
© Naughty perfect Men ©
**attention !!!!
-vote sebelum baca tanda pengenalan yang baik
-berikan komentar baik terhadap cerita ini
-konten dewasa
-di butuhkan kerja sama antara pembaca untuk membangun suasana yang harmoni
-semoga suka
-typo**
_______
______
{ Author pov }
Jungkook memaksa Yuna untuk tetap ia antar sampai ke tempat tinggalnya, dengan terpaksa gadis itu mau mengikuti perintah dari kekasihnya.
Sampailah di tempat kos, Jungkook berniat masuk ke dalam rumah kos wanita namun, Yuna melarangnya dengan alasan rumah yang ia tempati khusus untuk para wanita dan bukan pria.
Jungkook memeluk tubuh Yuna sebagai tanda perpisahan, dan mengecup kening kekasihnya dengan sentuhan lembut.
"Besok, aku akan pergi ke kantor. Aku harap kamu berada di sana, masuk kerja ya besok pagi!"
Yuna hanya menganggukkan kepala, Jungkook pun merasakan lega. Lalu timbulah pertanyaan khawatir tentang kondisi Yuna, yang baru saja menggugurkan kandungnya.
"Apa kamu masih merasa sakit?" tangan Jungkook meraba perut Yuna
Karena tidak ingin ketahuan bahwa Yuna masih mengandung janin, dia segera menarik diri menjauhi jarak kedekatan Jungkook dengan dirinya.
"Aku masuk, terasa lemas tubuhku saat ini aku butuh istirahat." Yuna melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rapat-rapat
Jungkook berjalan pergi menuju mobil yang terparkir di luar halaman kos, setelah mendengar suara gemuruh mobil yang meninggalkan daerah kos.
Yuna terburu-buru masuk ke dalam kamar, dia pun mulai sibuk sendiri membereskan pakain memasukannya ke dalam koper.
Chaeyeon baru saja masuk sambil membawa segelas air putih di dalam genggaman tangannya, kaget melihat kerusuhan Yuna.
Temannya itu segera menyimpan gelas di atas laci kemudian menghampirimu Yuna, dan mencegah kegiatan aneh sahabatnya.
"Kenapa ini Yuna, kamu mau pergi kemana?" Chaeyeon menarik kedua lengan Yuna dan mencekal pergerakan tangan sahabatnya
"Chaeyeon, aku... tidak bisa tinggal di sini, atau bayi yang ada dalam kandungan ku akan di lenyapkan. Dia... tidak mau memiliki seorang anak," ucap Yuna mengalir deras air matanya
"Dia siapa? Apa ayah dari bayimu,"
"Iya, dia Jeon Jungkook. Tadi saja aku hampir kehilangan bayiku, aku tidak mau melakukan dosa lagi,"
"Yuna, kenapa tidak bilang... mungkin tadi kita berangkat sama-sama, sudah ayoo kita labrak sekali lagi. Semoga saja ada hasil yang lebih baik, si pecundang itu harus di beri pelajaran,"
"Tidak Chaeyeon! Kamu juga harus pergi dan bersembunyi, pergilah bersama Mingyu. Jangan bekerja di apotek itu lagi, atau Jungkook akan mengejarmu menanyakan tentang diriku dan dimana aku berada." Yuna menarik kuat kedua lengannya hingga berhasil lolos dari cengkraman Chaeyeon
__ADS_1
"Yuna, hey... Sadarlah. Dia itu cuma manusia biasa, kita masih bisa melawannya,"
"Tidak Chaeyeon, percuma saja. Usaha apapun yang kamu lakukan tidak akan membuahkan hasil yang memuaskan. Mohon turuti lah apa yang aku katakan, nyawamu juga dalam bahaya. Orang yang berada di dekatku pasti akan di tangkap, aku sangat mengenal baik sifat Jungkook. Dia tidak segan melukai, jika tidak mendapat apa yang dia mau." Yuna kembali sibuk mondar-mandir ke tempat lemari membawa semua pakaian
"Yuna... Apa kamu akan meninggalkan ku?" Chaeyeon menghambat perjalan Yuna, saat sahabatnya akan melangkah pergi dari dalam kamar
"Tidak Chaeyeon, kita adalah saudari seperjuangan. Aku akan mengabarimu, jika aku sudah berada di tempat yang aman. Pergilah dari sini sebelum pagi tiba, karena waktu yang kita miliki hanya sedikit. Aku pergi duluan, karena ingin berpamitan pada Ibu asuh." Yuna menggenggam tangan Chaeyeon hanya beberapa menit saja, sambil tersenyum kemudian mengangkat tangannya menggerakan ke kiri-kanan
Perpisahan di akhiri adegan dramatis, dimana kedua gadis yang tumbuh bersama sejak kecil harus rela berpisah karena satu masalah.
