Naughty Perfect Men

Naughty Perfect Men
Di renggut apa yang Paling berharga


__ADS_3

 


© naughty perfect men ©


 


**attention !!!!


-berikan komentar baik terhadap cerita ini


-konten dewasa


-di butuhkan kerja sama antara pembaca untuk membangun suasana yang harmoni


-semoga suka


-typo**


Author POV


Yuna memundurkan langkahnya, menjaga jarak dengan Jaehyun setelah selesai membantunya.


"Makasih." Yuna tersenyum lebar, sebagai penanda rasa makasih terimakasih nya


Jungkook terbawa arus kemarahan, sampai tangan kanannya mengepal dan menabrakkan kepalan jari tangan penuh dendam ke arah pintu berkaca bening hingga pecah.


Sontak kejadian itu mengundang banyak mata tersorot padanya, Jungkook menatap para karyawan nya dengan rasa kemarahan.


Tatapan melotot Jungkook sangat di takuti jajaran staf yang bekerja padanya, laki-laki itu berjalan menuju ruang kerja.


Ketika di sapa oleh Sana pun tak menjawab, Yuna berpamitan pada Jaehyun dan memutuskan untuk memasuki gedung kantor.


Beberapa office boy sedang membersihkan serpihan kaca yang berserakan di lantai teras.


"Kemana pintunya?" Yuna menghentikan langkah kakinya, untuk memilih jalan yang tidak ada pecahan beling


"Baru saja di pukul oleh Tuan Jungkook," jawab salah satu office boy yang sedang menyapu


"Apa! Kenapa pak CEO melakukan ini." Yuna melangkah ke teras yang tidak ada serpihan kaca


"Tidak tahu, mungkin dia di buat kesal oleh para wanita yang sering mengadu kemari," sahut office boy lagi


Yuna melangkah memasuki lorong gedung, ia sudah mengetahui cukup banyak informasi di depan.


Ia menaiki lift naik ke lantai 24 dimana tempat ruang kerjanya, Ting suara pintu lift terbuka.


Berjalan mendekati ruangan yang bertuliskan direktur utama, Yuna menyapa para staf yang berkeliaran di sekitarnya.


Saat ia melirik ke sebelah ruangan, ia menyapa Sana dan terkejut ketika namanya di panggil.


"Apa mbak tahu namaku?" Yuna menunjuk dirinya sendiri


"Waktu itu Tuan Jungkook memanggil namamu," jelas Sana


"Ohh... begitu, mbak dimana barang yang aku titipkan itu. Kenapa mbak nggak hubungi aku?" Yuna berjalan mendekat ke meja resepsionis


"Maaf Yuna, Tuan melarang saya mengambil barang anda di dalam. Apalagi saya takut Tuan mencurigai saya, telah membantu Anda," ungkap Sana memberitahu alasannya


"Baiklah mbak, nggak papa lagian saya kembali bekerja di sini." Yuna tersenyum pesimis seakaj semangatnya menghilang di jalan terbawa angin


"Selamat kalau begitu, hati-hati saja." Sana tersenyum mengingat ia tak dapat membantu lebih banyak lagi

__ADS_1


Yuna hanya mengangguk gadis itu memutar tubuhnya, berjalan ke arah pintu lalu melenggang masuk ke dalam ruangan.


Pintu tertutup rapat secara otomatis, Yuna melirik ke meja kerja Jungkook yang tak menemukan sosok laki-laki itu.


Ia menghembuskan napas lega, sembari melangkahkan kaki menuju tempat duduknya.


Ketika itu tangannya di tarik hingga ia memutar balikkan tubuhnya, juga di dorong dan di sudut kan ke papan pintu masuk.


Laki-laki dengan tatapan mata menyoroti dirinya, Yuna merasa silau akan wajah merah seorang Jungkook.


Aura menyengat suasana menyuntikkan zat kekhawatiran ke dalam dirinya.


"Pembangkang yang berbohong dengan lidahnya yang lihai mengolah kata," bentak Jungkook tak dapat mengontrol puncaknya emosi


"Maksud bapak apa?!" Yuna menguatkan hatinya yang terasa lemah menghadapi situasi menegangkan


"Pria yang mengantar mu tadi, bukankah pembuktian bahwa kau berbohong akan ucapan mu?"


