
© Naughty perfect Men ©
**attention !!!!
-like sebelum baca tanda pengenalan yang baik
-berikan komentar baik terhadap cerita ini
-konten dewasa
-di butuhkan kerja sama antara pembaca untuk membangun suasana yang harmoni
-semoga suka
-typo**
_______
______________
______
( Author Pov)
Jakarta
Yuna bersama dengan Jungkook yang sedang tertidur di bahunya, mereka dalam perjalanan menuju kantor.
Duduk berdua di belakang jok mobil yang tengah melaju sedang, membuat gadis itu merasa tidak nyaman karena posisi pak CEO yang kurang mengenakan bersama dengannya.
"Ponsel sudah ku genggam, pakaian tidak ada yang tertinggal. Aku tidak membawa apa-apa pergi ke lombok, jadi apa yang harus aku risaukan sekarang. Sudah waktunya, aku berpisah dengan pria ini." perlahan tangan kanan Yuna mulai bergerak memindahkan kepala CEO nya ke atas jok mobil untuk berpindah alas tidur
Tetapi usaha yang dia kerjakan, tidak menghasilkan keinginan yang sesuai Jungkook kembali lagi bersandar di bahunya sebagai alas tidurnya.
"Apa dia pura-pura tidur." Yuna memperhatikan setiap lekukan wajah Jungkook ada ketertarikan aneh yang di rasakan oleh dirinya, berdebar jantung yang tadinya tenang berdetak
"Apaan sih Yuna, dia itu CEO terburuk sepanjang masa." Yuna dengan kasar mendorong tubuh Jungkook, kepala pria itu terbentur pintu mobil
Kepanikan terjadi, takut Jungkook bangun dan memarahinya atau meminta yang tidak-tidak darinya.
Tetapi saat Yuju membaringkan dengan benar kepala Jungkook, pria itu belum terbangun dari tidur lelapnya.
Lega rasanya, situasi masih menguntungkan Yuna. "Pak, tolong berhenti di depan, saya turun saja di depan sana!" pinta Yuna pada si supir.
"Baik!" perintah dari Yuna di turuti supir tersebut, gadis itu bergegas keluar dari mobil meloloskan diri dari bahaya
"Fiuhhh!" Yuna mengerucutkan bibirnya, kemudian melangkahkan kaki berjalan menyusuri jalan menuju tempat kontrakan jaraknya yang masih jauh untuk di tempuh
Walau menyesal keluar dari mobil, tapi ia tegaskan dalam tekadnya kalau keputusannya tidaklah salah langkah.
Yuna masuk ke dalam gerbang rumah kos, keadaan di sekitar halaman begitu sepi tidak ada aktivitas yang terlihat di area teras di kos putri ataupun putra.
Yuna melangkah santai menuju kosan putri, Jaehyun baru saja membuka pintu keluar dari kosan putra.
"Yuna!" panggil Jaehyun yang kaget melihat sosok wanita berambut panjang berjalan di depannya
Yuna langsung menoleh ke sumber suara, tatapan melongo melihat penampilan Jaehyun yang terlihat sangat keren.
"Jahe, apa kau benar\-benar Jaehyun?" Yuna lari tergesa\-gesa menghampiri tempat berdirinya Jaehyun
"Ahh Yuna!! Kau kemana saja, Chaeyeon dan aku terus mencari mu selama beberapa minggu ini. Apa kau baik\-baik saja?" Kedua tangan Jaehyun menepuk bahu Yuna
"Kamu terlihat sangat tampan, Jaehyun?" Yuna masih terkesima dengan pemandangan langka di depan matanya yang sesekali mendapat kesempatan seperti ini

"Ponselmu aktif tapi tidak menjawab panggilan dari kami, aku harap kamu baik\-baik saja sekarang," Jaehyun merasa ada yang aneh dari cara Yuna menatap dirinya ia pun mengeluarkan pertanyaan

"Yuna, apa kau tidak mendegar perkataan ku tadi?"
