
Sementara di masion Wijaya, Azka baru saja datang. Dan ketika dirinya masuk rumah, senyum nya terbit kala melihat keluarganya kembali hidup seperti dulu semenjak datangnya Rafka
'Kuharap kehangatan ini tidak pernah hilang lagi dari keluargaku' batinnya lalu air mata menetes dari matanya. Buru-buru dia menghapus air matanya dan segera menghampiri keluarganya yang berkumpul di ruang keluarga
"Aku pulang"
"Kak Azka" teriak Rafka senang langsung menghampiri Azka dan memeluknya
"Selamat datang" sambut Rafka dengan senyum lebarnya
"Aku membawa hadiah untukmu" Azka langsung memberikan paper bag yang ada ditangannya
Dengan antusias Rafka langsung membukanya yang ternyata adalah buku tentang sains dan penelitian "Makasih kak, oh ya kak Nayra udah pulang?"
"Sama-sama, dia sudah pulang"
Azka tersenyum lebar lalu menghampirinya Jonathan "Kak ayo antarkan aku pulang" pintanya
Raut wajah semua orang langsung berubah menjadi sedih mendengar permintaan Rafka. Baru saja mereka merasakan hangatnya keluarga tapi Rafka sudah akan pergi
"Bagaimana jika besok saja Raf" bujuk Angel
"Besok saja ya, kan nanti malam kamu ada penelitian bareng kakak" imbuh Jonathan
Melihat ketidakrelaan mamah dan kakaknya, akhirnya Azka pun juga ikut bicara "Itu benar Raf, pasti sekarang Nayra sedang kelelahan karena perjalanan jauh. Jadi besok saja ya"
Rafka terlihat berfikir cukup lama dan akhirnya menyetujui jika akan menginap satu malam. Meskipun dirinya memang ingin cepat bertemu dengan Nayra, tapi tidak bisa dimungkiri jika dirinya juga senang berada di lingkungan keluarga ini
***
"Bagaimana hasil penyelidikan mu?" tanya seorang pria paruh baya pada bawahannya yang dia tugaskan di Indonesia
"Saya berhasil mendapatkan keberadaan mereka tuan, tapi-"
Melihat ada keraguan di mata bawahannya, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan duduk di samping sang suami langsung meminta untuk dijelaskan
"Saya mohon anda untuk melihat hal ini" si bawahan pun memberikan sebuah tablet yang berisi berita
"A-apakah ini benar adanya?" tanya si wanita paruh baya dengan gemetar
"Itu benar nyonya, dan saya langsung memastikannya di tempat peristirahatan terakhir mereka"
__ADS_1
Air mata wanita itu langsung turun, lalu sang suami memeluk istrinya untuk menenangkan "Lalu apakah pelakunya sudah ditemukan?"
"Belum tuan, pelaku bermain sangat bersih sehingga polisi tidak bisa menemukan bukti"
"Bagaimana dengan putrinya, apakah masih hidup?"