"Jaehyun," batin Yuna memanggil namanya temannya


"Dia...." belum sempat Yuna mengatakan klarifikasi tentang sosok pria yang mengantarnya, Jungkook mendaratkan bibirnya memberikan ciuman kasar


Lidah Jungkook yang sudah mahir tak perlu lagi diragukan kemampuan ciumannya, juga pengalaman Yuna yang baru pertama kalinya melakukan kissing.


Jungkook mengkaitkan lidahnya beradu akting bersama lidah Yuna, manis sangat terasa kenikmatan yang berbeda di rasakan olehnya.


Gadis itu tak membalas ciumannya dan berusaha memberontak, Jungkook merangkul punggung Yuna agar bersatu dengan tubuhnya.


Hanya terdengar suara decapan di seluruh ruangan yang berasal dari lidahnya yang pandai bergulat di dalam rongga mulut Yuna.


Melihat reaksi Yuna yang terdiam tanpa mengeluarkan ekspresi nya, perlahan Jungkook melepaskan ciumannya bersama dengan kedua tangannya yang mulai merenggang berakhirnya sebuah pelukan.


Jungkook meraba bibirnya sendiri menghapus air liur yang basahi, sambil terus menatap Yuna.


"Heh... kenapa kau menangis, bukankah kau sering melakukan nya?"


"Melakukan apa?!" bentak Yuna yang tak bisa lagi menahan rasa sabar


"Ciuman," jawab Jungkook lantang


"Kau tidak bisa mengenali mana yang suci ataupun yang sudah mahir melakukan itu, bibir ku yang lembut kau nodai aku telah kehilangan sebagian keperawanan diriku." Yuna mendorong kasar tubuh Jungkook tidak peduli akan tidnagakan kasarnya mendapat resiko besar, dengan segera tangannya menarik kenop pintu dan berlari keluar mencari kamar mandi


"sebagian keperawanan diriku... apa aku telah merenggut ciuman pertamanya." Jungkook menatap ke arah pintu, dimana ia melihat bayangan Yuna yang sedang berlari sebelum pintu tertutup dengan sendirinya karena sistem otomatis yang di rancang oleh teknologi canggih



Sana yang melihat Yuna kebingungan dan mendapati wajah gadis itu memerah segera menghampirinya.


Di WC wanita


Yuna terus berkumur-kumur membuat nya kehilangan banyak tenaga, ia terduduk lemas di lantai.


Sana yang baru saja datang berjongkok di depannya, bertanya apa yang ia alami di ruang kerja Jungkook.


"Mbak...." Yuna menunduk dengan rasa malu yang sudah menyakiti hati kecilnya yang lemah


"Ada apa Yuna?" tanya Sana sembari merangkul Yuna ke dalam pelukannya, agar gadis itu merasa tenang


"Kenapa pak CEO berbuat kasar padaku, dia menciumku tanpa minta izin terlebih dahulu. Apa aku sangat buruk, hingga menarik perhatiannya," Yuna menangis tersedu-sedu di pelukan Sana


"Dia berbuat tak baik padamu, Yuna. Sudah aku duga sebelumnya, dia pasti hanya ingin mempermainkan mu. Perkejaan yang di berikan bukan tanpa alasan, pasti hanya ingin bermain dengan mu," dugaan Sana selama ini benar terjadi, bahwa Yuna adalah korban dari berpuluh wanita yang pernah ia temui memasuki ruangan CEO perusahaannya

__ADS_1


"harus bagaimana lagi... Aku menjalankan hari-hari berikutnya, kalau hari ini saja dia berbuat begitu padakuu, lalu esok apa yang akan terjadi... semuanya akan di renggut dariku," Isak tangis Yuna tak dapat di tahan, ia terus-menerus menyalahkan kebodohannya


"sabar Yuna, aku pasti membantu mu mencari jalan keluarnya." Sana mengelus lembut punggung Yuna


Dia mengetahui seberapa besar kekecewaan yang di rasakan Yuna, hatinya yang retak juga jiwanya yang resah akan nasib ke depannya.


