Negeri Empat Matahari

Negeri Empat Matahari
Ch. 4 - Sang Ratu dan Dewa


__ADS_3

"Apakah peradaban yang selamat hanya dari benua Eropa? Lalu bagaimana dengan Indonesia? Bagaimana dengan ayah dan ibu?"


Arsa tidak ingin lagi nengingat kejadian mengerikan itu. "Tapi jika ini benar dunia yang berbeda, dulu, artinya ayah dan ibu sudah..."


Arsa tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Bulir air menggenang di pelupuk matanya. Meskipun Arsa sangat membenci sikap keluarga yang selalu merendahkan dirinya, tetapi keberadaan kedua orang tuanya sangat berarti bagi dirinya.


"Kenapa cuma aku yang selamat? Kenapa aku masih bisa hidup sampai detik ini?" gumam Arsa tak habis pikir.


Memang sangat kecil kemungkinan mereka akan selamat, mengingat gedung-gedung yang runtuh hanya dalam hitungan detik. Semua yang terjadi sangat tidak masuk akal. Tapi kenyataannya? Dia beneran berada di sini saat ini.


Cring!


Untaian manik-manik yang tergantung di depan pintu saling bergesekan. Seorang wanita cantik memasuki ruang perpustakaan tersebut.


"Mohon izin, tuanku. Yang Mulia Ratu ingin bertemu dengan Anda. Ia sedang menuju ke sini," ujar pelayan bergaun putih.


"Ratu?" Arsa membulatkan matanya. Ia sama sekali tidak ada persiapan untuk bertemu pimpinan tertinggi di negeri ini.


"Iya, Yang Mulia Ratu. Apa ada masalah, tuanku?"


"Oh tidak, terima kasih ... putih," jawab Arsa.


"Nama saya Lily Ivory, tuanku," ujar Lily memperbaiki ucapan Arsa.


"Terima kasih, Lily." Arsa tersenyum sangat manis.


Beberapa saat kemudian...


"Mohon perhatian... Yang Mulia Ratu telah sampai." Salah seorang Knight memberikan sebuah pengumuman.


Napas Arsa terasa berat. Ia tidak tahu apa yang akan diucapkannya nanti ketika bertemu Ratu. Yang terpenting, apa hubungannya dengan wanita itu?


"Hormat kami Yang Mulia Ratu Azura," ucap seluruh orang di sana. Mereka melipat sebelah kaki, hingga terlihat sedikit lebih rendah. Semua tangan kanan mereka terletak di dada.


Seorang wanita pun muncul. Sesuai dengan gelarnya, ia sangat cantik. Perempuan yang mengaku sebagai pelayan Arsa tadi, kalah sangat jauh.


Wanita itu tersenyum tipis di bibirnya yang mungil dan ranum. Langkah kakinya begitu anggun, namun juga berwibawa.


Matanya sangat indah berwarna biru. Bulu matanya lentik. Kulitnya yang putih sangat halus bagaikan sutera. Rambutnya yang terurai hingga ke pinggang, terlihat sangat lembut berkilauan. Gaun biru yang melekat di tubuhnya, memperlihatkan bentuk yang sempurna.


Arsa terpana melihat kecantikan itu. Ini adalah perempuan tercantik yang pernah ia lihat. Tapi kemudian ia bingung. Apakah ia juga harus berlutut menyambut Ratu seperti yang lain?

__ADS_1


"Astaga! Kenapa kamu berlutut seperti itu?" ucap sang Ratu. Matanya yang berwarna biru safir terlihat membesar, melihat tingkah Dewa yang sangat aneh.


"Maaf, aku hanya bercanda," kata Arsa Dewananda menutupi rasa malunya.


"Hhh... Ku pikir kamu sudah berubah sejak menghilang selama beberapa hari," gumam Sang Ratu lega.


Degup jantung Arsa tidak bisa dikendalikan, ketika sang Ratu tersenyum kepadanya. "Aku memang sedikit bingung. Seperti... Baru saja bangun dari tidur yang panjang," kata Arsa.


"Apa yang terjadi? Apa kamu membuat penelitian aneh lagi? Kamu bahkan sampai yak hadir di rapat Dewan Istana," kata Sang Ratu.


"Penelitian aneh? Nggak sama sekali, Yang Mulia Ratu. Aku hanya berjalan-jalan sejenak di hutan Ru ... " Ah, Arsa tidak ingat nama hutan tempat ia terbangun tadi.


"Hutan? Sejak kapan Dewa berpangkat tinggi di negeri ini mau mengunjungi hutan? Untuk mendata ragam hewan dan tumbuhan saja ia memerintahkan orang lain?" Sang Ratu tertawa kecil, hingga sedikit memperlihatkan barisan giginya yang putih dan rapi.