"Menurut informasi yang saya dapat, putri mereka menghilang dan sampai saat ini belum ada yang tau keberadaannya"
"Kenapa hal ini terjadi pada mereka, apa kesalahan mereka sehingga sekarang harus berpisah seperti ini" tangis si wanita
"Kita harus bisa menemukan kebenarannya, sekarang harapan kita hanya ada pada putrinya. Entah sekarang masih hidup atau tidak, tapi kita akan mencarinya meskipun sudah dalam keadaan tidak hidup" hibur sang suami lalu beralih pada bawahannya "Kamu cari tau keberadaan putri mereka, meskipun itu pun hanya ada batu nisannya"
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi" lalu bawahan itu pergi dari ruangan itu
"Kuharap Elena bisa bertemu kembali dengan adiknya yang dia pikir sudah tiada" ucap si wanita
***
Di belahan dunia lain, terlihat seorang pria paruh baya yang menatap jendela menampilkan kendaraan yang berlalu-lalang
"Halo" ucap pria itu mengangkat ponselnya yang berdering sembari meminum wine
[Tuan, gadis itu sudah ada perubahan. Dirinya sudah mulai berbicara dan mengeluarkan suara] lapor si bawahan
[Baik tuan]
Panggilan tersebut terputus, si pria paruh baya pergi ke area buku dan menarik salah satu buku
Dan terbukalah lemari buku itu dan ada lorong. Pria itu masuk ke lorong itu dan terdapat ruangan yang luas disana. Ruangan itu persis dengan ruang laboratorium, lalu tidak jauh dari sana ada seorang wanita paruh baya yang sangat pucat terbaring di sebuah kapsul
"Aku akan segera membuat penawar racun itu sayang, lalu kita akan bersama selamanya. Hanya tinggal menunggu waktu saja, kumohon untuk menunggu" ucap si pria mengusap kaca kapsul itu
Sementara di kediaman Malverick, terlihat Nara berdiri sembari menatap langit dengan pandangan kosong di balkon kamarnya
"Ku harap kau segera mengingat semuanya Nay, waktumu hanya sedikit sebelum dia datang" gumamnya semakin menggenggam erat sebuah kalung ditangannya
***
"Makasih bang udah mau jagain Rafka" ucap Nayra
"Sama-sama Nay, nanti jangan lupa ke laboratorium. Kalau gitu abang balik ke perusahaan dulu" pamit Jonathan lalu keluar dari apartemen Nayra
__ADS_1
"Kamu nggak nyusahin keluarga bang Jonathan kan?" tanya Nayra setelah menutup pintu apartemen
"Nggak kok kak" jawab Rafka lalu pergi ke dapur "Kak mau makan apa?"
"Apa aja Raf" lalu Nayra duduk di sofa sembari membuka laptopnya, mengamati formula penawar racun yang sedang dia buat
"Kenapa persentase nya hanya naik sedikit sekali" gumamnya terus melihat bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan racun
"Kak makanannya sudah siap"
"Iya" Nayra langsung menutup laptopnya dan pergi ke meja makan
Sore harinya, Nayra pergi ke perusahaan Jonathan bersama Rafka
"Gimana perkembangannya bang?" tanya Nayra setelah sampai di depan meja kerja Jonathan
"Kita ke laboratorium saja, akan ku jelaskan" ajaknya lalu masuk ke ruang laboratorium diikuti Nayra dan Rafka
Setelah sampai, Jonathan memberikan sebuah buku pada Rafka "Kamu baca buku ini, jika ada yang kurang dipahami tanyalah"
Rafka langsung menerima bukunya dan pergi ke sofa yang memang ada ruangan itu
"Kemarilah Nay, aku akan menunjukkan penawar racun nya"
Nayra mengangguk dan menatap Jonathan yang membawa dua tabung kecil, satu tabung berisi cairan berwarna biru yang merupakan sampel racun dari darah Nayra dan satu lagi adalah penawar racun yang berwarna biru gelap
Jonathan mengambil wadah kecil dan menuangkan racun didalamnya disusul dengan penawar, lalu menaruhnya di mikroskop
"Kau lihatlah bagaimana reaksinya"
Nayra mengangguk lalu mulai melihat cairan itu di lewat mikroskop
"Aku akan menemui Rafka, jika membutuhkan bantuan ku bilang saja" ucap Jonathan lalu pergi dari sana untuk menemui Rafka
Sementara Nayra terus melihat pergerakan penawar racun pada racun yang ada. Nayra terus mencatat di buku nya tentang penelitian untuk mengetahui perkembangannya
Setelah mengamati cukup lama, Nayra mulai mempelajari catatannya. "Bukankah waktu itu bang Jonathan bilang jika racun yang ada di tubuh ku adalah jenis racun mematikan. Tapi aku bisa bertahan hingga sampai saat ini" gumamnya
"Tunggu, apa tubuh ku memang bisa menahan racun ini?" lanjutnya setelah menyadari ada yang janggal
Dia langsung pergi ke alat mikroskop lalu menggigit jarinya hingga mengeluarkan darah. Setelah itu dia melihat darahnya melalui mikroskop
__ADS_1
Setelah melihatnya, Nayra tercengang dengan apa yang dia lihat. Dia langsung menulis hal itu di bukunya
Bersambung~