
© Naughty perfect Men ©
**attention !!!!
-like sebelum baca tanda pengenalan yang baik
-berikan komentar baik terhadap cerita ini
-konten dewasa
-di butuhkan kerja sama antara pembaca untuk membangun suasana yang harmoni
-semoga suka
-typo**
{Yuna pov}
Aku terbangun dari rasa pusing yang mengelilingi pusat pikiranku, deruh napas normal masih terjaga ketika aku menghirup udara.
Namun, aroma menyengat mulai memancing perhatian ku. Mengarahkan pandangan ku keluar dari kamar yang pernah aku lihat sebelumnya, aku baru menyadari kalau aku tengah duduk di tempat tidur orang lain.
Setelah berpikir cukup lama untuk mengenali tempat ku berada, aku sungguh syok dan takut, mengapa bisa aku berada di sini.
Aku turun dari ranjang berjalan cepat ingin segera keluar dari kamar, melihat ke sekitar ruangan terdapat seorang laki-laki yang sibuk memasak.
Sedikit demi sedikit langkah ku mendekati sosok dirinya, pada akhirnya langkah kakiku terdengar juga olehnya.
"Cantik sekali kamu mengenakan pakaian itu, Yuna." pria yang ku kenal sebagai atasan di kantor itu memuji diriku, padahal setahuku
Aku hanya mengenakan pakaian biasa santun dan tertutup, tetapi melihat cara dia memandangi ku.
Membuatku penasaran, apa benar dengan pakaian yang sederhana ku kenakan menarik perhatian matanya hingga kehilangan fokus.
Ketika aku memeriksa keadaan tubuhku, pakaian yang melekat di tubuhku terganti dengan pakaian casual nan elegant.
Atasan yang aku kenakan tembus pandang tetapi tidak memperlihatkan bentuk tubuhku dengan jelas, karena daleman hitam menghalangi pandangan.
"Pak!! Anda yang mengganti pakaian saya?!" tanyaku merasa jengkel, beraninya dia mengganti tanpa bertanya terlebih dahulu
"Iya, aku yang mengganti nya. Pakaian yang kau kenakan tadi, membuat selera gairah ku hilang. Tapi kini, kau bertambah cantik Yuna," jawabnya di hiasi kata-kata yang membuat ku semakin kesal
"Dasar mesum, seberapa banyak yang kau lihat hah!!" Aku berjalan mendekatinya dengan langkah yang tergesa-gesa hampir saja tersandung, karena pertahan tubuhku kuat aku bisa berdiri tegak kembali
"Semuanya, aku puas melihat bentuk tumbuh mu yang indah itu." goda nya sembari tersenyum menyeringai
Aku kehabisan kata-kata untuk memarahi pria brengsek itu, tiba-tiba saja tubuhku merasa lemas dan kehilangan fokus.
Aku hampir terjatuh, untung saja dia cepat berlari ke arahku.
Menangkap tubuhku dengan tangannya, ia menuntunku untuk duduk di atas kursi.
"Diamlah di sini, aku tengah memasak sebentar." Pak CEO meninggalkan ku, aku sendiri bingung kenapa dia rela berkeringat walau suhu di atas kompor api yang menyala sangatlah panas
Sangat teliti dan hati-hati Pak CEO mengendalikan masakan dengan spatula.
Aku bisa melihat kegigihan di raut wajahnya, tampan memang benar aku tidak dapat menampik kebenaran yang sudah jelas aku pandang.
Dia begitu berkharisma terang, menenangkan jiwa yang kacau karena melihat dia terdiam dalam ketampanan yang hakiki.
"Yuna, lihatlah kemari!" pintanya sambil tersenyum kedua tangannya yang lihai memutar piring yang berisi masakan yang berhasil ia buat
Bibirnya yang mengerut juga ekpresi wajahnya yang imut, membuatku terhanyut dalam keceriaan yang dia buat.
Tanpa sadar aku memberikan respon senyuman tulus dan gembira, kepadanya.
Aneh, kenapa pria yang nakal di depanku terlihat manja dan baik, tidak ada rencana licik ataupun senyuman picik yang terlihat seperti biasanya.
