
© naughty perfect men ©
**attention !!!!
-vote sebelum baca tanda pengenalan yang baik
-berikan komentar baik terhadap cerita ini
-konten dewasa
-di butuhkan kerja sama antara pembaca untuk membangun suasana yang harmoni
-semoga suka
-typo**
Author pov
Yuna melepaskan jaketnya, tubuhnya merasakan lengket dan terasa tidak nyaman untuk di baringkan di tempat tidur.
Langkah kakinya menuntun seluruh tubuh memasuki kamar mandi, mengunci ganda pintunya, lalu tangannya bergerak memutar shower.
Yuna berdiri di tengah guyuran deras air yang mengucur dari dalam shower membasahi seluruh tubuhnya.
Setiap bayangan kelam yang ia alami bersama Jungkook terus menghantui ingatannya, Yuna berteriak kencang dan menangis sejadi-jadinya.
"Mengapa!!! Aku terus menderita, dari kecil sampai sekarang tidak ada kebahagiaan hanya usaha dan terus berusaha untuk menjadi lebih baik." Yuna menjatuhkan dirinya, terduduk di bawah
"Kebahagiaan itu tidak pernah ada, kegelapan saja yang aku miliki. Aku tidak berhak mengenal cinta, tidak berhak atas hidupku sendiri... penderitaan merajai nasib ku," isak tangis Yuju napasnya tersenggal karena desakan tekanan batin
Pada pukul 05.30 Chaeyeon terbangun, gadis itu menjatuhkan kedua kakinya menginjak lantai.
Mendengar gemericik air dari kamar mandi, membuatnya tertarik pergi ke sana.
Sesampai di depan pintu, ia berusaha menerobos masuk ke dalam namun terkunci.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan jari tangannya berhasil menghasilkan suara ketukan, tetapi tidak juga terbuka pintunya.
"Yuna apa kamu di dalam?" Chaeyeon menyandarkan kepalanya di papan pintu
Yuna mendengar pertanyaan teman nya, ia tidak bisa diam tanpa menjawab suara tersebut.
"Iya," Yuna menjawab dengan suara nyaring
"Kamu lagi apasih di dalam, cepetan keluar aku mau pipis udah nggak tahan nih," ucap Chaeyeon memaksa
"Kamu pergi aja ke kamar mandi di dekat dapur, aku sedang sakit perut," alibi Yuna yang tidak mau tertangkap basah sedang berbohong
"Yuna jaraknya itu jauh sekali, udah kamu keluar sebentar nanti kalau udah menyelesaikan keperluan ku, kamu masuk lagi ke dalam ya!" Chaeyeon mengucek matanya, menghilangkan rasa kantuk yang masih mengelabui ingatan nya
"Tidak Chaeyeon, tangguh nih... Kamu yang mengalah ya. Sudah cepat pergi cari kamar mandi lain." Yuna memutar shower ke kanan sampai tidak dapat di putar lagi air semakin deras menghujani tubuhnya
"Kamu tetap saja keras kepala Yuna." Chaeyeon akhirnya harus mengalah, ia pergi ke luar kamar menuju tempat yang di maksud Yuna
**✿❀ ❀✿**⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
Sekitar jam 06:00 pagi, Yuna masih belum juga keluar dari kamar mandi.
Kekhawatiran di rasakan oleh Chaeyeon takut terjadi yang tidak-tidak padanya, telapak tangannya menepuk keras papan pintu.
"Yuna!!!" teriak Chaeyeon memanggil nama sahabatnya
"Kau sedang apa sih di dalam, mandi atau sakit perutmu terus di rasakan?!"
Tak terdengar lagi suara air yang bergemuruh, tak lama pintu pun terbuka lebar.
Sosok Yuna melangkah keluar dengan menampilkan wajahnya yang pucat, mata sebab pipi yang memerah.
"Yuna, kamu baik-baik saja kan?" tangan Chaeyeon reflek memeriksa kondisi tubuh Yuna
"Awww panas sekali." Chaeyeon mengipaskan tangannya beberapa kali, guna menghilangkan rasa panas yang menyengat aliran tangannya
"Makanan apa yang kamu makan semalam di pesta, hingga membuatmu sakit perut dan menghabiskan waktu lama di kamar mandi Yuna?" Chaeyeon menuntun Yuna ke tempat tidurnya, mendudukan sahabatnya juga segera bertindak cepat memberikan air hangat dari dalam dispenser yang baru saja ia tuangkan ke dalam gelas
Yuna meneguk habis air pemberian dari Chaeyeon, temannya mengambil gelas kosong dari tangan Yuna karena hampir saja di jatuhkan olehnya.