Tengah malam Yuna mengetuk pintu sebuah panti, lama berdiri dan berusaha membangunkan orang di dalam akhirnya pintu terbuka untuk nya.
Seorang wanita tua berusia setengah abad, berdiri di hadapan nya. Yuna langsung memeluk dan meminta maaf, perkataan yang dia katakan membuat kebingungan pada si Ibu asuh.
"Kenapa Yuna?" tanya Ibu asuh sembari mengelus rambut panjang Yuna yang tergerai
"Maafkan Yuna yang punya banyak kesalahan pada ibu, tolong maafkan Yuna," jawab Yuna menyesali semua perbuatan nya
"Iya ibu memaafkan mu, tapi kenapa kamu mengatakan ini?" perlahan si Ibu melepaskan pelukan putrinya
Yuna pun menjelaskan bahwa dirinya akan pindah bekerja ke salah satu kota, entah dimana ia akan di tempatkan. Karena pemberitahuan mendadak, dia terus mengatakan kebohongan untuk membuat Ibu asuh nya percaya akan ucapannya.
Ibu asuh pun memberikan restu dan do'anya pada putri kebanggaan, Yuna merasa lega dan memberitahu Ibunya jika ada yang mencarinya katakan saja Ibunya tidak pernah mengenal dirinya. Yuna menjelaskan ada orang jahat yang sedang mengincarnya, makanya keputusan ia untuk berani mengambil resiko berpindah tempat kerja karena hal itu.
Ibunya pun mengerti dan paham apa yang Yuna katakan dan inginkan, lalu Yuna berpamitan dan segera pergi sambil memperlihatkan senyuman nya.
Berjalan sendiri tanpa tujuan, Yuna merasakan letih dan butuh tempat yang nyaman untuk mengistirahatkan rasa lelah di derita olehnya.
Sampai Yuna tertidur di salah satu bangku yang berjejer di depan pertokoan, pagi pun telah tiba. Gadis itu membuka matanya, sebab sinar mentari mulai bersinar menyilaukan matanya.
Ketika mengecek ponselnya untuk melihat jam berapa, Yuna mendapat banyak panggilan dan pesan masuk yang kebanyakan berasal dari Jungkook.
"Apa aku harus melihat dia untuk terakhir kalinya," Yuna pun menjadi bimbang antara pergi ke kantor atau melanjutkan pelarian nya
Yuna telah sampai di kantor, ia meminta surat pengunduran diri dari penjaga resepsionis. Proses yang ribet harus ia jalani, yaitu menulis surat sebagai tanda pengakhiran kontrak dengan perusahaan agar tidak ada masalah kelak.
Setelah semua ia tulis di dalam sebuah surat yang di masukan ke dalam amplop, Yuna berjalan memasuki lift menuju tempat kerja Jungkook.
Ketika akan masuk ke dalam ruangan pak CEO, Yuna di sapa Sana yang baru saja masuk kerja pada hari ini setelah melakukan cuti yang panjang.
Yuna tersenyum hangat dan mulai berbicara basa-basi pada Sana, setelah itu mengungkapkan keputusan nya meninggal kantor.
Sama sangat kecewa akan keputusan Yuna, gadis itu menjelaskan bahwa ia tidak bisa tinggal di jakarta karena ibunya sedang sakit.
Jadi, ia harus segera pulang ke kampung halaman, Sana pun mengangguk paham.
Yuna merasa tidak tega telah membohongi Sana, tapi ia harus tetap berbohong demi kebaikannya.
Yuna menyimpan surat di atas meja kerja Jungkook dan mulai memandangi area ruangan, dari sudut ke sudut. Kenangan yang akan selalu terbayang, dan di kenang sepanjang ingatan.
"Aku tidak akan melupakan kisah manis yang pernah kita lalui." Yuna melangkah keluar sambil menarik kenop pintu hingga ruangan tertutup rapat
Dalam perjalanan ketika ia hendak melangkah keluar dari pintu ke teras luar kantor, ada Jungkook yang sedang berjalan santai di temani seorang wanita yang sempat Yuna lihat ketika di hotel mencari kekasihnya.
Karyawan pun mulai bergosip dan berbincang mengenai hubungan keduanya.
Yuna tampak terkejut mendengar perbincangan yang menguras emosi sedihnya, karena mereka membahas soal pernikahan yang akan segera di laksanakan dalam beberapa minggu lagi.
__ADS_1
Kedatangan Jungkook ke sini pun untuk memperkenalkan wanita itu sebagai istrinya, bukan datang untuk bekerja.
"Apa?" mendengar kekasihnya berteriak memanggil semua karyawan untuk berkumpul, Yuna buru-buru menghindar dan bersembunyi di dekat pintu keluar

Tak lama Jungkook mengumumkan hari pernikahan nya, yang tak di sangka akan di langsungkan di dalam kantornya.