"Sorry, aku kehilangan fokus karena kamu." Yuna menundukan kepala menyembunyikan wajah yang sedang merasakan malu
"Apa yang salah denganku?" Jaehyun memeriksa keadaan dirinya, mengingat apa yang berbeda darinya
"Rambutmu yang berterbangan itu, juga style pakaian yang kau kenakan membuatku terkesan, hm... Apa kamu mau pergi berkencan?!" Yuju di hantui rasa penasaran dan cemburu takut Jaehyun sedang berpacaran dengan gadis lain
"Tidak akan pergi kencan kemanapun hanya saja ada seroang wanita lebih muda darimu, dia memintaku menjadi model majalah, bayaran nya lumayan tinggi. Jadi, aku Terima tawaran yang tak masuk akal itu," jawab Jaehyun tenang
"Ohh begitu, semangat Jahe. Hati\-hati di jalan, jangan lupa selalu berdiri di tempat yang teduh," seketika Yuna memberi penyemangat pada Jaehyun padahal pria itu lebih mengkhawatirkan tentang nya
Jaehyun tersenyum dia meminta Yuna untuk segera masuk ke dalam, karena Chaeyeon sudah menunggunya dari jauh\-jauh hari.

"Apa Yuna baik\-baik saja, perkataannya cukup meyakinkan tetapi... wajahnya menyembunyikan keadaan yang sebenarnya," Jaehyun merasakan keanehan saat ia menatap Yuna dan menganalisis gerak\-geril bola mata gadis itu
Sembari melangkahkan kaki masuk ke dalam kos, Yuna di landa kebimbangan antara menyukai sosok lembut Jaehyun dan status nya sebagai kekasih Jungkook.
Memang tidak ada cinta yang terikat dalam hubungan dia dan Jungkook, tetapi terasa sulit untuk memutuskan kemana hatinya harus mengikuti pendirian tetap.
Di sisi lain jika ia tidak bersama dengan Jungkook, ada Jaehyun yang sangat ia sukai.
Kalau mengingat kebahagiaan, Yuna ingin bersama dengan Jaehyun daripada harus di paksa berhubungan dengan Jungkook yang tidak menyenangkan baginya.
__ADS_1
Di kantor internasional Jeons Group, Jungkook marah\-marah pada supir pribadinya.
Di karenakan Yuna di turunkan dari mobil tanpa sepengetahuan nya, "apa kau tidak punya rasa takut terhadapku, hah. Tidakkah kau menurut pada ucapan yang aku katakan, jangan turunkan dia tanpa perintah dariku," wajah Jungkook memerah ambisi dan kemarahan menguasai perasaan nya.
"Mohon ampun Tuan Jungkook!!!" si supir berlutut di hadapan tuan mudanya
"Anda tidak bilang pada saya, kalau gadis itu tidak boleh turun dari mobil tanpa sepengetahuan anda. Anda hanya berpesan, mengendarai mobil dengan hati\-hatihati\-hati dan tidak terlalu cepat agar sampai di tujuan dengan terlambat," ucap si supir melakukan pembelaan, karena ia merasa tidak ada kesalahan fatal yang telah dilakukan
"Gara\-gara kau, aku tidak tahu tempat tinggalnya dimana, dasar supir yang tidak berguna." Jungkook pergi meninggalkan si supir, berlutut tanpa kepastian antara masih berkemeja dengannya atau sudah tak memiliki pekerjaan darinya
Pria berhati dingin itu masuk ke dalam kantornya, menyelesaikan tugas akhir dan perdagangan dokumen penting setelah mendapat hasil dari liburannya.
Di kosan putri tepat di kamar lantai dua, Yuna meminta maaf pada Chaeyeon karena telah banyak merepotkan sahabatnya.
Chaeyeon memarahi Yuna, dia bilang tidak banyak mendengar kabar kepergian Yuna ke lombok.
