
"Kau memiliki kesulitan dalam belajar Raf?" tanya Nayra ketika mereka baru selesai sarapan
"Tidak kak, meskipun dulu aku putus sekolah. Tapi aku masih belajar dari buku-buku yang kutemukan di tempat sampah" papar Rafka sembari membawa piring kotor mereka ke tempat cuci piring
"Jadi kau siap dengan ujian akhir semester yang sebentar lagi dimulai?" Nayra mengetahui di SMP Rafka akan diadakan ujian akhir semester, karena pelaksanaan ujian ini bersamaan dengan SMA nya
"Sebenarnya belum kak, aku sudah ketinggalan materi pelajaran" sahut Rafka yang masih fokus mencuci piring
"Baiklah, kau tidak perlu khawatir. Nanti pulang sekolah aku akan membantumu mempelajari materi yang tertinggal"
Rafka yang mendengarnya langsung menghampiri Nayra "Benarkah?" tanyanya untuk memastikan, Nayra pun menganggukan kepalanya
Senyum cerah langsung terbit di bibir Rafka "Terimakasih kak"
"Aku memiliki satu pertanyaan lagi, apa kamu menyukai penelitian?"
Rafka terdiam sejenak lalu menganggukkan kepalanya
Lalu mereka berdua pun berangkat sekolah karena waktu sudah hampir jam tujuh
***
Seperti yang dikatakan tadi pagi, sepulang sekolah Nayra membantu Rafka untuk mempelajari materi yang tertinggal
Tidak ada kesulitan bagi Nayra saat membantu Rafka karena dirinya masih mengingat materi apa saja yang dipelajari saat kelas 7
Dengan telaten Nayra memberikan penjelasan pada Rafka, bahkan saat ini meja ruang tamu sudah penuh dengan buku-buku pelajaran
Drt drt
Nayra yang masih memberikan penjelasan pada Rafka terhenti ketika mendengar dering dari ponselnya. Dilihatnya siapa yang menelepon dirinya dan ternyata panggilan dari Jonathan
"Aku pergi sebentar, kau teruskan memahami materi yang baru aja ku jelaskan" lalu Nayra pergi ke balkon untuk mengangkat panggilan
"Halo bang, ada apa?" tanya Nayra langsung
[Aku hanya mengabarkan jika ada kemajuan dalam pembuatan penawar racun, dan keberhasilan itu bertambah 5% dari sebelumnya]
"Syukurlah bang, itu kemajuan yang baik"
[Sebenarnya aku ingin menanyakan hal ini Nay, darimana kau bisa mempunyai racun di tubuhmu. Tidak hanya itu saja, bahkan racun itu merupakan racun jangka pendek yang menyakitkan, tapi kau bisa bertahan sampai saat ini] papar Jonathan, sungguh dirinya merasa sangat penasaran setelah melakukan penelitian terhadap racun itu sebelum membuat penawarnya
Nayra terdiam sejenak lalu menatap langit yang sudah gelap "Entahlah bang, mungkin ada suatu hal yang membuat ku bertahan. Tapi aku sendiri tidak tau apa itu"
[Baiklah aku mengerti, itu saja yang ingin ku sampaikan]
"Tunggu bang, ada yang ingin aku inginkan"
[Apa Nay?]
"Sebenarnya aku punya seseorang yang mempunyai minat dengan penelitian. Sayang jika minatnya itu tidak dikembangkan, jadi aku pengen abang membantunya untuk mengembangkan minat nya itu. Bisakah?"
