
[Ku harap Anda baik-baik saja, Dewa Ezekiel. Ingatan masa lalu tidak pernah salah. Sampai jumpa di kastilku, Ezekiel.]
Ezekiel tertegun membaca isi surat terakhir dari Dewi Zayya. "Dia khawatir padaku? Atau dia suka padaku?" pikir Ezekiel bingung.
"Sejauh ini Dewa dengan Dewi Zayya tidak ada hubungan khusus. Bahkan sangat buruk," ujar Berry yang mampu membaca ekspresi wajah sang Dewa.
"Lalu kenapa dia terus-terusan mengirimku surat seperti ini?" tanya Ezekiel. Para peri hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku harus mendapatkan jawabannya langsung," ucap Ezekiel. "Para peri, tolong siapkan baju terbaik untuk jamuan makan nanti," perintah Ezekiel pada pelayan pribadinya.
"Baik, tuanku."
"Tetapi sebaiknya sekarang tuanku segera mandi dan berganti pakaian," ucap Rose sambil tersenyum simpul.
"Apa nggak terlalu cepat? Nanti aku berkeringat lagi, sebelum datang ke pesta," tolak Ezekiel.
Suhu saat ini memang cukup panas dibanding sebelumnya. Tetapi Ezekiel tidak ingin menghabiskan waktu berendam di dalam bak mandi seperti waktu itu. Ia hanya mau bersantai berbaring di kasurnya yang sangat empuk sambil membaca buku.
"Ah, Almond. Kamu belum memberi tahu Dewa, ya? Hari ini ada kunjungan khusus dari para putri benua Alkara Selatan," kata Rose.
"Astaga!" seru Almond. "Mohon ampun, tuanku. Saya lupa menyampaikan berita penting ini," ujar Almond.
"Tidak apa-apa. Jadi, ada keperluan apa para putri itu berkunjung ke sini?" tanya Ezekiel.
"Mereka hanya melakukan kunjungan biasa, untuk menyapa tuanku. Ini biasa dilakukan oleh para putri di kerajaan ini. Karena tuanku sama sekali nggak pernah keluar istana sebelumnya," sahut Almond.
__ADS_1
Ezekiel tersenyum tipis. "Kalau begitu tunggu apa lagi? Segera siapkan susu segar dan olive oil untuk mandiku. Jangan lupa pakaian sutera dengan warna maskulin," perintah Ezekiel kepada para pelayannya.
...🌟🌟🌟🌟...
Sraaa ... Ezekiel membenamkan tubuhnya ke dalam bathub berisi susu segar dan olive oil. Rose juga menambahkan beberapa tetes aroma bunga mawar untuk menambah kesegaran.
"Ternyata hidupku di dunia ini sangat makmur. Nggak perlu susah payah mencari uang untuk menyambung hidup. Nggak ada yang bakal memarahiku tiap hari. Terlebih, para wanita yang datang mencariku," pikir Ezekiel.
Terselip rasa bangga di hatinya. Jika diingat-ingat lagi, di tahun 2025 dia hanyalah lelaki miskin yang menyandang gelar jomblo sejati.
"Ku dengar di dunia ini juga tidak ada lagi peperangan dan perebutan kekuasaan. Berbeda dengan abad dua puluh satu dulu. Di sini populasi masih sedikit dan sumber daya alam tersedia banyak."
"Untuk apa aku memikirkan empat bola api raksasa di langit?" ucap Ezekiel.
Kedua tangannya mengusap seluruh tubuhnya dengan susu segar secara bergantian. Seluruh kulitnya terasa kembali segar dan kencang, tatkala cairan di dalam bak mandi itu menembus pori-pori kulitnya.
...🌟🌟🌟🌟...
Valenseau Castle, beberapa jam sebelum jamuan makan malam.
"Alzena, apa undangan kita sudah sampai ke Livre Castle?" seorang wanita yang duduk di singgasananya terlihat bersantai kala beberapa dayang memijat tubuhnya.
"Sudah, Dewi," sahut Alzena Echaviura, pelayan utama Dewi Zayya.
"Apakah Ezekiel akan datang di jamuan kali ini?" tanya Sang Dewi.
__ADS_1
"Sepertinya begitu, Dewi. Akan tetapi dari berita yang saya dengar, saat ini Dewa Ezekiel sedang menyambut para putri di kastilnya ," lapor Alzena.
"Oh, ya? Ternyata Dewa pemalas itu masih senang berdiam diri di dalam kastilnya yang nyaman, dan bermain dengan para wanita. Buang-buang waktu saja," ucap Dewi Zayya. "Jika seperti itu terus, kekuatannya akan lenyap secara perlahan," lanjutnya.
Dewi Zayya menghembuskan napasnya untuk mengurangi kekesalan. Di antara semua Dewa di dunia ini, hanya Ezekiel yang tidak memiliki kesibukan, alias pengangguran.
"Aku heran, kenapa makhluk seperti dia bisa dinobatkan sebagai Dewa tertinggi di dunia ini. Maksudku, secara intelektual dia memang paling mumpuni. Tetapi di bidang lainnya ... Nol besar," lanjut Dewi Perang tersebut. Sejak dulu, ia memang tidak mengerti tentang kehidupan Dewa Ezekiel.
"Tetapi baru-baru ini Dewa Ezekiel baru saja kembali dari Hutan Rupelium. Berdasarkan kabar yang saya dengar, Dewa sempat berada di sana selama berhari-hari," lapor Alzena lagi.
"Hutan Rupelium? Dewa pemalas itu?" Dewi Zayya berdiri dari singgasananya yang indah. Ia lalu berjalan ke sisi jendela, mengamati sungai dan pepohonan yang menyejukkan mata.
"Benar, Dewi. Kabarnya lagi sejak kembali dari sana sikap Dewa Ezekiel semakin aneh," ucap Alzena.
"Apa dia mulai menyadari maksud kata-kataku selama ini?" Dewi perang tersebut menyunggingkan seulas senyum di wajahnya.
"Saya rasa bukan, Dewi. Dewa Ezekiel lebih terlihat bingung, dan terkadang sikapnya hanya seperti manusia biasa dari abad dua puluh satu." Alzena membantah analisa sang Dewi.
"Lalu apa yang terjadi padanya? Apa ia hanya berpura-pura, agar bisa menghindar di rapat Dewan Istana lagi?" gumam Dewi Zayya. Senyum di wajahnya kembali memudar.
"Saya tidak berani menebak-nebak hal itu, Dewi," ucap Alzena.
"Lalu, kali ini putri dari mana saja yang datang berkunjung? Apa putri Lisette dari Eland Timur lagi? Aku malas jika nanti Raja dari Franca, mendesakku untuk memberikan pengawalan pada perjalanan pulang putrinya lagi," ucap Zayya.
"Berita yang saya dengar, kali ini Putri Zaniya Celia, Putri Razima Vandella dan Putri Zelila Fawnia yang datang berkunjung, Dewi."
__ADS_1
"Apa? Jadi yang datang berkunjung para putri dari Alkara Selatan? Kenapa tidak bilang dari tadi? Ini berbahaya," seru Dewi Zayya.
(Bersambung)