
© Naughty perfect Men ©
**attention !!!!
-vote sebelum baca tanda pengenalan yang baik
-berikan komentar baik terhadap cerita ini
-konten dewasa
-di butuhkan kerja sama antara pembaca untuk membangun suasana yang harmoni
-semoga suka
-typo**
_______
______________
______
{ Author pov }
Surabaya
Yuna tersesat di sebuah kota yang ramai di penuhi banyak orang asing, ia tidak mengenal satu orang pun setelah turun dari bus. Kini ia berkeliling di sekitar terminal, ia kebingungan tidak mempunyai arah untuk di tuju.
Malamnya di kemudian hari, Yuna menangis di depan sebuah minimarket, menyesali dan menghakimi dirinya sendiri.
Kenapa dan kenapa ia selalu bertindak bodoh dan ceroboh, tidakkah ada takdir yang membawanya menuju kebahagiaan.
Seorang wanita paruh baya memperhatikan dirinya dari kejauhan, saat dia hendak menyeberang jalan.
Memutuskan pergi menghampiri Yuna karena rasa penasaran, bertanya pada gadis itu apa yang terjadi padanya.
Yuna menjawab dengan perkataan bohong, ia berharap kebohongan nya membawa empati si nenek tua.
Dia menceritakan tentang kejadian buruk menimpa nya, dalam kisah sulit dan menyusahkan, Yuna mengatakan kalau dirinya tengah hamil dan memang itu faktanya.
Kebohongan yang sangat fatal itu dia memberitahu pada si nenek kalau suaminya baru saja meninggal, ketika sedang berlibur di kota ini mereka mengalami kerampokan, suaminya berjuang melawan para perampok tetapi mengalami kekalahan.
Suaminya tertusuk pisau tajam oleh salah seorang dari kelompok perampok yang bersenjata, sempat pergi ke rumah sakit namun nyawanya tidak tergolong. "Saya bingung, harus pergi kemana. Mau pulang ke rumah mertua, kami sebenarnya kawin lari sedangkan saya anak yatim piatu, hiks... Hiks...." tangisan Yuna membuat iba seorang nenek tersebut
Nenek itu mengajak Yuna untuk tinggal bersamanya, Yuna enggan menerima tawaran tersebut untuk menarik ulur simpati si nenek agar lebih besar namun, pada bujukan yang ketiga akhirnya dia mau dan ikut bersama si nenek ke rumahnya.
Tibalah mereka di sebuah rumah yang sederhana beratap satu, Yuna di persilahkan masuk ke dalam.
Nenek itu sangat baik padanya hingga kamar yang dia tempati di bersihkan terlebih dahulu. Yuna hendak membantu nenek itu menolak, katanya tamu adalah raja di rumahnya.
Tak lama kemudian si nenek pergi, dia menyuruh Yuna untuk istirahat.
Yuna tak lagi melawan ataupun menolak, anggukan kecil dari kepalanya menandakan ia siap bersikap penurut pada si nenek.
Setiap harinya Yuna menemani si nenek yang berjualan di pasar, pulang sore hari begitu kegiatan nya.
Berbulan-bulan berlalu, Jungkook baru saja menggelar resepsi pernikahan. Pria berengsek kurang ajar itu, selalu mengingat Yuna dan di hatinya ada gadis polos tersebut.
Sempat mengalami depresi karena di tinggal wanita yang paling ia cintai, tapi dia tidak pernah sadar akan kesalahan yang telah di lakukan hanya kesalahan pahaman yang ia tidak mengerti.

....... Yuna selalu mendengarkan si nenek yang bercerita tentang cucunya yang tampan, dan dia sempat di buat keliru dengan kedatangan seorang gadis cantik bertubuh seksi bagaikan model.
Dia pun berkenalan baik dengan gadis cantik itu, nenek bilang kalau gadis itu sangat menantikan kepulangan cucunya. Maka nya setiap hari gadis itu pergi ke rumah nenek, memberi perhatian lebih bagaikan keluarganya sendiri.
