
"Dengan keluarga pasien" ujar dokter yang baru saja keluar dari ruang IGD
"Bagaimana kondisi mereka bertiga dok?" tanya Elang yang sudah sangat khawatir begitupun yang lain
"Pasien syok karena kondisi mental mereka terguncang, maka dari itu mereka kehilangan kesadarannya. Pasien belum sadar sampai saat ini, dan sebentar lagi mereka akan di pindahkan ke ruang rawat. Kalau begitu saya pamit, permisi" lalu dokter pun pergi
Semua orang langsung mengalihkan perhatian pada brankar yang membawa Nayra Nara dan Rafka
"Nathan, kamu urus administrasi dan kamar rawat untuk mereka" titah Andreas. Nathan pun langsung pergi untuk mengurusnya
Kini kedua keluarga itu sudah berada di ruang rawat VIP dan bersebelahan. Nayra dan Rafka berada di satu ruangan sementara Nara berada di ruang sebelah
Mareta menatap sendu melihat Nayra dan Rafka yang sampai saat ini belum sadarkan diri padahal hari sudah pagi
"Mi ayo sarapan dulu" Mareta menatap Keysa yang menyusun makanan di atas meja
"Kapan mereka sadar key"
Kesya menatap sendu melihat kedua adiknya masih belum sadarkan diri sampai saat ini "Mereka akan bangun mi, tapi sebelum itu mami makan ya. Nayra dan Rafka pasti tidak senang saat mereka bangun mami malah sakit"
Akhirnya Mareta memakan sarapannya meskipun hanya sedikit
Sementara di alam bawah sadar Nayra, dia terduduk di kursi taman yang sangat asri dengan ditumbuhi banyak bunga dan sangat luas. Rasanya sangat menenangkan berada disini setelah mengingat semua kejadian 10 tahun lalu
"Putri" Nayra langsung mengalihkan perhatiannya pada sepasang suami-istri yang memanggilnya
Air mata mulai turun di pipinya melihat kedua orang tuanya, dia langsung berlari dan memeluk keduanya sembari terus menangis histeris
"Ayah mamah Putri rindu kalian" ucapnya di sela-sela tangisnya
"Sudah ya, jangan menangis" bujuk sang mamah mengusap air mata yang ada di pipi Nayra
Mereka bertiga pun duduk di atas rumput dengan Nayra yang berada di tengah menikmati pelukan kedua orang tuanya
Sedangkan di alam nyata, dokter dan beberapa suster terus memberikan pertolongan pada Nayra yang sekarat. Mereka langsung memasangkan elektrokardiogram untuk mendeteksi detak jantung dan alat bantu pernafasan
Tit tit tit
"Sus siapkan alat pacu jantung" titah dokter
Salah satu suster langsung mengambilkan alat pacu jantung dan memberikannya pada dokter
Mareta terus menangis dalam pelukan Keysa melihat keadaan Nayra yang tadi sempat kritis. Kini mereka berdua terus menatap brankar tempat Nayra
"Apa yang terjadi ta?" tanya Diana yang baru memasuki ruangan bersama dengan Kanaya
"Nayra na, apa yang harus kulakukan" Diana langsung memeluk Mareta dan memberikan kekuatan
__ADS_1
Sedangkan Keysa sendiri sudah menangis di dalam pelukan Kanaya. Kesya yang selama ini jarang mengeluarkan air matanya, kini pertahanannya runtuh melihat keadaan Nayra yang sekarat
***
"Putri senang bisa berkumpul lagi bersama kalian" ucap Nayra yang tidur di pangkuan sang ayah
"Benarkah, apa Putri sangat merindukan kami?"
