
"Ada yang ingin saya bicarakan tuan nyonya" kata dokter
"Mari ke ruang kerja saya"
Mareta Arka dan dokter pun pergi ke ruang kerja Arka dan mereka duduk di sofa yang ada disana
"Dari selama dua minggu nona Nayra terapi, tidak ada kemajuan sama sekali. Dan saya menyimpulkan jika ada suatu hal yang membuat nona Nayra takut sehingga dalam pikiran terdalamnya tidak ingin mengingat kejadian yang mengerikan ataupun memang ada yang harus dia lindungi sehingga membatasi dirinya untuk mengingat kembali"
"Dan dari pernyataan nya, nona Nayra sepertinya sangat takut pada seseorang sehingga tidak ingin kembali mengingat nya. Seperti yang selalu nona Nayra bilang saat terapi, dia pernah dicekik dan dibuang ke sungai. Mungkin pelaku inilah yang ditakutkan oleh nona Nayra. Tapi ini semua hanyalah dugaan saya"
"Lalu langkah apa yang harus dilakukan agar Nayra mau mengingat ingatannya?" tanya Mareta
"Untuk saat ini mungkin akan susah untuk nona Nayra mengingat karena adanya trauma pada seseorang. Tapi kemungkinan juga ingatan akan kembali jika dipicu dengan bertemu orang yang membuat nona Nayra trauma"
"Terimakasih dok sudah menyampaikan hal ini" ujar Arka
"Sama-sama tuan nyonya, jika tidak ada yang ditanyakan. Saya undur diri" setelah mendapatkan persetujuan, dokter itu pergi dengan diantar kan Mareta
"Ada apa mas?" tanya Mareta yang baru saja mengantarkan dokter
"Mas merasa sedih melihat Nayra, sebenarnya seberapa berat traumanya"
Mareta mendekat dan memeluk sang suami "Kita doakan yang terbaik untuk nya saja mas"
"Kamu benar" balas Arka memeluk Mareta erat
***
"Bang, lo tau Nayra pergi kemana?" tanya Azka langsung memasuki ruang kerja Jonathan
"Nayra? Ya mana abang tau ka"
"Loh tapi kok nggak tau, Nayra udah nggak masuk 2 minggu lo. Juga Rafka adiknya yang izin nggak masuk"
"Abang beneran nggak tau ka, tapi kayaknya 2 minggu lalu om Arka telepon abang kalau Nayra dan Rafka tidak masuk sekolah untuk sementara waktu karena ada hal penting yang tidak disampaikan hal penting apa itu. Tapi kok sampai 2 minggu" herannya
Azka mengedikkan bahunya "Sebenarnya ada urusan apa sih mereka kok nggak masuk lama?" tanya langsung duduk di kursi yang berada di meja kerja
"Entahlah, abang juga nggak tau" balas Jonathan kembali berkutat dengan laptopnya
"Bang, lo pernah mikir nggak sih jika Rafka itu adalah Alviel"
Jonathan langsung berhenti mengetik lalu menutup laptopnya "Pernah ka, tapi abang belum bisa membuktikan jika dia adik kita"
"Seandainya waktu itu gue bisa menjaga Alviel bang, mungkin sekarang kita bisa berkumpul bersama. Dan mamah tidak akan sedih lagi seperti sekarang"
__ADS_1
"Semua sudah takdir ka, kau jangan terus merasa sedih. Kita pasti akan bertemu lagi dengan Alviel suatu saat nanti"
"Iya bang, kalau gitu gue balik dulu" pamitnya pergi dari ruangan kerja Rafka
"Kita pasti akan berkumpul lagi suatu saat, dan rumah ini akan kembali berwarna" gumam Jonathan
***
"Hahhh"
"Kenapa terus menghela nafas gitu sayang? Ada masalah?" tanya Diana yang merasa heran dengan Nara yang tidak bersemangat sejak pagi
"Nayra nggak masuk sekolah mah, jadi Nara nggak ada temen" keluh Nara sembari memakan buah apelnya dengan malas
"Bukannya wajar jika Nayra izin tidak masuk sekolah, mungkin dia sakit atau ada keperluan lain"
"Tapi ini sudah 2 minggu mah Nayra nggak masuk sekolah"
"Sudah kamu coba hubungi?"
