Naughty Perfect Men

Naughty Perfect Men
Salah Target Sasaran


__ADS_3

© naughty perfect men ©


**attention !!!!


-berikan komentar baik terhadap cerita ini


-konten dewasa


-di butuhkan kerja sama antara pembaca untuk membangun suasana yang harmoni


-semoga suka


-typo**


Author pov


Malam harinya seperti biasa Yuna menyetor kisah hari ini yang lagi-lagi bertemakan kepahitan bekerja disana.


Di saat Yuna mengatakan akan berhenti bekerja Chaeyoung melarangnya, dia memberi saran pada temannya untuk balas dendam.


"Yuna, kamu nggak terimakan di perlakukan begitu. Saatnya kamu balas dendam, bekerja kembali seperti biasa. Berbekal sebilah pisau untuk mengancam pria itu ketika dia berani mendekati mu," ujar Chaeyoung mengungkapkan ide yang tercetus di benaknya


"Nggak deh, aku udah males kerja sama dia." Yuna melepas jaketnya, membaringkan tubuh di atas kasur


Di saat Chaeyoung mengatakan ucapannya tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


"Siapa?" Yuna bangun dari tempat tidurnya


Chaeyoung hendak membukakan pintu Yuna melarangnya.


"Biar aku saja yang buka." Yuna beranjak dari tempat tidurnya, melangkah mendekati pintu dan menariknya


Pintu sudah terbuka sosok Ibu kos lah yang muncul di hadapan Yuna, lantas membuat Yuna khawatir.


"Ehh...ibu kenapa anda malam-malam datang ke sini," ucap basa-basi Yuna


"Masih berani bertanya, mana bayaran kos mu sudah 2 bulan nunggak. Tidakkah kau ini ingat, pada hutang mu." Ibu kos mendorong kan jarinya, ke atas kening Yuna


"Aduh... Aku lupa, sekarang mana ada uang untuk membayar," batin Yuna resah


"Besok ya Bu, aku belum menerima gaji," alibi Yuna getir


"Besok saja besok, itu yang terus kau dalihkan cepat bereskan barang mu, bayar kos selalu di tunda, rasakan dinginnya angin luar." Ibu kos langsung emosional tidak ada ampunan bagi Yuna


Chaeyoung mendengar percakapan teman baiknya, segera ia bertindak mengeluarkan uang simpanan nya.


"Ibu." Chaeyoung berlari ke depan pintu


"Ada apa, kau sudah bayar kos jadi tenang saja," Ibu kos memfokuskan matanya menatap Yuna tajam


"Uang kos Yuna yang tertinggal dua bulan." Chaeyoung menyerahkan uang tabungannya ke tangan Ibu kos


"Lain kali, kalau tidak mau di usir tepat waktu bayar nya." Ibu kos pun pergi dari depan kamar


Yuna segera menutup pintu dan menghampiri Chaeyoung yang sedang berjalan menuju tempat tidur.


"Chae!" panggil Yuna duduk di samping temannya


"Tidak apa-apa Yuna, aku malah kesepian kalau kamu tidak ada di sini," Chaeyoung menghilangkan kekhawatiran Yuna untuk membuat temannya tenang


"Bukannya itu uang yang kamu tabung untuk merayakan ulang tahun Mingyu, bagaimana bisa kamu keluarkan sembarangan hanya untukku," Yuna merasa bersalah, dan patah semangat ia sudah membebani sahabat nya


"Masih dua minggu lagi Na, aku sempat ko ngumpulin uang." Chaeyoung tersenyum, ia tidak ingin menambah beban Yuna yang tengah gelisah


"Sudah." Chaeyoung mengelus lembut punggung Yuna


"Kamu istirahat sana, aku juga mau bangun pagi-pagi." Chaeyoung menaikan kedua kakinya ke atas tempat tidur, mulai berbaring membelakangi Yuna


"Chaeyoung maafkan aku!!"


"Iya, Yuna. udah jangan di bahas dan dipikirkan, tidurlah," Kata Chaeyoung penutup pembicaraan terakhir di malam ini


Yuna bergegas ke tempat tidurnya, ia berbaring mencoba berusaha untuk tidur.


Namun, pikirannya kacau memikirkan cara mengembalikan uang Chaeyoung walau temannya tak meminta untuk di kembalikan.


"Apa aku kerja saja besok, tidak ada cara lain lagi," pikir Yuna mendapat jalan yang sulit


..............................

__ADS_1


..............................


Pagi harinya Yuna terbangun, ia langsung ke kamar mandi.


Chaeyoung masih tertidur, saat dia selesai mandi.


Chaeyoung baru terbangun masih di selimuti rasa ngatuk, ia pun langsung bertanya pada sahabatnya.