Sesak nafas dan mengundang rasa sakit hati yang menyakiti dirinya, Yuna tidak bisa menahan air matanya keluar kemudian menangis tersedu.
Setelah kejadian kemarin yang belum sempat ia lupakan, kemalangan sudah menimpa dirinya kembali.

Jungkook tidak hanya menyakiti bayinya sendiri juga Ibu dari anaknya, Yuna tidak tahan melihat dan mendengar perkataan manis Jungkook pada semua orang yang terus memuji calon istrinya.
Ia pun memutuskan hengkang dari kantor dan berjalan cepat keluar halaman perkantoran.
Tidak ada kata ragu lagi yang harus ia pikirkan, tekad telah memutuskan tujuannya sekarang. Ia harus pergi sejauh-jauhnya dari jangkauan pandangan Jungkook, Yuna pergi menaiki bus yang ia tidak ketahui mengarah ke daerah mana.
Terpenting baginya menjauh dari orang yang ia cintai dan tidak pernah bertemu dengan dia untuk selamanya.
"Jadi, kamu memintaku ke kantor untuk menyaksikan kamu mengumumkan pada semua tentang wanita pilihan mu. Kamu benar-benar sudah gila, Jungkook," gumam Yuna meratapi kepedihan yang ia rasakan
Kecewa yang tak dapat di tahan, Yuna menangis sepanjang perjalanan bus berjalan di jalan beraspal sangat panjang.
Di Kantor Jungkook baru duduk di kursi putar nya, pria itu menghembuskan napas letih dari kegiatan menguras banyak tenaga.
Terlintas di benaknya untuk melihat tempat kerja Yuna, meja itu terasa hampa tanpa ada seseorang yang sedang bekerja.
"Apa Yuna hadir tadi saat aku mengumumkan hari pernikahan, kenapa aku bertindak bodoh dengan menyuruhnya datang ke kantor. Apalagi kondisi nya kurang sehat, hah." Jungkook menyimpan kedua tangannya di atas meja, merasakan ada sesuatu yang aneh di tindih lengannya
Jungkook mengangkat kedua tangannya dan menemukan sebuah amplop putih, lantas segera membaca isi surat tersebut.
Jungkook di buat marah dengan apa yang ia baca di dalam sebuah kertas tersebut, pengunduran diri Yuna dari pekerjaan memunculkan keresahan.
Pria itu segera bangkit dan berlari keluar dari ruangan kerja, berjalan menghampiri Sana yang sedang sibuk bekerja.
Menanyakan apa Yuna sempat ke kantor atau tidak, Sana menjawab dengan perkataan jujur dan berkata Yuna pergi ke kampung halaman karena ibunya sedang sakit.
Jungkook bergegas pergi mencari keberadaan Yuna, sampai ia menghubungi semua Intel dan detektif untuk mencari informasi tentang diri kekasihnya.
Jungkook mengendarai mobilnya menuju rumah kos tempat tinggal Yuna, namun. Sesampainya di sana ia mendapat kabar yang kurang membahagiakan, bahwa Yuna ataupun teman sekamar nya sudah pergi sejak semalam.
Tak bisa bersabar dan menahan emosi marah yang bergejolak meluap-luap, Jungkook meminta para pengawalnya mencari identitas teman dekat ataupun orang yang pernah berbicara dengan Yuna.
Satu persatu, orang terdekat ataupun jauh hubungan nya dengan Yuna ditanyai pertanyaan buang sama yaitu dimana Yuna berada?
Namun tidak membuahkan hasil, Jungkook pun mengingat seorang pegawai di apotek yang dulu pernah Yuna ceritakan.
Dia pun segera pergi ke Jakarta Selatan tepat menuju apotek, di sana pun ia tidak mendapat petunjuk apa-apa karena Chaeyeon sudah berhenti bekerja.
Kesialan pun menimpa Jungkook yang tersesat dalam perasaan kesal di susul penyesalan, mengapa Yuna begitu tega meninggalkan dirinya sendiri.
Padahal ia begitu mencintai Yuna dan sangat sayang padanya, ia berusaha untuk tidak menyakiti kekasihnya dan menjauhkan Yuna dari Ibunya.
Memang saat ini jalan yang ia labil salah alah, tetapi semuanya demi kebaikan perusahaan utama Ayahnya terkena kerugian dan kebangkrutan. Maka dari itu ia harus menikahi Tzuyu untuk memperbaiki keuangan, menstabilkan Indeks perusahaan.
__ADS_1
"Yuna!!!" teriak Jungkook di atas jembatan setelah pria itu turun dari mobilnya yang terparkir di pinggir jalan, menangis entah kenapa ia begitu sedih sampai meneteskan air mata hingga membasahi wajah tampan nya
Bersambung..................