__ADS_1
Dia bagai bayi yang baru saja di lahirkan, menggemaskan juga mencairkan suasana.
Dengan gerakan yang gesit, dia berjalan ke arah ku tanpa terhitung setiap detik pergerakan tubuhnya.
"Buka mulut mu!" pintanya tersenyum menggombal
Aku membuka mulut ku, saat itu aku melihat sendok yang penuh dengan kentang goreng bersaus manis, di depan mataku.
Aku mengunyah makanan yang baru saja Pak CEO suapkan, dia bertanya dengan wajah girang mengenai masakannya.
Aku sibuk merasakan enaknya masakan yang ia buat, sampai aku lupa telah mengabaikan pertanyaan dari nya.
"Enak atau tidak?!"
"apa kau ini tuli sehingga tidak mendengar apa yang aku tanyakan?!!" sorot matanya tajam searah dengan tatapan mataku, entah bagaimana aku bisa menjelaskan rasa makanan yang baru saja aku telan
"Ya... Lumayan, bumbunya sangat meresap ke dalam ubi juga tekstur nya lembut saat di gigit," jawabku setelah mengingat-ingat kejadian dalam kunyahan tadi
"Ohh benarkah, kalau begitu habiskan ini. Aku harus mengganti pakaian, bau nya tidak sedap di hirup." Jungkook memberikan ku piring berisi ubi goreng masakannya, sesudah aku terima dia pergi tanpa meninggalkan kata-kata lagi
Pria yang tingginya 178 dan bergigi kelinci kalau dia tersenyum lebar, menyetuh hatiku yang terluka akibat ulahnya tadi malam.
Aku menghabiskan masakannya dengan lahap, setelah selesai aku makan dan masuk ke dalam perut.
Aku pun beranjak pergi untuk mencuci piringnya, saat kedua tangan ku sibuk membersihkan peralatan masak yang sengaja aku ambil untuk di bersihkan.
Jungkook menarik tanganku di masukkan ke dalam kucuran air di atas wastafel, dia membantu ku membersihkan tangan dari noda sabun yang mengotori.
"Apa yang kau lakukan pak!" Aku menatap wajahnya, yang terlihat sangat sibuk membersihkan kedua tangan ku
"Pertama!! jangan panggil aku dengan sebutan bapak... Yuna, kita hanya tinggal berdua di sini." Dia menarik tanganku, mengambilkan handuk dan mengelap air yang masih menempel di permukaan kedua tangan
"Tapi, saya tidak bisa memanggil anda dengan sebutan seperti nama panggilan anda. Saya tahu batasan, anda tidak usah berbaik hati pada saya." sesaat aku berpikir kalau aku itu sangat nyaman di perhatikan olehnya, tetapi mengingat kebencian yang masih menjadi masalah utama, aku pun menjauhkan diri darinya
"Terimakasih atas makanan yang anda buat, juga pakaian yang anda berikan. Saya belum bisa membalas budi kebaikan anda ini, tolong kembalikan jaket dan pakaian saya. Pak!" paksa ku memohon pada atasan ku, CEO Jeon Jungkook
Plak!!!!
Tamparan keras aku terima di sebelah pipi kiri, aku langsung syok rasanya jantung berhenti berdenyut saat ini.
"Tidakkah kamu bersyukur hah... Aku bukan atasanmu di sini, aku adalah seorang pria yang mencintaimu, perhatian ku tulus, aku lakukan untukmu. Apa kamu tidak melihat itu, Yuna. Sudah berapa kali, kau membuatku marah!!" cerutus Jungkook yang mulai kehabisan rasa sabar menghadapiku, matanya merah melotot giginya seperti mengancam karena membuat bentuk gigitan
Terasa sesak akan tetapi, terhanyutkan oleh jantungku yang berdegup kencang, pelukan nya berbeda dari pertama kali aku rasakan waktu itu.
CEO yang sedang memelukku seperti seorang pria yang memberikan kasih sayangnya.