"Mau kemana Yuna?" Chaeyoung menjatuhkan kedua kakinya menyentuh lantai


"Aku mau kerja Chae, CEO ku memintaku datang," ucap Yuna dengan kebohongan


"Kamu jangan mau di rayu oleh nya lagi, aku takut dia menjebak mu?" Chaeyoung mengkhawatirkan keselamatan Yuna


"Tidak Chaeyoung, kalau dia membahayakan nyawaku. Aku pasti membalas perbuatan jahatnya, aku juga bisa menjaga diri," balas Yuna mematahkan kekhawatiran sahabatnya


"kalau begitu hati-hati Yuna, aku takut dia melecehkan mu lagi," ungkap kekhawatiran Chaeyoung


"Iya." Yuna selesai menyisir rambut, mengikat rambutnya dengan sederhana dan mulai memasangkan anting-anting di kedua telinganya


"Cepat mandi, kalau nggak mau terlambat." Yuna telah selesai dengan setelan pakaian nya, ia tersenyum pada Chaeyoung yang hendak menuju kamar mandi


"Aku pergi dulu." Yuna menaikan tali tas ke atas bahu, melangkah pergi tanpa menoleh lagi kebelakang


"Iya." Chaeyoung membuka pintu masuk ke dalam dan menutup kembali pintu dengan rapat


Di dalam bus, Yuna sempat merenungkan keadaannya.


Ia merasa takut kembali bekerja, tapi tidak ada lagi tempat pencarian yang menerima ia selain di sana.


Walau tingkat pekerjaan yang sulit di laksanakan, tetapi demi membayarkan hutangnya.


Yuna harus tegar menghadapi situasi buruk ke depannya.


Sesampainya Yuna di halaman kantor ia berjalan menuju gedung, tak di sangka ia melihat sosok pria kurang ajar tersebut.


Kekhawatiran Yuna semakin terlihat jelas di wajahnya, apalagi Jungkook sempat menatapnya.



Ia memperlambat kedua kakinya dalam melakukan perjalanan, membiarkan Jungkook terlebih dahulu memasuki kantor.


Ting... kedua pintu lift terbuka lebar Yuna segera berjalan menelusuri lorong ruangan menuju ruangan CEO.


"Yuna!" panggil Sana hangat


"Mbak Sana." Yuna tersenyum sebentar sebelum ia berbalik dan berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya


Berada di dalam ruangan terasa menakutkan, seakan dia mengunjungi pemakaman umum.


Aura horor begitu menyengat perasaan Yuna, apalagi ia melihat Jungkook sedang duduk di atas meja kerjanya.



Tatapan CEO nya begitu menelisir, Yuna menjadi santapan empuknya di pagi hari yang mengenyangkan.


"Apa yang membuatmu berubah pikiran?" pertanyaan Jungkook memberhentikan langkah kaki Yuna


"Saya membutuhkan uang, terpaksa saya kembali." Yuna melanjutkan perjalanan menuju tempat duduknya


Jungkook turun dari atas meja berbalik kebelakang, menatap Yuna yang baru saja duduk di kursi.


"Kau tidak akan mengancam bunuh diri lagi, bukan?"


"Jika anda berani menyentuh saya, saya akan melakukan itu." Yuna menatap Jungkook, senyum kecil timbul di wajahnya


Tiba-tiba Jungkook mengingat sesuatu yang muncul secara mendadak di benaknya.


"Kebetulan kau datang hari ini," ujar Jungkook ia merasakan lega dalam hatinya


"Memangnya kenapa?"


"Kau akan tahu sebentar lagi." Jungkook tidak memberi detail masalahnya pada Yuna, ia buru-buru pergi menuju tempat duduknya


"Dasar aneh, apapun yang ia katakan tidak pernah jelas asal-usulnya." Yuna membuka lembaran map yang menumpuk di bawah mejanya, pekerjaan kemarin yang ia tinggalkan menyisakan penderitaan baru


1 jam berlalu Yuna baru menyelesaikan seperempat kumpulan berkas, tiba-tiba bel berbunyi.


Jungkook memerintahkan nya untuk membuka pintu, Yuna segera pergi dari atas kursinya.

__ADS_1


Yuna membuka password di sebelah dinding yang mengunci pintu, kemudian terbukalah celah besar yang memperlihatkan sosok gadis cantik di depannya.


"Hallo kakak cantik." Gadis itu menyapa Yuna, semabri melangkah kaki masuk ke dalam di ikuti oleh gadis lain di belakang tubuhnya yang muncul tiba-tiba


Pintu tertutup kembali, Yuna menggeleng heran kenapa CEO nya membawa dua gadis sekaligus.