Yuna memandangi kepergian gadis cantik tersebut, mereka sudah akrab dalam beberapa bulan belakangan ini.
Usia kandungan Yuna semakin memperlihatkan perut yang membesar, saat dia akan membuat susu, kemasan di dalam kardus kotak yang sedang ia pegang kosong tidak ada isinya sedikitpun.
__ADS_1
Ia pun berjalan ke arah ruang tamu dan berpamitan pada si nenek untuk pergi ke tempat minimarket terdekat, nenek sempat melarang tapi karena ucapan Yuna yang menyakinkan akhirnya ia bisa pergi.
Di minimarket sejauh 500 meter dari rumah, Yuna sibuk melirik rak yang berjejer di sisi kanan dan kiri tubuhnya.
Sambil mendorong troli, ia berjalan mencari dus yang biasa ia beli.
Setelah menemukan apa yang ia cari, saat hendak berbalik dan tangan nya menggenggam dus kotak. Ia bertabrakan dengan seorang pria, hingga dus yang ia genggam terjatuh ke bawah kakinya.
Baiknya si pria itu membungkukkan tubuhnya, mengambil dus kotak yang di jatuhkan Yuna perlahan bangun dan berdiri kemudian mengulurkan tangannya.
"Maafkan saya yang kurang hati-hati berjalan?" pria itu memasang wajah yang terkejut, saat menatap Yuna yang sangat ia kenal
"Jaehyun!" ucap Yuna sama terkejutnya
"A-pa yang kamu lakukan di sini?" Jaehyun dengan tenangnya menyimpan dus kotak di tangannya ke dalam troli karena Yuna tida mengambil barang yang dia jatuhkan
Yuna terdiam, tangannya begitu gemetar dan takut menceritakan. Jaehyun pun menenangkan Yuna, dengan membantunya membawa troli ke tempat kasir.
"Tunggu dulu Jaehyun!!!" Yuna berusaha mengejar Jaehyun, walaupun langkahnya tidak secepat dulu
Jaehyun tidak banyak bertanya sampai mereka keluar dari minimarket dan muali berinteraksi di sebuah cafe, "Jaehyun, bagaimana kabar mu?" Yuna memberanikan dirinya, bertanya pada sosok pria hangat nan lembut.
"Aku seperti biasa baik-baik saja, kamu pergi tanpa bilang walau aku tahu kamu menuju ke kota ini?" perkataan Jaehyun membuat Yuna berpikir macam-macam mungkin teman prianya tidak bertanya karena mengetahui segalanya dan menjadi seorang penguntit tak terlibat selama ini
"Aku tahu karena beberapa bulan kebelakang, setelah kamu pergi dari kos. Keesokannya saat aku sedang bekerja, aku melihat kamu keluar dari tempat mu bekerja, wajah yang gelisah kekhawatiran yang tak dapat di sembunyikan juga kamu menangis, tadinya aku akan menghampiri mu tapi kamu berlari dan naik bus," terang Jaehyun menghapus kesalah pahaman Yuna
"Apa kamu tahu kondisi ku saat ini?" Yuna di hantui perasaan malu dan takut Jaehyun mencemooh dirinya
"Kamu terlihat gendutan... Hahaha...." seperti teman yang baik yang selalu membawa canda dan guraunya, Jaehyun membuat Yuna merasa rileks dan melupakan ketegangan yang di rasakan
"Jaehyun, aku serius!"
"Aku juga serius, apa kamu banyak makan belakangan ini?"
"Aku sedang hamil,"
Jaehyun langsung terdiam, bibirnya yang tadinya berseri-seri kemudian tertutup rapat lalu menatap Yuna dengan tatapan rendah.
"Terimakasih." Yuna tertunduk karena malu, ia tidak ingin memperlihatkan ketersipuan menanggapi kata-kata Jaehyun
Keduanya membicarakan banyak hal, sampai harus terpisah karena Yuna mengingat nenek di rumah hanya seorang diri.
