadis itu tengah minum, karena kedatangan Jungkook yang tiba-tiba membuat Yuna menjatuhkan gelas di tangannya.
Yuna melirik kebelakang dengan tatapan kesal, Jungkook menghentikan langkah kakinya.
Ia menatap Yuna dengan takjub nya, tetapi ia bisa merasakan kebencian di mata gadis itu.
"Aku tidak tahu kamu lebih menarik perhatian ku sebesar ini Yuna." Jungkook sudah merasa tidak sanggup lagi menahan hasratnya
Yuna membalikkan tubuhnya menghadap Jungkook,
pria itu tak sanggup lagi memandang hingga sengaja menatap langit kamarnya.
"Kenapa aku jadi tidak sanggup melakukan itu," Jungkook terdesak di antara keinginan dan penolakan agar bertahan
"Anda munafik sekali pak, sudah anda dapatkan keinginan anda. Tapi anda malah acuh, anda sengaja bukan mempermainkan saya. Atau kita akhiri saja tanpa ada yang terluka, biarlah janji yang saya katakan jadi dusta." Yuna menghentikan langkahnya sesaat sampai di hadapan Jungkook lalu memalingkan wajahnya
"Sekali lagi aku dengar panggilan kantor itu untukku darimu, aku tidak segan lagi Yuna." tangan Jungkook perlahan membuka kancing kemejanya
"Anda pikir bisa mendapatkan perhatian saya, itu tidak mungkin." kebencian Yuna semakin menjadi-jadi, ia menatap angkuh Jungkook yang sudah setengah telanjang
"Diamlah Yuna, kebencian mu akan menjadi cinta pada waktunya." Jungkook mendorong kasar tubuh Yuna ke atas kasur
Langsung saja Jungkook dengan bringas melucuti pakaian yang di kenakan di tubuh Yuna.
Terbawa emosi suasana kemarahannya, Jungkook memberikan ciuman kasar penuh nafsu terhadap Yuna.
Gadis itu menangis menahan rasa sakit, di tindih tubuh Jungkook yang bertumpuk di atas tubuhnya.
Jungkook melihat aliran deras air mata Yuna, ciumannya sengaja dirubah menjadi kelembutan.
Jungkook mengigit bibir bawah Yuna, lalu lidahnya menerobos masuk menjelajahi rongga mulut gadis itu.
Tangan Jungkook yang terdiam kini beraksi meraba payudara Yuna juga memberikan remasan yang lembut.
Mulutnya juga tidak berhenti melakukan ciuman, kini bibir Jungkook pergi menjelajahi tubuh Yuna.
Desahan-desahan yang membuat Jungkook semakin girang dan tergila-gila pada Yuna.
"A...." Yuna mencoba menahan rasa geli yang menggelitik tubuhnya
Kecupan-kecupan itu terus berlanjut, Jungkook banyak sekali meninggalkan jejak basah di tubuh Yuna.
"Ahh!!!" Desah Yuna yang tak tahan
Jungkook sedikit membangunkan tubuhnya, ia melepas celana panjang hitam dan melemparkan nya ke bawah ranjang.
"Aku tidak akan membuatmu merasakan sakit, bagi seorang wanita yang masih perawan mungkin akan menyakitkan. Tetapi, kau akan merasakan kenikmatan yang menghapus rasa penasaran mu." senyum picik Jungkook terlihat sangat menyeramkan, Yuna hanya bisa menutup matanya
__ADS_1
Perlahan namun pasti, Yuna merasakan benda keras milik Jungkook menerobos masuk ke dalam miliknya merobek kasar bagian bawahnya.
Kembali lagi air mata Yuna menguras tenaga nya, karena rasa sakit yang ia alami sangat nyeri dan terasa perih.
"Arghh...." Yuna mengerang sangat kencang, jari jemari tangannya mencakar punggung Jungkook
Milik Jungkook terus mencoba masuk lebih dalam lagi, ruang milik Yuna masih terasa sempit dan belum terasa nyaman bagi mr.p pria itu.
"Yuna... Kau sungguh mempersulit ku, aku ingin segera menyatu dengan mu." Jungkook terus mendorong kuat miliknya agar berada tepat di tempat yang seharusnya, jeritan juga tangisan Yuna tak membuatnya tergugah untuk menghentikan aksinya
Ciuman bibir Jungkook membungkam jeritan Yuna, sentuhan lembut lidahnya mampu meluluhkan rasa sakit yang ia rasakan.
Tanpa sadar Yuna seakan berada di dunia lain saat Jungkook menggerakkan pinggulnya dan menabrakkan tubuhnya.
Jungkook sangat alih mempermainkan perasaan wanita agar ia mendapat suara desahan yang ia inginkan, sehingga ia menambah kecepatan alunan hentak kan nya membuat Yuna semakin mengejang tidak karuan.