Saat mengunjungi kantor perusahaan juga tidak ada yang memberitahu kabar tersebut padanya, ketakutan langsung di rasakan oleh Chaeyeon.
Makanya, dia meminta Ibu panti untuk datang menemui nya. Dan langsung datang ke tempat kos, setelah mendengar kabar buruk tersebut, Yuna yang mendengar ibu panti berada di kosan langsung panik.
"Sekarang Ibu dimana?"
Kepanikan langsung menjadi kekhawatiran Yuna, ia takut Ibunya tahu kalau dia sudah tak suci lagi.
"Bentar lagi dia datang, soalnya lagi ada urusan katanya di panti yang harus di selesaikan. Kenapa kamu panik gitu Yuna, ibu pasti senang kamu pulang dengan selamat." Chaeyeon menepuk baju Yuna, memberi rasa tenang agar tidak tidak terlalu tegang menghadapi ibu mereka nanti
"Ahh!! Tidak." Yuna menggeleng menampik ucapan Chaeyeon, lalu tersenyum terbuka menutupi kegugupan nya
Malam hari tiba, di saat Chaeyeon sibuk teleponan dengan Mingyu pacar nya, Yuna malah mematikan ponsel dan duduk termenung dengan rasa takut yang semakin meninggi getaran nya.
Menunggu kedatangan ibu panti, setelah lama di tunggu akhirnya tiba si ibu masuk ke dalam kamar.
"Ibu!" Yuna langsung turun dari ranjang saat matanya melihat sosok penuh kasih itu, di peluk erat sang ibu tanpa di lepas dengan cepat
"Yuna, kapan kamu kembali sayang. Ibu khawatir mendengar berita kehilangan mu dari Chaeyeon, apa kamu baik\-baik saja sayang." elusan telapak tangan sang ibu membelai rambut putrinya, sangat di rindukan Yuna sampai membuat tangis haru keluar dari kedua mata gadis kecilnya
"Maafkan Yuna, telah banyak merepotkan ibu!!" lirihan ucapan Yuna terus meminta maaf pada ibunya, kesalahan dan dosa yang ia perbuat takkan bisa di perbaiki dengan benar
Gadis itu tak berani mengatakan apa yang terjadi sebenarnya pada ibunya, hanya mengatakan sedikit kebenaran yang membuat ketenangan dalam hati sang ibu.
Takut menimbulkan kekecewaan, karena kesalahan yang di perbuat akan membuat rasa malu dan kehancuran kehormatan sang Ibu.
Yuna hanya berharap dan berdoa, semoga di masa yang akan datang dia bisa bahagia seperti yang di katakan oleh ibunya.
Semalam begitu terasa menyakitkan, kebohongan selalu Yuna andalkan untuk mengatakan yang sebenarnya pada ibunya. Di mulai dari pekerjaan dan apa yang dia lakukan, apalagi liburan\-liburan aneh yang sering dia kerjakan.
Pagi harinya Yuna berjalan ke kantor di temani sang Ibu, yang akan pulang kembali ke panti asuhan.
Kelegaan terlihat dari senyuman yang di tunjukan sang Ibu, seketika rasa bersalah yang menggandrungi Yuna memudar perlahan hilang.
Kepercayaan seorang ibu pada ibunya tidak memperlihatkan kekecewaan yang di takutkan Yuna.
Saat ibunya akan turun dari bus, Yuna di beri nasihat agar menjaga dirinya baik\-baik dan tidak terjerumus ke dalam keburukan yang merugikan dirinya.
"Iya, Ibu. Yuna tidak akan menghilangkan kepercayaan ibu padaku, janji." Yuna tersenyum demi meyakinkan ucapannya
"Kalau begitu hati\-hati, sayang." Ibunya mengenggam erat kedua tangan putrinya, takut Yuna salah mengambil langkah
"Maafkan Yuna yang tidak patuh pada ucapan ibu," cuman Yuna dalam hati
Setelah di tinggalkan pergi oleh ibunya, Yuna menangis tersedu\-sedu sambil memegang erat pengangan tangan bus. Ia berdiri terasa lemas dan kaku, kebohongan yang terus menjadi akting baik di depan ibunya.