Jaehyun berniat mengantarkan Yuna, tetapi gadis itu menolak. "Kamu akan membawa barang belanjaan mu yang banyak ini, hanya menggunakan dua tangan. Ada Jaehyun, semuanya pasti beres kamu menjadi pemandu ku. Aku antar kamu ke rumah," Jaehyun mengangkat semua kantong keresek putih yang cukup besar
Yuna tersenyum mendapat pertolongan dari Jaehyun, sepanjang jalan menuju rumah Yuna bertanya pada Jaehyun mengenai kedatangan pria itu kemari.
Jaehyun menjawab kalau kedatangan nya ingin berkumpul dengan keluarga, karena ia tidak menemukan saudara yang ia cari di jakarta.
Jaehyun juga menceritakan dia sengaja mengambil banyak pekerjaan bahkan berpindah-pindah tempat kerja, hanya untuk mencari sosok pria yang menjadi adik nya.
"Jadi bukan mencari uang?" tanya Yuna menoleh ke samping memandangi Jaehyun
"Bukan, tapi lumayan juga uangnya menambah jumlah nominal TabunganKu yang sedikit menjadi banyak," Jaehyun pun terkekeh dengan candaan nya menghibur Yuna dari kenangan kelamnya
Saat perjalanan menuju rumah si nenek, Jaehyun sangat mengenal lingkungan yang ia lintasi, jalanan yang begitu akrab juga rumah yang berdiri kokoh di hadapannya tak asing lagi.
"Apa kamu tinggal di sini Yuna." Jaehyun masuk ke dalam gerbang pagar yang baru saja Yuna buka
"Iya, ini bukan rumah ku... tapi rumah nenek yang baik hati telah menolong ku." Yuna membawa masuk Jaehyun ingin segera memperkenalkan pria itu pada neneknya
"Nek, aku pulang." Yuna menghampiri si nenek tengah sibuk dengan pekerjaan nya di dapur
"Yuna, kamu kenapa lama sekali?"
"Aku bertemu teman dari jakarta Nek, dia ada di ruang tamu, maukah nenek menemuinya!"
"Ada tamu ko kamu diam saja, cepet bikin sesuatu untuknya. Nenek yang akan menyapa, kamu buatlah minuman dan ambil cemilan di lemari ya." si nenek menunda pekerjaan nya, mencuci tangan bergegas pergi keluar dari dapur
Ketika Yuna tengah membuat minuman dingin untuk Jaehyun, tiba-tiba saja mendengar suara berisik dari ruang tamu sampai ke dapur.
__ADS_1
Suara tersebut berasal dari tawa si nenek yang tengah gembira, Yuna sangat penasaran padahal sikap nenek pada pria yang tidak di kenal baik kurang akrab dan manis.
Sangat tergesa-gesa Yuna membawa nampan yang di genggam kedua tanganya, berjalan menuju ruang tamu. Tak di sangka Jaehyun tengah memeluk erat si nenek, membuat Yuna syok dan menjatuhkan nampan yang di bawanya.
"Jaehyun!!!" teriak Yuna berlari menghampiri keduanya
Yuna memarahi Jaehyun habis-habisan karena berperilaku yang tidak patut pada seorang nenek, ia tak menyangka Jaehyun menyukai wanita tua juga.
Sampai-sampai Yuna hampir mengeluarkan pukulan tangannya, kalau tidak di cegat si nenek.
"Yuna, ini cucu nenek yang sering nenek ceritakan... apa kamu sudah lupa?"
"Cucu nenek... Kenapa tidak pernah mengatakan namanya padaku, pantes daritadi Jaehyun terus berbicara pernah ke sini," Yuna menurunkan ekpresi kesalnya berubah menjadi malu dan tak enak hati
Jaehyun tertawa untuk membuat Yuna tidak merasa bersalah, ia pun mengatakan kalau dia baik-baik saja. Memang sengaja tak memberitahu Yuna, ia berdalih ingin membuat surprise kecil untuk temannya.