Jungkook menerobos masuk ke dalam kamar mandi khusu wanita, ia memerintahkan Sana untuk meninggalkan Yuna sendirian.


Sana melepaskan pelukannya perlahan, dia pun bangkit untuk berdiri tegak.


"Maaf Tuan, saya hanya sedang menenangkan Yuna agar tidak terlalu bersedih hati...." ucapan Sana yang tengah mengatakan apa yang di rasakan Yuna di cegat Jungkook, yang langsung mengusir Sana untuk keluar


"Pergi saja, aku akan bicara padanya mengenai perbuatan ku dan bilang pada karyawan wanita jangan masuk ke sini sebelum aku keluar!" perintah Jungkook langsung di tanggapi Sana dengan patuh


Sana keluar dari kamar mandi wanita, berat langkahnya meninggalkan Yuna sendirian mengahadapi Tuan CEO nya.


Tapi ia juga takut akan pemecatan yang langsung di layangkan tanpa ada peringatan padanya.


Jungkook membantu Yuna untuk berdiri, gadis itu tak melawan dan mengikuti ajakan nya.


Ketika itu Jungkook mengambilkan beberapa tisu yang terletak di atas ding-ding.


Entah kemasukan apa Jungkook berbuat baik pada Yuna, ia menyeka air mata Yuna juga menbantu gadis itu mengerikan wajahnya yang basah.


"Katakan maaf atau tidak." ucap Jungkook membuang tisu yang telah ia gunakan ke bawah kakinya


"Maaf pak! bolehkan saya membalas kasar perlakuan bapak tadi." Yuna mendongak wajahnya ke atas, menatap Jungkook dipenuhi rasa benci


"Lakukan untuk membuatmu merasa sudah seimbang," jawab Jungkook


Plak!!!


Tamparan keras ia terima di sebelah pipi kanannya, terlihat penampakan telapak tangan Yuna menempel di sana.


"Kenapa bapak kurang ajar pada saya, apa salah saya pada anda. Saya baru masuk kerja, mana mungkin membuat kesalahan fatal?!"


"Saya tidak menyukai anda berbohong, itu saja," sahut Jungkook singkatnya


"hak pribadi pak memiliki teman laki-laki, anda juga punya teman perempuan banyak kan, anda harusnya merasa... pertemanan takkan menggoyahkan kemampuan," tegas Yuna


"Biarkan saya hidup dengan normal tanpa aturan dari anda, biarlah saya di penjara kalau anda terus memaksa saya menjauhi teman pria saya." Yuna meraih tangan Jungkook, ia menyerahkan dirinya untuk di bawa ke kantor polisi


"Laporkan saya karena melanggar ketentuan dan persyaratan yang sudah di sepakati, tak apa saya harus menjalani hidup 3 bulan di penjara. Saya lebih tidak kuat, bekerja di sini walau satu hari," sungut Yuna mengeluarkan keluhannya yang tak dapat di sembunyikan


"Kembalilah ke meja Anda, saya tidak akan memecat anda atau melaporkan anda ke kantor polisi." Jungkook menepuk pundak Yuna, habis itu ia pergi dari hadapan gadis yang terlukai itu


Yuna menangis kembali, usahanya dan ucapan nya tak di tanggapi baik oleh Jungkook.


"Mengapa takdir berat di jalani." Yuna memandang ke atas langit ruangan berwarna putih, ada guratan hitam menodai warna keindahannya


Yuna melangkah keluar dari WC wanita, yang tadinya para karyawan menunggu dirinya keluar pura-pura sibuk dengan pekerjaan.


Walau mereka penasaran apa yang sedang terjadi pada dirinya, namun enggan menunjukan.


Yuna menghiraukan pemandangan yang ia lihat, terus menatap ke depan juga berjalan melewati tempat resepsionis dimana Sana bertugas disana.


"Yuna," ucap pelan Saja


Blam.........!!!!


Pintu sengaja ia banting, hingga merusak kabel otomatis dan mematikan kecanggihan teknologi yang di miliki papan pintu tersebut.

__ADS_1


To be continued.........


__ADS_2