"Ketika kejujuran terbongkar, Yuna hanya bisa menangis Bu." ucap Yuna menundukan kepala
Sesampainya di kantor Yuna menghapus air mata nya, berusaha tegar menghadapi situasi sulit yang harus ia hadapi.
Melangkah masuk ke dalam gedung bertingkat menuju lift untuk segera mencapai tujuan di lantai ketiga, tempat ia bekerja.
Pintu lift tertutup rapat, namun entah kenapa pintunya terbuka kembali memunculkan seorang pria di depannya.
"Jungkook," gumam Yuna pelan
__ADS_1
Jungkook masuk ke dalam menekan tombol di samping kanan pintu, otomatis pintu tertutup rapat kembali.
"Kenapa kamu tidak tunggu aku bangun Yuna." Jungkook langsung menghampiri Yuna, mendorong tubuhnya ke pojok lift dan menyudutkan posisi tubuh gadis itu
"Aku... Tidak tega membangunkan mu, kamu terlihat sangat lelah Jungkook," Yuna berusaha menghindari tatapan mata pak CEO nya, ia tidak ingin tertangkap basah kalau ia baru saja menangis
"Kapan aku terlihat lelah saat bersama mu." Jungkook menarik kedua lengan Yuna menaruhnya di kedua sisi tubuh gadis nya
"Jangan bertindak gegabah Jungkook kau tahu kita sedang berada dimana, bagaimana nanti kalau kamera pengawas merekam kejadian kita." Yuna melihat tajam ke atas, memandangi kamera pengawas yang merekam keadaan di dalam lift
Jungkook melepaskan kedua tangan Yuna yang ia cengkeram, mengeluarkan sebuah remote control kecil dan menekan tombol merah untuk menghentikan perekaman.
"Kita sudah aman sekarang, berikan aku kepuasan Yuna." Jungkook kembali menyandera pergelangan tangan Yuna yang ia satukan di atas kepala gadis tersebut, bibirnya mulai mengecup leher Yuna dengan sedikit memberikan ciuman tarikan lembut di kulitnya
Memberi tanda cinta berupa kiss mark yang khas berwarna merah muda, gadis itu berdesis merasa sakit.
Gigi kelinci Jungkook, terlalu memberi gigitan keras pada lehernya.
"Hentikan!! Jungkook!! Kau malah memberi aku rasa sakit, sudah waktunya bekerja." Yuna berusaha memberontak dengan menggeser tubuhnya ke samping
Jungkook menghentikan kegiatan nya, memperhatikan wajah Yuna yang mulai menunjukan perasaan kesal padanya.
"Jangan beri tatapan benci padaku, aku kehilangan akal saat melihat mu." telapak tangan kiri Jungkook turun ke bawah rok mini hitam Yuna, menyelusuri kedua paha gadis tersebut hingga dia merasa geli dan mengeluarkan tawa
"Aku mampu membuatmu tertawa, Yuna." Jungkook tersenyum menyeringai
Ting... Suara lift mencapai tujuannya, Jungkook melepaskan kedua lengan Yuna, ia kembali menekan tombol pergi ke lantai bawah.
"Tidakkah kamu menahan diri, kita bisa selesaikan ini nanti. Aku mohon padamu!! kita keluar dari lift ini," pinta Yuna
"Tidak, aku sudah tidak sabar dengan mu... Mungkin dengan wanita lain, aku bisa tahan." Jungkook merangkul pinggang Yuna menariknya untuk menyatu bersama tubuhnya
Yuna menghindari tatapan Jungkook dengan menoleh ke samping, ia tak sanggup lagi melanjutkan permintaan dari sang kekasih yang tak bisa di bicarakan baik\-baik.