"Si ceroboh Yuna ini, tunggu di sini aku ambilkan pakaian ganti untukmu." Chaeyeon bergegas pergi ke tempat lemari Yuna, mengambil sepasang pakaian ukuran sedang ketebalan nya
"Pakailah ini Yuna, lalu aku akan mengeringkan rambutmu, agar merasa nyaman ketika tidur nanti," Perhatian Chaeyeon pada Yuna melebihi perhatian seorang kakak pada adiknya
Yuna duduk setelah memakai pakaian yang di sarankan sahabatnya, kini rambutnya tengah di keringkan oleh Chaeyeon menggunkan bantuan hairdryer.
♛┈⛧┈┈•༶༶•┈┈⛧┈♛
Di kamar hotel 104, Jungkook membuka matanya. Melirik ke samping tubuhnya, berharap masih ada gadis semalam yang telah berhasil memuaskan gairah hidupnya.
__ADS_1
Tetapi harapannya telah menipu perkiraan nya, Yuna tidak ada di tempat tidur.
Jungkook bangun dari tempat tidur lalu memakai handuk kimono nya, ia mulai sibuk mencari jejak Yuna.
"Kemana perginya, gadis itu. Yuna, kenapa kau pergi secepat ini." Jungkook memeriksa bawah ranjangnya, mungkin saja gadis itu bersembunyi di sana
"Apa dia benar-benar pergi meninggalkan ku." Jungkook berdiri kembali, ia mencari bukti lain misalkan ada sesuatu yang di tinggalkan Yuna sebagai tanda perpisahan
Tetapi usahanya nihil, tak ada bukti ataupun jejak yang tertinggal.
"Biasanya wanita yang sudah tidur denganku selalu menyimpan surat berisi nomor, alamat atau kata-kata rayuan dan yang lainnya. Mengapa berbeda dengan Yuna, gadis itu sama sekali tidak aku mengerti keinginan nya." Jungkook berjalan lurus masuk menuju kamar mandi
♩✧♪●♩○♬☆♬♩♪♩ ♩♪♩♬☆♬○♩●♪✧♩
Di kamar kos, Chaeyeon telah menyelimuti tubuh sahabatnya.
"Yuna, istirahat dulu di sini. Nanti siang aku kembali lagi bawa obat untukmu, ok!" tegas Chaeyeon dengan nada lembut
Yuna hanya mengangguk, Chaeyeon melihat arloji di tangan kirinya. Sudah menunjukan pukul 07.10, ia langsung bangkit dari atas ranjang.
"Maaf Yuna, aku harus segera berangkat." Chaeyeon mengukir kan senyuman di wajahnya sekejap, kepanikan mu mengubah perasaan manis
Dia buru-buru pergi keluar dari kamar, jam kerja akan segera menghukumnya kalau terlambat datang.
.・゜-: ✧ :- -: ✧ :-゜・.
Kembali lagi ke kamar hotel tepat tinggal Jungkook berada, para cleaning service datang untuk membersihkan kamarnya.
Jungkook sibuk memainkan ponselnya, ia belum mengganti handuk kimono yang di kenakan dengan pakaian kantor nya.
"Ada noda darah di atas spray, kita harus mengganti nya. Tuan Jungkook sangat menyukai kebersihan, dia akan marah jika melihat ini...hey kau!!!" teriak salah satu anggota cleaning service dan temannya
"cepat bawakan spray baru!" teriak salah satu anggota cleaning service ke temannya
Jungkook merasa terganggu dengan teriakan salah satu pelayan hotel, ia pun datang menghampiri dan bertanya mengapa spray nya harus di ganti.
Pelayan itupun menjawab, "karena ada bercak darah yang menodai kebersihan spray anda Tuan, anda tidak suka kalau tempat tidur yang kotor. Maka dari itu, saya menyuruh teman saya untuk menggantinya dengan yang baru." pelayan itupun menundukan kepala tak berani lagi menatap ke depan
"Jangan ada yang menggantinya, awas saja kalau kalian berani melepaskan spray itu dari atas kasur!" ujar Jungkook menjatuhkan tubuhnya dengan sengaja menghalangi para pekerja cleaning service
"Bagaimana dengan selimutnya Tuan?" tanya gugup seorang lelaki yang tengah memegang ujung selimut
"Tidak usah, aku tidak ingin kehilangan kenangan." Jungkook menarik bagian selimut yang di pegang si pelayan laki-laki tersebut
"Baiklah kalau begitu Tuan, semuanya sudah rapi dan bersih kecuali tempat tidur," Ucap si pelayan melaporkan hasil kerjanya
"Cepat pergi, jika kalian sudah tidak ada lagi urusan di sini." Jungkook membangunkan tubuhnya, kedua kakinya menyetuh permukaan lantai ia dalam posisi duduk di pinggir ranjang
Jungkook mengirimkan sejumlah uang ke nomor rekening Yuna melalui internet banking, agar gadis itu bisa membeli semua kebutuhan dan tidak merasa kekurangan.