"Ahh Jungkook!!! .... hentikan!" teriak Yuna sesaat terlepas dari ciuman bibir Jungkook
"Akhirnya... Ahhhh." Jungkook tersenyum penuh kegirangan
Jungkook haus akan sex tidak heran dia manahan gairah nya selama seminggu, dan membalaskan dendam yang ia pendam pada Yuna.
"Yuna...."
Jungkook mengurung tubuh Yuna dengan kedua tangannya yang kekar, bibirnya kembali melumat bibir lembab Yuna.
Jungkook terus menghujani Yuna dengan puncak *** berturut-turut, pria itu masih kuat dan gencar menggerakkan tubuhnya.
Jungkook menekan tubuhnya ketika ia sudah hampir mencapai puncaknya, menumpahkan cairan hangat ke dalam rahim gadis yang berada di bawahnya.
Tiba-tiba saja tangan Jungkook memeluk erat Yuna, tubuhnya lemas dan tertidur di atas tubuh Yuna.
Helaan napas lelah terdengar sangat nyaring di telinga Yuna, ngos-ngosan yang tiada hentinya.
"Hah... Hah... Hah...."
Jungkook memejamkan matanya, Yuna bisa melihat sisi lembut dari pria tampan yang sudah merenggut kesucian nya.
Wajah bringas yang ia lihat tadi begitu tenang di pandang, apalagi sangat dekat ia menatap.
Jungkook tertidur lelap di atas dadanya, Yuna merasakan hangat di bawah organ tubuhnya.
Entah mengapa tangan Yuna tergerak menghapus keringat pria itu yang berceceran di sekitar wajahnya.
"Ibu asuh, maafkan Yuna mu yang telah menyalahi kepercayaan dan cintamu. Aku telah masuk ke dalam kebodohan, aku tidak bisa berbuat baik selama hidup ini," gumam Yuna tangisan menyertai kesedihan yang ia rasakan
✧༺♥༻✧✧༺♥༻✧
♩✧♪●♩○♬☆♩✧♪●♩○♬☆♩✧♪●♩○♬☆
♥*♡∞:。.。 。.。:∞♡*♥
Pada saat fajar menyingsing, Yuna terbangun dari tidurnya.
Ia tidak mendapati Jungkook tertidur di atas tubuhnya lagi, matanya melirik ke samping melihat Jungkook yang sedang terbaring menghadap ke arahnya.
"Aku harus segera pergi." Yuna langsung menyibakkan selimut, ia berusaha mencari pakaian yang telah Jungkook tanggalkan dari tubuhnya
Beberapa menit kemudian, Yuna tidak bisa pergi tanpa memperhatikan CEO nya.
Jungkook belum terselimutkan dengan benar, hatinya tergerak untuk menolong.
Yuna menarik ujung selimut sampai ke atas leher Jungkook, sesudah itu tiba-tiba saja tanpa sengaja Yuna lagi-lagi menyentuh kepala pria itu dan mengelus nya.
"Jika anda mencintai saya, berusahalah memiliki perasaan suci ini dengan cara yang baik. Saya tidak menyukai kekerasan juga pemaksaan seperti ini pak, selamat tinggal." Yuna menarik tangannya, membangunkan dirinya dari atas ranjang
Langkah kakinya memutuskan untuk pergi dan meninggalkan kenangan kelam, terus berjalan tanpa menoleh lagi kebelakang.
Skip>>>>>>>>>>>*+:。.。 。.。:+*
Yuna sampai di tempat kos, ia langsung saja masuk ke dalam halaman perkarangan padahal dari tadi Jaehyun terus memanggil namanya.
Jaehyun buru-buru melewati Yuna dengan mengendarai sepeda motornya, lalu menyimpan roda dua nya di tempat parkiran.
Kemudian berlari mengejar Yuna, ia menarik tangan gadis itu sehingga berhadapan dengannya.
"Yuna, habis darimana?" tanya Jaehyun yang terlihat gusar
"Jahe, kamu yang darimana... Kenapa baru pulang sepagi ini." Yuna menatap Jaehyun sendu
"Aku habis pulang kerja dari klub, apa kamu lupa aku selalu pulang jam segini." Jaehyun memperhatikan wajah Yuna yang terlihat lesu
"Kamu terlihat lelah, sudah cepat masuk aku tidak akan ganggu kamu lagi." Jaehyun mengelus rambut Yuna lembut
"Iya, aku mau tidur sampai jumpa." Yuna melambaikan tangan sembari berjalan mundur
Tidak ada perbincangan panjang lebar seperti biasa mereka berkomunikasi, basa-basi dan candaan juga tidak di cantumkan untuk memeriahkan suasana keheningan.
Ketika Yuna membalikkan tubuhnya, Jaehyun masih tetap setia memperhatikan langkah gadis itu yang terlihat oleng.
"Yuna... Yuna, kamu ini walau sedang suram tetap saja manis." Jaehyun telah melihat Yuna masuk ke dalam rumah hingga ia bisa tenang berjalan pergi menuju tempat kos laki-laki
To be continue...............
__ADS_1