Ia tak menyangka Jungkook sangat kuat bisa menghadapi dua wanita sekaligus sekali main.


Ketika Yuna menjauhi kedua gadis itu, ia malah di tarik oleh salah seorang gadis yang di kuncir rambut nya sebagian. Yuna di paksa duduk di kursi tamu, mereka berkumpul di kursi yang sama.


"Hari ini adalah jadwal pengawasan Kim Yewon, apa kakak tengah mengalami rasa sakit beberapa hari ini?" gadis itu memeriksa denyut nadi tangan kari Yuna, ia begitu serius mendiagnosis dengan benar keadaan Yuna


"Tidak," jawab Yuna


Gadis satunya lagi mengeluarkan obat-obatan dari dalam tas dan menyimpan obat tersebut di atas meja.


"Bagaimana apa dia tengah hamil?" tanya salah satu gadis yang berada di sebelah kanan Yuna


"Hamil!! Aku belum pernah menikah mana mungkin bisa hamil," Yuna berontak tangannya segera ia tarik, berniat untuk menjauhi kedua gadis aneh akan tetapi ia malah di tarik kembali


"Kami mengerti, keresahan mu. Jungkook itu tidak bisa diam, dia selalu berulah. Aku harus mengecek ke sini, agar tidak ada gadis yang sedang mengandung anaknya," ucapan sembarangan gadis di sebelah kiri Yuna, membuat dia resah


"Bagaimana kalau kasih suntikan saja, sebagai pencegahan dini ke depannya kita akan aman, untuk beberapa bulan," usul gadis di sebelah kanan Yuna sembari mengeluarkan obat-obatan dari dalam tas


"Benar juga, persiapan yang matang," gadis sebelah kiri Yuna mengangguk setuju


"Siapa yang di suntik, apakah aku?" Yuna gelisah, keringat mengucur di area wajahnya



"Iya, suntikan tidak menyakitkan kak." Gadis di sebelah kiri Yuna tersenyum dan yang satunya lagi sibuk mempersiapkan


"Apa aku jadi seorang Ayah?" Jungkook ikut duduk di antara mereka bertiga


"Diam!! Kau ini, mana mungkin aku membiarkan wanita lain mengandung. Kau ingin aku mati," cerca gadis di sebelah kiri Yuna


"Umji ataupun Yerin, tidak masalah selama bukan aku," ucap enteng Jungkook


"Jahat banget sama sepupu sendiri padahal udah di bantuin juga." Yerin bersiap menyuntikkan cairan ke dalam tubuh Yuna


"Tunggu!!" Yuna berontak, ia menarik tangannya dari genggaman Umji


"Aku masih perawan, pak CEO belum pernah menyentuh kesucian ku," Kejujuran Yuna membuat gelak tawa meledak dari kedua gadis itu


Yuna langsung terdiam dan merasa bersalah berpikir apa yang ia katakan, apa sangat polos.


"Pak CEO," ujar Umji ia dan Yerin pun tertawa terbahak-bahak


"Dia udah kelihatan bapak-bapak nya sih," ledek Yerin di sela tawa yang mengarungi suasana hatinya


Jungkook menggeser kan tubuhnya menjauhi kedekatan jarak antara dirinya, dan ketiga gadis yang membuatnya di permalukan.


Umji menghentikan tawanya karena merasakan sakit perut, ia batuk-batuk tidak jelas.


Yerin merapikan kembali obat-obatan masuk ke dalam tas.


"Kakak keluguan mu, menjelaskan perkataan mu itu benar. Jadi, kakak cantik. Kamu harus hati-hati, sama dia." Umji menunjuk ke arah Jungkook


Yuna menoleh ke samping sesuai tunjukan jari telunjuk Umji.


"Jangan sampai kakak di setubuhi oleh pria brengsek seperti dia, aku takut hasil akhirnya tidak baik untuk kakak," nasihat Umji juga pesan yang harus ia sampaikan


Yerin menyetuhkan telapak tangannya di bawah dagu Yuna.


"Kakak itu cantik dan menarik," puji Yerin melihat senyum merekah Yuna



Mendengar perkataan Yerin barusan, menusuk telinga Jungkook yang pendengaran nya cukup tajam.


Jungkook penasaran dengan apa yang di katakan Yerin, apa benar Yuna adalah gadis cantik dan menarik menurut pendapat sepupunya itu.


Saat Jungkook berbalik ke samping, ia tidak bisa berkutik. Memang benar, pandangan matanya tak dapat di alihkan ke tempat lain.



Ia hanya memandangi wajah Yuna, mencoba mendalami tatapan matanya.


"Tak di sangka, gadis itu membuatku lupa segalanya," gumam Jungkook

__ADS_1


To be continued........


__ADS_2