Negeri Empat Matahari

Negeri Empat Matahari
Ch. 1 - Bencana Besar


__ADS_3

Plak!


“Hanya ini kemampuanmu? Turun salju? Kita ini tinggal di negara tropis. Apa itu masuk akal?”


Seorang pria bertubuh tambun dan berkacamata tebal, melemparkan lembaran kertas bercetak tinta hitam di atasnya.


“Kau pikir orang-orang akan tertarik dan percaya membaca berita seperti ini?” ucap pria yang memiliki jabatan chief editor di sebuah kantor berita ternama.


“Tetapi ini berita yang sangat penting, Pak. Semua orang harus bersiap-siap menghadapi bencana ini,” sahut Arsa, wartawan yang tidak pernah naik jabatan tersebut. “Letak bintang-bintang akan berubah akibat tabrakan dua galaksi lalu…”


“Hentikan teorimu itu!” perintah Chief editor memotong ucapan Arsa. Pemuda itu langsung terdiam.


“Kamu itu bekerja di kantor berita. Bukan laboratorium ruang angkasa. Mana ada yang akan percaya dengan dongengmu itu. Sejak kapan negara tropis bisa turun salju? Kita bukan tinggal di negeri dongeng!” omel chief editor sambil memutar-mutar pena di ujung jarinya.


“Berita yang saya tulis ini bukan dongeng atau khayalan, Pak. Saya mengambilnya dari sumber yang jelas,” ucap Arsa membela diri. Dinginnya udara dari pendingin ruangan tersebut, tidak bisa memadamkan api yang terbakar di dalam hatinya.


“Sudahlah, lebih baik kamu cari berita tentang skandal aktor ZA, yang diisukan berselingkuh dengan anggota dewan paling cantik. Itu lebih menjual dibandingkan berita khayalanmu,” lanjut pria bertubuh tambun tersebut.


“Pak, mungkin tidak hanya turun salju, tetapi mungkin saja akan timbul bencana lainnya,” ujar Arsa tetap kukuh pada pendiriannya.


“Jika kamu berhasil mendapatkan berita eksklusif aktor itu, aku akan menjaminmu naik gaji bulan depan.” Chief editor tersebut memberikan sebuah janji manis pada Arsa, tanpa mendengarkan ucapan pemuda tersebut.


Arsa menarik napas panjang. Mengulik aib kehidupan orang lain, bukanlah visi misinya ketika terjun ke dunia jurnalistik dulu.


Tetapi kenyataan memang tidak selalu sama dengan ekspektasi. Tuntutan ekonomi jauh lebih penting dibandingkan visi misi dan integritas kerja.


...🌟🌟🌟🌟...


“Sialan! Aku dibilang pendongeng? Pembual? Mana mungkin lembaga antariksa sekelas TINAATON itu mengeluaran berita bohong? Kalau sudah terjadi, baru semua percaya."


TINAATON: The International Astronomy and Aerospace Organization


Arsa Dewananda mendengus kesal. Kaleng minuman bersoda yang ia pegang, telah menjadi lempengan logam tak berguna di tangannya. Pikirannya berkecamuk. Kakinya tidak ingin melangkah lagi di tengah terik matahari begini. Peluh mengalir dari pori-pori kulitnya yang terbuka.

__ADS_1


Ah, benar juga. Ini kan negara tropis yang dilintasi garis ekuator. Matahari bersinar sepanjang tahun. Lalu siapa yang akan percaya kalau di sini benar-benar akan turun salju? Es batu sekalipun akan mencair dalam waktu kurang dari enam puluh menit.


Drrttt… Drrrttt… HP Arsa bergetar beberapa kali. Pria itu pun merogoh saku celananya.


“Halo, Bu?”


“Arsa, kapan kamu mengirim uang pada Ibu?” ucap perempuan di seberang telepon.


“Lho, Arsa kan sudah kirim kemarin, Bu.”


“Itu mana cukup. Ayahmu kan harus cuci darah. Belum lagi biaya kamar, biaya resep obat, makan dan lainnya,” kata ibu.


“Baiklah, Bu. Nanti Arsa berusaha cari pinjaman dulu,” sahut Arsa tanpa berani membantah sang ibu.


“Pinjaman lagi? Percuma saja Ibu punya anak yang langganan juara umum dan olimpiade sains. Pretasimu tidak berguna untuk mencari uang,” omel wanita itu di telepon.


"Bu, aku kan lagi berusaha," ucap Arsa kesal.


"Usaha? Dari dulu hidupmu nggak jauh lebih baik dibandingkan Asep. Dia hanya lulusan SMP, tapi bisa cari uang banyak dari bikin konten."