"Yuna tentunya menyukai hal seperti ini, wanita mana yang tidak menyukai uang untuk berbelanja." Jungkook tersenyum mengkhayal dalam bayangan yang ia pikirkan
Yuna akan sangat berterimakasih padanya, memuji dirinya bahkan bisa menerima dirinya menjadi kekasih terbaik di dunia.
"Hahahaha...."
Gelak tawa senang Jungkook yang berlanjut sampai ke dalam dunia nyata, imajinasinya benar-benar menguasai akal sehatnya.
*・゚゚・*:.。..。.:*゚:*:✼✿
Di kantor Jungkook sibuk bertanya pada semua karyawan yang ia temui di lorong maupun lobi, kedua langkah kakinya menuntun kembali ke tempat kerjanya.
Jungkook duduk di kursi sembari tangannya memijat keningnya dengan jari jemari tangannya membuat gerakan pelan-pelan.
"Yuna... Baru saja semalam kita menghabiskan waktu bersama, aku sudah memendam rasa rindu berat untukmu," hati Jungkook tak tenang kegusaran melanda Jiwa nya
Jungkook mencoba menghubungi nomor ponsel Yuna, namun tidak ada jawaban yang ia terima.
"Apa gadis itu sengaja menghilang, apa kebencian semakin bertambah besar padaku." raut kecemasan tergurat jelas di wajah Jungkook,
Pemikiran mulai mengacak-ngacak jalur ide berlian nya
Sekitar pukul 10 lebih 26 menit, Chaeyeon menjenguk Yuna sembari membawa obat di kantong keresek putih di tangannya.
Sesampainya di tempat kos ia melihat Yuna masih terbaring lemas di tempat tidur, dia menyiapkan bubur yang ia beli di pinggir jalan sewaktu berjalan menuju rumah kos.
Kesibukan Chaeyeon di dapur berakhir dalam 7 menit lamanya, ia membawa mangkuk di atas nampan segelas air putih, juga obat yang ia beli.
"Yuna, bangunlah." Chaeyeon menyimpan nampak itu di atas laci, kemudian ia menggoyangkan tubuh Yuna
"Hmm... Apa?" Yuna membuka matanya sekejap, lalu tertutup kembali karena kepalanya masih terasa pening
"Ayoo makan dulu!! habis itu minum obat, barulah tidur lagi." Chaeyeon menyibakkan selimut yang menghangat tubuh Yuna
"Chaeyeon!" Yuna merajuk tidak ingin melakukan apapun
"Apa, kamu ingin terus sakit hah." Chaeyeon menarik salah satu tangan Yuna, membantu temannya terbangun dari rasa malas
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Yuna berdering, panggilan masuk terlihat di layar ponselnya.
Chaeyeon mengambil ponsel Yuna dan mengangkat panggilan tersebut.
"Yuna!! ... Kenapa kau..., ..., belum juga ..., ke kantor? ...,"
"Heh!!..., Yuna sedang sakit,..., dia tidak bisa pergi, ... kemanapun. ...," balas Chaeyeon yang langsung di ambisi kemarahan
"Apa?! ..., dimana ..., dia sekarang? ...."
"Sudah..., kalau masalah pekerjaan, ..., tidak apa-apa. ... di pecat juga." Chaeyeon menutup interaktif itu dengwn singkat
"Yuna, cepat makan. Aku tidak punya banyak waktu untukmu, si pak CEO mu itu sudah aku bereskan. Dia takkan menganggu waktu istirahat mu." Chaeyeon menyimpan ponsel Yuna di samping nampan
"Chaeyeon, terimakasih banyak," ucap Yuna serak suara nya
"Iya, temanku sayang. Jangan buat Chaeyeon khawatir lagi, minum ya obatnya aturan berapa banyak yang harus kamu telan, aku sudah tuliskan." Chaeyeon berdiri, matanya melihat arloji di tangannya
"Duh!! Yuna, jangan lupa ya di habiskan buburnya minum juga obatnya." Chaeyeon langsung memutar badannya, bergerak cepat menuju pintu keluar
"Iya... bawel!" sahut Yuna setelah itu gadis itu tertawa kecil melihat ekspresi Chaeyeon yang khawatir di campur kepanikan
"Chaeyeon, kamu perhatian banget sama aku." tangan Yuna meraih ponselnya, bukannya mangkuk yang harus ia habiskan bubur yang ada di dalam nya
Yuna membuka pesan masuk ke dalam ponselnya, terdapat pemberitahuan penambahan sejumlah uang ke dalam rekeningnya.