"Sudah mah, tapi nomornya tidak aktif. Sebenarnya kemana dia"
"Sebentar, coba mamah telepon tante Mareta. Mungkin Nayra pulang ke Surabaya" Diana langsung pergi ke kamarnya untuk mengambil ponselnya lalu kembali lagi ke dapur. Cukup lama Diana bertelepon dengan Mareta, entah apa yang dibahas
"Ada urusan apa mah, Nayra ke Surabaya. Bahkan sudah 2 minggu?"
"Mamah juga kurang tau, tapi kata tante Mareta ada suatu hal penting yang memang tidak bisa diberitahukan"
Nara kembali menghela nafas tidak bersemangat, lalu dia berpamitan untuk kembali ke kamarnya saja
***
"Kamu bisa hubungi nomor ini dan mengirimkan email, uncle akan terus menunggumu" ucap seorang pria yang tidak terlalu jelas wajahnya memberikan sebuah kertas
"Baiklah uncle, tolong jaga Al dan Rayna. Kita akan bertemu lagi suatu saat nanti"
"Kami akan menunggumu"
Nayra langsung terbangun dari mimpinya, keringat sudah membasahi tubuhnya bahkan nafasnya ngos-ngosan seperti dikejar orang
Kepalanya langsung pusing dan terus berdenyut karena terlalu memaksakan diri untuk mengingat. Sebenarnya siapa pria itu? Apa dia mengetahui masa lalunya
Ceklek
Nayra langsung mengalihkan perhatiannya Keysa yang baru saja masuk ke kamarnya
__ADS_1
"Lo udah baikan Nay?" tanya Keysa yang langsung duduk di pinggiran kasur
"Sedikit pusing" balas Nayra terus memijat pelipisnya untuk meredakan rasa pusing
"Bagaimana terapinya? Apa lo udah dapat sebagian memori?"
Nayra menggelengkan kepalanya "Entahlah Key, gue merasa ada suatu hal yang membuat gue nggak bisa mengingat. Seolah ada tembok yang menghalangi"
Kesya mengangguk kepalanya, seperti yang diungkapkan oleh kedua orang tuanya "Lo tau, dokter yang membantu lo dan Rafka untuk terapi bilang jika ada ketakutan yang sangat besar terhadap seseorang dan membuat lo tidak ingin mengingat kejadian itu. Tapi ada kemungkinan lo dapat ingatan itu lagi jika dipicu dengan bertemu seseorang itu" ungkapnya
Reflek Nayra langsung memegang lehernya, entahlah apa yang terjadi. Mungkin ini akibat dari mimpinya yang dicekik dan dibuang di sungai
"Oh ya, nanti malam ada pesta. Lo ikut ya, sekalian buat refreshing" lanjut Keysa lalu pergi dari kamar Nayra, sebelum benar-benar pergi Keysa kembali memutar tubuhnya dan menatap Nayra
"Ada apa?" tanya Nayra
"Gue lupa kalau tadi kak Aidan nanyain lo, tapi tenang udah gue kasih jawaban kalau lo sedang sibuk tidak bisa diganggu"
"Thanks udah bantu gue Key"
"Don't worry Nay, kalau gitu gue balik ke kamar dulu bye"
Sementara di bandara Juanda, seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah turun dari pesawat pribadinya
"Apa nanti gadis itu akan datang ke pesta kali ini?" tanya pria itu pada asistennya yang berjalan dibelakangnya
"Iya tuan dari informasi bawahan anda yang berada di sini"
"Lakukan rencananya" ucap pria itu menyeringai "Kalau tidak salah, dia juga memiliki anak gadis kan?"
"Iya tuan"
Pria itu kembali tersenyum miring "Bawa dia juga, kita akan melakukannya padanya juga. Semakin banyak bahan eksperimen semakin bagus"
"Baik tuan" jawab si asisten menghela nafas pelan. Sungguh dirinya tidak menyangka jika tuannya sangat gila dengan menjadikan gadis sebagai bahan eksperimen dari orang yang selalu memberitahukan informasi
Bersambung~
Apakah kali ini penjahat sebenarnya akan muncul? hmmm mari kita simak di chapter berikutnya okey 😉
Jangan lupa tinggalkan like dan vote agar author semakin semangat update nya 🤗
Happy Reading (≧▽≦)
See You 😘
__ADS_1