“Andai saja aku bisa mengatur dunia ini sesuka hatiku,” gumam pria itu lagi.


Gruduk!


Langit yang semua cerah, mulai berubah. Cumulonimbus menggulung di angkasa. Kilatan listrik megawatt menampakkan lidah apinya yang mematikan. Udara dingin mulai mencengkeram setiap benda dan makhluk di permukaan bumi.


“Hujan!” seru beberapa orang sambil mencari tempat berteduh. Tak terkecuali dengan Arsa.


“Hei, kemari! Ini hujan salju, bukan air,” teriak para bocah kegirangan.


“Salju?” pikir Arsa. Ia pun membalikkan badannya dan berlari ke bawah hujan. “Benar, ini salju,” gumam pria itu.


Hamparan tanah, pepohonan serta bangunan di wilayah tersebut berubah menjadi putih. Semua orang kegirangan menyambut fenomena langka tersebut. Tak peduli petir menyambar dengan dahsyat.

__ADS_1


“Gawat! Kenapa datangnya lebih cepat daripada prediksi? Seharusnya, ini masih terjadi dua minggu lagi,” pikir Arsa sambil menengadahkan kepalanya ke langit. Sayangnya ia tidak bisa melihat apa pun, karena gulungan awan tebal yang masih bergelayut di atas sana.


“Kalau prediksi para ilmuwan itu benar, artinya sebentar lagi akan ada kejadian itu juga,” pikir Arsa panik. Ia tidak punya persiapan sama sekali menghadapi ini.


Gulungan awan cumulonimbus perlahan menghilang. Terlihat belasan titik terang di langit, itu bintang jatuh. Batu dari luar angkasa itu semakin terang dan semakin besar. Bulan dan matahari terlihat puluhan kali lebih besar dari ukuran biasanya.


Semua berlari mencari tempat perlindungan. Sayangnya tidak ada tempat yang aman. Gedung pencakar langit rubuh, bagaikan istana pasir tersapu gelombang. Gelombang supersonic yang diakibatkan oleh belasan asteroid berukuran 10 – 15 km membuat atmosfer terbakar.


Teriakan dan tangisan terjadi di mana-mana. Para orang tua mencari putra putri mereka. Sisanya mencari pasangan mereka. Sayangnya tidak ada waktu lagi untuk berlindung. Semua terlihat sama, merah menyala. Salju yang baru saja turun menjadi banjir raksasa.


“Arsa! Arsa! Ikutlah denganku.”


Di tengah kegaduhan tersebut terdengar seseorang memanggil Arsa. Ia tidak dapat melihat sosoknya. Apakah itu malaikat?


“Arsa. Sebelah sini,” Suara itu terdengar lagi di tengah riuh teriakan. Kali ini Arsa melihat seorang wanita cantik bergaun putih mengulurkan tangannya. Arsa pun menyambutnya.


“Jika ini halusinasi, biarlah aku menikmatinya sebelum nyawa ini melayang. Jika malaikat, bawalah aku ke tempat yang tenang,” ucap Arsa pasrah dalam hati.


...🌟🌟🌟🌟...


“Dingin Sekali. Aku sampai tidak bisa menggerakkan tubuhku sama sekali. Ini di mana?”


Perlahan tubuh yang lemah itu mulai menggerakkan anggota tubuhnya. Kelopak matanya terbuka, menangkap seberkas sinar yang muncul melalui celah-celah pepohonan.


“Tunggu sebentar! Ini hutan?” serunya kaget.


Arsa Dewananda semakin terkejut, ketika melihat pakaiannya yang sangat aneh. Ia hanya mengenakan kain panjang berbahan linen yang melilit di tubuhnya. Pria itu tidak mengenakan apa pun lagi, untuk menutupi bagian lainnya. Kakinya mengenakan sebuah alas kaki, yang terbuat dari kulit binatang.


“Kenapa pakaianku begini?”


Kekuatannya yang tadi menghilang, perlahan terkumpul kembali. Bola matanya berputar mengamati keadaan di sekelilingnya. Sepi. Tidak ada seorang pun di sana selain dirinya. Rimbunnya pepohonan membuat pandangannya terhalang.


“Aku di mana? Bukankah ini tanaman Tecophilaea Cyanocrocus yang dinyatakan sudah punah?” Arsa terkejut melihat pohon berbunga biru kobalt dengan aroma wangi yang kuat itu masih tumbuh subur di sekitarnya.

__ADS_1


“Apa yang terjadi? Bukankah bumi sudah hancur?” 


(Bersambung)


__ADS_2