"500 juta, siapa yang mengirim uang sebanyak ini." jari tangan Yuna gemetar, hampir membuat telapak tangannya menjatuhkan ponsel yang tengah ia genggam
Yuna segera bangkit dari tempat tidur, ia berlari menuju lemari pakaian mengambil setelan baju yang pantas ia kenakan.
Setelah itu ia mengenakan jaket tebal karena tubuhnya merasa kedinginan, ketika langkahnya menuju pintu keluar.
Matanya melirik obat yang ada di atas nampan, Yuna tidak bisa meninggalkan obat yang susah payah di bawa oleh temannya.
Yuna mengambil obat tersebut dan segera berlari keluar kamar, ia tergesa-gesa melangkah untuk sampai di perkarangan.
♥*♡∞:。.。✧༺♥༻✧。.。:∞♡*♥
Di depan kantor sebelum memasuki gedung besar, Yuna berpapasan dengan Jinyoung yang sedang membawa sebuah troli berisi kotak-kotak kardus produk yang akan di pasarkan.
"Yuna, kamu habis darimana?" Jinyoung mencegat perjalanan Yuna
"Kak Jinyoung," ucap Yuna
"Aku baru saja datang, aku sedang terburu-buru. Lain kali, kita bicaranya." Yuna langsung berlari melewati Jinyoung yang tengah menunggu jawaban nya
"Dia pasti ketakutan, Tuan Jungkook tidak akan memaafkan Yuna." Jinyoung berjalan kembali tangannya mendorong troli dengan kuat
.・。.・゜✭・.・✫・゜・。.
Di lantai 2 lift baru saja terbuka keluar lah Yuna dari sana, langkah kakinya melambat ketika ia hampir sampai di ruang CEO.
Sana hanya tersenyum menyambut kedatangan Yuna, wanita itu mengerti situasi yang sedang di hadapi gadis itu.
Yuna menekan tombol pasword kemudian pintu terbuka, langsung saja ia segera masuk pintu pun tertutup kembali.
"Pak Jungkook!" teriak Yuna melangkah mendekati meja kerja Jungkook
Tetapi saat langkah kakinya terhenti tepat di depan meja kerja atasannya, ia tidak menemukan sosok laki-laki tersebut.
"Aku di sini!" ujar seorang Jungkook suaranya berasal dari samping kiri tubuh Yuna
Yuna segera membalikkan tubuhnya menghadap ke mana suara itu berasal, di lihat Jungkook yang tengah berdiri di papan lemari berkas.
"Pak anda kenapa mengirim saya uang?" Yuna menghampiri CEO nya, dengan melangkah penuh hati-hati
"Itu uang yang pantas aku berikan padamu, habiskan dalam satu hari pun aku tidak masalah. Tidak kau memang lagi padaku, aku pasti akan memberikannya 2 kali lipat dari itu." Jungkook memajukan tubuhnya, mendekati Yuna agar terasa sangat dekat dengannya
"Saya, tidak akan menerima uang sepeserpun dari anda kecuali itu adalah gaji saya," Yuna mengulurkan ponselnya ke depan mata Jungkook
"Ketik nomor rekening anda pak, saya akan mengembalikan nya." tatapan mata Yuna merendah seakan menatap ke bawah
"Itu hadiah untukmu Yuna, karena semalam kita...." ucapan Jungkook di cela Yuna, gadis itu mengatakan apa yang ia ingin katakan
"Tidak pak! Saya tidak menjual kesucian tubuh ini, anda yang merebut darah perawan dengan paksa. Tetapi, uang tidak bisa mengembalikan apa yang sudah hilang." Yuna menjatuhkan ponselnya, tak ada tenaga lagi untuk menahan kondisi tubuhnya
"Anda begitu terhormat, hingga bisa mendapatkan apa yang Anda minta. Malam itu, nasib buruk yang harus saya terima. Anda...." pandangan mata Yuna terlihat kabur memandang
"Anda..." ucapannya tersenggal karena tiba-tiba merasa sesak di dada
"Anda...." Yuna akhirnya jatuh pingsan, tubuhnya tergeletak di bawah kaki Jungkook
"Yuna." dengan segera Jungkook menurunkan tubuhnya, mengangkat tubuh Yuna ke dalam pangkuan tangannya
__ADS_1
"Apa yang terjadi padamu, Yuna bangunlah...katakan padaku!" teriak panik Jungkook
To be continue............