[Baiklah, bagaimana jika besok kau dan dia datang ke perusahaan]
__ADS_1
"Makasih bang"
Setelah itu panggilan terputus, Nayra terdiam dengan terus menatap langit malam sebentar lalu kembali masuk ke apartemen
***
"Dimana aku?" gumam Nayra
Lalu Nayra mendengar suara tawa anak kecil lalu dia melihat di sebuah taman depan rumah yang tidak dia ketahui ada 3 gadis kecil sedang bermain bersama. Lalu ada seorang anak laki-laki seperti berusia 3 tahun juga ikut bermain
Tidak jauh dari sana ada sepasang suami-istri yang menggendong bayi terus menatap sekumpulan anak kecil yang bermain dengan senang. Mereka tampak seperti keluarga harmonis, tapi sayangnya wajah orang-orang itu tidak terlalu kelihatan dan samar
Ketika Nayra melangkahkan kakinya mendekati, tiba-tiba suasana berubah
Dor dor
Didepannya ada sepasang suami-istri yang tergeletak bersimbah darah. Kakinya terasa kaku untuk melangkah, dengan sekuat tenaga Nayra berlari untuk membantu mereka tapi seperti ada dinding kaca yang menghalangi
Dia berusaha untuk memecahkan dinding kaca itu tapi sia-sia, bahkan Nayra juga berteriak tapi seolah dirinya tidak pernah ada disana
Hingga akhirnya tangis nya pecah bahkan kakinya merasa tidak kuat lagi untuk menopang tubuhnya, Nayra menangis sejadinya dengan terus menatap pasangan suami istri yang bergandengan tangan sebelum akhir hayat menghampiri. Hatinya terasa sangat sakit melihat kejadian itu
"Dasar berengsek, sial kenapa kalian tega membunuh mereka. Kalian sungguh berengsek" teriak Nayra tetapi tidak ada yang mendengarnya
Nayra menggeram marah saat melihat si pelaku yang terlihat santai meninggalkan pasangan suami istri itu bersama anak buahnya
Setelah kepergian si pelaku, datanglah seorang gadis kecil menghampiri pasangan suami istri itu
"Mamah ayah" panggil gadis kecil yang sepertinya berumur 6 tahun. Gadis itu langsung menangis di tengah-tengah mamah dan papah nya
Terlihat gerakan dari perempuan itu, dengan tangan yang bersimbah darah ia memegang pipi si gadis kecil
"Kamu harus hidup Put, larilah lari sejauh mungkin agar mereka tidak menemukan mu" jedanya dengan nafas yang mulai tersengal-sengal "Kamu putri mamah yang pintar, larilah nak. Kamu harus hidup dan temukan kakakmu. Sampaikan permintaan maaf mamah karena meninggalkannya. Jagalah adikmu dan antarkan 'mereka' kembali ke keluarganya, mamah yakin kamu bisa melakukannya" nafas perempuan itu sudah tersengal-sengal
Lalu pria yang berada di samping perempuan bergerak mengangkat tangannya yang penuh darah membelai pipi si gadis kecil "Kamu putri ayah dan mamah yang paling pemberani dan pintar. Kami yakin suatu saat kamu mampu untuk bersatu kembali dengan kakakmu. Sampaikan maaf ayah karena meninggalkannya"
Si gadis kecil tidak mengeluarkan suaranya dan terus menangis sembari memegang tangan orang tuanya dengan tangan mungilnya yang ikut terkena darah
Lalu terdengar suara langkah kaki mendekat "Lari cepat lari" perintah perempuan itu pada putrinya
Dengan masih berderai air mata, gadis itu pergi ke ruang pojok yang ternyata ada pintu rahasia. Sekali lagi gadis itu berbalik melihat wajah mamah dan ayahnya yang tersenyum. Akhirnya gadis kecil itu memasuki pintu rahasia itu yang tidak tau apa isi didalamnya
Tak berselang lama datanglah dua orang pria "Wah ternyata dia masih hidup" ucap salah satu dari mereka
"Dasar kalian berengsek" desis si perempuan lalu sebuah peluru langsung bersarang di kepala si perempuan
Pria yang berada disampingnya menangis melihat sang istri tidak ada pergerakan lagi lalu menatap si pelaku dengan tatapan penuh amarah "Suatu saat kalian akan menerima akibatnya"