"Tapi aku menyukai pria lain, aku tidak bisa menyukai mu." Aku mendorong tubuh nya sekuat tenaga, agar tidak terus berada dalam dekapan nya
"Siapa yang kau sukai itu, aku ingin tahu bagaimana orangnya. Apa dia jauh lebih baik dariku, mungkin saja dia yang terburuk untukmu," cerca nya belum puas dengan jawaban yang aku berikan
"Kamu tidak bisa membandingkan, dia ataupun dirimu sendiri. Kalau aku mengatakan yang jujur, dia lebih baik darimu. Segalanya, kamu lebih buruk di banding dia," ku perjelas lagi tentang seseorang yang aku cintai, tetapi pak CEO belum menyerah pada kata-kata yang sudah menyakiti hatinya
"Apa yang berbeda dari kami berdua, kami sama-sama laki-laki, hah... Katakan padaku." Kedua tangan Jungkook, mencengkram bahu ku, rasa sabar tak lagi jadi penahan pembuat kegaduhan
Aku merasakan nyeri, semua jari tangannya seakan menusuk ke dalam tubuh.
Karena terus tekan di tambah Jungkook yang tidak bisa diam, aku akhirnya mengatakan.
"Dia tidak suka bermain dengan banyak wanita, kesetiaan nya hanya pada 1 orang yang menjadi tujuan hidupnya. Tidak pernah menggoda wanita lain, mempermainkan bahkan menghancurkan harga dirinya," ucapku di sertai suara lantang, setelah itu Jungkook mulai melepaskan cengkraman tangannya di sekitar bahu ku
"Sebaliknya yang Anda lakukan, anda menghancurkan kehormatan wanita, mempermainkan nya. Bahkan menghancurkan masa depan nya, tidaklah anda berpikir... Anda yang sudah keterlaluan pak!!!" bentak ku memarahi CEO Jungkook yang kurang ajar
Satu lagi tamparan yang aku terima di sebelah pipi yang belum dia tampar, rasanya sakit sekali sampai ke tulang rahang.
Aku terjatuh di bawah kakinya, tangisan ku meriuhkan suasana yang semakin mencengkam.
Hiks... Hiks... Hiks... Hiks...
Hiks... Hiks... Hiks... Hiks...
Hiks... Hiks... Hiks... Hiks...
Banjiran air mata terus mengalir keluar dari mataku, rasa sakit terasa perih sepertinya membekas mewarnai wajahku.
{Author pov}
Jungkook telah menyakiti perasaan Yuna, gadis itu tidak bisa di luluhkan dengan kata-kata dan perlakuan.
"Kau sangat keras kepala Yuna, kini saat nya memberimu sebuah pelajaran yang dapat melupakan pria bodoh yang kau cintai itu." Jungkook menarik kedua lengan Yuna untuk berdiri
__ADS_1
"HENTIKAN!!!" Yuna menarik kuat tangannya hingga terlepas, ia berusaha melakukan perlawanan
Tetapi Jungkook tidak tinggal diam, dia memukul pundak Yuna sampai jatuh pingsan.
Gadis itu tergeletak di lantai, Jungkook segera memangku tubuh Yuna.
Membawanya keluar dari kamar hotel, dengan gerak langkah yang terhitung cepat.
Dia berjalan melewati tangga darurat, agar tidak terlacak oleh CCTV yang di pasang Ibunya untuk mengawasi kegiatan nya.
"Maafkan aku Yuna, aku tidak bisa membiarkan mu jatuh cinta pada pria lain. Hanya aku yang berhak kau cintai, kau untukku dan milikku selamanya," gimana Jungkook berusaha cepat melangkah
Jungkook berlari menuju parkiran blok G, mencari keberadaan mobilnya.
Sesampainya di depan mobil, Jungkook membaringkan tubuh Yuna di jok belakang.
Buru-buru masuk ke jok depan, lalu menyilangkan sabuk pengaman di tubuhnya.
Mesin di nyalakan, Jungkook segera mengeluarkan mobilnya dari tempat parkiran keluar dari gedung bertingkat.
Ia mengendarai roda empat Lamborghini nya pergi ke suatu tempat, menyeberangi pulau dengan memesan tiket perjalanan laut naik ke kapal ferry.
Ketika dalam perjalanan menuju lombok, ia sering kali melihat kebelakang memastikan keadaan Yuna takut terbangun dan membuat keonaran mengagalkan rencana.