Mereka bagaikan keluarga yang sudah lengkap dengan kebahagiaan kecil, Yuna sudah di anggap cucu oleh si nenek.
Kebersamaan mereka akan terus seperti itu, di hari berikutnya Jaehyun mendapat seorang tamu yang sudah lama menanti kedatangan nya.
"Rose," Jaehyun memanggil nama wanita yang sering berkunjung kata Yuna
Mereka berdua menjadi akrab karena berteman sejak kecil, Jaehyun sering pergi keluar menemani Rose yang sengaja mengajaknya setiap saat.
8 bukan kemudian................ >>>>>
Yuna sedang berada di sebuah toilet rumah sakit dengan urusan pribadinya, sedangkan Jaehyun baru saja selesai mengurus biaya pengobatan dan mengurus administrasi lainnya.
Dia berkeliling menuju ruangan pemeriksaan bayi, sampai di sana bayi kecil Yuna tengah di gendong oleh seorang pria yang terasa kenal Oleh dirinya tapi ia tidak tahu nama dan identik siapa dia baginya.
"Kemana Ibunya?" tanya Jaehyun sesaat dia sampai di depan pria yang tengah menimang bayi Yuna
"Ohh... Apakah kau ayah dari bayi ini." Pria itu menatap wajah Jaehyun dengan teliti
"Bayi ini milik seorang perempuan yang aku kenal, kembalikan padaku." Jaehyun mengulurkan tangannya, bersiap menerima bayi Yuna
Pria tersebut memberikan bayi yang tengah di gendong olehnya ke tangan Jaehyun.
"Biasanya Soobin suka menangis kalau di gendong orang asing, tapi sepertinya tidak dengan mu. Kau memiliki jiwa seorang Ayah, apa kamu juga sudah berpengalaman dalam menangani bayi?" tanya Jaehyun basa-basi
"Aku belum punya anak, aku dan istriku tengah berusaha memiliki keturunan. Kata Suster, bayi mu boleh di bawa pulang dan tidak perlu menginap lagi di sini," ujar pria itu menyampaikan pesan suster padanya
"Akhirnya jagoan kecil kami bisa pulang, Yuna pasti bahagia apalagi neneknya," perkataan Jaehyun yang menyebut nama wanita sangat di kenal pria itu memancing perasaan berdebar di jantungnya
"Siapa yang tadi kamu sebut?!" tanya pria itu mendekati Jaehyun
"Yuna dan nenek, memangnya kenapa?" Jaehyun langsung menaruh rasa curiga pada pria tersebut
"Nama Yuna bukan satu saja di dunia ini, mungkin dia wanita yang berbeda dengan orang yang aku cintai," sepintas pikiran pendek pria itu, ia tak melanjutkan pertanyaan nya
"Kau sedang apa di sini, menunggu istrimu atau...." perkataan Jaehyun langsung di sela Pria itu
"Aku hanya lewat, tadinya ingin keruangan dokter kandungan tapi aku tidak tahu arahnya," ucap pria itu cemas
Jaehyun menjelaskan tempat ruangan yang tadi pria itu sebutkan, setelah mengerti akan pepatah dari Jaehyun pria itu tersenyum dan mengucapkan terimakasih.
Saat membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah pergi, suara wanita yang familiar dengungan nya menariknya berbalik kebelakang lagi.
"Jaehyun!!!" teriak Yuna mempercepat langkahnya menghampiri teman setianya
"Ohh... Yuna." Jaehyun tersenyum lega

Sudah hampir dua tahun, pria itu tidak melihat Yuna dan terus mencari keberadaan nya. Tak di sangka takdir menemukan nya, di tempat umum seperti ini.
"Yuna," hatinya memanggil nama kekasih yang hilang dari jangkauan tangannya

__ADS_1
Wajah yang masih tetap cantik, juga senyuman merekah yang memikat, pesona yang tidak pernah luntur, keanggunan yang selalu terpancar, kejelitaan tidak pernah tergantikan.
Bersambung..................