"Ck diam lah" sarkas teman satunya lalu mengarahkan pistol ke arah kepala si pria
Pria yang menembak si perempuan langsung mengangkat tangannya untuk menghentikan bawahannya. Lalu dia berjongkok dan mencengkeram dagu pria yang terkulai di lantai
"Semua ini tidak akan terjadi jika kau bisa menyerahkan penawar racun itu, tapi kau malah kabur" desis pria itu
__ADS_1
"Aku tidak akan kabur jika dirimu tidak melakukan hal yang tidak manusiawi"
Pria itu berdiri dan menatap sepasang suami-istri itu lalu mengeluarkan suntikan yang berisi cairan berwarna biru dari saku celananya "Bagaimana jika racun ini kuberikan pada putrimu? Bukankah itu sangat menyenangkan" ucapnya tertawa layaknya psikopat
"Kau memang bajingan, seharusnya aku tidak pernah mengenal dirimu" lalu dia menggenggam tangan sang istri dan tersenyum tipis "Dan kau tidak akan pernah mendapatkan penawar racun itu"
Dor
Pria yang tertawa tadi langsung menembak tepat di kepala pria yang terkulai di lantai dengan raut penuh amarah
"TIDAK" teriak Nara dan detik itu juga ia merasa dirinya ditarik kembali ke dunia nyata
"Mimpi itu lagi" gumamnya dengan air mata menetes
Dengan tangan bergetar, Nayra mengusap air mata yang keluar dan terus menatap tangannya "Menangis lagi? Tapi kenapa? Siapa mereka? Apa mimpi itu ada hubungannya denganku"
Banyak sekali pertanyaan yang ada dipikirannya, siapa orang yang ada di mimpinya. Lalu siapa yang dia lihat di mimpi itu? Kenapa terasa sangat menyakitkan ketika melihat mereka meregang nyawa. Kenapa dirinya ikut sedih melihat seorang gadis menangis ketika kedua orang tuanya penuh darah dan seolah gadis itu adalah dirinya
Lalu siapa pelaku pembunuhan itu? Kenapa wajah semua orang yang ada di mimpinya sangat samar
Cukup lama Nayra menangis dalam diam lalu dia berjalan ke balkon kamar dengan membawa ponselnya
Jam menunjukkan pukul 1 dini hari saat dia menelpon dan akhirnya panggilan itu diangkat
[Halo, ada apa Nay lo telepon gue malem-malem gini. Nggak tau apa gue lagi nonton drakor] cerocos Keysa
Nayra terkekeh geli mendengar ocehan sang sahabat, ia tau jika Keysa pasti masih bangun jam segini. Karena kebiasaannya yaitu begadang untuk menonton drakor "Ketahuan papi mami disita tuh laptop lo"
[Ck, iya makanya gue kunci tuh pintu biar papi mami nggak tau. Tapi tumben lo telepon gue jam segini. Biasanya jam segini juga udah ngebo]
"Gue bermimpi lagi tentang 'itu''"ucapnya menatap langit malam
Tidak ada sahutan dari Keysa cukup lama
"Gue merasa itu bukan sekadar mimpi saja, dan firasat gue itu adalah sebuah ingatan" lanjut Nayra
[Apa yang lo pikiran juga sama kayak gue Nay. Entah kenapa gue juga merasa kalo itu bukan mimpi melainkan suatu kejadian yang pernah lo lupain. Karena kalau mimpi tuh nggak selalu sama]
"Sepertinya gue harus menanyakan hal ini ke ibu panti. Karena gue sama sekali nggak inget gimana masa kecil saat usia 6 tahun"
[Gue setuju Nay, dan jika lo butuh bantuan gue maupun papi mami jangan pernah sungkan. Karena kita keluarga sekarang]
"Thanks Key, ya udah gue tutup. Jangan kemalaman lo begadang, inget jaga kesehatan" pesan Nayra lalu memutuskan panggilan
"Jika memang aku pernah hilang ingatan, kuharap segera mengingatnya. Dan segera menemukan titik terang" gumamnya menatap langit malam
Bersambung~
Gimana nih para reader soal chapter kali ini? Hmm apa bener sih mimpi yang selalu hadir itu adalah ingatannya?
Jadi terus pantengin novel ini ya, dan masukkan ke novel favorit biar waktu author update kalian tidak ketinggalan ๐
Jangan lupa tinggalkan like dan komen kalian ๐
__ADS_1
Happy Reading (โงโฝโฆ)
See You ๐