Untungnya Yuna belum sadarkan diri, Jungkook masih bernapas lega dan merasakan rileks.
.................**✿❀ ❀✿**...............
Mobil Lamborghini nya berhenti di pelabuhan bangsal, kini ia harus mengendarai kendaraan roda empat nya menuju trawangan dimana teman-temannya tinggal.
Perjalanan panjang di tempuh beberapa jam kemudian, ia tengah memangku tubuh Yuna membawanya ke tempat hotel yang sudah di pesan.
Dari jajaran kamar yang terlihat sama, Jungkook bertemu dengan teman lamanya.
Dia berinteraksi dengan kedua rekan yang telah lama menunggu kedatangan tiba, mereka mengarahkan Jungkook ke sebuah kamar di tengah-tengah kamar mereka berdua.
"Kook, di sinilah kamar mu." ujar seorang pria bertubuh tinggi sepantaran dengan Jungkook
Segera saja Jungkook masuk ke dalam, ia memindahkan tubuh Yuna perlahan dari pangkuan tangannya ke atas seprei putih.
"Kook, apa wanita yang kau maksud itu dia?" tanya seorang teman yang memakai anting rantai kecil di kedua telinganya
"Iya, dia satu-satunya wanita yang tidak pernah takluk padaku. Aku sangat menginginkan dia, keramahan ku tidak juga membuat dia luluh. Aku terpaksa bermain kasar padanya, agar dia sedikit patuh padaku." lalu Jungkook bergerak menarik selimut untuk menutupi tubuh Yuna
"Cik.. Cik... Cik. Baru pertama kalinya, Jungkook tidak bisa mengalahkan hati wanita yang rapuh, mereka itu egois. Awalnya saja menolak keras, tidak ingin di sentuh atau di perlakukan manis. Tapi kalau uang sudah keluar, mereka rela menyerahkan hidup dan mati," ucap nyeleneh seorang temannya, Jungkook hanya menanggapi dengan mengangkat sudut bibirnya ke atas
"Sudah ku berikan melebihi bayaran yang biasa aku keluarkan, dia malah mengembalikan uang itu." Jungkook duduk membelakangi tubuh Yuna
"Apa?! yang benar wanita itu sama sekali tidak terlalu pada uang?" tanya si nyeleneh masih tidak percaya
"Iya, uang ataupun emas dan berlian. Dia tidak menyukainya, katanya cinta dan kesucian tidak mudah di dapatkan. Walau aku sudah merebut darah perawan nya, tetap saja dia tidak mau dengan ku." Jungkook menundukan kepala sejenak, pundaknya terasa berat akibat dari menyetir terlalu lama
"Kita bicarakan hal ini nanti, kau terlihat lelah Jungkook. Tidurlah, besok pagi barulah bercerita kembali." teman yang memakai anting di kedua telinganya, menepuk bahu Jungkook memberikan support padanya
"Aku pergi, kau juga harus pergi jangan ganggu dia." si pemakai anting cukup panjang tersebut menarik temannya yang nyeleneh ucapannya, mereka berdua pergi keluar
Jungkook bangkit dari tempat tidurnya, mengunci ganda pintu kamar.
Langkah lelah terasa menyakiti telapak kakinya, ia sudah tak bisa lagi berdiri tegak.
Jungkook membaringkan tubuhnya di samping Yuna, memeluk erat tubuh gadis itu seakan menjaga dari ketakutan menghilang nya dia kembali.
"Selamat malam Yuna." ucap Jungkook sembari menutup matanya
To be continue.............
A/N:
Jungkook sangat kejam ya di sini, dia berani main tangan. Entah apa tujuan dia, membawa Yuna ke luar pulau Jawa.
2 temannya masih misterius, apakah mereka baik atau sama bejat nya dengan Jungkook.
Yang penasaran pengen cepat di up di mohon pengertiannya buat vote and comment!!!
. Susah ngetik apalagi suka surut rasa smangat
. Ide tidak mudah ini dapat
. Hargai karya author yang udah cepe ketik mikir keras
__ADS_1
See you.... 🙃🙃🙃