Nayra mengangguk antusias "Sangat"
Pasangan suami istri itu menatap sendu putri mereka "Maafkan kami Putri, tapi kamu tidak bisa terus berada disini" ucap sang mamah
Nayra langsung bangun dan terduduk menatap sendu kedua orang tuanya "Kenapa mah? Kalian tidak suka aku berkumpul lagi bersama kalian?" tanyanya mulai menangis
Sang mamah dan ayah langsung memeluk Nayra "Bukan seperti itu Putri, tapi belum waktunya kamu berada di tempat ini" jelas sang ayah
"Bukankah kamu masih memiliki janji pada kami?" lanjut sang mamah
Nayra berhenti menangis dan menatap kedua orangtuanya "Aku tau mah yah, tapi aku lebih baik disini bersama kalian"
"Maafkan kami nak, tapi ayah mohon. Kembalilah dan laksanakan permintaan kami waktu itu"
"Mamah juga sayang, kembalilah. Banyak orang yang masih menyayangimu, dan tolong temukan kakakmu juga buat Mereka kembali pada keluarganya. Bisa kan sayang kamu memenuhi permintaan terakhir kami" pinta sang mamah mengusap wajah Nayra
"Baiklah Putri lakukan, tapi mamah dan ayah janji kan kita akan berkumpul lagi suatu saat nanti?" tanyanya dengan menunjukkan jari kelingking di tangan kanan dan kirinya
Nayra tersenyum lebar dan perlahan tubuh Nayra mulai memudar hingga menghilang dari sana
Sementara sang dokter terus menggunakan alat pacu jantung untuk mengembalikan detak jantung Nayra yang melemah 'Hanya ini satu-satunya harapan' batin sang dokter mulai menggunakan alat itu untuk kesekian kalinya
Tit tit tit
"Hah, syukurlah berhasil" ucap sang dokter tersenyum lega "Setiap 1 jam tolong selalu di cek sus untuk mengetahui perkembangannya" lanjutnya lalu menghampiri keluarga pasien
"Bagaimana kondisi Nayra dok?" tanya Mareta
"Syukurlah nona Nayra bisa diselamatkan, sepertinya dia baru saja mendapatkan support sehingga berjuang untuk hidup. Saya akan terus memantau kondisi nona Nayra sampai siuman. Kalau begitu saya permisi"
"Terimakasih dok" ucap Mareta lalu dokter itupun pergi dari ruangan
Mareta dan Keysa langsung menghampiri brankar Nayra, mereka tersenyum lega melihat Nayra bisa diselamatkan
"Mami mohon cepatlah bangun Nay" pinta Mareta menggenggam tangan Nayra
***
Arka, Andreas, Elang, Reza dan Nathan saat ini berada di masion Vandyke untuk membahas tentang Nayra Nara dan Rafka kenapa sampai tidak sadarkan diri
__ADS_1
"Apa ada petunjuk?" tanya Arka
Elang menggelengkan kepalanya "Tidak ada om, semua cctv sudah ku periksa tapi tidak ada hal yang mencurigakan"
"Sebenarnya apa yang terjadi sehingga mereka bertiga tidak sadarkan diri bersamaan" celetuk Andreas
Drt drt
Andreas langsung mengalihkan perhatiannya pada ponsel miliknya yang ternyata telepon dari Diana
"Halo sayang ada apa?.... Benarkah, baiklah aku akan kesana" setelah itu panggilan terputus
"Ayo kita ke rumah sakit, Nara sudah sadar" ajaknya
Akhirnya mereka semua langsung pergi ke rumah sakit
Sementara di rumah sakit, Diana langsung menghampirinya Nara setelah memberikan kabar pada sang suami
"Kamu ingin sesuatu sayang?"
Nara menggelengkan kepalanya pelan "Mah, bagaimana kondisi Nayra?"
Diana terkejut mendengar pertanyaan Nara, sorot matanya berubah sendu
"Aku ingin bertemu Nayra mah" lanjut Nara berusaha bangkit dari tidurnya
"Tapi kamu baru bangun dek, kamu istirahat saja ya" cegah Kanaya
Nara menggelengkan kepalanya "Kumohon biarkan aku bertemu Nayra mah kak, setelah itu aku janji akan istirahat ya. Kumohon"
Akhirnya dengan berat hati Diana memperbolehkan Nara, dia meminta Kanaya untuk mengambilkan kursi roda
Sesampainya di kamar rawat Nayra, Nara langsung menggenggam tangan Nayra "Cepatlah bangun Nay, dan tepati janjimu waktu itu" gumamnya
Begitupun Rafka yang ternyata sudah sadar, dia juga ikut menggenggam tangan Nayra. "Kakak harus menepati janjimu waktu itu, bangunlah kak" gumamnya sembari meneteskan air matanya
Bersambung~
Yuhu para reader ( ╹▽╹ ) gimana nih pendapat kalian tentang chapter ini? Akhirnya Nayra bisa mengingat kembali(・∀・)
Nantikan kelanjutan cerita ini hanya di novel ini ya, hanya update disini 😉
Jangan lupa tinggalkan like dan vote novel ini agar author semakin semangat update nya 🤗
Happy Reading (≧▽≦)
See You 😘
__ADS_1