"Kamu sangat aneh, Dewa. Menjelajah hutan hingga berhari-hari. Sekarang membaca buku sejarah yang sangat ia benci, lalu memanggilku Yang Mulia Ratu." Sang Ratu memandang Arsa lekat-lekat. Arsa hanya menggaruk kepala tanpa memberikan alasan.


"Pasti telah terjadi sesuatu padamu, kan? Sejak kapan kamu memanggilku Yang Mulia Ratu?" ujar wanita dengan tiara di kepalanya itu.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mencoba hal-hal baru. Terkadang membaca buku sejarah seru juga," sahut Arsa.


"Baiklah. Aku hanya datang untuk meminta keadaanmu, Dewa. Kamu pasti masih merasa lelah setelah bepergian. Silakan istirahat, aku akan kembali," ucap Ratu.


"Oke," jawab Arsa singkat. Sontak semua mata memandang tajam ke arahnya. "Kenapa? Apa aku ada salah ngomong lagi?" pikir Arsa bingung.


"Anda benar-benar tidak ingin bertemu tabib, tuanku?" tanya pelayan bergaun cokelat.


"Tidak, cokelat. Aku hanya ingin ditemani kalian saja," ujarnya.


"Ehem! Nama saya Almond Sienna, tuanku. Anda bisa memanggil saya Almond," ucap wanita itu.


"Maaf. Tapi sepertinya aku benar-benar nggak mengingat apa pun di dunia ini," kata Arsa jujur. "Mungkin kita harus berkenalan lagi?"


Para pelayan saling bertukar pandang. Tetapi kemudian mereka tersenyum.


"Baiklah, tuanku. Anda cukup mengingat nama kami berdasarkan warna saja, " ucap Almond. "Saya Almond Sienna, sang peri cokelat." Almond mengulang perkenalannya.


"Peri?" Arsa terlonjak kaget mendengarnya.


"Benar, tuanku."


"Hmm... Baiklah," sahut Arsa mengurungkan pertanyaannya.

__ADS_1


"Nama saya Lily Ivory, sang peri putih," ujar Lily pula.


"Saya Rose Fuchsia, peri merah muda."


"Anda bisa memanggil Jade Olive, peri hijau."


"Kalau saya Misty Amethyst, sang peri ungu."


"Saya Lava Peach, peri jingga atau orange," ujar Peach pula.


"Saya adalah peri termuda, Berry Navy sang peri biru."


"Salam kenal semuanya. Kalian pasti sudah mengenalku. Namaku Arsa Dewananda. Aku dari..." tiba-tiba Arsa bingung mengungkapkan identitasnya. Bagaimana kalau mereka tidak percaya dan menganggapnya gila?


"Anda berasal dari abad dua puluh satu, Dewa. Lebih tepatnya tahun 2025," lanjut Olive.


"Kalian tahu tempat asalku?" Arsa terhenyak mendengar kalimat Olive.


"Tentu saja. Semua orang di negeri ini juga tahu," kata para pelayan.


"Tunggu sebentar. Kok aku jadi makin pusing?" kata Arsa. "Memangnya siapa yang percaya, kalau ada orang yang hidup selama sepuluh ribu tahun?" ujar Arsa. "Di buku saja tertulis kalau manusia sekarang adalah generasi ke sekian?"


"Itu juga benar, tuanku. Tetapi ada beberapa orang istimewa, yang sengaja di pilih untuk menjaga bumi ini setelah kehancuran. Salah satunya Anda, tuanku."


"Gimana caranya?" kata Arsa.


"Dewa benar-benar tidak ingat? Ini aneh sekali?" gumam Peach dan Amethyst.


"Ceritakan padaku semuanya," pinta Arsa.


"Beberapa orang diberi anugerah untuk hidup lebih lama, dan membangun bumi ini dari awal. Mereka yang dipilih memiliki kemampuan yang berbeda, dan disebut Demigod atau manusia setengah Dewa," jelas Lily.


"Demigod? Jadi kalian memanggilku Dewa, bukan karena namaku?"


"Tentu saja bukan, tuanku. Itu adalah gelar dan jabatan Anda di sini," sahut Rose.


"Anda dan Sang Ratu membangun negeri ini secara bersama-sama sejak ribuan tahun lalu, sebelum kami ada," tambah Berry pula.


"Hahaha... Jadi aku Dewa? Dewa apa? Aku akan percaya kalau kalian bisa menunjukkan jati diri sebagai peri," ujar Arsa.


Ctak! Dengan satu jentikan jari, mereka semua pun berubah.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2