"Tatap aku, Yuna!!"
"Kalau begini terus, aku tidak bisa lagi bersamamu Jungkook. Apa kita harus melakukan hubungan intim itu setiap harinya, aku lelah dan membutuhkan waktu istirahat. Jika kamu tidak mau berubah, biar aku saja yang berubah." Yuna mendorong tubuh Jungkook menjauh dari dirinya
"Akhiri saja hubungan diantara kita, aku tidak sanggup memenuhi setiap keinginan mu." Yuna berjalan ke arah pojok dan menekan tombol lift hingga berwarna merah secara otomatis lift kembali naik ke atas
"Apa yang kamu bicarakan?" Jungkook mendekati Yuna dan langsung memeluk tubuh gadis itu dalam dekapan nya
"Sebenarnya aku merasa bersalah pada ibuku, beliau memintaku menjaga kesucian dan kehormatan. Harga diri lebih penting daripada kesenangan, akhirnya aku mengerti. Ibu memintaku untuk menjauhi laki\-laki seperti mu, mungkin suatu hari kamu meninggalkan ku," ucap Yuna merasa sedih tak kala mengingat semua kejadian dirinya bersama dengan Jungkook yang terus di lalui sampai saat ini
"Jangan berpikir, aku meninggalkan mu Yuna. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Jangan di pikirkan tentang hal yang buruk, tidak akan terjadi apa\-apa pada kita berdua." Jungkook mengelus rambut Yuna
"Kamu berjanji takkan pergi meninggalkan ku?!" tanya Yuna memiliki rasa kepastian
"Iya, aku berjanji padamu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu," jawab Jungkook dengan suara keras
Tak berapa lama pintu lift terbuka karena tombolnya berwarna hijau, dimana mereka berdua telah sampai pada tujuan.
Tak di duga, banyak karyawan lantai tiga mengantri di depan pintu. Mereka tercengang dan melongo melihat keadaan di dalam, yang sungguh tidak masuk akal.
Yuna segera melepas pelukan Jungkook dan berlari keluar dari lift.
"Aduhhhh... bagaimana aku bisa tidak ingat, apa yang di pikirkan karyawan kantor nanti," batin Yuna gusar
Jungkook memplototi setiap karyawan yang ia lewati dan memberikan peringatan pada mereka, "jika ada yang melaporkan kejadian tadi dan bergosip, tentu saja peringatan nya adalah pemecatan," Jungkook berdiri di depan pintu lift
Semua karyawan yang mengantri langsung masuk berdesakan, karena takut dengan ancaman yang di ucapkan pak CEO nya.
"Aku ingat wajah kalian semua, jadi jangan anggap remeh perkataan ku itu." Jungkook membalikan badannya mulai berjalan menuju tempat kerjanya
Pintu lift tertutup rapat, para karyawan lantai tiga mulai bergunjing dan beradu pendapat mengenai hubungan antara pewaris dan bawahannya.
"Apa mungkin mereka...." ucap salah seorang karyawan berkemeja merah
"Ahh mana mungkin, tidak ada yang terjadi diantara mereka berdua. Kita tahu sendiri Tuan Jungkook memang genit pada setiap wanita, gadis itu sudah memberi peringatan dan perlawanan. Tapi, kekuatan Tuan Jungkook terlalu kuat dan tak terkalahkan," ucap seorang wanita membela Yuna yang terkenal dengan sopan santun dan etikanya yang baik
"Benar juga, sudah jangan di bahas. Kalian tidak takut perbincangan ini terekam dan membahayakan posisi kita yang sudah di dapat susah payah, hanya karena berargumen mengenai Tuan Muda dan sekretaris pribadinya," ujar seorang pria berkacamata bulat mengingatkan
Semua karyawan pun terdiam dan mulai sibuk dengan kegiatan aneh menunggu pintu lift terbuka.
__ADS_1
Bersambung..............