
"Salam hormat saya, Yang Mulia Mahadewa. Ada apa gerangan yang membuat saya dipanggil ke sini?"
Seorang wanita cantik dan anggun menundukkan tubuhnya di hadapan Sang Mahadewa, yang duduk di singgasana.
"Isaura, aku mendapat kabar bahwa tingkat kematian bayi di kepulauan selatan khatulistiwa sangat meningkat drastis. Apa ada suatu hal yang luput dariku?" tanya Mahadewa yang Agung.
"Mohon ampun, Yang Mulia. Saya mendengat desas desus, bahwa malaikat penjaga bayi yang bertugas di sana, sedang jatuh cinta pada manusia. Sehingga dia melalaikan tugasnya," lapor Dewi Isaura, Sang Dewi Keibuan.
"Apa? Jatuh cinta dengan manusia? Itu pelanggaran besar? Siapa dia? Bawa dia ke sini sekarang juga," perintah Mahadewa pada Dewi Isaura.
"Saya tak bisa melakukannya, Yang Mulia. Saya belum memiliki bukti, untuk menjatuhkan hukuman padanya," jawab Dewi Isaura dengan tenang dan bijak.
"Hmm? Begitu, ya? Tapi tetap saja hal ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, karena bisa mengguncang keseimbangan populasi di bumi. Aku memberimu waktu tiga hari saja untuk mendapatkan bukti, lalu bawa dia ke sini," perintah Mahadewa lagi.
"Baik, Yang Mulia. Akan saya laksanakan," ujar Sang Dewi, lalu pamit undur diri.
...🌟🌟🌟🌟...
"Ah, rupanya sayangku terlambat pergi kerja hari ini," kata Azura, yang duduk manis di dahan sebuah pohon peneduh jalan. Dia melihat Arsa yang berjalan tergesa-gesa menuju ke sebuah halte bus.
__ADS_1
"Ah, sayang banget dia kemarin keburu bangun. Padahal aku baru aja mengecup bibirnya yang lembut," ujar Azura sembari mengingat kejadian kemarin sore.
Malaikat dengan sayap biru cemerlang itu kembali melalaikan tugasnya, demi membuntuti Arsa Dewantara sang pujaan hati.
Lima tahun yang lalu, Azura terpesona dengan kebaikan hati Arsa yang menyelamatkan beberapa orang bayi dalam sebuah kebakaran di sebuah perumahan sempit. Pria itu tidak peduli dengan asap tebal dan kobaran api panas di sekelilingnya. Arsa tetap berusaha menyelamatkan para bayi itu sekuat tenaga.
Azura yang tidak terlihat oleh Arsa pun terpukau melihat kebaikan hati Arsa yang begitu tulus. Padahal beberapa warga lainnya kebanyakan justru menghindar dan menonton saja.
"Ternyata masih ada manusia sebaik dia. Ku pikir bangsa yang menghuni bumi ini hanya bisa merusak dan kerusuhan saja," gumam Azura, yang bertugas menjaga bayi.
Sejak saat itu Azura pun selalu menguntit pemuda itu. Ternyata tidak hanya sekali itu saja Arsa menolong orang lain. Pria yang berprofesi sebagai pegawai kantor swasta itu kerap menolong orang lain, walau tidak kenal sekali pun.
Keinginan Azura untuk memiliki Arsa pun semakin besar. Tidak peduli statusnya sebagai malaikat yang harus menjaga kesucian dirinya dari rasa cinta dan benci, wanita itu tetap menyukai manusia sederhana itu. Azura juga selalu menjauhkan para wanita dari sisi Arsa, agar pria itu tidak memiliki pasangan.
"Duh, kenapa aku malah mengingat kejadian dulu, sih?"
Suara burung yang bersahutan di dahan pohon, membuyarkan lamunan Azura. Malaikat dengan sayap indah berwarna biru itu kehilangan jejak Arsa, yang sudah menaiki bus menuju ke kantornya. Ini saatnya Azura menjalankan tugasnya, dan membiarkan Arsa beraktivitas.
...🌟🌟🌟🌟...
__ADS_1
Sore harinya...
"Eh, kok Dia lama banget sih pulangnya? Biasanya kan jam segini dia udah pulang?" pikir Azura heran.
Tidak lama kemudian, pria yang sejak tadi dia tunggu-tunggu pun keluar dari gedung kantornya. Tetapi dia tidak sendirian. Terlihat seorang wanita berkulit gelap dan berambut sepanjang bahu berjalan di belakang Arsa.
Meskipun wanita itu mengenakan rok dan baju blouse, tetapi tidak menutupi perawakannya yang mirip tubuh laki-laki. Gurat otot dan urat nadi terlihat jelas di permukaan kulitnya. Langkah kakinya juga begitu tegas, jika dibandingkan wanita lain yang lemah gemulai.
"Maaf, aku nggak mau, Zayya," ucap Arsa mengelak dari wanita kekar itu.
"Duh, ini bukan soal mau atau nggak. Aku hanya ingin menghargai pilihan orang tuaku. Setidaknya kita bertemulah sekali di rumah," kata Zayya Gantari, yang kini berjalan di sini Arsa.
"Itu memberi harapan pada orang tua kita namanya. Walau diancam sekali pun, aku nggak mau memiliki istri yang hitam dan gak bisa dandan kayak kamu," tolak Arsa secara terang-terangan.
"Memangnya ada masalah denganku? Ternyata kamu orang yang sangat memperhatikan penampilan, ya?" ucap Zayya tersinggung.
Sementara itu di atas awan. "Ah, ini gak bisa dibiarkan. Gak boleh ada seorang wanita pun di dekat Arsa, termasuk cewek jelek seperti dia."
Azura mendadak mengepakkan sayapnya, dan hendak mendak menjatuhkan beberapa buah-buahan busuk di atas kepala Zayya. Tapi ...
__ADS_1
"Loh, kenapa kekuatanku nggak mempan?" pikir Azura bingung.
(Bersambung)